
Sudah satu minggu Bilah merawat bayi Nida. Umur bayi Nida kini berusia 7 bulan. Bayinya memang cantik dan sangat menggemaskan sehingga Bilah langsung jatuh cinta kepada bayinya.
Kring kring
Suara handphone Bilah berdering, ia mengangkat dan mengusap untuk membuka kuncinya, tertera nama Dina.
Dina \=["Assalamualaikum Bilah, gue mau ke rumah loe ya. Mau lihat rumah baru loe Bil."]
Bilah \=["Oke, gue tunggu."]
Dina \=["Sherlock dong."]
Bilah mengirimi sherlock alamat rumah barunya kepada Dina.
Hari ini merupakan hari libur. Bagas dan Bilah hanya berada di rumah mereka karena Bagas melarang Bilah untuk keluar rumah, untuk menjaga kesehatan Bilah.
Tak selang lama ada suara mobil yang datang.
"Mas, sepertinya itu Dina dan Billi," ucap Bilah.
"Aku lihat dulu yah," ucap Bagas.
Bilah sedang menggendong Gendis, sambil memberikan ASI di botol yang sudah ia hangatkan.
Dina masuk ke dalam rumah Bilah, sambil menggendong Kenzo putranya. Ketika melihat Bilah sedang menggendong bayi dengan perut membuncit, Dina bingung dengan apa yang dia lihat.
"Bil, bayi siapa?" tanya Dina.
"Eh, loe Din. Bikin kaget aja sih, masuk diam-diam aja gak ada ucap salam," protes Bilah.
"Maaf Bil, assalamu'alaikum," ucap Dina
"Waalaikumsalam," ucap Bilah.
Billi baru masuk ke dalam rumah bersama Bagas. Billi langsung duduk di sebelah Dina.
"Mba, tolong ambilkan kudapan dan minum yah," teriak Bilah.
Pekerja yang di sewa Bagas untuk membantu Bilah pun keluar menghampiri Bilah.
"Mau di buatkan minuman apa Bu?" tanya mba Ima.
"Mau minum apa Din, Billi?" tanya Bilah.
"Billi kopi, gue teh hangat aja," ucap Dina.
Tidak selang waktu lama, kudapan dan minum sudah diletakkan di meja.
"Bayi siapa Bil? gue tadi tanya belum loe jawab," tanya Dina.
Bilah menatap Bagas, ia ragu untuk mengatakannya. Dina pasti marah karena Nida pernah menyuruh preman bayaran untuk merenggut kesuciannya. Walaupun sebenarnya bukan suruhan Nida tapi Ranu.
Bagas membelai kepala Bilah, dia mengganggukan kepalanya perlahan sebagai kode Bilah lebih baik berkata jujur.
"Ini bayi..." ucap Bilah ragu.
"Bayi sepupu loe?" tanya Dina.
"Bukan, ini bayi Nida dan Ranu," ucap Bilah.
__ADS_1
"Apa? loe gila yah Bil, loe rawat bayi ini?" tanya Dina.
"Gue sadar kok Din, kasian jika bayi yang enggak berdosa tinggal di penjara," ucap Bilah.
"Bayi ini punya bapak Bil, kasih aja ke bapaknya, biar dia urus. Bukannya dia selalu inginkan anak dari dulu?" ucap kesal Dina.
"Bapaknya gak akui anak ini," ucap Bilah.
"Bilah setiap bulan pergi kepenjara untuk mengantarkan susu hamil dan keperluan ibu hamil yang lain. Tapi Nida gak pernah tahu bahwa Bilah yang memberikan itu semua," ucap Bagas.
"Bil, loe tuh terlalu baik orangnya, loe ingat perlakuan mereka waktu itu? lebih baik loe kasih ke Ranu aja deh," ucap Dina.
"Din, Ranu benar-benar gak mau anak ini. Jangankan merawat, waktu Nida hamil aja dia gak di jenguk satu kali pun. Kepala penjaga lapas pernah cerita sama gue, sekarang Nida sudah berubah, dia rajin salat, ngaji bahkan katanya sekarang dia memproduksi sesuatu di lapas dan di jual di pasaran, laku keras penjualannya di luar negeri."
"Tidak bolehkah manusia yang berusaha untuk jadi manusia baik, tidak kita gandeng tangannya? tidak bolehkah kita melihat usaha taubatnya? Allah aja menerima taubat hamba-hambanya. Kenapa kita sebagai hamba -Nya yang penuh dosa ini tidak menerima maaf orang yang berbuat salah dengan kita sebelumnya?" ucap Bilah.
"Tapi dia gak pernah minta maaf tuh sama loe, sama gue," ucap Dina.
"Bagaimana dia bisa datang ke loe dan meminta maaf sedangkan dia aja terkurung? kalau loe mau dengar dia minta maaf sama loe, loe datang ke lapas," ujar Bilah.
"Ogah gue," ucap Dina.
"Kenapa? loe gak mau memberikan maaf kepada Nida?" tanya Bilah.
"Stop Bil, gue gak mau berantem karena beda pendapat sama loe. Gue ke sini mau silaturahmi sama loe," ucap Dina.
"Lagi emosi 'kan loe? tuh di minum airnya, biar rasa panas di hati jadi adem karena kesiram air," ucap Bilah.
Dina melirik Bilah, sambil minum teh hangat yang sudah di sediakan.
"Bil, bagaimana kandungan kamu? sudah berapa bulan sekarang?" tanya Billi yang semenjak awal masuk rumah hanya terdiam dan mendengarkan perdebatan Bilah dan Dina.
"Alhamdulilah baik, bulan ini sudah masuk 5 bulan," ucap Bilah.
"Amin, terima kasih Billi atas doanya," ucap Bilah.
"Siapa nama anak Nida?" tanya Billi.
"Kenapa ai, kamu tanya nama anak Nida," ketus Dina.
"Din, loe boleh benci sama ibunya. Tapi loe gak boleh benci sama bayi ini. Setiap anak terlahir itu tanpa dosa Din," ucap Bilah.
"Au ah Bil," ucap Dina.
"Susah ngomong sama orang yang gak bisa kasih maaf sama orang yang mau bertaubat. Hati-hati nanti anak loe jodoh lagi sama Gendis bayi Nida," ucap Bilah
"Oh namanya Gendis," ucap Billi.
"Kenapa ai senang banget sepertinya tahu nama anak Nida. Nauzubilahi minzalik gue besanan sama anaknya cecurut," ucap Dina.
Billi hanya terdiam ketika Dina menunjukkan wajah jutek ketika melirik dirinya.
"Mas, Gendis sudah tidur. Tolong letakkan di box bayi," ucap Bilah.
Bagas menggendong Gendis, dan meletakkan di box bayi di dalam kamar.
"Kenzo sudah tidur tuh Din, gue ambil kasur bayi yah. Tenang baru kasurnya bukan yang dipakai Gendis," ucap Bilah.
"Biar aku aja yang ambil sayang," ucap Bagas.
__ADS_1
Bagas mengambil kasur bayi di atas ranjang kamar tamu.
"Kenzo letakkan di kamar tamu," ucap Bilah.
"Ai jagain Kenzo yah. Aku mau lihat-lihat rumah Bilah," pinta Dina.
Billi menggendong Kenzo, ditemani oleh Bagas menuju kamar tamu.
Bilah berdiri, Dina memegang lengan Bilah.
"Hati-hati Bil, masih mual-mual?" tanya Dina.
"Alhamdulilah gak, mualnya 1 minggu ini berhenti. Gue udah bisa makan tanpa muntah lagi setelahnya," ucap Bilah.
Mereka berjalan menyusuri rumah Bilah yang elegan, dari depan tampak sempit tapi pas ke dalam sangat luas.
"Rumah loe bagus Bil," ucap Dina.
"Gue semua yang pilih semua pernak-pernik, cat, semuanya deh. Mas Bagas setuju-setuju aja sama pilihan gue," ucap Bilah.
"Gus Bagas cinta banget sama loe yah, sampai mengizinkan loe rawat anak Nida. Hati loe terbuat dari apa sih Bil? sampai baiknya ampun-ampun," ucap Dina.
"Gue hanya kasian Din, jika bayi besar di dalam penjara atau panti asuhan padahal kedua orang tuanya masih hidup," ucap Bilah.
"Lalu anak itu manggil kalian apa? Mamah dan Papah?" tanya Dina.
"Gak lah, anak itu akan jenguk ibunya di dalam penjara. Gue akan tugaskan baby sitter kesana. Jadi anak itu akan panggil gue dan Mas Bagas dengan panggilan tante dan om," jawab Bilah.
"Loe menolong Nida diam-diam, bagaimana nantinya jika dia tahu bahwa loe yang menolong dia?" tanya Dina.
Bilah hanya menaikan pundaknya, mereka berjalan sampai ke taman dari rumah Bilah yang sangat hijau. Mereka berbincang-bincang di taman, terkadang Dina mengelus-elus perut Bilah. Sudah lama rasanya mereka tidak berbicara berdua dari hati ke hati. Sahabat memang tak pernah berganti.
Bersambung.
βRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ