Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Memberi Pelajaran


__ADS_3

"Baru juga bertemu, sudah memiliki musuh." gerutu Calvin dengan sesekali memandang ke arah Ashton dan Ashley yang hanya duduk di depan televisi dengan anteng.


"Ada apa?" tanya Arthur yang keheranan melihat tingkah Calvin yang tidak biasanya. Calvin menghela napas panjangnya dan menunjuk bocah kembar yang menguras emosinya.


"Adik mu sungguh ajaib," kata Calvin membuat Arthur memiringkan kepalanya, tidak paham.


"Ajaib bagaimana?"


"Lihat ini," Calvin menyodorkan dua buah rapot biru kepada Arthur. Pria itu mendelik melihat semua nilai rapot yang rata-rata adalah A dan juga melihat nilai rangking dari SD hingga SMA yang tidak ada perubahan.


"Mereka ...."


"Mereka ajaib, seperti mu." potong Calvin yang mulai memijat pelipisnya. Ashton menyandarkan kepalanya dan menaikkan alisnya melihat Arthur yang tengah memegang rapot miliknya dan Ashley.


"Apakah ada masalah dengan rapot kami, Kak?" tanya Ashton membuat Ashley ikut menoleh. Arthur tersentak dan menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Mendekat lah,"


Arthur dan Calvin mengira, kedua anak kembar itu sangat pembangkang karena penampilan mereka berdua yang sungguh berbeda. Ashton yang datar tapi cerewet, sedangkan Ashley wajahnya tampan periang tapi ternyata pendiam. Sungguh ajaib.


"Apakah Paman sudah mendapatkan sekolah yang kami inginkan?" tanya Ashley dengan nada yang sungguh ketus. Itu memang logat bicaranya, Arthur melihat keningnya yang tidak sakit itu.


"Hei, panggil aku dengan sebutan Kakak, twist!" seru Calvin tidak terima. Panggilan Paman terlalu tua baginya, padahal usianya baru 25 tahun, hanya berjarak 3 tahun dari usia Arthur.


"Tidak mau!" sahut Ashton dengan sinis. Calvin mengelus dadanya agar bersabar. Bila tidak ada Arthur, sudah di pastikan dirinya akan langsung memberikan jeweran keras.


"Memangnya kalian ingin kriteria sekolah bagaimana?" tanya Arthur dengan memberikan rapot tersebut kembali kepada kedua adiknya.


Ashton dan Ashley saling berpandangan, "Kami ingin yang sederhana saja, sekolah yang muridnya anti bully, penyebar hoax dan ...."


"Semua gurunya adil!" lanjut Ashley dengan wajah datar menyertai. Calvin dan Arthur kini mulai berpandangan dan juga mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi saat di sekolah lama mereka.


"Apakah kalian mengalami sesuatu saat di sekolah lama kalian?" tanya Calvin dengan pelan-pelan, takut membuat kedua anak kembar tersebut tersinggung karena pertanyaannya.


"Sangat banyak, salah satunya adalah ketidakadilan yang kami alami selama ini." jawab Ashley tanpa ragu. Ashton hanya memalingkan wajahnya, seperti enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Bahkan Ayah Robert tidak mengetahuinya, karena mereka tidak ingin Ayah Robert melakukan tindakan tegas.


Ayah Robert memang penyayang, tapi juga akan bersikap tegas bila sudah bersangkutan dengan Anak-anaknya, terlebih lagi bila bersangkutan dengan Chelsea.


"Cal, urus sekolah Adikku ini. Aku harus segera menemui Ayah," Arthur bergegas menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Calvin menghela napas panjang. Setelah Arthur pergi, Calvin menarik pundak kedua anak remaja tersebut hingga terduduk di kursi.

__ADS_1


"Apakah kalian pernah mengalami pembullyan di sekolah?" tanya Calvin dengan tatapan serius. Kali ini terlihat, pria itu sedang tidak ingin bercanda, jadi Ashton mengimbangi dengan mengangguk tanpa ragu.


"Hampir setiap hari," sahut Ashley. Calvin mulai berpikir sesuatu, apakah pembullyan yang mereka alami ada hubungannya dengan Ibu Anggun, atau tidak.


"Karena apa? Jangan bilang karena Ibu kalian?" tebak Calvin membuat keduanya terdiam. Calvin menyunggingkan senyum dan berarti tebakannya sahabat benar. "Jadi benar?"


"Mereka mengatakan bahwa kami anak dari seorang wanita malam," kata Ashley dengan kepala tertunduk. "Apakah itu benar, Paman?"


Calvin terdiam sejenak, rasanya ingin protes karena Ashton dan Ashley tetap memanggil dirinya dengan sebutan Paman. Tapi setelah melihat raut wajah putus asa, membuat Calvin hanya terbatuk-batuk kecil tidak tega. "A ... aku tidak tahu,"


"Mana mungkin orang pintar seperti Paman ini tidak tahu menahu, buktinya Paman tahu kalau Ayah ada di desa Mentari." celetuk Ashton membuat Calvin berdecak kesal. Ternyata ingatan anak muda di hadapannya sungguh tajam, padahal baru pertama kali melihat saja sudah membuat mereka langsung ingat dengan wajahnya.


"Kalian sungguh menyebalkan!" gerutu Calvin.


...****************...


Di ruangan besar, yang sebelumnya di tutupi oleh kain putih dan gelap, kini sudah bersih, terang seperti semula. Bahkan rak-rak kosong sebelumnya sudah kembali terisi buku yang jauh lebih banyak dan berkualitas. Ayah Robert yang memintanya, mengingat kedua putranya masih sekolah dan harus pindah sekolah secara mendadak, Calvin bahkan sudah sibuk untuk mencarikan sekolah terbaik untuk Ashton dan Ashley sesuai permintaan dari sang Tuan.


"Apa yang kau sembunyikan dari Ayah, Arthur?" tanya Ayah Robert membuat Arthur langsung menjadi tegang. Perihal tentang semua rencana dari sang istri, Ibu Anggun, memang sudah Ia ketahui, tetapi Ia ingin mendengarnya langsung dari sang Putra.


"A ... Ayah," alis Ayah Robert mulai menyatu dan menunggu Arthur kembali berbicara. "Maafkan aku, aku hampir saja ...."


Arthur terkesiap saat Ayah Robert melempar bolpoin mahal miliknya ke sembarang arah. Terlihat wajah pria paruh baya tersebut sudah menahan emosi sejak tadi. "Jadi kejadian itu benar?!" tanya Ayah Robert dengan nada tinggi.


Arthur terkejut bukan main mendengarnya, ternyata Ayah Robert mengetahui apa yang terjadi kepada Chelsea di hotel miliknya. Raut wajah Ayah Robert tidak bersahabat sama sekali, terdapat rasa khawatir, gelisah, dan dendam menjadi satu di sana. Arthur menarik napas panjang dan menghembuskan.


"Ayah, pria bernama Reno ternyata bekerja di perusahaan pusat milik Zane. Reno mencoba untuk melecehkan Chelsea setelah keluar dari lift yang berbeda, Reno juga mengajak Ibu Anggun untuk bertemu di sebuah cafetaria dekat hotel ku, dan Reno memberikan Ibu Anggun ini ..." Arthur memberikan sebuah kapsul bekas obat perangsang tersebut kepada sang Ayah.


"Ini kapsul bekas obat perangsang. Reno meminta Ibu Anggun untuk menjebak Chelsea, agar Reno bisa melakukan tindakan itu," sambung Arthur dengan wajah yang mulai pias.


Tangan sang paruh baya mulai mengepal kuat. Walaupun usianya sudah memasuki setengah abad, bukan berarti ketampanan, kewibawaan, dan kegagahan seorang Robert langsung luntur begitu saja. Tidak ada yang mengetahui, bahasa Raja bisnis ketiga sudah kembali dengan banyak perubahan di kehidupannya.


"Anggun dan Reno," gumam Ayah Robert dengan meremas kapsul yang sudah kosong tersebut.


"Dan satu lagi, Ayah."


Ayah Robert menadah dan menatap datar pada putra sulungnya, "Katakan."


Arthur memberikan sebuah kertas putih, "Wanita ini bernama Sonia, keponakan dari Tuan Owen. Dia adalah seorang janda," jelas Arthur membuat Ayah Robert langsung mengangkat kertas putih tersebut dan menatap lama-lama foto milik Sonia.

__ADS_1


"Apakah ada hubungannya dengan kejadian di hotel?" tanya Ayah Robert membuat Arthur menggeleng cepat.


"Tidak, tapi wanita ini juga termasuk wanita yang menyakiti Chelsea karena dia mencintai sepupunya sendiri, Zane." ungkapnya dengan nada pelan. Ayah Robert kembali meremas kertas tersebut hingga berubah menjadi gumpalan kertas.


"Apakah Zane mengetahuinya?"


Arthur terdiam sejenak, "Iya, Ayah. Zane sudah mengambil tindakan tegas kepada Sonia, Reno, dan Ibu Anggun beberapa hari belakangan ini." jawabnya dengan tangan terkepal. Mati-matian Arthur untuk memendam perasaan kesal dalam dirinya.


Jangan, perasaan ini sungguh sangat salah, Arthur. Batin Arthur dengan sesekali menghembuskan napas panjangnya.


Ayah Robert yang sejak tadi tak luput dari Arthur, mulai mengerutkan keningnya, "Kau baik-baik saja?" tanya Ayah Robert mengejutkan Arthur. Pria itu sontak menadah dan mengangguk sebagai jawaban.


"A ... aku baik-baik saja, Ayah." jawabnya dengan cepat. Mata pria paruh baya itu memicing curiga, membuat Arthur menahan napasnya dan berharap supaya Ayah Robert tidak mengetahui apapun tentang perasaannya kepada Chelsea.


"Setelah Ayah bercerai dengan Anggun, segara mengadakan konferensi pers di ruang terbuka perusahaan!" titah Ayah Robert membuat Arthur mengangguk paham.


"Apakah Ayah merencanakan sesuatu?" tanya Arthur dengan ragu-ragu. Ayah Robert melirik dan menyunggingkan senyum tak biasa. Sudah lama dirinya tidak bermain-main dengan penjahat, dan sudah cukup 17 tahun lamanya, Ayah Robert berdiam diri.


"Aku ingin mereka merasakan apa yang putri ku rasakan! Kita harus mengikuti jalan main Anggun dan Reno. Dan kau akan mengurus Sonia," ujar Ayah Robert dengan menatap Arthur sangat datar dan dingin. Arthur menunduk dan akhirnya mengangguk.


"Aku akan mengurus sisanya,"


Ayah Robert memutar kursinya hingga menghadap ke sebuah jendela besar, jendela yang menghadap ke arah taman belakang dari lantai 2. Mansion tersebut berlantai 3, lengkap dengan ruang bawah tanah dan basement. Mansion itu tidak banyak perubahan, hanya di bagian kamar saja yang sengaja Ayah Robert ubah menjadi nuansa anak remaja laki-laki, Ayah Robert tidak ingin kedua putra kembarnya tidak nyaman di mansion pribadinya.


"Kau hampir gagal lagi menjaga Adik mu, Arthur." tutur Ayah Robert begitu jelas di pendengaran Arthur. Pria itu menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya, walaupun hanya sekedar menatap punggung sang Ayah.


"Maaf, Ayah."


"Apakah hukuman selama 17 tahun ini belum cukup untuk mu?"


DEG ....


Hukuman yang sudah bertahun-tahun lamanya itu kembali naik ke permukaan, seperti awalnya, Ayah Robert tidak menghukum Arthur, pria itu hanya ingin menenangkan diri di desa dengan dalih menghukum Arthur.


"A ... ayah, maafkan aku! Aku bersalah, Ayah!" lirih Arthur dengan posisi yang sudah berpindah tempat. Pria yang besar di dalam asuhan Ayah Robert benar-benar mendapatkan pendidikan yang luar biasa. Di luar begitu wibawa, tegas, dan dingin, tapi di sisi lain Arthur sangat patuh dengan sang Ayah dan bahkan rela menjatuhkan harga diri hingga bersujud seperti sekarang.


"Tolong jangan menghukum ku lagi, Ayah. Aku telah lalai menjalankan amanah mu!" racau Arthur membuat Ayah Robert terdiam.


Apakah selama 17 tahun ini, hukuman dengan dalih menenangkan diri itu begitu menyiksa putra sulungnya? Ayah Robert menatap punggung Arthur dengan nanar.

__ADS_1


"Bangunlah!"


__ADS_2