
Di Rumah Sewa ....
Dengan seorang diri, Zane menatap langit-langit kamarnya, hanya ada beberapa bodyguard yang Zane minta untuk menyamar di antara warga, tentu saja atas perintah dari Nicholas dan Daniel. Kedua pria itu terlalu antusias saat mendengar, dirinya akan menikahi salah satu wanita desa yang telah menolongnya. Zane hanya berdiam diri di dalam kamar, tidak banyak aktivitas yang Ia lakukan selain merebahkan diri.
Drttt ....
Zane mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang berdering. Meraih dan menatap siapa tahu menelpon.
Alis pria itu mengerut bingung. Zane akhirnya mengangkat dan menempelkannya pada telinga, "Halo, Ma."
Ya, Mama Bellamy. Wanita paruh baya itu sengaja menelpon Putra sulungnya yang memilih untuk tetap di desa selama beberapa waktu ke depan. Selain untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Ayah Robert, tentu saja tujuan Zane adalah semakin dekat dengan wanitanya, Chelsea.
"Apakah benar kau akan menikah? Dengan siapa? Kenapa tidak memberitahu ku?!" tanya Mama Bellamy dengan banyak pertanyaan beruntun. Daniel dan Nicholas sengaja memberitahu kepada orang tua Zane tentang perihal pernikahan pria itu.
Mendengar kabar menggembirakan itu, tentu saja Mama Bellamy dan Papa Owen langsung bergegas menyiapkan keperluan untuk pernikahan putra sulung mereka. Meraka berdua sudah tidur sabar menyambut kedatangan calon menantu mereka, ternyata Zane membuktikan semua ucapannya beberapa hari yang lalu. Mama Bellamy tanpa sadar meneteskan air mata, saking bahagianya. Akhirnya putra sulungnya yang sudah lama berkarat, menikah juga dengan wanita pilihannya sendiri.
"Siapa yang memberitahu, Mama?" tanya Zane bingung.
"Tentu saja Daniel dan Nicholas! Katakan kepada Mama, bagaimana calon istri mu? Apakah dia cantik? Apakah dia pintar memasak? La ... lalu apakah dia suka berkebun? Katakan cepat!"
Zane sampai harus menjauhkan ponselnya, kecerewetan Mama Bellamy seakan-akan semakin menggebu-gebu dari biasanya. Tapi Zane merasa senang bila orang tuanya bisa menerima Chelsea dengan lapang dada.
"Chelsea adalah wanita desa pilihan ku, Ma. Wanita cantik dan kembang desa. Wanita ku juga pintar memasak, rasanya aku betah di sini berlama-lama, dan Chelsea cukup menyukai berkebun." jawab Zane pada akhirnya, mana berani pria itu berbohong mengenai calon istrinya, bila Mama Bellamy sudah sangat antusias.
"Namanya terdengar bagus! Kirimkan foto calon istri ku kepada Mama! Mama dan Papa akan segera berangkat ke desa besok!"
"Foto? Untuk apa, Ma?" tanya Zane dengan dahi mengerut penuh kebingungan. Mama Bellamy mendengus di seberang sana.
"Tentu saja untuk mengenali wajahnya nanti, dasar anak nakal!"
Zane melihat pelipisnya yang berdenyut keras. Pasalnya, Chelsea sangat anti dengan kamera dan hal itu lah yang membuat Zane tidak memiliki fotonya barang satu pun. "Tunggu sebentar,"
Zane langsung mengobrak-abrik pakaiannya yang sempat Ia kenakan beberapa hari yang lalu, terdapat sebuah foto kecil yang sempat Ayah Robert berikan kepadanya. Foto Chelsea yang Ayah Robert ambil secara diam-diam. Sudut bibir pria itu mengulas senyuman.
"Wanita ku sangat cantik, persis seperti Mama." puji Zane membuat Mama Bellamy di seberang sana merasa tersanjung.
"Jangan lupa di kirim. Oh ya, besok Mama dan Papa akan langsung melamar Chelsea untukmu, kata orang tua jaman dulu, lebih cepat lebih baik." kata Mama Bellamy membuat Zane semakin tersenyum.
"Mama dan Papa yang terbaik. Aku menunggu kalian di Desa Mentari,"
"Jagalah dan cintai lah istri dan anak-anak mu kelak, seperti Papa menjaga Mama sampai saat ini. Jangan pernah menyakiti wanita, dalam keadaan apapun, Zane. Bila kau tidak ingin melanjutkan hubungan kalian nantinya, kembalikanlah dia sebagaimana kau meminta izin untuk menikahinya," ujar Mama Bellamy di seberang sana.
__ADS_1
...****************...
Terlihat beberapa mobil mewah berhenti tepat di pekarangan rumah sewa milik Zane, beberapa bodyguard yang memang ikut Zane di desa, menyambut kedatangan Tuan besar mereka, Papa Owen dan Mama Bellamy.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya besar." sapa para bodyguard yang sudah berkumpul menyambut kedatangan mereka. Alex dan Alexia tidak mereka izinkan ikut, karena kondisi Alexia yang tidak memungkinkan, begitu juga dengan Alex yang enggan meninggalkan Adik kembarnya.
Papa Owen hanya mengangguk, berbeda dengan Mama Bellamy yang celingak-celinguk mencari seseorang. "Di mana Zane?" tanya Mama Bellamy pada akhirnya, wanita itu sudah kesal dan tambah di buat kesal pula karena Zane tidak ikut menyambut kedatangan mereka.
"Tuan Muda Zane sedang berada di sawah, Nyonya." jawab salah satu bodyguard dengan hormat.
"Hah?" Papa Owen dan Mama Bellamy terkejut bukan main, seorang CEO seperti Zane, yang memiliki ribuan perusahaan tersohor di dunia bisnis, bisa juga menyentuh lumpur lembek dan licin itu.
Mama Bellamy tersenyum senang dan membayangkan apa yang sedang Putra sulungnya lakukan. "Pa! Ayo kita ke sawah!" ajak Mama Bellamy membuat Papa Owen semakin syok berat.
"Ma! Yang besar saja, kita datang ke Desa Mentari itu untuk melamar wanita pilihan Zane, bukan untuk pergi ke sawah!" kata Papa Owen tak habis pikir. Penampilan Mama Bellamy udah sangat cantik jelita, tas bermerek sudah tergantung di lengannya dan pakaian yang sosialita, membuat Papa Owen tak habis pikir.
"Iss! Pa, jarang-jarang kita ke desa yang indah begini loh! Siapa tahu kita bisa lihat kambing, kerbau, ayam, atau bebek di sawah!" cibir Mama Bellamy membuat Papa Owen menghela napas panjang. Papa Owen melupakan bahwa Kakek-nenek istrinya adalah orang desa terpandang, yang memiliki ribuan hektar sawah, ternak kambing, bebek, dan sapi.
"Tapi, Ma-"
"Papa tidur di luar nanti!" sela Mama Bellamy kesal. Wanita paruh baya itu bergegas melepaskan hak tingginya, menaruh tas, dan blazer mahalajy di dalam mobil. Mama Bellamy tidak ingin dirinya mencolok di antara para warga nantinya. Papa Owen yang melihat betapa antusiasnya sang istri, hanya menggelengkan kepalanya.
Mama Bellamy menoleh dan mengangguk. Setelah berganti pakaian menjadi sederhana, sepasang suami-isteri itu bergegas menuju sawah dengan berjalan kaki, beberapa bodyguard juga ikut berganti pakaian atas perintah dari Papa Owen. Beberapa warga yang sedang menggarap sawah pun terheran-heran melihat mereka.
"Don, masih jauh?" tanya Papa Owen yang sudah merasa lelah karena berjalan kaki. Kalau begini ceritanya, sudah pasti Papa Owen akan naik ke mobil. Salah satu bodyguard bernama Doni pun menoleh.
"Sudah di depan, Tuan!" jawabnya dengan menunjuk salah satu sawah. Mata sepasang suami-isteri itu memicing sempurna.
"Astaga, Zane!" pekik Papa Owen yang terkaget-kaget melihat penampilan Zane yang benar-benar cemong dengan lumpur. Mama Bellamy malah terheran-heran dengan sikap suaminya, seharusnya Ia yang syok, tetapi kali ini berbeda.
PLAK ....
"Pa! Jangan keras-keras dong!" tegur Mama Bellamy dengan memukul lengan Papa Owen sedikit keras. Selain tidak ingin warga sekitar curiga, Mama Bellamy juga tidak ingin kehilangan kesempatan Zane yang tertawa girang bersama seorang wanita cantik.
Papa Owen yang melihat Zane tengah belajar bercocok tanam dengan di temani seorang wanita cantik, sontak pria paruh baya itu menoleh ke arah Mama Bellamy. Ternyata wanita cantik itu tak kalah cantik seperti Istrinya. "Kayaknya itu calon istri Zane,"
Mama Bellamy gemas melihat interaksi Putra dan wanita, yang mereka yakini adalah Chelsea. Wanita desa keturunan Belanda yang sangat cantik, dan selalu Zane puja-puji kepadanya. "Pa, ayo turun! Mama mau-"
"Eits!" Papa Owen sigap langsung menahan sang istri. "Udah di sini aja dulu, Papa pengen lihat mereka dulu tanpa gangguan dari kita."
Mama Bellamy mengangguk setuju, dan tetap pada posisinya.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain ....
"Tanamnya yang benar, Zane." kata Chelsea membuat Zane terkekeh geli. Pria itu sudah cemong dengan lumpur sawah, bahkan pakaian mahalnya Ia relakan untuk menjadi kotor, hanya untuk Chelsea yang mengajaknya untuk menanam padi di sawah milik warga.
"Ya sekalian belajar jadi calon mantu yang baik buat Ayah," celetuk Zane membuat wajah Chelsea merona di buatnya. Wanita cantik memakai topi caping itu sejak tadi tertawa dan sesekali tersenyum melihat tingkah Zane, pria itu pertamanya tidak yakin bisa menanam padi, tapi sekarang sudah mulai mahir berjalan mundur seraya menanam.
"Ya begini lah kalau hidup di desa, kalau tidak menanam ya kami tidak makan." jawab Chelsea seraya bergurau canda. Zane terkekeh geli, kini pria yang selalu duduk menyuruh orang-orang itu, dan sekarang Zane merasakan bagaimana panasnya bekerja di bawah terik matahari.
"Berarti kau setiap hari bekerja dari sawah ke sawah lainnya?" tanya Zane dengan sibuk mengelap keringat, Chelsea tersenyum dan mendekatkan dirinya.
"Ya seperti itu lah, tapi Ayah selalu melarang,"
Zane terdiam kaku saat Chelsea menghapus sisa-sisa lumpur di wajahnya, wajah keduanya begitu dekat hingga membuat napas panas mereka saling menerpa satu sama lain. "Wajah mu begitu kotor,"
Chelsea terdiam saat Zane menatapnya dengan begitu dalam, posisi mereka cukup dekat dan tetap saling mengunci pandangannya. Detak jantung keduanya begitu keras dengan tangan Chelsea yang masih berada di wajah Zane.
"Anugrah terindah dalam hidup ku adalah bertemu dengan dirimu, Chelsea." Bisik Zane membuat Chelsea langsung merona merah dan menjauhkan dirinya. Tetapi Zane dengan cepat meraih pinggang ramping wanita itu, hingga posisi mereka semakin dekat.
"Zane, le ... lepas. Bagaimana kalau ada yang-"
"Biarkan saja, agar mereka mengetahui bahwa wanita kembang desa ini adalah calon istri ku."
Meraka berdua tidak menyadari, bila ada sepasang suami-isteri yang sudah histeris melihat sikap romantis putra mereka. Mereka tidak menyangka, bahwa putra mereka yang berstatus bujang lapuk itu, ternyata bisa bersikap romantis.
"Papa di kalahin tuh sama Zane." Celetuk Mama Bellamy membuat lamunan Papa Owen buyar seketika.
"Papa itu masih bisa romantis, Mama aja yang enggak peka!" sahut Papa Owen dengan mimik wajah yang kesal. Mama Bellamy terkekeh geli dan bergegas mendekati Zane.
"ZANE!" teriak Mama Bellamy membuat Chelsea terkejut dan sontak mendorong Zane hingga terjungkal ke lumpur.
"Astaga, Zane!" Chelsea bergegas membantu Zane untuk bangun dari posisinya. Zane terkejut melihat kedatangan orang tuanya yang sudah berdiri di dekat mereka. Mama Bellamy tersenyum senang tanpa dosa dan meminta Papa Owen untuk mendekat.
"Kau baik-baik saja? Maaf aku mendorong mu," ujar Chelsea dengan rasa bersalah. Zane hanya tersenyum dan mengusap lumpur di pipi Chelsea.
"Aku baik-baik saja. Tunggu dulu," Zane menoleh dan menatap Mama Bellamy dan Papa Owen yang sudah menatapnya penuh arti.
"Kenapa tidak menelpon dulu, Ma?"
Chelsea membulatkan kedua matanya, panggil Zane kepada wanita paruh baya itu membuat Chelsea menjadi gugup setengah mati. Wanita itu bahkan sontak tertunduk malu dengan rasa gugup yang benar-benar melanda dirinya. Mungkin orang tua Zane melihat apa yang mereka bicarakan dan mereka lakukan barusan.
"Anak nakal! Ternyata kau bisa sikap romantis juga!" cibir Papa Owen dengan menatap kesal pada sang Putra.
__ADS_1