
Dina \= ["Yang buat masalah siapa? kamu yang gak mau lacak nomor yang meneror aku. Tahu sendiri 'kan isi terornya seperti apa. Itu artinya kamu tidak perduli, tidak mau melindungi aku, jika aku jatuh ke tangan laki-laki lain. Kalau kamu seperti itu lebih baik kita jadi sahabat aja deh. Biar aku mencari pendamping yang bisa menjaga aku dengan tulus."]
Billi \= ["Kamu mau putus dari aku?"]
Dina \= ["Iya, lebih baik kita bersahabatan saja, sebelum nikah kamu sudah posesif sama aku, apalagi nanti ketika sudah menikah. Bisa-bisa nafasku terhenti karena keposesifan kamu."]
Billi \= ["Dina aku minta maaf sama kamu, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, aku tak sanggup jika kamu meninggalkan ku. Aku susul kamu ke Istanbul, aku akan terbang hari ini juga."]
Dina \=["Berani kamu ke sini, aku tak akan memaafkanmu."]
Billah memegang pundak Dina, ia menatap mata sahabatnya itu.
"Menyelesaikan masalah jangan pakai emosi, bukan masalah yang di selesaikan tapi malah menambah masalah, ego turunin Din," nasihat Bilah.
Dina menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
Dina \= ["Billi, aku memaafkan mu tapi jangan terlalu posesif denganku. Aku tak suka sikap mu yang seperti itu, Billi yang ku kenal sebelum menjadi kekasihku bersikap hangat dan selalu melindungi sahabatnya."]
Billi \= ["Maafkan aku, aku hanya takut kehilangan kamu. Jadi sikapku berubah kepadamu. Maaf yah...aku akan melacak siapa nomor yang menerormu. Bagaimanapun juga kamu calon istriku yang harus aku lindungi."]
Dina \= ["Aku juga minta maaf, telah berbicara kasar terhadapmu. Terima kasih sudah mengerti aku."]
Setelah kejadian itu, Billi merubah sikapnya terhadap Dina. Suatu hubungan yang baru harus bisa belajar mengerti pasangan masing-masing. Jangan terlalu meninggikan ego, saling mengerti itu adalah kunci dari sebuah hubungan.
Bilah mengajak Dina ke Hagia Sophia, ia menjelaskan kepada Dina bahwa Hagia Sophia dibangun pada abad keenam sebagai Gereja Byzantium dan kemudian beralih fungsi menjadi Gereja Katolik pada abad ke-13. Kemudian diubah menjadi masjid oleh penakluk Muslim di Istanbul (saat itu Konstantinopel), Mehmed II, pada tahun 1453. Akan tetapi presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk telah mencabut statusnya sebagai masjid pada tahun 1931 dan mengubahnya menjadi museum pada tahun 1934. Pada tanggal 24 Juli 2021 presiden Erdogan merubah status museum menjadi masjid kembali.
"Kita salat dzuhur si sini yah, merasakan atmosfer salat di Turki," ajak Bilah, kepada Dina.
Tidak terasa Dina sudah 1 minggu di Turki. Bilah benar-benar mengajak Dina mengelilingi Istanbul.
Hari ini Dina akan kembali ke Indonesia, Bilah mengantarkan Dina ke Bandara.
"Bil, gue terima kasih banget sama loe sudah mengajak gue keliling istanbul, jaga diri loe baik-baik yah," ucap Dina.
"Loe juga jaga diri loe baik-baik, jangan ambekan terus sama Billi, akur-akur yah hubungan kalian. Ingat pesan gue, jangan kasih tahu nomor gue sama Bagas," pesan Bilah.
"Kalau gue nikah bulan depan, loe pulang gak ke Indonesia?" tanya Dina.
"Gue akan hadirin nikahan sahabat gue, gak mungkin gue gak datang ke nikahan loe Din. Gue mau beresin urusan gue dulu. Gue akan kangen loe." Bilah memeluk Dina, sebelum Dina masuk untuk pemeriksaan visa.
"Gue tunggu loe pulang Bil, ke Indonesia." Dina melambaikan tangannya, lalu ia masuk untuk menuju pesawat penerbangannya.
***
Bilah membelikan tiket penerbangan Dina business class agar ia merasa nyaman ketika pulang sendiri ke Indonesia. Perjalanan yang lebih singkat daripada keberangkatan. 13 jam Dina berada di dalam pesawat dan akhirnya ia tiba dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta.
Billi menjemput Dina, dengan wajah yang sangat senang ia menyambut kepulangan Dina dari Turki.
__ADS_1
"Capek yah? sini koper kamu biar aku yang bawa," ucap Billi.
"Terima kasih yah, sudah menjemputku," ucap Dina.
"Jangan terima kasih, itu sudah menjadi tugasku menjemput calon istriku. Boleh aku menggandeng tanganmu?" tanya Billi.
Dina menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada Billi. Jantung Dina terasa berdebar dengan keras ketika tangan nya di sentuh oleh Billi. Mereka berjalan bergandengan sampai ke tempat parkir. Billi memasukan koper Dina ke dalam bagasi dan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Dina.
"Antarkan aku ke rumah orang tuaku yah, sekalian aku kenalin kamu," ucap Dina.
"Kamu mau kenalkan aku ke kedua orang tuamu?" tanya Billi.
"Kenapa gak mau?" tanya Dina.
"Aku senang sekali mau di kenalkan dengan camer," ucap Billi tersenyum.
"Ortu aku sudah tahu kamu sejak lama," ucap Dina.
"Tapi sebagai sahabat, sekarang statusnya lain. Calon suami kamu, aku akan sekalian lamar kamu aja. Jika sudah bicara dengan orang tuamu. Tinggal ayahku saja yang datang ke rumahmu, untuk meminangmu secara resmi," ucap Billi.
"Hah...sekarang kamu mau bilang? kamu yakin mau menikah dengan ku?" tanya Dina.
Billi menepikan mobilnya, ia menatap Dina dengan mata penuh keyakinan.
"Aku sangat yakin menikah denganmu, wanita yang aku cintai diam-diam selama ini." Billi memegang tangan Dina ketika berbicara dengan Dina.
"Apakah kamu ragu denganku?" tanya Billi.
Ketika mata mereka saling menatap, Dina buru-buru memalingkan pandangannya.
"Jalan sayang, agar cepat sampai," ucap Dina, sambil tersenyum.
Billi sangat senang ketika Dina memanggil dirinya sayang, karena ketika di Turki dia tidak mau memanggil Billi dengan sebutan sayang.
Menempuh waktu 1 jam, Billi tiba di kediam orang tua dari Dina. Billi menarik nafas karena jantungnya berdetak kencang.
"Kamu nervous?" Dina menyentuh tangan Billi.
"Sedikit." Billi tersenyum.
Billi membukakan pintu mobil untuk Dina dan mengambil kopernya. Mereka melangkah menuju pintu rumah.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk.
"Assalamu'alaikum, Ibu, Ayah," panggil Dina.
"Wa'alaikumsalam." Rio, Ayah Dina membukakan pintu.
__ADS_1
"Dina kamu sudah pulang dari Turki? bawa oleh-oleh gak buat Ayah?" tanya Rio, sambil tersenyum kepada putrinya.
"Bawa dong Ayah, masa aku lupa sih sama Ayah," jawab Dina.
"Billi terima kasih yah sudah jemput Dina, mari masuk dulu. Kebetulan Om dan Tante mau makan malam, sekalian aja yuk," ajak Rio.
"Ayo sayang masuk," ajak Dina.
Rio bingung ketika Dina memanggil Billi dengan sebutan sayang.
"Kalian?" Rio bertanya.
"Billi kekasih aku Ayah, dia datang ke sini mau ngomong serius sama Ayah. Tapi setelah makan yah Ayah. Dina dah lapar banget, kangen juga sama masakan Ibu." Dina mengalungkan tangannya ke tangan Ayahnya dan berjalan ke meja makan.
"Ibu..." Dina langsung memeluk Ibunya.
"Eh si cantik sudah pulang, kok cepat? kirain Ibu sama dengan Bilah sampai 2 bulan hehe,"canda Tia .
"Yah enggak lah Bu, kerjaan aku bagaimana di Bandung. Aku juga masih kuliah," ucap Dina.
"Ayo Billi, mari makan. Maaf yah seadanya," ajak Tia.
Mereka makan malam bersama-sama dengan kitmat. Keluarga Dina yang begitu welcome dengan Billi membuat ia tak canggung ketika berbicara dengan Rio dan Tia.
Setelah makan malam selesai, Dina mengajak kedua orang tuanya ke ruang keluarga.
"Om, Tante, saya mencintai Dina. Niat saya berbicara hari ini dengan Om dan Tante adalah untuk melamar putri kalian. Nanti ayah saya akan datang ke rumah ini untuk melamar resmi Dina," ucap Billi.
"Kalian kapan jadian?" tanya Tia.
"Tidak lama aku konferensi pers Ibu. Nanti aku ceritakan semuanya," ucap Dina.
"Om tunggu kedatangan Ayahmu Billi untuk melamar putri Om," ucap Rio.
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua