5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Jangan Merasa Hebat


__ADS_3

5 hari Bilah beristirahat di villa Bogor. Dia meminta kepada Bagas untuk pulang ke Jakarta. Keesokan harinya dia sudah aktif kembali untuk bekerja.


Selama di Villa bila selalu berkomunikasi dengan Melatih sekretarisnya. Melatilah yang melaporkan semua hasil kinerja dari setiap divisi.


"Kamu yakin hari ini mau masuk kerja? apakah kamu sudah kuat?" tanya Bagas penuh kekhawatiran.


"Iya Mas, aku yakin 'kan kamu menemaniku," ucap Bilah.


"Jika kamu lelah jangan terlalu dipaksakan ya," ucap Bagas.


"Iya sayang, aku akan mengatakan jika aku lelah," ucap Bilah.


Kini Bilah sedang di dalam mobil untuk pergi ke perusahaannya. Bagas menemani Bilah untuk bekerja karena dia juga khawatir akan kondisi Bilah dan menjaga Bilah dari Ranu. Sesampainya di kantor dia melihat Melati sudah ada di ruangannya.


"Selamat pagi Bu, Ibu sudah sehat?" tanya Melati.


"Selamat pagi Mel, alhamdulillah saya sudah sehat," ucap Bilah.


"Mel nanti jam 10.00-an suruh Pak Ranu ke ruangan saya untuk laporan minggu ini. Ini sudah telat lama 2 hari karena saya sakit," perintah Bilah.


"Baik Bu, nanti saya akan bilang ke Pak Ranu," jawab Melati.


Setelah berbicara dengan Melatih Bilah masuk ke ruangan bersama Bagas.


"Dalam perjalanan kamu lelah tidak sayang? pusing gak? mual gak? letakkan kepalamu di pahaku, istirahatlah!" ucap Bagas.


"Alhamdulillah Mas, aku kuat dan anakmu juga Insya Allah kuat," ucap Bilah.


Bilah meletakkan kepalanya di paha Bagas, ia sangat manja kepada Bagas semenjak dia hamil Bilah semakin manja.


"Mas, aku mau buat ruangan di sisi pojok untuk meletakkan ranjang," ucap Bilah.


"Buat apa sayang? seperti kamu buat kamar di kantor aja," ucap Bagas.


"Hahaha buat tidur sama kamu Mas, peluk-peluk, cium-cium aku. Bercanda Mas, untuk aku istirahat karena akhir-akhir ini aku cepat lelah Mas," ucap Bilah.


"Kenapa kamu tidak istirahat saja di rumah, jangan bekerja selama kamu hamil," ucap Bagas.


"Gak Mas, aku akan baik-baik saya. Aku akan menjaga kandunganku, doakan aku Mas, agar aku tidak merasakan nyeri yang hebat untuk kistaku," ucap Bilah.


Bagas mengusap perut Bilah yang masih rata, ia membacakan doa agar kandungan Bilah, Allah yang menjaga langsung. Selesai doa Bagas mengusap kepala Bilah lalu meniup kepala Bilah.


"Insha Allah, anak kita kuat. Aku setuju buat ruangan di pojok sudut untuk kamu istirahat," ucap Bagas.


"Nanti aku minta bantuan Melati untuk mengurusnya," ucap Bilah.


***

__ADS_1


"Pak Ranu, nanti di suruh menghadap ke Bu Bilah pukul 10.00," ucap Melati.


"Baik, terima kasih," ucap Ranu.


Ternyata si cantik sudah masuk ke kantor lagi. Pemasaran meningkat 10%, pasti dia akan senang. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Bilah lagi setelah 1 minggu aku tidak bertemu dengannya. Kangun aku melihat wajahnya, walaupun dia selalu jutek dan masam wajahnya jika bersama aku tapi aku makin suka sama dia. Bagaimana aku bisa menyingkirkan suami sok tampan itu. Pasti ada kelemahan yang membuat Bilah marah.


1 minggu tidak bertemu dia, serasa 1 tahun aku tidak bertemu dengan dia. Aku tidak pernah menceraikannya, Bilah yang menceraikanku. Aku menganggap dia masih istriku tercinta.


Ranu masih berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan Bilah kembali untuk dijadikan istrinya. Dia mencari info tentang Bagas, yang Ranu baru tahu Bagas seorang anak kiai yang mempunyai pesantren di Semarang.


Pukul 10 Ranu bersiap untuk menemui Bilah, lebih tepatnya melaporkan hasil perkembangan pemasaran.


Melati \=["Bu, Pak Ranu sudah datang."]


Bilah \=["Biar saya saja yang buka pintu agar Pak Ranu tidak tahu kode pintu ini."]


Melati \=["Baik Bu."]


"Pak Ranu, silahkan masuk. Bu Bilah sudah menunggu," ucap Melati.


Ranu membuka pintu kemudian dia melangkah masuk dengan kepedeannya. Bilah sedang duduk bersama dengan Bagas.


"Bagaimana dengan pemasaran?" tanya Bilah.


"Pemasaran naik 10% Bu Bilah,"ucap Ranu sambil tersenyum dengan kepercayaan diri.


"Kenapa kamu tersenyum, merasa hebat? baru naik 10%? itu artinya perusahaan belum mendapatkan keuntungan. 2 minggu yang lalu pendapatan pemasaran 40% pengeluaran 60% itu artinya minggu ini pemasaran 50% dan pengeluaran 50%. Anda kerjanya bagaimana? jika perusahaan tidak mendapatkan keuntungan bagaimana bisa membayar gaji para karyawan. Anda boleh miskin tapi karyawan harus tetap di gaji," ucap Bilah dengan lantang.


"Anda ini selalu janji-janji terus. Diperusahaan ini buatkan obral janji tapi kepastian agar hidup karyawan sejahtera," ucap Bilah.


"Kenapa sih aku selalu aja salah dimata kamu, padahal aku sudah lembur untuk menaikan 10% ini. Kenapa tidak menghargai aku?" protes Ranu.


"Menghargai Anda? memang Anda siapa harus saya hargai? Anda bukan siapa-siapa, di sini Anda hanya mempunyai saham 25% dan belaga menjadi bos. Kalau bicara dengan saya harus sopan yah. Saya ini atasan Anda bukan pasangan Anda. Ingat itu!" ucap Bilah.


"Kamu akan menjadi istriku kembali, apa bagusnya pria ini," ucap Ranu.


Bagas berdiri dan menghampiri Ranu.


"Mau tahu bagusnya saya, saya sangat mencintai Bilah. Bukan seperti Anda yang berselingkuh di belakang. Dan satu lagi, saya bisa membuat Bilah hamil tidak seperti Anda 5 tahun menikah tapi tidak memberikan Bilah seorang anak. Bukan Bilah yang tidak memberikan anak tapi Anda yang tidak bisa memberikan anak kepada Bilah," ucap Bagas dengan bangga.


Bilah yang mendengar itu, menatap Bagas dan menggelengkan kepalanya.


"Bilah hamil?" Ranu tidak percaya bahwa mantan istrinya sedang hamil.


"Kenapa? kamu tidak percaya kalau istri saya hamil? oh iya, Bilah itu istri saya jadi jangan berpikir Anda mau merebutnya dari aku. Itu tidak akan terjadi dalam kehidupan Anda lagi," ucap Bagas.


"Mas, sini duduk di samping aku," Bilah terlihat memegang kepalanya dan mengurutnya sedikit.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? pusing lagi?" tanya Bagas penuh khawatir.


"Pak Ranu sudah selesaikan, silahkan keluar," ucap Bilah dengan mata terpejam.


Ranu keluar dari ruang Bilah dengan menatap Bilah penuh ketidak percayaan bahwa mantan istrinya itu tengah hamil. Ranu keluar dengan wajah yang sangat kusut dan berjalan lemas. Melati aneh melihat Ranu seperti itu.


Bagas duduk dan mengarahkan kepala Bilah di paha Bagas, ia mulai ngurut kepala Bilah yang pusing.


"Pulang yah," ucap Bagas.


"Nggak Mas, aku masih mau di sini," ucap Bilah.


"Jangan memaksakan diri, ini kamu pusing seperti ini," ucap Bagas.


"Aku pusing mendengar kamu dan Ranu berbicara, ditelingaku terlalu bising. Kamu kenapa bilang jika aku hamil ke Ranu? kamu mau menunjukkan bahwa kamu hebat bisa menghamili aku?" ucap Bilah.


"Nggak sayang, agar dia nggak ganggu kamu lagi," ucap Bagas.


"Istigfar Mas, anak ini Allah menitipkan ke rahim aku lewat benih kamu Mas. Jangan merasa hebat, manusia gak boleh merasa hebat karena yang berhak merasa hebat itu Allah," ucap Bilah.


"Astagfirullah, terima kasih sayang sudah mengingatkan aku," ucap Bagas.


Bagas terus mengurut kepala Bilah, Bilah menikmati pelayanan dari Bagas. Ia juga sangat senang diperlakukan Bagas seperti ratu jika mereka sedang berduaan seperti ini.


Kisah kista 9,85 cm ini adalah kisah yang author alami sendiri, semoga kisah yang author bagikan membuat semangat untuk pejuang garis 2


Bersambung


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet β€πŸ’žπŸ’


__ADS_2