
"Haya...kamu apa-apaan, pulang sekarang." Nyai Laila menarik tangan putrinya.
"Kiai Irfan maafkan putri saya, saya malu dengan kejadian ini," ucap Kiai Harun.
"Tidak Ummi, aku tidak mau pulang. Gus Bagas harus menerimaku," teriak Haya.
"Kamu jangan bikin malu Abi! pulang sekarang," bentak Kiai Harun.
"Tunggu Kiai, biarkan aku berbicara sebentar dengan Ning Haya," ucap Bagas.
Bagas menghampiri Ning Haya dan Nyai Laila.
"Maafkan aku Ning Haya, pilihan aku jatuh ke wanita lain karena doa dan hatiku sudah tertambat kepadanya. Tapi kamu tidak perlu mengetahui siapa dia," ucap Bagas.
"Apa yang kurang dari aku Gus Bagas? dia lebih cantik dariku. Apa kamu hanya melihat kecantikannya saja?"
"Kecantikan bukan segala-galanya bagiku, hatiku mulai terketuk ketika dia menolong keponakanku. Tanpa kenal, tanpa tahu caranya. Ketika itu orang-orang hanya terdiam melihat keponakanku tidak bisa bernafas, tapi wanita itu dengan membaca bismillah menolong keponakanku."
"Tidak bisakah kamu melihat aku sedikit Gus, aku mencintaimu."
"Maaf Ning, cinta tidak bisa dipaksa. Semoga Ning mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. Aku sudah memilih dia."
"Camkan ini Gus, aku tidak menerima ini," ucap Ning Haya.
Kiai Harun langsung menarik tangan putrinya agar segera pulang dan ia memohon beribu maaf kepada Kiai Irfan, dia akan berjanji menasehati anaknya. Dengan rasa kesal Ning Haya menuruti Abi dan Umminya.
****
Nabilah sudah tinggal 3 bulan di kawasan pesantren. Massa Iddah sudah selesai, kini ia sudah siap untuk meninggalkan kawasan pesantren dan membuka toko rotinya.
Pada malam hari keluarga Kiai Irfan menuju ke rumah Bilah. Senyum merekah di wajah Gus Bagas, dia baru merasakan jatuh cinta oleh lawan jenis, tapi selama tiga bulan ia pendam. Banyak yang meminta kepada Kiai Irfan, untuk Gus Bagas dijadikan menantunya tapi Gus Bagas selalu menolaknya, Kiai Irfan juga menjodohkan dia dengan wanita pilihannya, tapi Gus Bagas selalu berkata akan mencari sendiri wanita yang akan membuat hatinya bergetar.
"Assalamu'alaikum," ucap Aisyah memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," ucap Sarah membalas salam yang masih berada di dalam kamar dengan Bilah.
"Ning Aisyah sudah datang itu Mah, aku masih mengepak ini dulu Mah. Tolong Mamah sambut Ning Aisyah yah, aku sebentar lagi selesai."
__ADS_1
"Yah, sudah. Jangan lama-lama kamu yah, gak enak sama Ning Aisyah."
Ketika membuka pintu, Sarah terkejut karena bukan hanya Ning Aisyah tapi ada Kiai,Nyai,Gus Bagas, suami Ning Aisyah dan juga anaknya Salma.
"Jangan terkejut gitu Bu Sarah, kita ke sini ada niatan baik yang ingin disampaikan," ucap Aisyah.
"Mari silahkan masuk Kiai beserta keluarga," Sarah mempersilahkan masuk keluarga Kiai.
"Boleh saya bertemu dengan Mba Bilah? mohon Pak Afnan dan Bu Sarah juga ikut duduk bersama," ucap Kiai Irfan.
"Ada apa yah Kiai?" Sarah tampak kebingungan.
"Tidak ada apa-apa Bu Sarah jangan takut. Hanya ingin menyampaikan niat baik untuk Mba Bilah," ucap Kiai Irfan.
"Saya panggilkan putri saya dulu yah dan juga suami saya." Sarah berjalan menuju kamar Bilah.
"Mah, aku sudah selesai. Ayo kita berangkat, Ning Aisyah sudah nunggu lama yah? duh aku jadi gak enak," ucap Bilah.
"Bilah, yang datang bukan hanya Ning Aisyah tapi juga ada Kiai dan Nyai, suami Ning Aisyah dan anaknya, juga Gus Bagas." Mamah lupa namanya."
Sarah menggindikan bahunya keatas. "Mereka mau bicara sama kamu Bilah, Ayah di suruh menemani Bilah juga. Sepertinya ada yang mau dibicarakan sama kamu."
"Mamah wajahnya serius banget sih."
"Yah sudah, yuk temui mereka. Gak enak mereka menunggu lama. Ayah ayo ikut keluar."
"Iya Mah," ucap Afnan.
Bilah menemui keluarga Kiai Irfan di ruang tamu. Dengan senyuman Bilah menyapa. Bagas menundukkan kepalanya karena melihat senyuman Bilah, jantungnya mulai berdebar-debar, di dalam hati, ia selalu mengucapkan istigfar.
"Assalamu'alaikum," Bilah mengucapkan salam kepada Kiai dan keluarga.
"Kiai, kata Mamah ada yang ingin Kiai katakan?" tanyanya.
"Wa'alaikumsalam, kedatangan saya hari ini, mengantar putra saya untuk menyampaikan niat baiknya. Bagas silahkan kamu utarakan niat kamu," sambungnya.
Bilah dibuat semakin bingung, ada apa sebenarnya tujuan keluarga Kiai menemui Bilah dengan cara formal.
__ADS_1
"Bismillah hirohmanirohim, mohon maaf kepada Pak Afnan dan Bu Sarah. Mungkin bingung melihat keluarga saya datang tiba-tiba ke sini. Saya datang ke sini ingin menyampaikan bahwa saya ingin melamar Mba Bilah sebagai pendamping hidup saya."
Bilah sontak terkejut dengan pernyataan dari Bagas, yang tiba-tiba datang untuk melamarnya. Bilah tidak tahu ta'aruf, dia hanya tahu berpacaran. Laki-laki yang belum di kenalnya malah langsung ingin melamar dia. Bilah berpikir lucu sekali ini, tanpa mengenal melalui pacaran langsung lamaran. Bilah menatap kedua orang tuanya, dari mata Bilah mengisyaratkan agar ayahnya yang mewakili dia untuk berbicara.
"Terima kasih Kiai atas kedatangannya, untuk niat baik dari Gus Bagas, saya menyerahkan keputusannya kepada putri saya sepenuhnya. Akan tetapi putri saya ini bukan perawan melainkan Janda. Apakah Gus Bagas masih ingin melamar putri saya yang berstatus janda?" tanya Afnan, terhadap Bagas.
"Untuk status Mba Bilah saya sudah tahu Pak, sebelumnya saya sudah bertemu 2 kali di Jakarta. Dan saya tidak mempermasalahkan statusnya yang sudah janda, Abah dan Ummi saya juga tidak mempermasalahkan status Mba Bilah," jawab Bagas.
"Apa yang menjadi pertimbangan Gus Bagas untuk melamar anak saya, yang ternyata sudah tahu status dari putri saya adalah janda?" tanya Afnan kembali.
"Yang pertama Mba Bilah ini jawaban dari sepertiga doa malam saya. Saya yakin, bahwa Allah sudah memberikan tanda-tanda jawaban atas doa saya di Mba Bilah. Yang kedua, menikahi wanita yang berstatus janda karena saya ingin meneladani Rasulullah, Insha Allah menikahi seorang janda bagi umat seperti saya ini bisa dinilai sebagai suatu kebaikan dan juga menjaga Mba Bilah dari pandangan miring masyarakat tentang status jandanya."
Afnan menarik nafas lalu menghembuskan dengan perlahan.
"Bagaimana Bilah? kamu jawablah," seru Afnan.
Bilah menatap Sarah, dia berat untuk menjawab. Ia meminta waktu untuk berbicara dengan Sarah terlebih dahulu karena ini sangat mendadak untuk dia. Bilah menarik tangan Sarah ke kamar.
"Mah, apa yang harus aku jawab?" Bilah menggenggam tangan Sarah, "Aku tidak mau mengambil keputusan yang salah seperti sebelumnya," Bilah mencium tangan Sarah.
"Gus Bagas ini agama dan akhlaknya sangat sholeh, dia belum mengenal lama kamu hanya dua kali dia bertemu kamu di Jakarta, tapi ingin menghalalkan kamu, memandang kamu tanpa ada rasa dosa jika sudah halal, tidak mempermasalahkan status kamu juga sebagai janda, berniat untuk menjaga kamu dari fitnah dunia. Akankah kamu menolak pria seperti Gus Bagas?" tanya Sarah.
"Tapi hatiku masih takut Mah, takut ada orang baru yang masuk di hatiku dan ternyata dia sama dengan yang sebelumnya," ucap Bilah lirih.
"Kalau begitu, berdoa lah terlebih dahulu kepada Allah. Bukankah Allah tempat menjawab atas semua pertanyaanmu," ucap Sarah menasehati Bilah.
Bilah terdiam sesaat, dia memikirkan apa yang dia akan ucapkan.
"Bilah, jangan membuat mereka menunggu lama atas jawabanmu," ucap Afnan menyusul di dalam kamar.
Bilah keluar dari kamar dan kini sudah di ruang keluarga berhadapan dengan Bagas dan keluarganya.
"Bismillah, jujur hati saya berat untuk menerima orang baru di hati saya. Tapi saya akan meminta petunjuk Allah untuk menjawab lamaran dari Gus Bagas. Boleh saya meminta waktu untuk menjawab lamaran ini?" tanya Bilah.
"Iya, saya akan menunggu jawaban dari Mba Bilah."
Bersambung
__ADS_1