
Bodyguard yang bertugas menyiapkan keperluan Zane, dan kedua bawahannya hanya tertunduk dengan salah satu kaki yang di angkat, dan kedua tangan di telinga. Ya, Daniel memilih memberikannya hukuman ringan karena dirinya juga bersalah, karena menyela ucapan sang bodyguard.
"Astaga, lalu bagaimana dengan aku? Aku belum mandi sejak tadi pagi." gumam Daniel dengan mencium bau tubuhnya yang mulai tidak sedap karena keringatnya sendiri. Pria itu menghela napas panjang dan membuka kemeja putih yang sejak tadi melekat di tubuhnya.
"Tuan, di dekat sini ada sungai." celetuk bodyguard yang berdiri tengah di hukum oleh Daniel. Pria muda itu menoleh sinis dan menghela napas. Daniel masih kesal karena perihal air mati, sekarang dirinya yang juga kena imbas kemarahan Zane dan Nicholas.
"Seharusnya kau cek terlebih dahulu, kalau begini kan kita semua yang susah!" kesal Daniel membuat bodyguard tersebut menggaruk tengkuknya sendiri, dan merasa bersalah. Mungkin memang salahnya karena sedikit melakukan kecerobohan. Kalau saja yang menghukum dirinya adalah Zane, maka sudah di pastikan dirinya akan di pecat hari ini juga tanpa bisa di ganggu gugat.
Sedikit beruntung karena yang menyela untuk menghukumnya adalah Daniel, bukan Zane atau Nicholas yang memang memiliki watak yang hampir sama, yaitu datar, tidak terbantahkan, dan dingin. Bahkan kedua pria tersebut sangat di segani oleh masyarakat kota dan juga para pebisnis lainnya.
Namun, keduanya selalu tidak luput dari tarikan telinga maut dari Mama Bellamy sampai kapanpun. Nicholas memang tinggal bersama dengan keluarga Lincoln selama ini, sebagai bentuk tanggungjawab Papa Owen kepada Lincoln, karena orang tua dari Nicholas lah yang menitipkan dirinya sebagai bentuk hukuman di masa lalu.
Entah masa lalu apa yang membuat seorang Nicholas harus di asing kan beberapa tahun dan bertemu dengan keluarga Lincoln. Nicholas juga tidak menceritakan apapun sampai sekarang, pria itu memilih tutup mulut dan memilih untuk tidak kembali pada keluarganya. Rasa dendam dan sakit hati masih bisa Ia rasakan walaupun mereka berjauhan dengan Nicholas.
Pria dingin dan tinggi itu bagaimana bayangan seorang Zane, berpikir bijaksana adalah dirinya. Nicholas lebih memilih menjadi bawahan seorang Zane, daripada harus kembali kepada keluarganya, yang mungkin saat ini tidak mengharapkan dirinya kembali ke rumah. Nicholas tidak peduli akan hal itu, karena pria itu sudah menemukan kebahagiaannya di negara tempat saat ini Ia berada.
"Tuan, saya tidak akan ceroboh lagi!"
Daniel berdecak sinis, "Katakan itu kepada Tuan Zane, jangan kepada ku!"
Daniel langsung melenggang pergi menyusul Zane dan Nicholas yang akan pergi menuju sungai, beberapa bodyguard juga akan ikut untuk berjaga-jaga, terlebih lagi sore hari akan berlalu menjadi malam dalam waktu singkat.
"Kalian benar akan pergi ke sungai?" tanya Daniel memastikan. Zane menoleh kesal dan menunjuk pada rambutnya yang masih sedikit berbusa dan harum shampoo.
"Semua ini karena kesalahan kalian. Jangan harap kalian selamat nanti!"
GLEK ....
Para bodyguard termasuk Daniel dan Nicholas menelan ludahnya sendiri. Mereka tahu bahwa Zane tidak akan pernah main-main dengan ucapannya sendiri, pernah sekali Zane benar-benar marah besar karena pengkhianatan yang Ia terima di dalam perusahaan cabangnya. Zane langsung meratakan sang pelaku dengan gerak cepat tanpa ampun sedikitpun.
"Nic! Cepat!"
__ADS_1
Nicholas mengangguk dan mengikuti langkah Zane menuju mobil. Nicholas sudah mencari tahu tentang sungai terdengar, ternyata berada tidak jauh dari rumah sewa mereka, sungai yang memiliki air jernih dan segar, mendengar penuturan Nicholas, membuat Zane merasa senang karena akan menyentuh air setelah beberapa menit berdiam diri, dengan rambut berbusa.
"Kalian pastikan kawasan sungai aman! Aku tidak ingin, ada yang melihat ku mandi!"
"Baik, Tuan!"
...****************...
"Wah, mata airnya sangat jernih!" puji Daniel setelah mereka semua tiba di sebuah sungai dengan aliran air yang begitu tenang dan tidak terlalu deras. Daniel menyentuh air dengan berdiri di atas batu besar.
"Sepertinya akan segar bila berendam sebentar." kata Nicholas yang berdiri di batu yang sama dengan Daniel.
Mereka berdua sudah akan bersiap untuk menikmati sejuknya air sungai, beberapa bodyguard juga sudah berjaga dan mengamankan sekitaran sungai, agar tidak ada yang melihat ketiga pria tampan itu sedang membersihkan diri.
"Kalau aku tau di desa Mentari memiliki sungai dengan air jernih, aku pasti sudah sedari dulu kemari." kata Daniel dengan merendamkan tubuhnya dengan menyandarkan punggungnya di batu besar. Daniel memilih untuk masih tetap memakai pakaiannya, mana mungkin Daniel membuka pakaian di depan para bodyguard yang terang-terangan mengawasi mereka.
"Aku merasa rasa penat ku hilang," sahut Nicholas dengan telanjang dada. Mereka berdua begitu menikmati sejuknya air dan sesekali bergurau.
Berbeda dengan Zane yang sudah duduk di pinggiran sungai, dengan keadaan rambut sudah bersih dari busa. Wajah pria itu tampak masam, melihat tingkah kedua sahabatnya. Zane mengira, kedua sahabatnya tidak akan membersihkan diri dan langsung pergi setelah urusan rambut Zane selesai. Tapi dugaannya sangat salah, Zane menjadi kesal sendiri.
"Kami akan membersihkan diri setelah Tuan Daniel dan Tuan Nicholas selesai, Tuan." jawab salah satu bodyguard membuat Zane mendesah kesal.
"Jangan pedulikan mereka berdua. Sampai kapan kalian berdiri dan menunggu mereka berdua selesai? Lebih baik kalian bersihkan diri, aku akan berjalan-jalan di sekitar sini,"
"Perlu kami-"
Ucapan itu langsung tergantung saat Zane memberikan tatapannya. Para bodyguard bergegas menyusul Daniel dan Nicholas, dan meninggalkan Zane seorang diri. Dengan pakaian yang sudah lengkap, Zane menghela napas panjang dan mengacak rambutnya yang basah dengan kesal.
"Aku harus mendapatkan wanita pilihan ku sendiri, atau tidak Mama dan Papa akan terus menjodohkan ku!" gumamnya kesal dengan menendang batu-batu kecil.
Zane memilih untuk pergi sedikit menjauh dengan di temani ponsel dengan senter yang menyala. Hawa dingin sedikit menyeruak menembus pakaian miliknya.
__ADS_1
Hingga langkah kaki Zane terhenti begitu saja, saat kedua telinganya mendengar secara samar-samar seseorang bersenandung kecil. Alis pria itu mengerut bingung dan mencari sumber suara yang membuatnya penasaran.
"Ada orang lain di sungai?" gumamnya. Hingga dirinya berdiri di sebuah batu besar, suara senandung itu semakin terdengar jelas. Zane memejamkan kedua matanya, menikmati senandung lagu samar-samar itu.
Zane sangat suka, bahkan tanpa sadar dirinya mengintip dari celah batu besar itu. Kedua matanya membulat sempurna, saat melihat seorang wanita cantik yang tengah mengguyur tubuhnya dengan air sungai, rambut panjang, kulit seputih susu membuah Zane terdiam melihatnya.
"Cantik," gumamnya sangat pelan. Entah sadar atau tidak, Zane menyunggingkan senyum tipisnya dan semakin di buat penasaran dengan wanita cantik bagaikan bidadari itu. Tidak pernah Zane melihat wanita secantik dengan wajah polos nan lugu seperti wanita yang sedang Ia intip. Tubuhnya di baluti sebuah kain dan terus mengguyur tubuhnya.
Tanpa sadar, pusaka Zane berdiri dan seperti ingin di keluarkan. Zane meringis kecil dan terkejut melihat pusaka miliknya berdiri tegang hanya karena mengintip seorang wanita mandi. "Apaan ini!"
Zane bergegas pergi, bisa bahaya dirinya terus di sana. Mendengar suara langkah kaki, membuat wanita cantik bagaikan bidadari itu menoleh terkejut.
"Siapa di sana?!"
Hening. Wanita itu bergegas menyelesaikan ritual mandi dan segara mengambil pakaiannya. Wanita itu terlihat ketakutan bila ada yang mengintip dirinya sedang mandi.
Zane di buat gelagapan saat wanita asing itu menyadari kehadiran dirinya. Zane naik ke atas batu untuk melompat, tetapi semuanya tidak sesuai ekspektasi seorang Zane. Kaki pria itu tergelincir karena batu terdapat lumut yang sangat licin, hingga menyebabkan Zane kehilangan keseimbangan di atas batu besar tersebut.
BRUK ....
"AKHH!" rintih Zane merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Darah segar mulai keluar dengan deras, membuat Zane samar-samar mendengar suara langkah kaki mendekati dirinya.
"Astaga!" pekik seorang wanita yang sudah berpakaian lengkap. Wanita itu terkejut bukan main, saat pria asing berwajah bule tergeletak mengenaskan di atas batu dengan darah mengucur deras.
Zane tersenyum tipis, karena rasa penasarannya sedikit menghilang, wajah wanita asing itu terlihat jelas di mata Zane. Sangat cantik dan jauh lebih cantik dari wanita yang sering Ia temui di kota. Wanita itu bergegas mendekati Zane dengan perasaan kalut nya.
"Tuan! Ada tidak apa-apa?!" tanya wanita itu dengan mencoba membangunkan Zane yang sudah menutup matanya.
"Tuan! Tuan, bangun!" panggil wanita itu dengan menepuk-nepuk pipi Zane. Merasa tidak di respon, wanita cantik itu melihat sekitaran yang sangat sepi dan menghela napas.
"Apa aku bawa saja ke rumah? Lagipula di sini sangat sepi, akan ada kesalahpahaman yang akan terjadi, bila aku tetap di sini." gumam wanita itu dengan terus mengecek keadaan Zane. Membalut kepala Zane dengan selendang yang ternyata tidak sengaja Ia bawa, agar pendarahan Zane tidak terus berlanjut. Mencoba untuk menurunkan Zane dari atas batu dengan susah payah, bahkan pakaiannya kembali basah karena terkena air.
__ADS_1
"Astaga, dia berat sekali."
Mungkin ini yang di namakan dengan malapetaka membawa berkah. Malapetaka karena Zane terjatuh, berkah karena Zane melihat pemandangan yang mengemukakan mata, yaitu mengintip wanita cantik sedang mandi.