
Di rumah sakit, Chelsea sudah tertidur pulas dengan Zane yang menemani sang istri. Raut wajah cemas bercampur amarah terlihat jelas di wajah pria itu, dasi kupu-kupu sudah Ia lepas dan penuh amarah, bahkan karena penembakan tadi, membuat Daniel yang terluka di bagian lengan, sedangkan Chelsea harus mengalami benturan cukup kuat di bagian perutnya, sebab dorongan Daniel. Zane merasa enggan untuk meninggalkan Chelsea sejak tadi, wanita hamil itu harus merasakan sakitnya infus dan pahitnya obat.
"Zane, apa kata dokter?" tanya Ayah Robert yang juga tak kalah khawatir. Pria itu baru saja datang, setelah dari kamar inap Daniel, pria itu harus menjalani operasi di lengan, untuk mengeluarkan pelurunya.
Zane mengelus rambut Chelsea, "Karena dorongan Daniel yang tiba-tiba, membuat Chelsea mengalami pendarahan. Pendarahannya bisa menyebabkan keguguran bila sedikit saja aku terlambat, tapi saat ini Chelsea hanya perlu beristirahat total." jawab Zane dengan wajah datar.
Tak lama, Ashton dan Ashley datang dari arah belakang Ayah Robert, "Kak, bagaimana keadaan Kak Chelsea?" tanya Ashton dengan wajah tegang.
"Kakak baik-baik saja, kalian tidak perlu cemas." jawab Zane kembali membuat kedua lutut Ashton seketika menjadi lemas, Ashley menahan sang kembaran dan menuntunnya ke sofa.
"Minum," Ashley menyodorkan segelas air kepada kembarannya. Mata Zane mulai memicing saat melihat pelipis dekat telinga Ashley yang terluka.
"Kenapa dengan pelipis mu?" tanya Zane kepada Ashley. Remaja itu sontak memegangi pelipisnya dan mengerutkan keningnya, saat melihat ada noda darah. Ayah Robert mendekati kedua putranya dan mengangkat wajah Ashley.
"Kau terluka? Tunggu, Ayah akan memanggil dokter!" Ayah Robert bergegas keluar. Ashton yang lemas karena kejadian penembakan tadi, Ashley yang bingung sendiri dengan luka yang Ia dapat, Chelsea yang tertidur karena pengaruh obat penenang, dan Zane menatap kedua adik kembar Chelsea.
"Ashley, mendekati." kata Zane membuat Ashley mendekati. Zane menatap pelipis yang sudah banjir dengan darah segar, pria itu langsung mengeluarkan saputangan, untuk menghentikan pendarahan.
"Kau tidak merasakan kalau kau terluka?" tanya Zane. Ashley menggeleng sebagai jawaban.
"Aku baru menyadarinya, tapi kenapa aku mulai merasakan sakit sekarang hingga mengeluarkan banyak darah?" tanya Ashley menatap Zane penuh tanda tanya.
Zane menghela napas panjang, "Di lihat dari luka ini, sepertinya peluru itu sempat menyerempet pelipis mu. Itu sangat bahaya, Ashley." jelas Zane dengan terus menahan pendarahan tersebut.
"Apakah aku akan di operasi juga, seperti Kak Daniel?" tanya Ashley yang mulai membayangkan ruang operasi. Zane menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng sebagai jawaban.
"Kakak tidak tahu pasti, mungkin luka mu ini hanya perlu di rawat dan di ganti perban. Tapi sangat mungkin, bila peluru yang menyerempet pelipis mu ini akan membekas," jelas Zane kembali, Ashley menghela napas dan memilih untuk mengambil alih saputangan dari Zane.
"Biar aku saja, Kakak fokus kepada Kak Chelsea." Kata Ashley. Wajah remaja itu mulai memucat, membuat Zane mulai khawatir. Pria itu menuntut ke arah sofa, lalu melirik ke arah Ashton yang juga memejamkan matanya, wajah kedua anak kembar itu sangat pucat.
Tak lama, dokter dan perawat datang bersamaan dengan Ayah Robert, "Tolong periksa kedua putra ku!"
Ayah Robert mendekati Ashley yang mulai berkunang-kunang karena pusing, "Ke ... kenapa Ayah ada dua?" racau Ashley dengan menunjuk Ayah Robert dengan lemas.
Dokter langsung mendekati Zane, sedangkan perawat memeriksa Ashton. "Luka ini cukup dalam. Sebaiknya kami anjurkan untuk rawat inap hingga cairan infus habis, Tuan." ungkap dokter laki-laki tersebut membuat Ayah Robert semakin khawatir.
"Lakukan saja!"
__ADS_1
Dokter laki-laki itu menoleh ke arah perawat, "Cepat ambil kursi roda!" Perawat perempuan tersebut langsung bergegas untuk mengambil kursi roda bersama rekannya.
"Satu Putra Anda, mengalami syok berat, hingga membuatnya sangat lemas dan jatuh pingsan. Sedangkan putra anda satunya, harus di rawat untuk memulihkan kondisi, kami membutuhkan donor arah," kata dokter tersebut membuat Ayah Robert langsung melipat lengan kemejanya hingga batas siku.
"Ambil darah ku untuk Ashley!" perintah Ayah Robert. Tak lama kedua perawat datang membawa kursi roda, Zane menuntut Ashley yang terus meracau tirai jelas untuk duduk, sedangkan perawat menggendong Ashton ke kursi roda.
"Ayah, aku-"
"Tetap di sini, Nak. Jaga Chelsea, jangan meninggalkannya!" sela Ayah Robert yang langsung pergi bersama Dokter laki-laki tersebut. Zane menghela napas panjang dan memilih untuk tetap bersama Chelsea.
Bayangan penembakan mulai muncul ke ingatannya, pria itu menatap datar ke arah depan dan sudah meminta kepada Arthur, Calvin, serta Nicholas untuk mengusut kasus penembakan, yang harus membuat empat orang masuk ke rumah sakit.
"Kali ini bukan ulah Reno atau Ibu Anggun. Pasti ada pihak lain, yang menginginkan Chelsea." gumam Zane dengan tatapan yang sungguh mengerikan. Bahkan kepada bodyguard yang bertanggungjawab atas keamanan hotel, mengatakan tidak ada yang mencurigakan, bahkan Sonia tetap berada di ballroom hotel dengan keluarga Lincoln lainnya.
Bahkan konferensi pers yang seharusnya juga ikut di adakan pun, harus tertunda karena kejadian tadi. Zane mulai berpikir keras, bahkan Zane tidak memiliki musuh kecuali akhir-akhir ini, yaitu hanya Reno, Ibu Anggun, Sonia, dan ....
"Atau jangan-jangan ini rencana dari Bibi Tasya?" gumam Zane, "tapi wanita itu tidak mencurigakan sedikitpun dan hanya pergi ke kamar mandi." lanjutnya dengan penuh kebingungan.
...****************...
"Kau yakin melihat seorang pria mencurigakan?" tanya Arthur kepada Nicholas yang sudah memainkan senjata apinya. Calvin memperhatikan gerak-gerik pria super datar itu dengan teliti, cara Nicholas melainkan senjata api, seperti sudah sangat berpengalaman dalam bidang tersebut.
"Aku hanya mengikuti arah lirik tatapan Daniel," jawab Nicholas dengan datar. Arthur melipat lengan kemeja dan mendekati salah satu pilar yang nyatanya sangat aman, dan cukup sepi.
"Sepertinya ada yang membantu pria itu untuk masuk ke ballroom hotel. Tidak sembarang orang yang bisa tanpa ada kartu undangan khusus," kata Arthur membuat Calvin mengangguk setuju.
"Aku sudah cek CCTV luar kamar mandi, tapi aku tidak melihat Nyonya Tasya datang ke kamar mandi. Bukankah Tuan Zane mengatakan bahwa-"
"Dugaan pertama adalah Nyonya Tasya, dugaan kedua salah satu bodyguard." potong Nicholas dengan melangkah kakinya ke arah belakang altar pernikahan. Tatapannya jatuh pada ransel hitam.
"Bahkan dia tidak sempat untuk membawa ranselnya," gumam Nicholas.
"RICKY!" panggil Nicholas membuat Ricky langsung datang dengan cepat bersama dua sahabatnya. Arthur dan Calvin juga ikut mendekati, untuk melihat apa yang terjadi.
"Kenapa kau berteriak?!" tanya Arthur dengan kesal. Nicholas tidak berekspresi apapun, tatapannya tetap tertuju pada ransel hitam yang terbuka.
"Bawa ransel itu keluar dari sini, aku akan melihatnya sendiri!" perintah Nicholas yang langsung Ricky turuti. Pria itu meregangkan otot tubuhnya.
__ADS_1
"Bila ranselnya ada di belakang altar, itu artinya pria tadi masuk lewat pintu belakang dekat basement!" kata Arthur dengan bingung.
"Pria itu seperti pria yang di bayar, karena sasarannya adalah Nona Chelsea, tapi Daniel yang harus terkena tembakan." ujar Calvin dengan melirik Nicholas yang hanya diam, dengan melipat kedua tangannya.
"Dia memang pria bayaran, dan yang memerintahkan ada di antara kita. Banyak kejanggalan yang ada, seperti tiba-tiba pintu belakang di buka dengan kunci yang bahkan masih tergantung di tempatnya," sahut Nicholas dengan melirik handle pintu di belakang sana. Calvin mendekati pintu belakang dan hendak ingin mencabut, tetapi Arthur langsung menahannya.
"Sebaiknya jangan di sentuh." larangnya membuat Calvin mengurungkan niatnya.
"Bila kau menyentuh kunci dan handle pintu, sidik jarinya akan hilang dan kau bisa di tuduh atas kasus penembakan dan pembunuh berencana." peringat Nicholas dengan tatapan dingin. Calvin menelan ludahnya dan memilih untuk menjauhi pintu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Ashton, Ashley, Chelsea, dan Daniel harus di rawat di rumah sakit. Zane tidak bisa meninggal istrinya," kata Arthur. Nicholas terdiam sejenak dan memasukkan senjata apinya. Pria itu merapihkan jas hitam dan sedikit melonggar dasi hitamnya.
"Aku akan mengurusnya," jawab Nicholas yang langsung pergi begitu saja. Pria datar itu bahkan tidak membiarkan Arthur dan Calvin berbicara kembali dengan auranya yang begitu tajam.
"Pria itu sungguh berbeda," celetuk Calvin dengan merinding. Arthur melirik dan meminta bodyguard untuk berjaga di sekitar pintu belakang dekat basement.
Sedangkan di sisi lain, Nicholas yang hendak masuk ke dalam mobilnya langsung mengurungkan niatnya. Pria itu memicingkan mata saat melihat seorang wanita dengan gerak-gerik mencurigakan.
"Siapa dia?" gumam Nicholas dengan alis mengerut. Nicholas langsung mengeluarkan senjata apinya untuk berjaga-jaga dan langsung mengikuti wanita asing tersebut dari belakang.
"Kenapa sangat sepi?" tanya wanita itu kepada dirinya sendiri. Wanita dengan pakaian serba hitam di sertai masker itu menghentakkan kakinya kesal. "Jangan bilang acaranya sudah selesai!"
Wanita tanpa kartu identitas yang tergantung di leher, tetapi membawa kamera itu memilih untuk pergi, tetapi rambutnya lebih dulu di tarik oleh seseorang dengan kuat.
TAK ....
"ADUH, SIAPA YANG BERANI MENARIK RAMBUT KU?!" pekik wanita itu berusaha untuk melepaskan tarikan seseorang pada rambut panjangnya. Pelakunya tentu saja Nicholas, tanpa memperdulikan rintihan wanita asing tersebut, Nicholas langsung menahan tubuh sang wanita.
"Siapa kau?"
DEG ....
APAKAH AKU KETAHUAN?! batin Wanita tersebut yang seperti terkena serangan jantung, saking terkejutnya mendengar suara berat basah di dekat telinga.
"Aku bertanya, siapa kau?!" tanya Nicholas dengan menekan leher dan tubuh wanita asing tersebut dengan lengan kekarnya.
"APA-APAAN INI, LEPASKAN, SIALAN!" hardik wanita tersebut dengan memberontak.
__ADS_1