
Billi membulat matanya membaca pesan singkat di handphone Dina. Dia mencoba menelepon si peneror itu, tapi nomornya sudah tidak aktif. Peneror ini sangat cerdik sekali dan dia sangat tahu keadaan Dina.
Billi menjadi tidak tenang jika meninggalkan Dina di Bandung sendirian, apalagi Dina mempunyai riwayat penculikan yang mempengaruhi kejiwaan Dina.
"Aku akan tinggal di Bandung," ucap Billi.
"Kamu mau tinggal 1 rumah? gak boleh Billi, kita belum menikah," ucap Dina.
"Lalu aku bagaimana, agar bisa dekat denganmu. Aku khawatir akan meninggalkan mu sendirian di rumah ini," ucap Billi.
"Aku tidak tahu sayang, aku tidak bisa berpikir," ucap Dina ketakutan.
Billi langsung memeluk Dina kembali dan membelai rambut Dina yang panjang.
"Aku sayang kamu Din, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu lagi," ucap Billi.
"Aku merasa aman jika kamu di sampingku," ucap Dina.
"Bagaimana kalau kamu pindah ke Jakarta agar bisa dekat denganku," usul Billi.
"Aku baru bekerja di sini, dan juga aku harus kuliah. Rasanya berat jika aku meninggalkan Bandung," ucap Dina.
"Aku akan mencari sewa rumah di dekat sini, untuk beberapa hari aku akan berada di Bandung, aku akan memanggil 2 bodyguard untuk menjagamu," ucap Billi.
"Kerjaan mu bagaimana? aku akan diperhatikan orang lain jika di belakangku ada 2 bodyguard," ucap Dina.
"Untuk urusan kantor, biar Papah yang handle dulu. Bodyguard ini terlatih khusus sayang, gak akan ketahuan. Mereka akan menyamar bahkan kamu gak akan tahu yang mana bodyguardnya," ucap Billi.
kriuk kriuk
Suara perut Dina keroncongan dan terdengar di telinga Billi.
"Kamu lapar?" tanya Billi.
Dina hanya menganggukan kepalanya dan pipinya memerah karena malu.
"Tadi aku beli burger tapi masih di dalam mobil, aku lupa. Karena aku ketakutan langsung lari masuk rumah," ucap Dina.
"Gak sehat junk food, kita belanja bahan-bahan masakan. Kita masak aja," ajak Billi.
"Aku gak bisa masak," ucap jujur Dina.
"Aku yang masak buat kamu," ucap Billi.
"Kamu bisa masak?" tanya Dina.
"Bisa dong, masak air. hehehe," Billi tertawa.
Merekapun keluar dari rumah menuju mini market terdekat. Billi memilih beberapa sayur, daging dan buah.
"Kamu mau masak apa?" tanya Dina.
"Masakan yang aku bisa aja, kamu tinggal makan, oke sayang" ucap Billi, sambil membelai rambut Dina.
"Maaf yah aku gak bisa masak, nanti aku belajar masak dengan Bilah agar setelah menikah aku bisa masakin kamu," ucap Dina.
"Kamu cukup selalu di samping aku aja, soal makan gampang yang penting enak rasanya," ucap Billi.
__ADS_1
"Ih kamu ini, bilang gak apa-apa. Tapi mau rasanya yang enak itu sama aja harus pintar masak," protes Dina, dan memasang wajah cemberut.
"Hahaha...beneran, kamu gak bisa masak gak masalah buat aku, jangan cemberut dong. Wajahmu ketika cemberut bikin gemes." Billi mencubit pipi Dina.
"Au sakit Billi," ucap Dina sambil memukul dada Billi.
Ketika mereka sedang belanja, tidak sengaja bertemu dengan teman sekolah SMA yang pernah membulli Billi. Kejadian 10 tahun lalu yang menyebabkan Billi jatuh cinta dengan Dina ketika Dina membela Billi ketika di Bully.
"Billi, Dina?" sapa Sam, teman SMA.
Dina dan Billi menoleh ke arah sumber suara, mereka mengingat-ingat siapa pria yang ada di depannya.
"Kalian lupa sama gue?" tanya Sam.
Dina dan Billi saling menatap, mereka benar-benar tak ingat.
"Gue Sam, teman SMA kalian dulu. Bilah gak bareng? biasanya kalian bertiga," tanya Sam.
"Oh, aku ingat kamu," ucap Dina.
"Kalian menikah?" tanya Sam, karena melihat Billi dan Dina bergandengan tangan.
"Insha Allah 1 bulan atau 2 bulan lagi, kami akan menikah," ucap Billi.
"Alhamdulilah dari teman akan jadi istri hehe, badan loe keren Billi sekarang. Terlihat maco dan Dina sekarang lebih cantik. Gak nyangka gue, kalian akan segera menikah. Gue penasaran sama Bilah," ucap Sam.
"Kamu tinggal di Bandung?" tanya Billi.
"Gue buka usaha bengkel di Bandung, lumayan lah dari hobby jadi bisnis, sorry gue buru-buru. Kalau nikah undang-undang yah, loe cari aja di google Map bengkel Sam, gue pamit. Bye..." Sam melambaikan tangannya dan berlari tergesa-gesa, meninggalkan Billi dan Dina.
Kring...kring...
"Nomor yang aku gak tahu," ucap Dina sambil memberikan handphonenya kepada Billi.
Billi mengangkat telepon tersebut.
Peneror \= ["Kenapa loe yang angkat, gue telepon bukan buat ngomong sama loe. Tapi sama si cantik."]
Billi \= ["Jangan macam-macam yah sama tunangan saya."]
Peneror \= ["Baru tunangan 'kan, belum istri? yang sudah sah menjadi suami dan istri aja bisa bercerai. Apalagi yang baru tunangan gampang buat dipisahin."]
Billi \= ["Jangan macam-macam Anda, saya akan jebloskan Anda ke dalam penjara."]
Peneror \= ["Wow takut hahaha, gue gak macam-macam. Gue hanya mau 1 macam yaitu si cantik Dina."]
Tut tut tut
Telepon langsung terputus, kalimat peneror membuat Billi geram.
"Aku tidak tenang jika malam ini meninggalkan kamu di rumah itu sendirian," ucap Billi.
"Apa yang peneror itu katakan?" tanya Dina.
"Yang aku baca dari tutur katanya, dia terobsesi sama kamu, siapa peneror ini?" jawab Billi.
Genggaman Dina tiba-tiba semakin erat menggenggam tangan Billi, dia tahu Dina sedang ketakutan saat ini.
__ADS_1
"Kita bayar yuk, agar segera kita pulang," ajak Billi.
Mereka membayar belanjaan mereka dan langsung menuju ke parkiran. Dina sangat erat mengenggam tangan Billi.
Mobil Billi melaju meninggalkan mini market.
"Jangan takut sayang, aku ada di sini," ucap Billi sambil menatap mata Dina yang sangat ketakutan.
Tak lama mereka sampai di rumah, Billi membawa belanjaan. Dina tidak ingin masuk terlebih dahulu, ia ingin masuk rumah bersamaan dengan Billi.
"Kamu masih takut?" tanya Billi.
"Saat ini, aku tidak takut. Tapi aku sedang berpikir, bagaimana jika kamu tidak ada di sisiku. Pasti peneror itu akan menjadi-jadi, aku takut," ucap Dina.
"Jangan pikirkan yang akan datang, aku akan menjaga extra kamu. Lupakan sejenak, aku masak yah. Kamu tunggu saja di meja makan,"
Posisi dapur dan meja makan berhadapan. Dina bisa melihat Billi ketika dia sedang masak.
Ilustrasi Billi sedang masak.
'Ah, calon suamiku terlihat lebih seksi ketika memasak,' batin Dina.
Dina menatap Billi yang sedang memasak, Billi dengan cekatan memotong-matong sayur. Billi membuat steak dan salad untuk Dina.
Setelah selesai, Billi menata makanan di meja makan. Mata Dina berkaca-kaca tidak disangka Billi bisa masak.
"Makanlah yang banyak," ucap Billi.
"Terima kasih sayang atas masakannya. Aku sangat bahagia, melihat kamu masak. Makin seksi aja kamu, gemesin," ucap Dina, menatap mata Billi.
"Masa? kalau gitu setelah kita menikah, aku aja yang masak untuk kamu. Biar kamu melihat aku selalu seksi," ucapan nakal Billi.
"Masa kebalikan sih, aku mau memanjakan kamu juga dengan masakan," ucap Dina.
"Yah sudah nanti seiring waktu, kamu bisa belajar. Ayo dimakan, kamu sudah laparkan dari tadi," ucap Billi.
Dina makan dengan lahap, karena tenaganya terkuras dengan ketegangan dari peneror. Kini hatinya mulai merasa tenang karena Billi di sampingnya. Tidak ada rasa ketakutan yang sebelumnya dia rasakan.
"Oh iya, minggu depan ayahku akan datang ke rumah orang tuamu. Untuk melamarmu secara resmi dan langsung menentukan tanggal nikah kita," ucap Billi.
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua