Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Sonia dan Ibunya


__ADS_3

Zane berencana untuk mengajak Chelsea ke dokter kandungan untuk memastikan. Pria itu tampak sangat antusias, membuat Chelsea yang hanya memperhatikan tingkah sang suami ikut tersenyum. Wanita cantik dengan rambut yang di ikat dan dress selutut itu mendekat dan memeluk tubuh sang suami dari belakang.


"Aku cemburu," kata Chelsea membuat Zane terkekeh geli dan membalikkan badannya.


"Cemburu? Kepada siapa?"


"Tentu saja kepada bayi kita, dia belum lahir saja kau begitu menyayanginya. Apakah kau tidak-"


CUP ....


Zane mengecup sekilas bibir sang istri, "Aku menyayangi, mencintaimu sampai kapanpun. Aku juga cemburu!"


Kini giliran Chelsea yang di buat bingung, "Kenapa siapa?"


"Tentu saja kepada kucing pemberian dari Arthur itu! Kau lebih memilih kucing itu daripada suami mu sendiri," protes Zane membuat terkekeh geli dan kembali memeluk tubuh kekar itu.


"Cemburu kepada kucing pemberian Kak Arthur atau kepada Kak Arthur?" tanya Chelsea membuat tubuh Zane langsung menjadi tegang. Menyadari ketegangan dari Zane, membuat Chelsea lagi dan lagi mengulas senyum.


"Aku tahu apa yang kau rasakan. Maafkan sikap Kak Arthur yang terlalu berlebih, jangan terlalu di masukan ke hati," kata Chelsea dengan begitu lembutnya. Zane memejamkan matanya dan semakin merapatkan tubuhnya. Menghirup aroma tubuh Chelsea, yang membuat Zane begitu tenang dan betah lama-lama mengurung wanita berbadan dua itu di kamar.


"Sebaiknya kita batalkan saja janji temu dengan dokter," celetuk Zane tiba-tiba tanpa melepas pelukannya. Chelsea mendelik dan mendorong pelan tubuh kekar tersebut.


"Kenapa? Bukankah kau yang membuat janji temu?!" tanya Chelsea dengan nada kesal. Zane sedikit membungkuk dan memandangi wajah putih itu.


"Aku ingin melahap mu lagi," bisik Zane dengan tak lupa tangan nakal pria itu, meremas ***** milik sang istri. Zane seperti bukan Zane yang dingin, datar, ketus, tidak tersentuh. Tapi berbeda dengan sekarang yang begitu manja, bucin, overprotektif, siaga layaknya suami pada umunya kepada istri.


Chelsea menepis tangan Zane dengan kesal, "Tidak ada sentuhan-sentuhan!" ketusnya membuat Zane mendesah pelan.


"Sayang, kau begitu cantik hari ini, mana mungkin aku membiarkan pria lain menatap istri ku!" jawab Zane dengan nada merengek. Chelsea tidak bisa menyembunyikan senyumnya dan melirik sinis.


"Jadi hari-hari sebelumnya, aku tidak cantik?!" tanya Chelsea terlihat semakin kesal. Zane gelagapan dan menggeleng sebagai jawabannya.


"Bu ... bukan seperti itu!" tampik nya. Zane mulai frustasi saat Chelsea keluar dari kamar dengan menghentakkan kakinya. Zane bergegas menyusul sang istri yang sedang mode aneh menirunya. Tak seperti biasanya Chelsea merajuk karena hal sepele, tetapi Zane menikmati masa kehamilan sang istri, yang memang belum di ketahui oleh keluarga Lincoln maupun Lemos.


"Sayang, tunggu aku!" Chelsea menoleh dan memandang wajah juteknya. Bukannya marah, Zane semakin di buat gemas dengan pola tingkah istrinya yang begitu random. Zane merangkul mesra sang istri dan membenarkan baju lengan dress wanita itu, mana mungkin Zane rela bila ada yang melihat kulit putih seputih susu itu di lihat, oleh orang lain apalagi pria hidung belang.


"Jangan merajuk, kau bahkan jauh lebih cantik dari siapapun." bisik Zane membuat Chelsea memalingkan wajahnya. Wanita itu tampak menahan senyuman dan langsung menepis tangan Zane.


Sedang mereka tidak menyadari, bahwa Ibu Tasya melihat keromantisan dari pria yang di cintai oleh putrinya, Sonia. Tatapan wanita paruh baya itu terlihat meremehkan serta tangan terlipat di depan dada.


"Ini baru awalnya saja, aku tidak akan membiarkan mu untuk tetap terus menganggu rencana Putri ku." Gumam Ibu Tasya dengan senyuman yang begitu mengerikan. Pembelaan yang sempat Ia berikan kepada Chelsea beberapa waktu yang lalu, hanyalah sebuah hiasan kecil sebelum memulai permainannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Sonia menceritakan apa yang Zane lakukan kepadanya, termasuk menahannya di negara Eropa selama dua Minggu lebih dan pulang ke Indonesia tanpa memberitahu. Penolakan yang Zane berikan kepada Sonia, begitu sangat terang-terangan dan terkesan tidak menghargai Ibu Tasya maupun Sonia.


"Zane harus menjadi milik Sonia, bukan milik Chelsea." gumamnya kembali dengan menyeringai kecil di sudut bibirnya. Ibu Tasya mengeluarkan ponsel dan mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang.


Kita harus bertemu sekarang juga. Aku memiliki tugas penting untuk mu.


...****************...


Di sebuah kamar, Sonia menatap Ibu Tasya terheran-heran. Sangat jarang Ibunya itu menawarkan dirinya untuk minum bersama seperti sekarang. Sebuah botol wine kadar alkohol yang cukup tinggi, dengan dua gelas yang sudah terisi dan sudah beberapa di teguk oleh kedua wanita pecinta minuman tersebut.


"Ada apa, Bu? Tidak seperti biasanya, Ibu mengajak ku untuk minum seperti sekarang?" tanya Sonia heran. Wanita berstatus janda tanpa anak itu meneguk wine nya kembali dan menatap Ibu Tasya yang tersenyum tipis.


"Apakah kau mengetahui, kalau Chelsea tengah mengandung saat ini?"


"Mengandung? Chelsea hamil?!" tanya Sonia dengan raut wajahnya yang berubah menjadi terkejut sekaligus tidak terima. Ibu Tasya mengangguk dan memberikan sebuah alat tes kehamilan milik Chelsea, yang Ia dapatkan dari salah satu pelayan yang membersihkan kamar pasangan suami-isteri tersebut.


Sonia termenung menatap alat tes kehamilan bergaris dua di hadapannya, "pregnant? Tidak, Ibu mendapatkan benda ini dari mana?" seolah-olah enggan untuk menerima kenyataan, Sonia menepis tangan sang Ibu, hingga alat tes tersebut terjatuh ke lantai.


"Uang," jawab Ibu Tasya dengan enteng. "Dengan uang kita bisa menyuruh orang, dengan uang kita beli segalanya, termasuk sebagai ancaman." tambahnya dengan meneguk gelas wine miliknya. Sonia mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Maksud nya?"


"Kau tidak paham? Dasar wanita konyol, bagaimana bisa wanita ***** seperti mu menjadi putri ku!" cibir Ibu Tasya membuat Sonia mendelik kesal. Wanita berusia 28 tahun itu, tidak terima dengan ucapan sang Ibu yang mengatainya wanita *****.


"Jangan membahas pria lumpuh itu!" sahut Ibu Tasya kesal. Sonia mencibir kesal dengan tingkah sang Ibu.


"Ceraikan saja pria lumpuh itu! Lagipula sudah tidak berjalan dan setiap hari hanya menyusahkan saja!" kesal Sonia dengan menatap Ibunya yang seperti tidak berniat merespon ucapannya. "Do you hear me or not, Mom?!"


"Ibu mu ini tidak tuli!" kelakar sang Ibu dengan menyulutkan api rokok. Ya, Ibu Tasya adalah perokok pasif sejak masih sekolah hingga saat ini, menurutnya rokok bagaikan sudah menjadi teman dan makanannya setiap hari. Hidup tanpa rokok, sangat sulit baginya.


UHUK ....


Sonia mengibaskan tangannya ke udara, untuk menjauhkan asap rokok dari hadapannya, "Bu! Berhentilah merokok! Nanti Ibu sakit lagi!" tegur Sonia yang hendak mengambil rokok dari sela-sela jari sang Ibu, tetapi Ibu Tasya menepis dan menatap sang Putri dengan tatapan ancaman.


"Jangan memperdulikan aku! Katakan, apakah kau mengerti dengan semua ucapan ku sebelumnya?"


Sonia menghela napas panjang dan mengeluarkan sebuah kipas mini miliknya, jalan satu-satunya agar terhindar dari asap rokok. Ibu Tasya terkekeh sinis melihat sang putri.


"Aku mengerti maksud mu, pasti Ibu meminta pelayan untuk masuk ke dalam kamar dan mencari apa yang Ibu inginkan, right?" tebak Sonia membuat Ibu Tasya mengangguk bangga, mengangkat tinggi-tinggi gelas wine nya.


"Dan kita memiliki uang untuk membeli orang," kata Ibu Tasya kembali mengulang ucapannya. Sonia memiringkan kepalanya, seolah-olah mulai berpikir.

__ADS_1


"Apa yang Ibu rencanakan? Jangan bilang Ibu-"


"Benar. Lagipula dia sedang membutuhkan uang, jadi apa salahnya Ibu menawarkan walaupun dengan cara mengancam. Tanpa uang, kita menjadi debu jalanan seperti Anggun. Wanita rendahan itu bahkan sudah luntang-lantung di jalanan," hina Ibu Tasya dengan perasaan bahagia. Sonia menyunggingkan senyum tak biasa dan menuangkan kembali wine ke dalam gelas.


"Katakan, apa yang Ibu rencanakan." desak wanita tersebut.


"Membuat Chelsea menghilang dari muka bumi,"


Menghilang dari muka bumi?! batin Sonia terkejut bukan main dengan penuturan sang Ibu.


"Ibu sudah gila!" pekik Sonia tak habis pikir, "Bu, Chelsea adalah putri dari Robert Lewandowski Lemos dan Kimberly Ryder!" tambahnya dengan emosi yang mulai tersulut.


Alis Ibu Tasya mengerut bingung dengan nama yang begitu asing di pendengarnya itu, "Siapa Robert Lewandowski Lemos dan Kimberly Ryder itu? Paling hanya keluarga rendahan-"


"Mother is very wrong now!" sela Sonia, "Chelsea Amora Lemos, adalah putri tunggal dari Robert Lewandowski Lemos dan mendiang istrinya, Kimberly Ryder. Mereka pengusaha kaya raya dan tersohor ketiga setelah keluarga Lincoln, Bu!" Ungkap Sonia membuat Ibu Tasya kehabisan kata-kata.


"Wa ... what?! Is what you said true?" tanya Ibu Tasya tak percaya. Melihat anggukan kepala dari Sonia, membuat hati Ibu Tasya sedikit bergetar, tetapi tidak dengan niat besarnya.


"Robert Lewandowski Lemos adalah suami dari Ibu Anggun, Ibu tiri Chelsea yang waktu ini menatap di sini!" ungkap Sonia kembali membuat jantung Ibu Tasya seolah-olah berhenti berdetak.


DEG ....


"Kalau Anggun adalah istri dari pengusaha tersohor, kenapa wanita itu berpakaian seperti itu?!" tanya Ibu Tasya. Sonia terdiam sejenak dan menghela napas panjang.


"Kemungkinan besar, Ayah Chelsea tidak memberitahukan tentang identitas aslinya. Tapi entahlah,"


Sial! Wanita udik itu ternyata mendapatkan barang yang begitu besar walaupun bekas orang! batin Ibu Tasya.


"Tidak apa-apa, Nak. Niat Ibu sudah sangat bulat!" celetuk Ibu Tasya tiba-tiba, Sonia kembali mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Maksudnya?"


"Kita tidak perlu peduli tentang siapa Chelsea sebenarnya. Kita harus bermain cantik agar keluarga Lincoln atau Lemos tidak mengetahui rencana kita. Kau setuju?"


Sonia menatap Ibunya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Wanita itu begitu menginginkan Zane menjadi miliknya, walaupun Zane sudah menolak tetapi Sonia adalah wanita lantang menyerah, sebelum mendapatkan apa yang Ia inginkan.


"Aku mencintai Zane dan aku menginginkan Zane menjadi milikku! Bila Zane tidak bisa menjadi milikku, itu artinya Chelsea juga tidak bisa memilikinya!" ucap Sonia yang langsung menyambut uluran sang Ibu tanpa ragu secukupnya.


Ibu Tasya semakin tersenyum dan mengangkat gelas wine nya tinggi-tinggi, "Cheers?"


TING ....

__ADS_1


"Cheers!"


__ADS_2