
MANSION LINCOLN .....
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, di mana Chelsea hampir saja mengalami hal yang tidak diinginkan, bersamaan pula dengan sikap Zane yang sungguh sangat overprotektif kepadanya. Pria yang berstatus sebagai suaminya itu bahkan melarangnya ini dan itu, bahkan sekedar keluar dari pekarangan harus meminta izin kepadanya. Chelsea beruntung sekaligus kesal dengan tingkah suaminya itu, walaupun untuk kebaikannya, tetap saja Chelsea kesal bukan main.
Seperti sekarang contohnya. Chelsea hanya berjalan-jalan di sekitar mansion dengan kucing peliharaannya. Ya, Arthur memberikan sebuah kucing putih menggemaskan, Chelsea tidak tahu kucing miliknya jenis kucing apa, dan tidak tahu pula tentang harga kucing miliknya. Bila di lihat-lihat, harganya cukup mahal tetapi Chelsea tidak bisa menolak, mengingat selama ini Arthur sudah menjadi kakaknya.
"Nyonya!" panggil seorang bodyguard dengan napas menggebu-gebu. Chess yang hanya berdiam diri di sebuah ayunan kayu di belakang mansion, dimana pohon-pohonnya sangat rindang dan sejuk. Chelsea menyukainya.
"Kau kenapa, Ric?" tanya Chelsea dengan alis mengerut bingung. Bodyguard bernama Ricky tersebut menghembuskan napas panjang.
"Tuan Zane mengamuk! Tu ... tuan mencari Anda, Nyonya!" jawab Ricky membuat Chelsea langsung bergegas menuju mansion. Ricky mengambil alih kucing milik Chelsea agar tidak kemana-mana, bisa habis dirinya di marahi oleh istri Tuannya.
Di sisi lain, Zane benar-benar mengamuk karena tidak menemukan sang istri di manapun. Pria itu semakin kalut karena Chelsea tidak membawa ponselnya dan mulai berpikiran jauh.
"CEPAT CARI ISTRI KU, *****!" hardik Zane kepada seluruh bodyguard yang sejak tadi sudah berkeliling untuk mencari istri dari Zane. Tapi nihil, tidak ada yang menemukan.
Zane melonggarkan dasinya dan mengusap wajahnya. Pria itu semakin di buat takut bila kejadian beberapa hari yang lalu, kembali terulang tanpa adanya dirinya. Bila kejadian itu kembali terjadi, maka Zane tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Cukup dua kali saja, dirinya lalai dan tidak bertindak tegas, bila kali ini terjadi kembali, maka Zane akan berubah menjadi monster yang menakutkan.
"Zane ada apa ini?" tanya Nicholas dengan napas tergesa-gesa. Alex menghubungi dirinya bila Zane sedang mengamuk. Di mansion utama, hanya ada Alex, Zane, Ibu Maya, dan Chelsea. Sedangkan Nicholas dan Daniel beberapa kali saja menginap, bisa di hitung satu minggu hanya dua sampai tiga kali.
"Amora! Aku tidak bisa menemukannya! Bagaimana kalau Amora-"
"Zane, ada apa ini?" sela seorang wanita yang tidak lain adalah Chelsea. Wanita itu datang dari arah seberang dengan peluh membasahi wajahnya. Melihat kedatangan sang istri, Zane langsung memeluk erat tubuh wanita itu dan enggan untuk melepaskannya.
Chelsea melirik Nicholas penuh tanda tanya, tetapi pria itu menggeleng tidak tahu-menahu. Chelsea mengelus pundak Zane dengan lembut, membuat pria itu semakin mengeratkan pelukannya, bahkan tubuhnya mulai bergetar.
"Aku sudah mengatakannya, jangan pergi dari mansion! Why don't you listen to me?!" kesal Zane dengan menatap manik mata Chelsea yang begitu candu baginya. Air mata sudah membasahi mata tegas itu, Chelsea hanya diam dan mengusapnya dengan lembut.
"No need to worry, hubby. Aku di taman belakang bersama kucing ..." Chelsea langsung menatap kedua tangannya, "kucing? Kucing ku mana?!"
Wajah panik langsung terpatri di wajah Chelsea sata menyadari kucingnya tidak ada. Melihat wajah panik Chelsea karena kucing pemberian Arthur, membuat dada pria itu bergemuruh cemburu. "Sayang, kenapa kau lebih panik kepada kucing jelek itu?!" protes Zane dengan nada merengek.
Nicholas mengerutkan keningnya, sangat aneh baginya saat mendengar Zane merengek dan bertingkah manja kepada Chelsea. "Mereka sungguh aneh,"
"Paman baru melihatnya sekali!" celetuk pria kecil yang tengah memegang roti dari arah belakangnya. Nicholas menoleh dan langsung mengusap kepala Alex.
__ADS_1
"Aku sudah sering melihat tingkah Kakak yang seperti anak kecil." tambahnya membuat Nicholas hanya menggaruk tengkuknya. Bahkan anak usia 10 tahun saja melihatnya secara live streaming percuma.
"Jangan di lihat. Kau masih kecil, bahaya!" tegas Nicholas membuat Alex hanya mengangguk acuh.
Kembali lagi kepada Chelsea dan Zane yang saling berpandangan. Para bodyguard kembali dan di buat menegang melihat adegan yang tidak seharusnya mereka lihat, "Kembali ke posisi kalian!" perintah Zane tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ada apa?" tanya Chelsea membuat Zane mendengus kesal. Apakah wanita di hadapannya tidak tahu, bahwa dirinya sedang cemburu karena kucing milik Chelsea?
"Suami mu itu aku atau kucing itu, sih?!" tanya Zane membuat Chelsea bingung.
"Tentu saja kamu, Zane. Mana mungkin kucing bisa menjadi suami ku," jawab Chelsea dengan lugas. Zane menarik pinggang ramping itu hingga membuat tubuh mereka begitu dekat tanpa jarak.
"I'm jealous, honey!"
HAH??
...****************...
Ayah Robert, pria paruh baya tersebut menatap mansion yang tak kalah megah di hadapannya. Dengan pakaian kasual, pria tersebut hanya tersenyum tipis saat melihat sang sahabat, Owen dan Bellamy menatapnya dengan haru.
"Kau akhirnya kembali ke kota," kata Mama Bellamy dengan air mata penuh haru. 17 tahun menetap di desa terpencil tanpa ada yang mengetahui, tentu saja membuat orang tua dari Zane itu sangat senang, terlebih lagi mereka sudah menjadi besan.
"Aku harus kembali, ada hal yang harus aku lakukan, Bell." jawab Ayah Robert tak lupa menepuk-nepuk kepala sahabatnya itu.
Papa Owen dan Ayah Robert sudah berteman sejak kecil, hubungan keduanya sangat baik hingga saat ini. Keduanya juga lahir di keluarga tersohor, hingga sekarang. Tidak ada kata rival, pesaing, atau musuh dalam hubungan keduanya. Begitu juga dengan Mama Bellamy dan mendiang istri Robert. Mereka berdua baru berteman, sejak Robert menikah dengan wanita cantik itu. Dan ternyata, kecantikan serta sifat dari mendiang Kimberly menurun kepada sang putri, Chelsea.
"Ayo masuk, Chelsea pasti senang melihat kedatangan mu." ajak Papa Owen. Ayah Robert hanya mengangguk dan mengikuti langkah kedua sahabatnya itu. 17 tahun menetap di desa, membuat mansion megah milik sahabatnya itu benar-benar terlihat berbeda, banyak perubahan dari segi interior yang jauh lebih mewah, dan lainnya.
"Ternyata di sini banyak perubahan selama aku tidak ada, bukankah begitu Owen?" tanya Ayah Robert membuat Owen terkekeh geli.
"Benar, semuanya saran dari Bella." jawab Papa Owen dengan merangkul mesra sang istri. Mama Bellamy mendengus dan menepis tangan sang suami, tidak mungkin Mama Bellamy menyahuti sikap romantis Papa Owen, di saat sahabatnya sendiri masih mencintai mendiang istrinya.
Ayah Robert hanya tersenyum kecut dan mendudukkan dirinya di sofa. Hingga tatapan pria itu jatuh pada sebuah pajangan foto yang cukup besar, foto mereka berempat, di saat Kimberly masih ada dengan menggendong putri kecil mereka. Mama Bellamy mengikuti arah pandang Ayah Robert, wanita itu menghela napas panjang.
"Maaf, bila kami masih memajang foto lama ini, Robert." kata Mama Bellamy membuat Ayah Robert menoleh. Tatapan pria itu tampak sendu tetapi enggan untuk memperlihatkan kesedihannya yang masih terasa hingga sekarang.
__ADS_1
"17 tahun lamanya, dan tidak terasa sudah aku menduda."
"You're lonely?" tanya Papa Owen dengan menaikturunkan alisnya. Ayah Robert mendesah kesal melihat tatapan menggoda dari sahabatnya itu.
"Tidak, karena aku masih memiliki tiga putra yang begitu membuat hari-hari ku berwarna." balasnya ketus dengan melipat kedua tangannya. Mama Bellamy terdiam dan berpikir sejenak.
"3 putra? Itu artinya putra kembar mu ikut ke kota?" tebak Mama Bellamy, Ayah Robert hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak mungkin Ayah Robert memberikan hak asuh kedua putra kembarnya, kepada wanita ular yang haus kekayaan seperti Anggun.
"Sidang perceraian ku sedang di urus, aku pastikan hak asuh Ashton dan Ashley jatuh di tangan ku." lirih Ayah Robert dengan tatapan yang tidak bisa mereka berdua artikan. Papa Owen merasakan ada suatu hal yang akan terjadi.
"Apakah kau mengetahui tentang kejadian Chelsea di-"
"Semua itu ulah dari Anggun dan Reno bukan? Aku mengetahui semuanya, dan aku tidak akan tinggal diam kali ini. Anggun terlalu meremehkan aku selama ini, dan Reno terlalu berani berbuat nekat habis untuk memenuhi ambisinya untuk mendapat Chelsea, dan aku tidak akan membiarkan ambisi itu menjadi kenyataan." ungkap Ayah Robert membuat Papa Owen langsung menepuk pundak sang sahabatnya.
"Perlu kau ketahui, sejak kejadian itu, perubahan sikap Zane semakin kentara. Sikapnya begitu overprotektif dan ..."
"Very spoiled!" tambah Mama Bellamy dengan senyuman merekah membongkar sifat putranya akhir-akhir ini. "Aku seperti tidak mengenali pria overprotektif itu akhir-akhir ini."
Ayah Robert tersebut senang, karena pada akhirnya sang putri kesayangan mendapatkan tempat yang seharusnya. Awalnya Ayah Robert tidak menyangka bila pria asing yang Chelsea bawa dalam keadaan terluka, adalah putra sulung dari kedua sahabatnya ini. Bukankah itu yang dinamakan dengan jodoh?
"Aku menjadi teringat dengan perjodohan itu," celetuk Mama Bellamy membuat kedua pria paruh baya tersebut menoleh. "Kalian ingat? Kita berempat sepakat untuk menjodohkan putri mu dengan putra ku, Zane." lanjut Mama Bellamy dengan menatap Ayah Robert yang tengah berpikir.
"Iya aku ingat, tapi tanpa kita jodohkan pun mereka tetap menikah. Apakah kalian tahu bagaimana awal mula mereka saling mengenal?" Papa Owen mengangkat bahunya tidak tahu. Zane yang saat itu tiba-tiba saja menelpon dan mengatakan akan melamar seorang wanita desa tanpa pikir panjang, bahkan perkenalkan mereka cukup singkat, yaitu 3 Minggu saja.
"Tidak, tapi aku merasa bahwa mereka saling mengenal kurang dari sebulan." jawab Mama Bellamy tidak yakin.
"Kau benar, Bell. Malam hari, aku di kejutkan dengan Chelsea memapah pria asing dengan keadaan terluka dari sungai. Chelsea mengatakan, bahwa pria itu tidak sengaja mengintip dirinya saat sedang mandi di sungai, mungkin pria itu tergelincir di atas batu yang banyak lumut, satu minggu di rumah sederhana ku, aku baru menyadari bahwa pria asing itu adalah Putra kalian."
"WHAT!" pekik Mama Bellamy yang terkejut dengan penuturan Ayah Robert. Papa Owen bahkan tak kalah tercengang, putranya mengintip Chelsea saat sedang mandi di sungai? Sangat membuatnya terkejut.
"Mengintip?" beo Papa Owen dengan Ayah Robert mengangguk membenarkan. Sontak saja, Papa Owen memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut, mendengar tingkah laku putranya saja sungguh membuatnya malu bukan main.
"Reno adalah putra bungsu kepala desa, pria itu mengejar-ngejar Chelsea dan menawarkan pernikahan untuk sebagai pelunasan hutang ku, tapi pria itu tidak tahu bahwa drama hutang-piutang itu hanyalah settingan belaka, bersama kedua orang tuanya. Tetapi saat itu bertepatan juga dengan Zane menawarkan pernikahan kepada Chelsea, aku melihat bagaimana Zane mencintaimu putri ku dengan tulus tanpa rencana apapun. Dan sekarang pilihan ku sangat benar, dengan menikahkan putri ku dengan putra kalian." jelas Ayah Robert semakin membuat Mama Bellamy dan Papa Owen tak habis pikir dengan putranya.
"Astaga anak itu, benar-benar membuat ku pusing sejak dulu!" keluh Papa Owen membuat Mama Bellamy langsung menatapnya sinis.
__ADS_1