
"Sayang, kamu kenama ngikutin Ning Haya sih?" Bagas bertanya karena dia merasakan aneh. Biasanya Bilah sangat cemburu kepada Ning Haya tapi ini Bagas diajak untuk mengikuti Ning Haya.
"Aku curiga Mas, darimana dia tahu kita di Semarang. Yang tahu aku pergi ke Semarang itu kedua orang tuaku dan mungkin orang kantor. Aku hanya bilang sama Melati," ucap Bilah.
"Kepo banget sih kamu." Bagas mencium pipi Bilah ketika menyetir untuk mengikuti Ning Haya.
"Kenapa kamu cium aku sih, fokus Mas. Nanti kehilangan jejak," ucap Bilah.
"Nggak apa-apa kehilangan jejak Ning Haya. Tapi aku nggak rela kehilangan jejak kamu karena cintaku akan menjadi debu jika nggak ada kamu." Bagas menaikan kedua alisnya, ia menggoda Bilah.
"Ih banyak ngomong kamu deh Mas." Bilah mencium Bagas agar dia berhenti berbicara. Jalanan saat itu sedang lampu merah. Mobil Bilah 3 mobil dari belakang mobil Ning Haya.
Bagas fokus mengendarai mobilnya, Ning Haya mengarahkan mobilnya menuju sebuah mall di Semarang. Bagas memakai topi dan berbaju kaos dengan celana panjang hitam, lalu memakai kumis palsu. Bilah agar dia tidak ketahuan sedang mengikuti Ning Haya, ia memakai cadar. Terlihat Ning Haya memasuki restoran, dan ia duduk di sebuah meja. Terlihat ia sedang menunggu seseorang.
Bagas dan Bilah duduk di kursi belakang Ning Haya. Mereka menunggu dan mengamati Ning Haya dari jarak sangat dekat.
'Sebenarnya Ning Haya menunggu siapa?' ucap batin Bilah.
Bilah terkejut setelah tahu, Ning Haya menunggu siapa. Ranu masuk ke restoran itu dan langsung duduk bersama Ning Haya. Dahi Bilah mengkerut, Bagas ingin menegur, tapi tangan Bagas di cegah dan Bilah menggelengkan kepalanya.
"Apa rencana kamu?" tanya Ning Haya.
"Aku ingin Bilah dan suaminya pisah, aku akan culik anaknya? bantu aku untuk masuk ke pesantren itu," ucap Ranu.
"Apa? aku nggak mau berurusan dengan tindakan kriminal. Aku memang mencintai Bagas, tapi merebutnya bukan dengan cara menyakiti anak kecil," ucap Ning Haya.
"Alah...nggak usah sok suci deh kamu, bukan kamu yang menculik tapi aku. Kamu hanya bantu agar aku bisa masuk ke pesantren," ucap Ranu.
"Jangan libatkan aku jika kamu tertangkap polisi," ucap Ning Haya.
"Oke." Ranu menjawab Ning Haya dengan senyuman liciknya. Ranu melakukan apapun agar ia terjerat dari hukum, Nida aja di penjara sampai sekarang. Bilah mengikuti Ning Haya bukan dengan tangan kosong. Tapi ia merekam semuanya, ia membawa kamera berukuran sangat kecil. Pertemuan Ning Haya dan Ranu terekam semuanya.
Setelah Ranu selesai berbicara, ia meninggalkan Ning Haya. Tidak lama dari Ranu yang pergi selang 5 menit Ning Haya pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Bagas ingin mengikutinya tapi Bilah menggenggam tangan Bagas dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah ngikutin lagi Mas, kita sudah dapat bukti, kita tetap di sini. Aku lapar, sayang-sayang sudah pesan," ucap Bilah.
"Sayang, kamu cocok pakai cadar," ucap Bagas.
"Jangan ngaco kamu Mas, imanku belum hight masih cetek," ucap Bilah.
Setelah selesai makan, Bilah dan Bagas pulang untuk kembali ke pesantren. Bagas mulai menjalankan mobilnya kembali.
"Mas, ke rumah Ning Haya," ucap Bilah.
"Apa sayang? aku nggak salah dengar?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Nggak sayangku, aku mau ketemu Kiai Harun," ucap Bilah.
Bagaspun memutar balik jalan untuk menuju pesantren Kiai Harun. Tidak lama merekapun tiba. Kiai Harun terkejut dengan kedatangan Bagas dan Bilah. Karena sejak di pecahnya Ning Haya, kiai Harun malu dengan kiai Irfan karena kelakuan putrinya.
"Assalamu'alaikum Kiai," ucap Bagas.
"Waalaikumsalam," ucap kiai Harun.
Bilah melihat di sekeliling, mobil Ning Haya tidak terlihat. Artinya dia belum kembali ke pesantren ini. Kiai Harun mempersilahkan Bagas dan Bilah masuk, mereka duduk di ruang tamu.
"Ada apa Gus Bagas dan Ning Bilah datang ke sini?" tanya kiai Harun.
"Maaf Kiai, bukannya saya lancang dengan Kiai. Ini masalah tentang Ning Haya," ucap Bilah.
"Ning Haya buat masalah lagi dengan kalian?" tanya kiai Harun.
"Belum Kiai, tapi akan. Ning Haya keturunan Kiai. Sayang jika akhlaknya terlalu melenceng. Saya bisa meminjam leptop? ada bukti rekaman ketika Ning Haya mau melakukan kejahatan," ucap Bilah.
Kiai Harun mengambil laptop, dan Bilah mentransfer data video yang ada di kamera pengintainya. Mata kiai Harun membulat melihat video yang diberikan oleh Bilah. Ia sangat malu melihat kelakuan anaknya seperti itu.
"Saya akan mengirim Ning Haya untuk melanjutkan S2, sekalian meluruskan aqidahnya," ucap kiai Harun.
"Kami hanya menyampaikan itu saja Kiai. Kami undur diri dulu, terima kasih atas waktu Kiai," ucap Bilah.
"Wa'alaikumsalam," ucap kiai Harun.
Bilah peduli dengan Ning Haya, bagaimanapun juga dia keturunan dari seorang kiai, jangan sampai bekerja sama dengan Ranu dan berakhir di jeruji besi. Cara ini lebih bagus, ketika sang ayah tahu akan tingkah laku anaknya. Kiai Harun sebagai ayah akan mendidik Ning Haya kembali dengan nilai-nilai akhlak sesuai ketentuan syariat islam.
Bagas dan Bilah kini sudah di dalam mobil mereka kembali. Bersyukur ketika mereka pulang, Ning Haya belum kembali. Jadi Ning Haya tidak akan tahu bahwa kiai Harun mengetahui rencananya untuk menculik Heelwa.
"Mas, minta bantuan dengan Mbak Aisyah agar mengirimkan 2 bodyguard untuk Heelwa dan Gendis. Ranu itu licik, walaupun tidak bisa bekerja sama dengan Ning Haya, dia akan melakukan dengan cara apapun." Bilah berpikir Ranu akan menculik Heelwa, putrinya. Ia takkan rela jika Heelwa di culik oleh mantan suaminya itu.
"Kenapa kamu tidak melaporkan dia ke polisi dengan video itu?" tanya Bagas.
"Mas, dalam video itu ada Ning Haya. Jika aku melaporkannya maka Ning Haya akan terseret," ucap Bilah.
Bilah walaupun ia sangat cemburu dengan Ning Haya. Tapi kebesaran hatinya itu yang membuat dirinya istimewa di mata Bagas. Bilah masih memikirkan kebaikan untuk orang lain walau pun orang itu telah menyakiti Bilah.
Sesampainya di pesantren, Gendis sudah berlari dan memeluk Bilah. Bilah menggendong Gendis, ia langsung menuju ke rumah mertuanya untuk mengambil Heelwa karena sebelumnya dititipkan ke ummi.
"Heelwa rewel nggak Ummi?" tanya Bilah.
"Dia anteng Nak, nggak rewel," ucap ummi.
"Kakak Gendis, sama Om Bagas yah, tante mau nyusin Heelwa dulu," ucap Bilah.
__ADS_1
Gendis di gendong Bagas lalu Bilah menggendong Heelwa, ia sangat rindu dengan putrinya. 5 jam tidak bersama Heelwa, hati Bilah gelisah dalam perjalanan. Apalagi mendengar Ranu ingin menculik Heelwa, hati Bilah sebenarnya panas ingin menampar wajah Ranu di tempat itu. Tapi dia tahan karena memikirkan Ning Haya.
2 hari setelah Bilah memberikan video itu kepada kiai Harun, Ning Haya dipaksa untuk melanjutkan s2 di kairo mesir. Di sana ada kakak laki-lakinya yang akan memantau Ning Haya.
Heelwa 5 bulan.
Gendis 1 tahun 9 bulan
Hai reader tercinta, boleh minta bintang 5 di novel ini?
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet β€π
__ADS_1