
Di sebuah mansion mewah, terdapat sebuah mobil yang baru saja terparkir dengan asal di halaman mansion tersebut. Terlihat seorang pria bergegas turun, membuat para bodyguard dan maid yang sudah menunggunya kebingungan.
"Selamat malam, Tuan Muda Arthur!" Sapa mereka semua dengan membungkukkan tubuh mereka.
Pria itu adalah Arthur, Putra angkat dari Ayah Robert yang selama memimpin perusahaan raksasa milik Ayah angkatnya. Sifatnya bijaksana, dewasa, rapi, dan juga mapan, membuat Arthur digandrungi oleh banyak wanita di luaran sana.
Pria itu bergegas menaiki anak tangga menuju sebuah ruangan, di mana Ayah angkatnya selalu bekerja. Ruangan yang tidak pernah Ia buka kecuali diperintahkan oleh Ayah Robert. Ruangan gelap tersebut berubah menjadi ruangan terang, banyak rak yang tersusun rapi dengan ribuan buku, meja dan beberapa barang lainnya yang sudah di tutupi sebuah tirai putih, langsung Arthur singkirkan dan membuka seluruh laci meja.
Wajah pria tersebut sudah tidak seperti biasanya, "A ... aku pasti sedang bermimpi! Chelsea ku kembali!" gumam Arthur dengan tangan yang terus saja bergetar.
"Tuan!" Panggil sang asisten, yaitu Calvin Jeremy. Pria yang membantu Arthur mengurus perusahaan milik ayah angkatnya. Calvin adalah teman dekat dari Arthur, sebelum Arthur di angkat dari panti asuhan oleh Ayah Robert kala itu. Tujuan utama Ayah Robert mengangkat Arthur sebagai Putranya adalah sebagai pelindung sang Putri di saat dirinya tidak bisa.
Arthur sudah menanamkan motivasi dan prinsip yang begitu kuat. Bahkan pria itu menjalankan amanah dari Ayah Robert dengan sangat baik, skillnya di dunia bisnis, patut di acungi jempol. Nama Arthur begitu melejit, tetapi banyak kabar miring yang menimpanya.
Kecelakaan yang di alami oleh Ayah Robert, istrinya, dan Chelsea, membuat nama Arthur di sangkut-paut dalam tragedi tersebut. Tetapi beberapa orang dalam, langsung menenggelamkan berita miring tersebut dalam sekejap mata, entah dari mana, awalnya Arthur tidak mengetahuinya. Tetapi sekarang dirinya tenang, karena Ayah Robert dan Chelsea masih hidup, tetapi tidak dengan istrinya, Kimberly Ryder.
Wanita cantik, yang harus kehilangan nyawanya dan juga nyawa bayi yang Ia kandung, dalam tragedi mengerikan itu, membuat Ayah Robert langsung menugaskan kepada Arthur untuk membuat berita palsu tentang kematiannya. Awalnya para wartawan dan stasiun televisi ragu dengan berita tersebut, tetapi setelah melihat bukti yang di berikan oleh Arthur, tentu saja semua itu hanyalah karangan belaka dari Ayah Robert.
"Tuan, apa yang-"
"Chelsea!"
DEG ....
Arthur langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dengan memeluk erat sebuah bingkai foto yang tidak Calvin ketahui milik siapa. Pria tersebut menangis tersedu-sedu, rasa rindu dalam dirinya akhirnya meluap juga.
"Arthur apa yang terjadi dengan mu?" tanya Calvin yang pada akhirnya memilih untuk memakai bahasa non formal. Pria tersebut berjongkok dan mencoba untuk menenangkan sang sahabat, sekaligus sang atasan.
"Cal, Chelsea ... Chelsea, Adik ku berada ada di kota ini! A ... aku bicara dengan Chelsea tadi!" kata Arthur dengan kalimat terbata-bata. Calvin terdiam dan menatap sendu pada sahabatnya. Calvin tahu apa yang Arthur alami dan di rasakan selama Ayah Robert tidak ada di sisinya.
Yang Calvin dengar secara tidak sengaja, Ayah Robert ingin juga memberikan hukuman kecil kepada Arthur, karena telah lalai menjaga Chelsea beberapa tahun yang lalu, walaupun bukan masalah yang besar dan Ayah Robert bukanlah tipikal orang yang suka membesar-besarkan masalah, tapi bila di sangkut-paut dalam keluarga, maka Ayah Robert patut di acungi jempol.
"Mereka selama ini tinggal di desa Mentari," papar Calvin membuat Arthur menoleh terkejut. "Jangan berprasangka bahwa aku menyembunyikan ini, Arthur." Sambungnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku ingin bertemu dengan Ayah dan Chelsea."
"Tidak sekarang," sahut Calvin membuat Arthur kebingungan.
Pria itu menatap frame foto berisi dirinya, Chelsea, Robert, dan juga istrinya, Kimberly. Seulas senyuman muncul, Arthur begitu menyayangi keluarga angkatnya, Ayah Robert dan istrinya sama sekali tidak pernah membedakan antara dirinya dengan anak kandung mereka. Mereka menyetarakan dirinya dengan yang lain, hal itu yang membuat Arthur begitu menyayangi keluarga Lemos.
"Tuan besar sudah menikah dan sudah memiliki anak kembar laki-laki, namanya Ashton dan Ashley. Yang aku dengar, Ayah Robert menikah siri beberapa tahun lalu dan hingga saat ini, belum meresmikan pernikahan keduanya. Istri keduanya, Anggun tidak mengetahuinya tentang pernikahan mereka yang belum sah itu."
"Pernikahan siri? Kau sudah mencari tahu semuanya?" tanya Arthur dengan perlahan-lahan bangun dari posisinya. Calvin hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Istri kedua Tuan besar bersikeras untuk menikahkan Chelsea dengan pemuda kampung di desa Mentari, kalau tidak salah namanya Reno Mustafa, putra bungsu dari kepala desa di sana. Aku juga baru-baru ini pergi ke desa mentari, aku mendengar bahwa Reno sempat ingin melecehkan Chelsea sebelum Adik mu menikah dengan pria konglomerat, Zane Abraham Lincoln." ungkap Calvin dengan mengelus dagunya sendiri.
Reno Mustafa dan Zane Abraham Lincoln? Batin Arthur.
...****************...
Reno Mustafa, pria 25 tahun itu menatap megahnya sebuah perusahaan raksasa yang selalu Ia impikan itu, dengan menggenggam sebuah kartu identitas, Reno dengan susah payah akhirnya bisa masuk ke dunia bisnis sebagai karyawan, sesuai impiannya.
"Tidak apa, aku pasti bisa, demi Chelsea aku harus bisa membuktikan, kalau aku bisa manjadi pria mandiri tanpa bantuan Bapak sama Ibu!" gumam Reno dengan penuh tekad.
Berapa minggu Reno menetap di kota untuk melamar pekerjaan sesuai dengan jurusan di perkuliahannya. Reno sudah mencoba untuk melamar di beberapa perusahaan yang cukup besar, tetapi alangkah indahnya Reno malah di terima di sebuah perusahaan raksasa. Pria muda itu seakan-akan tidak percaya bila takdir menyertai dirinya.
"Reno!"
Reno segera menoleh dan mengerut keningnya bingung, "Maaf Anda siapa ya?"
Pria yang gak kalah tampan dari Reno, hanya saja sedikit lambai itu berdecak kesal. "Ish, masak enggak kenal sih! Aku John, teman mu kemarin itu!"
Reno menggaruk kepalanya, kemarin dirinya sudah melakukan interview dan di terima, dan sekarang adalah hari pertama dirinya resmi menjadi karyawan biasa. Reno terkejut saat beberapa karyawan lainnya membahas tentang gaji selama sebulan.
"Aku lupa, maaf."
John langsung merangkul pundak Reno, "Bos besar akan segera datang. Kita harus menyambutnya!" ujar John membuat alis Reno mengerut bingung.
"Dasar anak desa ini," gerutunya kesal. "tentu saja bukan! Tuan Daniello adalah sekretaris nya, dan Tuan Nicholas adalah tangan kanan dari Bos besar." Paparnya membuat Reno mengangguk mengerti.
"Lalu siapa nama dari Bos kita?"
John menyunggingkan senyum tipisnya, "Kau terlambat, Ren. Seharusnya kau melamar sebelum Bos besar menikah, pasti kau akan mendapatkan bonus, kami saja mendapatkan bonus 2x lipat dari gaji,"
"Kamu serius?!" tanya Reno terkejut bukan main. John mengangguk dan menyapa beberapa teman perempuannya dengan lambai, Reno menghela napas panjang melihat tingkah teman barunya ini.
"Tentu saja, bahkan selama dua Minggu ini kami semua sangat santai, tidak ada bos besar dan kedua-"
"BOS BESAR DATANG!" teriak seorang pria dengan lantang. John tersentak dan langsung berlari dengan menarik lengan Reno dengan cepat.
"John! Pelan-pelan!" ujar Reno yang tidak kalah terkejutnya. John melirik sinis dan meminta pria itu untuk diam.
"Diam! Tuan besar, dan kedua bawahannya sudah datang! Membungkuk!"
John langsung menundukkan kepalanya, di saat sebuah mobil mewah sudah ada di depan mata, lobby dan teras perusahaan tersebut langsung ramai dengan para karyawan. Reno hanya diam dan ikut membungkuk.
Sebenarnya siapa bos besar dari perusahaan ini? Batin Reno penuh tanya.
__ADS_1
"Selamat datang, Bos Besar Zane!"
DEG ....
Reno menadah dan terkejut bukan main, saat melihat seorang pria jangkung baru saja keluar dari mobil hitam, diikuti dengan Daniel dan juga Nicholas. Reno mengenal ketiga pria tersebut, dan salah satunya adalah pria yang sudah merebut Chelsea dari dirinya.
"Kau?!"
Semua karyawan menoleh ke arah Reno, termasuk Zane, Daniel, dan Nicholas. Mereka semua terkejut saat Reno berseru keras kepada Zane. Daniel mengerutkan keningnya dan seolah-olah mengingat-ingat siapa pria yang sangat tidak asing di ingatannya itu.
"Reno, pria yang menarik Chelsea saat di desa Mentari," bisik Nicholas membuat Daniel terkejut dan langsung menatap Reno tidak suka.
Tidak Reno, tidak Sonia, di mana-mana ada ular. Dasar. Batin Daniel kesal.
"Ren! Jangan begitu!" tegur John membuat Reno semakin mendengus kesal.
"Kenapa kalian harus hormat kepada pria yang suka merebut wanita pria lain?!" teriak Reno membuat Zane langsung menurunkan kacamata hitamnya. Pria itu hanya berekspresi datar dan menatap Reno dengan menelisik.
John semakin mendelik tajam mendengar jawaban dari Reno. Bahkan melihat bagaimana ekspresi wajah dari Bos mereka, benar-benar membuat nyali mereka seketika ciut. Nicholas mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada para bodyguard untuk tetap di tempat.
"Siapa yang kau sebut pria yang suka merebut wanita lain itu, bocah ingusan?" tanya Zane dengan hawa dingin yang sudah menyertai. Para karyawan langsung terdiam dan menunduk. Masalah Reno bukan masalah mereka.
Reno terkekeh geli, "Tentu saja kau! Dasar pria sinting!"
"Kau-"
"Diam di sini!" Daniel mendelik saat Nicholas menahannya. Tangan Daniel sudah sangat gatal untuk menggaruk wajah Reno yang begitu menyebalkan di matanya.
"Apakah dia karyawan yang lolos interview kemarin, Daniel?" tanya Zane membuat Daniel mengangguk.
"Benar, Tuan."
"Berikan semua data dan hasil interviewnya kepada saya setelah ini, saya ingin melihatnya secara langsung!"
"Memangnya kau siapa?! Seenaknya berbicara seperti itu kepada ku hah?! Kau lupa, aku adalah putra bungsu dari kepala desa dari desa Mentari!"
"Dan aku adalah Zane Abraham Lincoln, pemilik dari perubahan Z.L Company ini, bocah ingusan!" sahut Zane membuat Reno semakin terkejut. Pria itu seakan-akan lupa, bahwa pria yang Ia sambut adalah CEO dari perusahaan tempatnya baru bekerja.
DEG ....
Bahkan Daniel sudah mengatakan, bahwa saingannya bukanlah orang biasa, melainkan seorang CEO tersohor, tetapi Reno melupakan itu semua.
"Kita bertemu lagi bocah ingusan." Zane menyeringai kecil dan langsung melangkah masuk dengan tatapan yang begitu sangat tajam.
__ADS_1
Kali ini aku pastikan kau tidak akan selamat, Reno. Batin Nicholas dengan menatap Reno yang mematung di tempatnya.