
Dentingan peralatan makan menggema di sebuah ruangan, hanya ada dentingan tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Alex yang diem, seraya membantu saudara kembarnya memegang beberapa buah potong untuk di makan, Papa Owen yang sibuk dengan pikirannya, Mama Bellamy yang memilih untuk ke dapur untuk menenangkan diri, Sonia yang belum kembali dari dunia pekerjaannya, dan Ibu Tasya yang tampak begitu menikmati makan malamnya.
"Pa,"
Papa Owen sontak melirik Putri bungsunya, "Ada apa, Sayang?" tanyanya dengan penuh kelembutan.
Alexia melirik Alex yang hanya diam dengan tatapan polos, "Apakah Kakak tidak pulang lagi?"
Alat makan yang siap di masukkan ke dalam mulut seketika melayang berhenti. Ibu Tasya menatap kedua bocah kembar yang terduduk di dekatnya, "Kakak kalian sedang men-"
"Kakak kalian sedang menemani Kak Chelsea untuk ke rumah sakit, Nak." sela Papa Owen dengan cepat dan melirik penuh peringatan kepada Adik Iparnya.
Ibu Tasya tersenyum canggung dan diam-diam menggerutu di dalam hatinya, "Payah."
"Bibi mengatakan sesuatu?" celetuk Alex secara tiba-tiba membuat Ibu Tasya terkejut bukan main. Pendengar Alex jauh lebih tajam dari siapapun, bahkan posisi kursi makan mereka cukup berjauhan, tetapi pendengar bocah laki-laki itu begitu menangkap jelas.
"Memangnya Bibi mengatakan apa, Kak?" tanya Alexia penasaran. Alex memicingkan matanya penuh curiga dan melahap makan malamnya.
Ibu Tasya menjadi gelagapan sendiri karena tatapan bocah laki-laki itu ke arahnya, "Alex, selesaikan makan malam mu, setelah itu istirahat."
Ibu Tasya sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Alex dan Alexia semakin tidak bertambah curiga dengannya.
"Why-"
PYAR ....
Orang-orang di ruang makan terkejut mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Papa Owen bergegas menuju dapur bersama Ibu Tasya, "BELLA!"
Nama paling favorit untuk Papa Owen. Pria itu mendekati istrinya yang tengah memungut pecahan gelas kaca yang berserakan di sekitar kakinya.
"Owen?"
"Sayang, kenapa bisa jatuh? Cepat bangun!" Papa Owen menarik tubuh Mama Bellamy secara perlahan agar tidak menimbulkan luka. Tetapi tatapan pria itu jatuh pada jari dan kaki sang istri yang sudah terluka.
"Kau terluka!" Papa Owen mengangkat tubuh sang istri, keluar dari kamar mandi. Ibu Tasya menatap kemesraan dari pasangan suami istri tersebut dengan malas.
__ADS_1
"Ini yang aku harapkan, keluarga Lincoln hancur secara perlahan adalah tujuan ku." gumamnya dengan senyum menyeringai. Tak lama, terlihat dua pelayan yang datang dengan tergopoh-gopoh dengan menjawab alat pembersih.
"Cepat bersihkan pecahan gelas ini! Merepotkan saja!" gerutunya di akhir kalimat.
Sedangkan di sisi lain, Papa Owen dengan telaten mengobati luka di beberapa titik tubuh sang istri. Alex dan Alexia tak luput dari rasa terkejut melihat sang Ibu yang terluka dan hanya diam dengan tatapan kosong.
"Mom, is okay?" tanya Alexia dengan lirih. Gadis manis dengan tubuh kurus itu mengelus punggung tangan sang Mama, dengan begitu lembut.
"Mama tidak apa-apa, Sayang." balas Mama Bellamy dengan senyuman sangat tipis. Setelah selesai mengobati luka sang istri, Papa Owen berakhir menghela napas panjang.
"Twins, kalian harus tidur, hari sudah larut. Alexander ..." Alex menoleh dan mengangguk paham dengan kenapa Papa Owen memanggil namanya di akhir kalimat. Dengan berat hati, bocah kembar itu pergi meninggalkan orang tua mereka menuju kamar.
"Mama, aku tidak tahu apa yang Mama pikirkan, begitu juga dengan Papa. Kalaupun kalian memiliki masalah, kami harap kalian cepat menangani permasalahan kalian." pinta Alex membuat desiran darah di dalam tubuh Papa Owen begitu terasa.
Putra ku sudah dewasa, batinnya dengan perasaan tidak rela.
Setelah kedua anaknya menghilang dari pandangan mata. Papa Owen melirik sang istri dengan sendu, "Sayang."
"Aku bersalah, Owen. Aku lalai menjaga menantu ku sendiri, Robert dan Kimberly pasti membenci ku, Owen." racau Mama Bellamy dengan tangisan. Papa Owen membawa sang istri ke pelukannya dengan erat.
"Don't beat yourself up. Aku akan turun tangan untuk membantu menyelamatkan Chelsea,"
"A ... apa? Owen-"
"Kimberly menitipkan putri nya kepada kita, aku harus melakukan pesan sahabat kita, Bell. Mereka belum melihat kemarahan ku yang sebenarnya, kau tetap di rumah bersama anak-anak. Aku akan menghubungi Max untuk berjaga-jaga," tukasnya dengan tatapan yang begitu menggelap, tidak ada raut bercanda sedikit pun dari ucapan pria berstatus suaminya itu.
"Tolong bawa Putri ku, Owen."
...****************...
"What?!" pekik Ibu Tasya saat melihat beberapa rekaman ulang dari CCTV di sekitar lampu merah.
Wanita itu benar-benar terkejut bukan main saat menyadari satu hal tentang kejanggalan kecelakaan tempo hari, kecelakaan tersebut ada unsur kesengajaan, di mana mobil hitam yang sempat Ia lihat terparkir di depan cafe saat bertemu dengan Anggun. Dan melihat juga, Anggun mengendari mobil yang sama dan mengarah ke arah lampu merah.
"Anggun membunuh orang?" gumamnya dengan wajah tercengang. Ada rasa tidak percaya bahwa wanita yang telah sah menyandang status janda beranak kembar, itu ternyata bisa membunuh orang dengan sadis.
__ADS_1
Berita kasus kecelakaan tersebut masih terus di selidiki oleh pihak kepolisian, bahkan sampai saya ini kepolisian belum mengetahui tentang siapa pelaku tabrak lari tersebut, hingga menewaskan seorang wanita dengan tubuh tak lagi utuh. Sidik jari tak mereka temukan, karena telah di hapus oleh pelaku, yaitu Anggun.
Ibu Tasya terus mengulang-ulang rekaman CCTV yang sempat di tayangkan itu dengan wajah serius. Setelah pasti dengan kesimpulan yang Ia ambil, Ibu Tasya menyeringai dan menaruh ponselnya di ranjang.
"Ternyata Anggun seorang pembunuh."
Ibu Tasya tertawa ringan dan mendekati ranjang tidur, di mana suaminya terbaring tak berdaya dengan tubuh yang semakin kaku. Setiap beberapa jam sekali, suster dan dokter akan datang untuk mengecek kondisi pria tersebut, dan tentang obat yang selalu Ibu Tasya berikan adalah obat yang tidak bisa di identifikasi jenisnya. Membuat Ibu Tasya begitu tenang setiap saat, karena tidak ada yang mengetahui semua kebusukannya selama ini.
"Oh suami ku, apakah kau ingin mati?" tanya Ibu Tasya dengan mengelus pipi pria paruh baya itu dengan sedikit kasar.
Diego hanya diam dengan menatap sang istri dengan sendu. Mata sendu yang tersirat begitu menyedihkan karena melihat perubahan istri yang dulu sempat Ia puja-puji, kini berubah 180 derajat. Hampir 15 tahun pernikahan mereka, di mana Diego bertemu dengan Ibu Tasya di mall secara tidak sengaja dan saat itulah dirinya jatuh hati.
Usia mereka berpaut cukup jauh, Diego yang berstatus duda beranak satu, memiliki seorang Putri manis berusia 13 tahun bernama Sonia, putri cantik dari istri pertamanya yang telah tidak tiada karena komplikasi pada rahim saat melahirkan Sonia secara Caesar. Wanita itu tetap cantik walaupun usia sudah tidak muda, dan Diego menyesal karena menikah dengan Ibu Tasya, walaupun Kakaknya yaitu Owen, telah melarangnya dengan keras.
Owen sudah mengetahui semua asal-usul dari Tasya, tetapi Diego tetap kekeuh ingin menjadikan Tasya sebagai istri keduanya. 15 tahun pernikahan mereka, Diego hanya ingin Sonia merasakan kasih sayang bukan hanya darinya saja, walaupun Bellamy sudah memberikan kasih sayang dan tidak membedakan antara Zane dengan Sonia, tetapi tetap saja Sonia masih memiliki hak untuk memiliki keluarga lengkap.
Dan puncaknya, di saat usia Sonia 13 tahun dan Zane 15 tahun. Sonia yang mudah akrab dengan siapapun, membuat hati Diego seketika menjadi bahagia melihat kedekatan antara Tasya dan putri kecilnya. Tetapi setelah dirinya jatuh sakit, sikap Tasya begitu berubah drastis. Tidak ada kelembutan, kasih sayang, dan rasa cinta itu kembali Diego lihat. Bahkan tidak pernah melihat kedekatan Tasya dengan Sonia seperti dulu.
Ibu Tasya tersenyum tipis dan mengambil segelas air, "Kenapa kau menatap ku seperti itu, Sayang? Kau membenciku?" tanyanya walaupun mustahil bila Diego membalas pertanyaan.
Ibu Tasya membuka paksa mulut Diego untuk menelan pil kapsul berisi racun, "Minum!" Paksanya dengan raut wajah kesal.
Diego tetap menutup mulutnya rapat-rapat, agar racun yang sudah melumpuhkan sebagian syaraf nya itu, tidak masuk ke dalam mulutnya, tetapi aksi tolak nya tidak bisa Ia pertahankan lagi, pil kapsul tersebut masuk dan Ibu Tasya langsung memberikan air dengan cepat.
"Jadilah pria penurut seperti 15 tahun yang lalu! Aku menginginkan kau cepat mati dan pergi dari dunia ini! Dengan begitu, aku bisa menguasai semua harta mu dan menendang putri mu yang begitu payah itu dari rumah ini!" bisik Ibu Tasya dengan menyeringai ucapannya sendiri. Terlahir dari keluarga hancur, membuat Ibu Tasya tumbuh dengan ego dan tempramen yang besar.
Aku begitu mencintaimu mu, Tasya. Tetapi rasa kecewa ku lebih besar daripada rasa cinta ku kepada mu. batin Diego yang sudah meluluhkan air matanya.
Ibu Tasya melipat kedua tangannya, pria itu secara perlahan menutup matanya saat efek samping dari pil kapsul mulai belajar. Ibu Tasya menuangkan gelas berisi air, pada pot bunga di dalam kamar dan keluar dari kamar tersebut.
Tetapi Ibu Tasya tak menyadari sesuatu, kedua mata Diageo kembali terbuka dan mengeluarkan pil kapsul tersebut dengan susah payah dari mulutnya. Diego menghembuskan napas panjang dan menyembunyikan pil kapsul tersebut di sela-sela ranjang dengan meringis kesakitan.
Putri ku jauh lebih penting saat ini. Sonia harus mengetahui kebusukan mu selama ini, Tasya. Kau licik.
PROSES KETIK BAB 82 YA GUYS. UPDATE NANTI MALAM ....
__ADS_1