Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Desa Yang Indah


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, Nicholas, Daniel, dan Zane sudah bersiap-siap untuk berangkat untuk keperluan proyek di sebuah desa. Beberapa bodyguard sudah Nicholas utus untuk ikut bersama mereka, hanya untuk sekedar berjaga-jaga saja.


"Kakak akan membawakan mainan yang banyak untuk kalian berdua," kata Zane dengan mengacak rambut kedua Adik kembarnya yang sejak tadi hanya diam.


"Apakah Kakak akan lama di sana?" tanya Alexia dengan tangan yang sudah di infus kembali, tubuhnya kembali lemah sejak kemarin, dan dokter memintanya untuk beristirahat total, tetapi gadis cantik itu merengek untuk melihat kepergian Zane.


Daniel tersenyum di belakang sana, "Hey princess Disney!" sapa Daniel dengan suara girangnya. Alex mengerutkan keningnya, saat melihat tingkah Daniel yang selalu terlihat konyol di matanya.


"Ada apa, uncle?"


"Jangan bersedih, karena uncle Daniel dan uncle Nicholas akan membawa istri untuk Kakakmu yang sudah terlalu lama tidak di sentuh," ungkap Daniel sekaligus mengejek. Zane mendelik tajam dan langsung menarik kerah baju sang sahabat.


"Kau ingin mati ternyata!" ancam Zane dengan mata melotot tajam. Daniel meringis, bukan karena takut dengan ancaman Zane, tetapi melihat bagaimana tatapan Mama Bellamy kepadanya.


"Benarkah?" celetuk Papa dari Zane yang sejak tadi hanya diam, Owen Gervinho Lincoln. Mama Bellamy mengangguk semangat.


"Mama yakin pasti Putraku akan mendapatkan wanita yang baik di sana! Bukankah begitu Nicholas?"


Nicholas yang hanya diam, ikut menoleh dan tersenyum canggung. "Be ... benar, Nyonya."


"Kau dengar itu!" Papa Owen mengangguk antusias. Zane menghela napas panjang dan bergegas masuk ke dalam mobil, daripada harus menyaksikan drama para orang tua.


"Aku tidak ingin terlambat!" ketus Zane membuat Daniel dan kedua orang tua Zane tertawa puas melihatnya.


"Jangan lupa untuk mencari calon istri di sana, Papa tidak mau tahu!" teriak Papa Owen membuat Zane tersenyum sinis mendengarnya.


Daniel dan Nicholas bergegas masuk ke dalam mobil dan berpamitan untuk pergi. Setelah kepergian mobil mewah tersebut, Alex dan Alexia saling berpandangan satu sama lain.


"Mama, apa itu istri?" tanya Alexia dengan polosnya. Mama Bellamy menoleh dan terkekeh geli.


"Istri itu adalah wanita yang sudah menikah dan memiliki anak, seperti Mama dan Papa." jelas Mama Bellamy dengan mengusap wajah pucat putri kesayangannya. Papa Owen menggendong Alex dengan senang hati.


"Ayo masuk, nanti kalian akan sakit."


Di lain sisi ....


Daniel, Zane, dan Nicholas hanya diam tidak berbicara. Meraka berada di satu mobil, dengan Nicholas dan Daniel berada di depan, sedangkan Zane di belakang.


"Kita membutuhkan berapa waktu untuk tiba?" tanya Zane membuka suara. Daniel membentak spion dalam dan menatap raut wajah masam atasannya itu.


"3 jam, karena desa ini terpencil dan sulit untuk di tempuh. Semoga saja jalannya tidak rusak,"

__ADS_1


"Maksud mu, kita harus berjalan kaki sampai di desa?" tanya Zane dengan ketus. Daniel mengangkat bahunya tidak tahu, sesuai yang Nicholas cari perihal desa Mentari, desa terpencil yang memiliki pemandangan indah dengan sawah yang mengelilinginya.


"Ya seperti itu lah, berdoa saja semoga jalannya tidak rusak seperti otak mu itu." Kata Daniel dengan gerutuan di akhir kalimat.


"Kau berbicara apa?" tanya Zane dengan mata memicing. Daniel di buat ketar-ketir sendiri karena ucapannya, hingga pria itu nyengir dan menggeleng.


"Kau sudah mendapatkan hotel?"


Nicholas menoleh, "Di desa mana ada hotel, Zane. Jadi aku menyewa sebuah rumah di dekat permukiman warga, yang memang sengaja di sewakan."


"Apakah sudah lengkap dengan ART?" celetuk Daniel yang sibuk menyetir itu.


"Tidak, kau yang akan menjadi ART sementara sebelum aku mendapatkannya." Daniel menoleh terkejut bukan main karena ucapan Nicholas.


"Aku? Kenapa tidak meminta bantuan warga, kita juga pasti akan memberikan upah,"


DUK ....


"Shhhh," Daniel meringis karena ulah Zane yang memukul kursi kemudinya dengan keras. Entah dendam apa yang dia miliki dengan Daniel sejak kemarin.


"Sebaiknya fokus saja pada jalanan!"


...****************...


DESA MENTARI ....


Sebuah desa terpencil dari suasana padatnya kota, pemandangan alam yang begitu menyejukkan mata, membuat siapapun akan betah karenanya. Lebatnya hutan di setiap perjalanan, dan sudah di kelilingi oleh banyaknya sawah hijau, bahkan Nicholas yang tipe pria yang pendiam pun, terus-menerus bersuara memuji keindahan Desa Mentari. Hembusan angin segar di sore hari, membuat Zane merasa sangat tenang akan suasananya.


"Aku mungkin akan betah berlama-lama di sini nantinya." gumam Nicholas untuk sekian kalinya. Entah berapa banyak kata yang sama yang terus Pria itu lontarkan setiap menitnya.


"Kenapa kau berubah menjadi pria cerewet, Nic!" protes Zane yang merasa kesal. Bahkan untuk tidur dalam perjalanan pun rasanya tidak bisa mereka bertiga lakukan, Daniel yang masih tetap di kursi kemudi hanya diam dengan sesekali menguap.


"Nic, tolong gantikan aku mengemudi. Aku mengantuk sekali!" sambar Daniel di tengah perdebatan kedua sahabatnya. Zane hanya diam dan Nicholas mengangguk. Berpindah posisi tempat duduk setelah mobil berhenti di pinggir jalan, tetapi tatapan Zane jatuh pada hewan bertanduk yang begitu asing di matanya.


"Kenapa sapi di gunakan untuk membajak sawah? Aneh!" gerutu Zane membuat Daniel dan Zane yang baru saja berpindah posisi pun menoleh.


"Sapi?" beo Daniel yang langsung menatap ke arah sawah di depan sana. "Bodoh, itu kerbau bukan sapi, Zane!" lanjut Daniel dengan kesal.


"Aku bisa saja memecat mu, Daniel di detik dan menit ini juga!" jawab Zane dengan wajah datarnya. Daniel bisa-bisa terkena serangan jantung karena ulah pria dewasa yang sungguh menyebalkan dan menguras emosi seperti Zane.


"Terserah diri mu saja!"

__ADS_1


Mobil mewah itu kembali bergerak, membuat para petani dan buruh yang berlalu lalang dengan sepeda butut mereka, seketika menatap kagum pada kedatangan mobil milik Zane. Bukan hanya satu mobil mewah, tetapi ada sekitar 4 buah mobil hitam yang mengikuti mobil Zane di belakang sana.


"Mereka siapa ya?" tanya Bapak-bapak dengan para temannya.


"Entah lah, mungkin mereka bukan orang biasa, kita harus menyambut kedatangan orang itu!"


"Menyambut? Memangnya mereka presiden?!"


"Entahlah, di lihat dari kendaraan roda empat yang mereka bawa, mewah dan sepertinya juga mahal, tentunya bukan orang biasa kan."


Bapak-bapak tani yang siap ke pulang dari sawah ke rumah pun mengangguk setuju, mereka tidak mengenal siapa yang datang, mengingat kawasan desa mereka sangat sulit untuk di jangkau dengan akses, bahkan jalan setapak pun hanya di penuhi oleh batu-batu tanpa aspal.


Namun, minus desa tersebut di tutupi oleh keindahannya. Siapapun pasti akan betah, termasuk ketiga pria yang baru saja tiba di sebuah rumah yang mereka sewa selama seminggu untuk tinggal.


"Benar ini rumah yang kau sewa?" tanya Zane memastikan. Bodyguard yang menyiapkan keperluan ketiga pria tersebut pun mengangguk.


"Benar, Tuan. Hanya rumah ini saja yang di sewakan, fasilitas sudah lengkap dan keadaan rumah pun begitu." jawab bodyguard tersebut dengan kepala tertunduk. Mereka sangat mengetahui bagaimana Zane, yang begitu menyukai kebersihan dan keindahan, bahkan sudah menghias taman depan rumah dengan beberapa bunga.


"Baiklah, aku ingin membersihkan diri. Masukkan barang-barang ku!" perintah Zane membuat para bodyguard mengangguk patuh.


"Tapi, Tuan-"


"Kalian cepat masukkan barang-barang ke dalam," sela Daniel membuat bodyguard tersebut menghela napas. Ada hal yang belum Ia sampaikan, dan cukup penting.


Sudahlah, nanti saja aku beritahu kepada mereka. Batin bodyguard tersebut dengan helaan napas panjang.


Sedangkan di dalam sana, Zane yang sedang menikmati sejuknya air pedesaan pun mulai mengerutkan keningnya. "Ada apa ini? Kenapa shower airnya mati?" gumam Zane dengan keadaan kepala yang penuh dengan busa.


"DANIEL, NIC!" teriak Zane dari kamar mandi, membuat Daniel dan Nicholas yang sedang menikmati kopi dan gorengan, langsung terkejut bukan main. Mereka saling bertatapan dan bergegas menyusul Zane yang sudah berbalut jubah mandinya.


"Ada apa, Zane?" tanya Nicholas kebingungan. Zane keluar dari kamar mandi dan berkacak pinggang.


"KENAPA AIR DI KAMAR MANDI TIBA-TIBA SAJA MATI?!" tanya Zane dengan galak. Tak lama, bodyguard yang bertugas menyiapkan rumah sewa pun datang dengan tergesa-gesa.


"Tuan-"


"Kau?! Bukankah kau yang menyiapkan rumah ini, kenapa air di sini tiba-tiba saja mati?!" tanya Zane dengan wajah penuh emosi. Daniel mencoba untuk menahan tawanya saat menyadari dengan rambut Zane, yang sedikit di penuhi busa.


"Tu ... tuan, saya ingin memberitahukan bahwa sewaktu-waktu air bisa mati, bukan hanya di rumah ini tetapi di rumah warga juga sama, jadi mau tidak mau kita harus main ke sungai!" jelas bodyguard tersebut membuat Zane, Daniel, dan Nicholas membulatkan matanya.


"SUNGAI?!"

__ADS_1


__ADS_2