
DI MANSION LINCOLN ....
"Zane,"
Derap langkah Zane langsung berhenti, ketika seorang memanggil namanya. Pria itu menoleh dan tersenyum kecil menyambut hangat seorang wanita paruh baya, Mama Bellamy.
"Mama membutuhkan sesuatu?" tanya pria tersebut dengan wajah yang kembali seperti semula, datar. Mama Bellamy tersenyum dan mendekati Putra sulungnya itu.
"Apakah kau sudah menemukan dokter untuk Alexia?" tanyanya membahas Zane terdiam sejenak. Beberapa hari terakhir ini, kondisi Adik perempuan Zane mulai menurun, bahkan semua obat sudah masuk ke dalam tubuhnya seperti tidak berguna untuk melawan penyakit langka yang di derita oleh anak gadis itu.
"Ma, aku sedang berusaha untuk mendapatkan dokter terbaik untuk menyembuhkan Alexia. Aku berjanji," ucap Zane dengan menggenggam erat tangan sang Mama dengan penuh keyakinan. Mama Bellamy menghela napas panjang dan seperti mulai putus ada dengan penyakit anak bungsunya.
"Nak, penyakit Alexia adalah penyakit langka. Dokter dan obat manapun tidak akan-"
"Ma, percaya kepada Tuhan. Kita tidak boleh putus asa, Alexia harus kuat demi kita, kita kuat untuk Alexia. Ma, bila-"
"Kakak,"
Mama Bellamy dan Zane sontak menoleh ke arah Alex yang berdiri di ujung tangga dengan baju tidur masih melekat di tubuhnya. Pria kecil itu melangkah mendekati sang Kakak dan bergelayut di lengan Mama Bellamy.
"Kakak, apakah Alexia akan sembuh?" tanya Alex dengan menatap penuh harap kepada sang Kakak. Zane hanya mengukir senyum tipis dan berjongkok di hadapan sang Adik.
"Jangan menangis, bila Alexia melihat mu menangis, dia bisa memukul mu nanti." Alex sontak menghapus air matanya, "Kakak akan berusaha untuk membuat Alexia sembuh." imbuhnya dengan tatapan sendu.
"Kakak janji?" Zane menatap kelingking yang di sodorkan oleh Alex kepadanya. "Ayo berjanji, kalau Kakak akan membuat Alexia sembuh!" Desak Alex membuat Zane melirik Mama Bellamy yang sudah memalingkan wajahnya menahan air mata.
"Ja ... janji?" beonya bingung. Bahkan pria itu tidak yakin dengan ucapannya sendiri, mengingat kondisi Alexia akhir-akhir ini sudah memburuk dan harus beberapa kali juga keluar-masuk rumah sakit, karena penyakitnya itu. Penyakit langka yang sudah ada di tubuh gadis manis berusia 10 tahun, selama 8 tahun. Dan segala upaya sudah Keluarga Lincoln lakukan untuk menyembuhkan penyakit Alexia.
Aku bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan penyakit. Bila aku berjanji, maka Alex akan terus berharap kepada ku. batin Zane berkecamuk. Dirinya mulai tidak bisa berpikir jernih saat ini, entah harus memilih memberikan harapan palsu atau tidak melakukan apapun.
"A ... aku-"
"Alex, Kakak mu ini sedang ingin mencari dokter yang hebat untuk Alexia." sahut Chelsea secara tiba-tiba dari arah lain. Wanita dengan perut buncit itu mendekat dan mengusap kepala Alex dengan lembut.
"Dengarkan Kakak," Alex membalikkan badannya, Zane menatap sang istri dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. "Apakah kau percaya dengan adanya Tuhan?"
Alex mengangguk cepat, "Percaya, Kak."
__ADS_1
"Lalu, apakah kau juga percaya kalau Tuhan Maha adil, dan Maha Kuasa?" tanya Chelsea kembali membuat Alex mengangguk. "Kak Zane bukan Tuhan atau orang pintar yang bisa menyembuhkan penyakit ringan atau penyakit berat, Alex. Satu-satunya agar Alexia sembuh adalah perbanyaklah berdoa kepada-Nya, Alexia pasti akan sembuh. Percaya kepada Kakak,"
"Alex, ayo ganti pakaian mu, Nak." Alex tanpa banyak bicara langsung mengikuti langkah Mama Bellamy menuju kamar, dan kini hanya ada Zane dan Chelsea yang saling berpandangan.
"Amora, a ... aku-"
"Jangan menyerah, aku di sini untuk mu, Zane." sela Chelsea dengan mengelus lengan sang suami yang terasa dingin. Zane tersenyum dan memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Aku takut," cicit nya dengan suara pelan. "Aku takut kehilangan orang yang aku sayang, untuk kedua kalinya." imbuhnya dengan lirih. Chelsea mengelus punggung Zane dengan sangat lembut.
"Jangan putus asa, kita pasti bisa menyembuhkan Alexia. Kalau kau menangis, aku dan si kembar juga, hiks ...."
"Maaf,"
...****************...
"Zane sudah meninggalkan rumah,"
Ibu Tasya tampak mengintip di sela-sela jendela kamarnya yang memang mengarah ke halaman depan, terlihat Zane yang baru saja menjalankan mobilnya bersama kedua sahabatnya. Ibu Tasya menyungging senyum miring dan berbalik badan.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanya Ibu Anggun dari seberang sana. Ibu Tasya tersenyum lebar mendengar pertanyaan tersebut.
Ibu Tasya bergegas keluar untuk mencari tahu tentang Chelsea, dan ternyata bertepatan pula dengan kedatangan wanita hamil itu yang akan melewati kamarnya.
"Chelsea," panggilnya dengan suara lantang. Chelsea sontak menoleh dan mengerutkan keningnya.
"Apakah kau sibuk?"
"Tidak untuk hari ini, apakah ada yang penting?" tanya Chelsea dengan bingung. Ibu Tasya tanpa pikir panjang langsung mengangguk membenarkan.
"Bisakah kau mengantar ku ke mall, aku harus membeli beberapa keperluan untuk Ayah Sonia." jawab Ibu Tasya berhasil mengundang tatapan curiga dari Chelsea. Semenjak hamil, bukan suasana hatinya saja yang berubah-ubah, tetapi perasaannya jauh lebih tajam dari biasanya.
"Bibi bisa mengajak Sonia," kata Chelsea yang sebenarnya enggak untuk menerima ajakan dari Ibu Tasya.
"Sonia sedang sibuk bekerja, akhir-akhir ini kita sering sering terlihat konflik, tidak bisakah kita berdamai?"
Tapi setelah itu kata damai tidak berlaku lagi, Chelsea. batin Ibu Tasya menyeringai ke arah Chelsea yang tampak berpikir.
__ADS_1
"Zane melarang ku untuk pergi tanpa sepengetahuannya. Aku tidak bisa," tolak Chelsea para akhirnya membuat wajah murung Ibu Tasya terlihat, tentu saja itu hanya bagian dari sandiwaranya.
"Kau benar-benar belum memaafkan ku? Aku dulu memang begitu menginginkan Sonia menjadi istri Zane, tapi aku sadar bahwa aku tidak memiliki hak, untuk menentukan jodoh seseorang." terang Ibu Tasya membuat Chelsea terdiam sejenak. Melihat Ibu Tasya yang mulai menangis, membuat jiwa bersalah Chelsea tentu tergoyahkan.
"Aku sudah memaafkan mu, Bi."
"Bohong! Buktinya kau tidak ingin menemani ku berbelanja. Kau bisa meminta izin kepada Bellamy atau siapapun di rumah ini," tutur Ibu Tasya yang terdengar mendesak agar Chelsea menerima ajakannya. Terdengar helaan napas dari Chelsea membuat wanita paruh baya tersebut berharap besar.
"Tapi hanya sebentar saja, aku tidak ingin Zane marah karena aku pergi tanpa izinnya. Aku akan meminta izin kepada Mama,"
Senyuman mulai terukir di wajah Ibu Tasya, bukan senyuman bahagia melainkan senyuman licik karena Chelsea sudah mulai masuk ke lobang yang Ia buat. "Aku akan bersiap, kita harus shopping sesekali!"
Chelsea hanya tersenyum dan bergegas menuju kamarnya. Ibu Tasya memiringkan kepalanya dan tersenyum miring, "Ya sesekali shopping untuk terakhir kalinya. Karena ini adalah terakhir kalinya aku melihat mu, Chelsea." gumamnya dengan menyeringai tajam.
Ibu Tasya masuk kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, "Rencana ini harus berhasil, aku harus membuat Sonia menikah dengan Zane, dan aku akan mendapatkan semua harus keluarga Lincoln! Astaga, aku sangat senang sekali!" girang Ibu Tasya dengan memutar-mutar tubuhnya dengan bahagia.
"Halo, Tasya. Ada apa?"
"Dengarkan aku, datanglah ke lokasi yang aku kirimkan. Karena tujuan kita ada di sana, Clara." jawab Ibu Tasya dengan senang.
"Iya, iya. Aku akan mengatur siasat dulu, kau tunggu perintah dari ku. Jangan gegabah!"
Ibu Tasya langsung memutar matanya malas dan menutup panggilan telepon tersebut. Mulai menyiapkan diri untuk pergi bersama Chelsea, dan tak lupa membawa sebuah benda yang sangat Ia perlukan nanti, "Sekali tangkap, 3 lalat kena!"
Setelah selesai bersiap-siap, Ibu Tasya langsung keluar dari kamar dan ternyata sudah ada Chelsea dan Mama Bellamy di depan pintu kamarnya. "Kakak?"
"Aku akan ikut,"
DEG ....
Wanita tua ini tidak boleh menggagalkan seluruh rencana ku! batin Ibu Tasya yang menatap terkejut ke arah Mama Bellamy.
"Bibi kenapa menatap Mama seperti itu? Apakah Mama tidak boleh ikut dengan kita?" tanya Chelsea dengan bingung. Ibu Tasya mengubah raut wajahnya dengan sebuah senyuman terpaksa.
"Mana mungkin aku menolak permintaan Kakakku, aku hanya terkejut karena Kakak jarang sekali ke Mall." balas Ibu Tasya membuat Mama Bellamy tertawa ringan. Ibu Tasya menaikkan alisnya tidak mengerti, kenapa Mama Bellamy malah tertawa mendengar ucapannya.
"Kau tidak tahu? Aku hampir setiap hari ke mall untuk shopping, kau kurang memperhatikan diri ku selama ini ternyata, Tasya." jelas Mama Bellamy membuat Ibu Tasya langsung tersenyum canggung. Chelsea mengapit lengan Mama Bellamy dengan manja.
__ADS_1
"Aku tiba-tiba saja menginginkan es krim rasa pisang," ungkap Chelsea, "Ma, ayo! Aku ingin es krim rasa pisang di campur mayones!"
"Apa?"