Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Honeymoon


__ADS_3

Kini, di balkon kamar mereka yang begitu luas, Chelsea menatap indahnya langit-langit malam yang dihiasi bintang. Wanita itu sengaja menggerai rambut panjangnya dan memejamkan kedua matanya.


"Apakah aku sudah melakukan hal yang benar, dengan mengakui perasaan ku selama ini?" gumam Chelsea dengan kedua mata yang masih tertutup, menikmati semilir angin malam.


Zane sedang kedatangan tamu yang menurutnya tidak di undang, siapa lagi kalau bukan Daniel dan Nicholas. Dua pria yang akhir-akhir ini begitu rajin menginap, di mansion megah keluarga Lincoln. Entah apa yang ketiga pria itu bicarakan, hingga membuat Chelsea tidak memperdulikannya. Wanita itu super gugup perihal tadi.


Hingga sebuah tangan kekar melingkar di perut rata Chelsea, membuat wanita itu terkejut dan menolehkan kepalanya.


"Sayang," panggil Zane dengan suara lembutnya.


"Kau mengejutkan aku!" tegur Chelsea membuat Zane hanya tersenyum dan meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Apa yang kau pikirkan? Akhir-akhir ini kau begitu banyak pikiran,"


Chelsea tersenyum tipis, ternyata Zane memperhatikan dirinya walaupun tidak terlalu di perlihatkan. "Tidak ada, aku hanya merasa senang."


"Senang? Karena apa?" tanya Zane dengan mengeratkan pelukannya. Pria tersebut yang seperti puas setelah menggempur dirinya di dapur, bahkan Sonia melihat aktivitas mereka, Chelsea yang sedikit ketar-ketir tapi berbanding terbalik dengan Zane yang santai.


"Maaf karena aku baru mengungkapkan perasaan ku. A ... aku hanya tidak yakin dan takut kau kecewa, Zane." jawab Chelsea membuat Zane benar-benar di bawa melayang oleh ucapan sang istri. Baginya pengungkapan cinta Chelsea sangat berarti baginya.


"Tidak perlu meminta maaf. Mari kita membuka lembaran baru dengan perasaan yang baru," kata Zane dengan begitu tulus hingga menyentuh hati Chelsea. Wanita itu mengangguk tanpa ragu dan membalikkan badannya, mengalungkan tangannya dan menatap manik mata Zane yang sangat indah itu.


"Aku lelah, bisakah kita langsung istirahat saja, Zane?"


"Tapi bagaimana dengan-"


"Kita bisa melakukannya saat honeymoon," sela Chelsea membuat Zane tercengang. Bahkan pelukan mereka sudah terlepas, Chelsea bergegas masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya yang lelah. Pusaka milik Zane udah on, dan sekarang Chelsea meminta untuk melakukannya.


Rasanya Zane ingin melayangkan protes, tetapi saat melihat Chelsea yang sudah terlelap dalam hitungan menit, membuat Zane tidak tega. Pria itu mengusap kasar wajahnya dan melepaskan pakaiannya.


"Untuk hari ini aku melepaskan mu, Amora." gumam Zane yang berjalan ke arah kamar mandi. Pria itu akan menuntaskan hasratnya sendiri dengan bermain solo.


Mendengar gemericik air dari kamar mandi, membuat Chelsea langsung membuka matanya, "Rasakan itu." gumam Chelsea lirih.


Bergegas turun dan mengambil ponselnya di meja. Chelsea berniat untuk menghubungi Ayah Robert untuk melepas rindu. Perasaan rindunya begitu menggebu-gebu, tangannya bergetar saat suara dering itu tak kunjung di angkat oleh Ayah.


"Halo, Ayah!"


"Chelsea? Apa kabar, Nak?"


Air mata wanita itu seketika lolos, "Aku sangat baik. Bagaimana dengan Ayah, Ibu, dan si kembar? Kenapa tidak menelpon ku, Ayah?" tanya Chelsea membuat Ayah Robert terkekeh geli di sebatang sana.


"Ayah sedikit ada kesibukan, Sayang. Kenapa kau belum tidur?"


"A ... aku belum mengantuk dan aku sangat merindukan Ayah!" jawab Chelsea tanpa ragu.


"Ayah juga sangat merindukan mu, Nak."


Chelsea memilih untuk mendudukkan dirinya di lantai balkon yang dingin, kepalanya bersandar pada pembatas balkon dan terdiam.


"Apakah keluarga Lincoln memperlakukan mu dengan baik?" tanya Ayah Robert membuat sang wanita tersebut bergeming sejenak.


"Kenapa Ayah menyembunyikannya dari ku?" Bukannya menjawab, Chelsea mempertanyakan apa yang mengganjal di hatinya.


"Apa yang Ayah sembunyikan?" tanya Ayah Robert tidak mengerti.


Chelsea mengigit bibir bawahnya, wanita itu terlihat ragu-ragu untuk menanyakan perihal identitas sang Ayah, "Tentang identitas asli, Ayah selama ini."

__ADS_1


DEG ....


Ayah Robert langsung bungkam di seberang sana, pria itu terkejut saat sang putri mengetahui tentang identitas aslinya setelah bertahun-tahun Ia menutupi dengan rapat-rapat.


"Nak, Ayah-"


"Kenapa juga Ayah menyembunyikan tentang status pernikahan Ayah dengan Ibu Anggun? Kalian nikah siri bukan?" sela Chelsea kembali dengan sebuah pertanyaan.


Ayah Robert tidak bisa kembali mengelak tentang kebohongan yang selama ini Ia simpan. Ayah Robert menghela napas dan membuat Chelsea semakin menahan tangisannya. Wanita itu menutup mulutnya, agar tangisannya tidak terdengar oleh sang Ayah.


"Maafkan, Ayah. Ayah memiliki alasan yang kuat kenapa menyembunyikan identitas asli kita, Nak."


"Ja ... jadi semua itu benar? Ayah ingin memasukkan wanita yang sudah membuat kita kecelakaan ke penjara?!" tanya Chelsea dengan sedikit meninggikan suaranya. Ayah Robert merasakan napasnya tercekat mendengar suara tangisan sang putri.


"Nak, darimana kau mengetahuinya?"


"Tidak penting aku mengetahuinya dari mana, Ayah. Kenapa Ayah tidak jujur kepada ku, apakah Ayah menikah dengan Ibu Anggun hanya karena tanggungjawab kepada si kembar? Ayah, jawab aku!" desak Chelsea membuat Ayah Robert semakin kehabisan kata-katanya.


"Kenapa-"


"Amora?"


...****************...


Di Negara Eropa ....


Pesawat pribadi mewah milik Zane baru saja mendarat di bandara. Zane melirik Chelsea yang masih tertidur pulas dengan bersandar di bahunya, beberapa jam di atas awan, ternyata membuat Chelsea berkali-kali tertidur pulas tanpa terganggu sedikitpun.


Karena tidak ingin Chelsea terbangun, Zane memilih untuk mengangkat tubuh sang istri. Zane sengaja mengajak beberapa bodyguard dan kedua sahabatnya, Daniel dan Nicholas untuk berjaga-jaga. Karena prinsip kedua sahabatnya adalah, mereka harus ikut kemanapun Zane pergi. Seperti sekarang contohnya.


"Selamat datang, Tuan." sapa beberapa bodyguard pribadi Zane yang sudah menunggu kedatangan sang Tuan. Kekayaan yang tidak terhitung dengan aset yang menyertai, tentu saja mereka tidak asing lagi dengan keluarga Lincoln, keluarga pebisnis tersohor.


"Daniel siapkan hotel untuk ku!" kata Zane membuat Daniel langsung mengeluarkan iPad miliknya.


"Saya sudah menyiapkan kamar president suite untuk beberapa waktu ke depan, Tuan Zane." jawab Daniel dengan formal. Mereka tentu saja mengerti situasi, di mana menggunakan non formal dan di mana menggunakan bahasa formal.


"Kalian naik mobil satunya. Saya akan langsung ke hotel,"


"Baik, Tuan!" sahut Daniel dan Nicholas bersamaan. Zane mendudukkan Chelsea dengan perlahan dan menyusul masuk.


"Hotel Breg Lincoln!" perintah Zane dengan langsung memasang kacamata hitamnya. Mobil mewah berwarna putih itu langsung berjalan menuju tempat tujuan. Tangan pria itu terus-menerus mengusap pundak sang istri, agar Chelsea tidak terbangun karena dirinya.


Zane teringat dengan Chelsea yang menangis setelah tidak memberikannya jatah malam. Seorang anak mana yang tidak sakit, di bohongi bertahun-tahun selama ini. Chelsea memiliki identitas yang sangat jelas di mata masyarakat, bahkan termasuk penerus dari perusahaan A.M Company yang selama ini, telah di nyatakan meninggal dunia karena kecelakaan.


"Maaf membuat mu menangis," lirih Zane dengan mengecup puncak kepala sang istri. Rasa cintanya semakin besar di setiap hatinya, Chelsea yang begitu memahami dirinya begitu dalam, membuat Zane benar-benar jatuh hati. Zane bagaikan mendapatkan hadiah besar di kehidupan yang sangat monoton ini.


Kehidupannya mulai berwarna karena Chelsea, ada yang memenuhi kekosongan hatinya setelah bertahun-tahun putus cinta. Zane semakin beruntung karena usahanya mendapatkan Chelsea ternyata mendapatkan lampu merah dari keluarga Chelsea dan Lincoln.


Tak lama, mereka akhirnya tiba di hotel berbintang yang benar-benar mewah dari segi bangunan. Zane menggendong Chelsea keluar, membuat wanita itu melenguh dan mengeratkan tangan pada leher Zane.


"Kita sudah tiba, sampai kapan kau akan terus tertidur, hmm?" tanya Zane membuat Chelsea perlahan membuka matanya dan tersenyum tipis.


"Kita sudah tiba? Kita di mana?"


"Kita istirahat di hotel, setelah itu kita akan berkeliling. Bagaimana?"


Chelsea yang masih setengah sadar pun hanya mengangguk dan membiarkan Zane menggendongnya. Para pegawai hotel bergegas menyambut kedatangan pemilik hotel dan terkejut saat sang atasan yang mereka kagumi, ternyata sedang menggendong seorang wanita cantik.

__ADS_1


"Wanita yang di gendong oleh Tuan Muda, siapa?"


Para pegawai mulai bertanya-tanya tentang Chelsea. Zane hanya berwajah datar dan masuk ke dalam lift, bersama Daniel dan Nicholas.


"Kalian urus tentang pengumuman hubungan ku dengan Amora." celetuk Zane membuat Daniel mengangguk paham.


Tak lama, mereka akhirnya sampai di kamar mewah yang berada di lantai paling atas. Merebahkan tubuh Chelsea dan membiarkannya kembali istirahat.


"Kau ingin ke mana?" tanya Chelsea membuat Zane menoleh.


"Aku akan ke kamar Daniel dan Nicholas. Kau istirahat lah, aku tidak akan lama." jawab Zane dengan memberikan kecupan manis di kening sang istri. Chelsea tersenyum dan menggeleng menolak.


"Aku ingin berkeliling sekarang," kata Chelsea dengan antusias. Zane menghela napas panjang dan akhirnya mengangguk.


"Baiklah, pakai blazernya." Chelsea hanya mengangguk dan memakai blazer hitam itu. Menggandeng lengan Zane dengan posesif, tentu saja Chelsea mendengar bisikan tentang Zane saat berada di lobby, dan hal itu membuat Chelsea hanya menghela napas panjang. Ia sadar bahwa suaminya sangat tampan, konglomerat, pengusaha sukses, dan juga seksi.


"Ada apa?" tanya Zane saat melihat Chelsea yang memanyunkan bibirnya. Zane ingin mencium sang istri, tetapi memilih untuk tidak melakukannya karena Chelsea pasti akan mengamuk kepadanya.


"Tidak ada. Pakai kacamata mu!" tutur Chelsea membuat Zane tersenyum lebar.


"Sekarang kita sedang honeymoon, membuat adonan donat menjadi donat matang." ujar Zane dengan senyuman merekah, "jangan memikirkan apapun selain honeymoon. Okay, baby?"


Chelsea melirik kesal, "Lalu aku tidak boleh memikirkan wanita-wanita yang sedang memandang mu di lobby? Begitu maksud mu?!"


GLEK ....


"Tentu saja boleh. Aku akan melakukan hal yang sama. Karena Mama dan Papa request di buatkan donat matang, jadi kita harus menuruti permintaan orang tua," balas Zane dengan mengusap perut rata Chelsea dengan senyuman mesum.


"Dasar mesum!" Cibirnya membuat Zane benar-benar tertawa. Hingga mereka keluar dari lift, membuat semua atensi pegawai dan pengunjung hotel langsung teralihkan ke arah Chelsea dan Zane.


"Astaga, bukankah itu Tuan Muda Zane? Pengusaha terkenal itu?!" celetuk seorang wanita muda yang begitu terpesona dengan ketampanan Zane.


"Tapi siapa wanita di samping nya itu?"


"Mungkin kekasihnya,"


"Kalau kekasih pasti sudah ada beritanya," jawab wanita lainnya dengan melirik sinis ke arah Chelsea.


"Tapi bila di lihat-lihat, wanita itu sangat cantik. Membuat miliknya langsung-"


"EKHEM!"


3 Wanita dan 2 pria itu tersentak saat dua orang pria yang tidak kalah tampan dengan Zane, mengejutkan mereka berlima. Zane melirik Daniel melalui ekor matanya, seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Mohon jangan berbicara macam-macam di sini, Nyonya dan Tuan!" kata Daniel dengan suara yang begitu tegas di telinga mereka.


"Heh, memangnya siapa kau yang berani sekali mengatur kami?!" tanya satu pria lainnya. Daniel rasanya ingin membasmi kelima orang di hadapannya.


"Benar, kami ini adalah pelanggan tetap di hotel Breg Lincoln!" sahut satu wanita di sana dengan sinis. Nicholas menaikkan alisnya dengan kesal.


"Dan kami adalah sahabat dekat dari Tuan Zane!" balas Nicholas membuat kelima orang tersebut terkejut bukan main.


"Kami tidak membutuhkan pelanggan hotel seperti kalian, yang hanya bisa mencemooh orang lain!" ketus Daniel dengan tatapan yang sangat tajam. Kelima orang tersebut langsung panas dingin katakan perkataan Daniel dan Nicholas.


"A ... apa?!"


"Wanita yang berada di samping Tuan kami itu adalah istrinya!" Daniel menunjuk salah satu pria yang membuatnya kesal, "sekali mulut kotor Anda berbicara seperti tadi, maka jangan salahkan kami bila bertindak!"

__ADS_1


__ADS_2