Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Terpesona Untuk Sekian Kalinya


__ADS_3

"Tuan!"


Zane yang tengah berseteru dengan Reno, akhirnya menoleh ke belakang. Terlihat Daniel dan Nicholas berlari setelah keluar dari dalam mobil, dengan diikuti semua bodyguard. Terlihat raut wajah khawatir dari kedua pria tersebut.


"Zane, kau kemana saja?!" Tanya Nicholas dengan raut wajah khawatir.


Zane menghela napas panjang dan melirik ke arah Reno dan Chelsea secara bergantian. "Aku baik-baik saja," jawab Zane dengan dingin.


"Heh, dasar pria tidak berguna! Kenapa kau diam saja, jawab aku?!" hardik Reno penuh amarah. Chelsea menatap Reno dengan tatapan sulit untuk diartikan.


"Bang, sebaiknya Abang pergi-"


"ABANG PERGI, BERARTI KAMU HARUS IKUT ABANG!"


Chelsea tersentak saat Reno menarik lengannya dengan kasar. Daniel, Nicholas, dan Zane langsung menoleh cepat. Chelsea mencoba untuk menepis tangan Reno yang terus-menerus menariknya untuk ikut dengannya dengan paksa.


"Bang! Lepas, Chelsea enggak mau!"


Zane merasa geram saat melihat tingkah Reno yang memaksa Chelsea. Dengan segala kekesalan dan amarah yang menumpuk dalam dirinya, Zane langsung memberikan bogem mentah pada wajah Reno yang menurutnya sangat pas-pasan itu.


BUGH ....


"AKHHH!"


Chelsea langsung memundurkan langkahnya, wanita itu menutup mulutnya terkejut karena Zane. Reno yang tersungkur di tanah dengan wajah meringis kesakitan. Daniel dan Nicholas semakin di buat kebingungan dengan tingkah laku Zane yang tidak seperti biasanya.


Daniel dan Nicholas bahkan baru menyadari bila kepala Zane terbalut dengan kasa putih. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria tampan berwajah bule itu? Pikir Daniel penuh kebingungan. Para bodyguard sudah bersiap siaga untuk menjaga ketiga pria tersebut, termasuk Chelsea yang masih syok.


"Brengs**, berani sekali kau!" umpat Reno penuh amarah dan bergegas bangun dari posisinya. Zane hanya menyunggingkan senyum miring dan hanya bersikap santai saja.


"Aku hanya memberikan pelajaran pada bocah ingusan seperti mu! Aku tidak suka melihat ada wanita di sakiti seperti tadi!" kata Zane dengan tatapan mengerikan. Reno beralih menatap para pria bertubuh kekar berbaju hitam yang sudah menatapnya dengan bengis.


Percaya diri dan keberanian Reno seketika menciut karena melihat tatapan para pria yang badannya jauh lebih besar darinya. Reno hanya pria berusia 25 tahun tanpa memiliki pekerjaan, hanya mengandalkan uang orang tua dan selalu di manja oleh Ibunya. Chelsea mendekat dan langsung menarik lengan Zane agar menjauh dari Reno.


Bagaimanapun, Zane masih tahap pemulihan dan Chelsea yang bertanggungjawab atas kondisi pria itu. "Bang, sebaiknya kau pergi sebelum dia memukul mu lagi," kata Chelsea membuat Reno tersadar dan menatap wanita cantik itu dengan kesal.


"Kau lebih memilih membela pria asing ini daripada aku?! Kau tau aku siapa? Aku adalah anak dari kepala desa, aku akan membuat perhitungan dengan mu, Chel!" ancam Reno membuat Chelsea menatap kesal pada pria itu.


"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepada mu, Bang. Kau yang mencari keributan dan sekarang kau menyalahkan kami? Aku bisa saja melaporkan mu ke polisi atas tindakan pelecehan!" sahut Chelsea membuat Reno langsung terdiam. Chelsea menunjuk pergelangan tangannya yang terluka karena ulah Reno.

__ADS_1


Reno bergegas pergi meninggalkan mereka semua. Chelsea menghela napas dan menatap cemas kepada Zane. "Kau baik-baik saja, Tuan?"


Zane tersadar dan langsung meraih lengan Chelsea yang terluka. "Kau terluka? Ayo kita pulang dan aku akan mengobati luka mu!"


Dimas dan Nicholas di buat tercengang dengan reaksi Zane. Sejak kapan pria itu bisa menunjukkan rasa khawatirnya kepada seorang wanita? Bahkan kepada Mama Bellamy saja sedikit tidak peduli bukan berarti tidak khawatir.


"Nic, sepertinya atasan kita otaknya udah rusak," bisik Daniel membuat Nicholas melirik tajam. Chelsea yang merasa di perhatikan pun menoleh dan langsung tertunduk malu.


"Tuan, ada mereka!"


Zane menghela napas dan menatap para sahabatnya, "Kalian kembali ke rumah, aku akan ke rumah Chelsea."


"Hey, setidaknya jelaskan dulu mengapa kau bisa menghilang semalam!" ketus Daniel membuat Zane mengangguk.


"Akan aku ceritakan nanti. Tolong kalian urus proyek itu untuk sementara waktu,"


Nicholas mengangguk, sedangkan Daniel hanya mendengus kesal. "Tapi bagaimana dengan-"


"Kau mau aku pecat, Daniel?"


GLEK ....


...****************...


"Kalian dari mana saja?" tanya Ayah Robert yang baru saja dari halaman belakang. Ayah Robert kebingungan karena tidak melihat putri dan pria asing yang di selamatkan oleh putri nya itu.


"Maaf, Ayah. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar rumah," jawab Chelsea dengan Zane yang mengangguk membenarkan. Ayah Robert mengangguk dan masuk dengan diikuti oleh mereka berdua.


"Hari sudah mulai sore, sebaiknya kau membersihkan diri, Tuan." Kata Chelsea membuyarkan lamunan Zane. Ya, Zane tengah memuji kecantikan alami yang di miliki oleh Chelsea yang berhasil menyihir dirinya dalam sekejap waktu.


Anggap saja, Zane menemukan cinta pertamanya dan cinta pertamanya adalah Chelsea. Seorang wanita kembang desa yang begitu cantik menawan dan juga begitu sederhana, Zane menyukai semua tentang Chelsea. Detak jantung Zane merasa tidak normal sejak tadi, bahkan berdetak jantungnya semakin kencang saat bertatapan wajah cantik Chelsea.


"Ah, i ... iya, apakah airnya hidup?" tanya Zane. Chelsea mengangguk canggung.


"Maaf, Tuan. Air di desa Mentari selalu hidup dan mati secara tiba-tiba, tapi tenang saja, di belakang rumah ada sumur."


Alis Zane mengerut bingung, "Sumur? Apa itu?" tanyanya penuh kebingungan. Chelsea terdiam dan baru mengingat bila Zane adalah orang kota, mungkin di kota tidak ada sumur atau sungai pikir Chelsea.


"Tempat penampungan air, hanya untuk berjaga-jaga saat air mati, Tuan." jelas Chelsea dengan raut wajah yang ikut kebingungan. Zane tersenyum tipis melihat tingkah lucu wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Baiklah, kau saja yang duluan. Aku akan menyusul Ayah mu ke belakang," kata Zane membuat Chelsea mengerutkan keningnya.


"Untuk apa?"


"Tentu saja aku akan membantu Ayah mu untuk berkebun."


Chelsea terdiam, Zane bergegas meninggalkan ruang tengah menuju halaman belakang. Zane terpukau melihat pemandangan belakang rumah Chelsea. Rumput hijau dan banyak sayuran yang di tanam di sana.


Zane mendekati pria paruh baya yang sibuk berkebun sayuran. "Tuan," panggil Zane membuat Ayah Robert menoleh dan tersenyum tipis.


"Zane, kau kemari? Ada keperluan apa, Nak?" tanya Ayah Robert. Zane mendekati dan menatap paruh baya yang sudah di penuhi keringat itu. Zane menjadi teringat dengan Papa Owen sekarang.


"Biar saya bantu, Tuan."


Ayah Robert tertawa geli, "Tidak perlu, nanti Ayah yang terkena omelan dari Chelsea. Sebaiknya kau duduk saja," tolak Ayah Robert membuat Zane mendesah pelan. Zane hanya menurut dan mendudukkan dirinya di kursi kayu di bawah pohon.


"Tuan, kenapa Anda tidak membawa anak dan istri Anda pergi ke kota?" tanya Zane membuat aktivitas Ayah Robert terhenti sejenak. Pria paruh baya itu terdiam dan kembali melanjutkan aktivitas bertanamnya.


"Untuk apa aku membawa mereka ke kota? Membiarkan mereka bertingkah laku seperti anak kota? Aku tidak ingin hal itu terjadi, Zane." jawab Ayah Robert dengan lugas. Hati Ayah Robert begitu berat untuk meninggalkan desa mendiang dari istri tercintanya. Walaupun sudah bertahun-tahun, tetapi cinta itu masih ada hingga saat ini.


Ayah Robert hanya menikahi Anggun, karena rasa tanggungjawab yang Ia miliki dengan kandungan wanita itu. Pernikahan yang harus Ia lakukan tanpa di dasari cinta, hal itu lah yang membuat Anggun begitu tidak menyukai Chelsea.


"Tuan, tidak semua orang kota akan berlaku seperti itu. Mungkin mereka terpengaruh dari orang lain, atau-"


"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"


Zane dan Ayah Robert sontak menoleh. Zane terdiam melihat Chelsea yang sudah lengkap dengan pakaian sederhana, dengan rambut basahnya. Zane terpesona untuk sekalian kalinya akan kecantikan Chelsea.


"Ayah, ini minumnya." Kata Chelsea dengan meletakkan segelas air di meja kayu. Ayah Robert tersebut dan mendekati putri sulungnya.


"Tidak ada yang kami bicarakan. Ke mana Ibu mu pergi?" tanya Ayah Robert dengan menyeruput air miliknya. Sedangkan Zane tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Chelsea.


Ayah Robert yang menyadari akan tatapan Zane yang sungguh berbeda, hanya menghela napas panjang.


Sepertinya dia sudah mulai jatuh cinta dengan Putri ku. Batin Ayah Robert yang merasa tidak rela melihat Putrinya di cintai pria lain, selain dirinya.


"Ekhem!"


Lamunan Zane langsung buyar setelah itu, melihat tatapan yang di tujukan oleh Ayah Robert kepadanya, Zane menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena ketahuan terpesona dengan kecantikan Chelsea. Chelsea yang tidak tahu apa-apa hanya menatap kedua pria di tersebut dengan bingung.

__ADS_1


"Ayah dan Tuan Zane kenapa?"


__ADS_2