
3 bulan sejak kecelakaan yang menimpa Bilah. Bilah sudah iklas menerima takdirnya, ia juga menghafal sudut-sudut rumahnya agar bisa melakukan aktifitasnya sendiri. Wanita yang kuat menerima dirinya buta, wanita cantik terhebat menerima ketidak sempurnaannya lagi.
Bilah bahkan cepat belajar, dengan indra perabanya ia bisa menyiapkan baju ganti Bagas, yang Bilah bersedih ketika ia tidak bisa memasak kembali untuk suaminya. Sikap Bagas semakin lama semakin perhatian, ia yang menggantikan Bilah memasak dan menyuapi Bilah makan. Ia tidak ingin masakan yang di buat oleh ART nya.
Kasus penabrakan Bilah kini sudah ada di titik terang, pelakunya sudah dibuat sketsa wajah dan menjadi buronan polisi. Dia seperti bajing loncat pindah ke satu tempat tempat lain dan juga pintar untuk membersihkan sidik jari. Polisi masih mengejarnya, Rumah Bilah pun dijaga ketat oleh satpam dan Bodyguard karena sang pelaku tahu bahwa Bilah masih hidup, polisi menduga sang pelaku ada dendam, pengejaran masih terus dikerahkan oleh Polisi.
"Mas, hari ini kamu pulang jam berapa?" tanya Bilah.
"Hari ini pulang sepertinya siang karena nanti ada rapat di sekolahan. kamu mau aku belikan sesuatu?" tanya Bagas.
"Tidak Mas, aku cuman tanya aja kok," ucap Bilah.
"Sayang kamu tahu kan awan itu ada di langit dan awan itu bergerak-gerak di langit," ucap Bagas.
"Karena awan ringan lalu ditiup angin jadinya bergerak di langit," ucap Bilah.
"Seperti itulah kita, aku langit dan kamu awan. Karena kamu selalu bergerak-gerak dipikiranku ketika jauh dariku," ucap Bagas.
Bilah tersenyum mendengar gombalan dari Bagas.
"Mas tahu nggak waktu kecil aku suka matematika karena matematika itu adalah ilmu pasti, seperti cintaku yang sudah pasti untukmu," balas Bilah dengan gombalannya.
"Istriku pintar gombal juga," ucap Bilah dengan tertawa kecil.
"Ya udah Mas, yuk aku antar ke depan," ujar Bilah.
"Nggak usah sayang kamu di dalam aja," tolak Bagas.
"Kenapa Mas karena aku nggak bisa lihat? aku bisa kok jalan ketika kamu pergi untuk masuk ke dalam rumah, aku ingin mengantar kamu Mas ke depan," ucap Bilah dengan wajah cemberut.
"Jangan tersinggung seperti itu sayang, yah sudah ayo antarkan aku ke depan." Bagas mengalungkan tangannya ke tangan kanan bila tangan kiri bila memegang tongkat bila tersenyum ketika Bagas mengalungkan tangannya ke tangan kirinya Iya juga bisa meletakkan kepalanya di bahu Bagas
"Jaga diri baik-baik ya, jika ada sesuatu langsung telepon aku sayang," ucap Bagas sebelum pergi.
"Iya Mas, aku akan telepon kamu jika ada sesuatu," ucap Bilah.
Bagas mencium kening Bilah, kemudian dia bergegas masuk mobil dan menyalahkan mobilnya menuju sekolah.
***
Di rumah sakit tempat Dina bekerja ada seseorang yang menemui Dina. Dina sangat senang bahwa orang itu ingin mendonor korneanya untuk Bilah ketika dia mati nanti.
__ADS_1
"Kamu yakin ini ingin mendonorkan korneamu?" tanya Dina.
"Iya aku yakin karena dia wanita yang baik," ucap seseorang.
"Tapi kan kamu masih hidup dan biasanya yang mendonorkan mata itu orang yang sudah meninggal," ucap Dina.
"Aku sedang mengerjakan sesuatu yang membahayakan diriku, entah kapan itu aku akan mati. Seenggaknya ketika aku mati kornea mataku bisa digunakan. Aku ingin mendonorkan kornea mataku ini untuk Bilah," ucap seseorang itu.
"Yakin banget kamu mau mati?" ucap Dina.
"Hahaha mati itu merupakan hal yang pasti, kehidupan merupakan sebuah ujian dari masalah. Seenggaknya aku sudah mendaftarkan diri jika aku mati, aku masih bisa berguna untuk wanita yang sebaik Bilah jika dia bisa melihat kembali, dia akan lebih berguna lagi untuk manusia yang lain," ucap seseorang itu.
"Oke tanda tangani ini sebagai persetujuan kamu akan mendonorkan korneamu untuk Bilah," ucap Dina.
"Donorkan juga anggota tubuhku yang lainnya seperti ginjal, hati, jantung untuk manusia yang membutuhkannya," ucap seseorang itu.
Orang itu langsung menandatangani persetujuan bahwa organ dalam tubuhnya akan disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan
Dina tersenyum seenggaknya ada seseorang yang peduli dengan Bilah entah orang tersebut akan meninggalkan dunia kapan, tapi setidaknya ada harapan untuk Bilah. Dina juga terus mencari pendonor kornea yang lain, dari rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Bahkan mendaftarkan ke rumah sakit Jepang. Mencari pendonor mata itu bagaikan mencari jarum di lautan. Bagaimanapun juga Dina terus berusaha karena Bilah adalah sahabat yang sudah ia anggap saudaranya.
dua bulan kemudian orang yang menandatangani perjanjian meninggal dunia. Dina tak menyangka kepergian orang itu sangatlah cepat dan dia meninggal dalam keikhlasannya. Dina langsung mengabari Bilah bahwa ada donor kornea mata untuk dirinya. Bilah sangat senang sekali ketika mendengar kabar ini dari Dina. dia langsung sujud syukur mengucapkan alhamdulillah karena Bilah hanya 5 bulan untuk menunggu, kesabarannya itu membuahkan hasil.
Operasi harus segera dilakukan. Dokter harus mengetahui kapan pendonor meninggal, karena kornea mata orang yang meninggal harus diambil kurang dari 6 jam. Kornea donor harus digunakan dalam waktu kurang dari 2×24 jam untuk tingkat keberhasilan yang lebih baik. Dina langsung menjadwalkan operasi Bilah yaitu esok hari.
***
Bilah sedang berada di ruang operasi l. Bagas serta kedua orang tua Bilah menunggu di pintu ruang operasi. Operasi memakan waktu 1-2 jam. Setelah operasi selesai Bilah dipindahkan ke ruang rawat inap, ia masih belum tersadar karena efek dari obat bius. Setelah 1 jam Bilah baru tersadar.
"Bilah..." Panggil Dina, ia mengusap-ngusap tangan Bilah.
"Dina bagaimana operasi gue?" tanya Bilah.
"Alhamdulillah sukses Bil. semoga tubuh loe nggak ada penolakan yah dari donor kornea ini. Jika tidak ada kendala loe dapat kembali melihat bahkan beraktivitas dalam minggu pertama setelah cangkok dilaksanakan," penjelasan Dina.
"Terima kasih ya Din berkat loe, gua bisa dapat donor kornea mata. Semoga Allah mengembalikan penglihatan gue lagi," ucap Bilah.
"Amin, iya Bilah Insya Allah loe orang baik, Allah akan menolong hamba-hambaNya yang telah berbuat baik kepada sesama. banyak doa juga buat loe Bil, dari orang-orang yang sayang sama loe," ucap Dina.
Seminggu sudah berlalu, Bilah hari ini akan melepaskan perubahannya dan akan terlihat apakah tubuh Bilah menerima donor kornea mata ini. Dokter kini sedang membuka perban mata Bilah. Bagas dan kedua orang tua Bilah harap-harap cemas, perlahan perban itu dibuka.
"Coba Bu Bilah buka matanya perlahan-lahan tapi jangan dipaksa, mungkin untuk awal ketika mata di buka masuk cahaya ke mata akan ada rasa sakit," ucap dokter.
__ADS_1
Bilah membuka perlahan-lahan matanya, terasa sangat berat. Ia mulai melihat cahaya yang masuk dari matanya karena terkejut dia memejamkan matanya lagi. Bilah membuka matanya lagi perlahan-lahan, ia membuka matanya, terlihat berkabut tapi lama-lama ia dapat melihat sosok pria yang sangat dicintainya.
"Sayang kamu bisa melihatku?" tanya Bagas.
"Aku nggak bisa melihat kamu Mas, yang dulu. Tapi aku bisa melihat kamu yang sekarang yang sangat mencintaiku." Bilah tertawa, dia melihat ekspresi Bagas yang sangat khawatir.
"Jadi kamu sudah bisa melihat aku sayang?" tanya Bagas
"Iya Mas Bagas sayang, aku sudah bisa melihat kamu. Betapa tampannya suamiku ini," jawab Bilah dengan senyuman.
Bagas mencubit lembut hidung mancung Bilah karena berkata manis setelah operasi mata.
Bersambung
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan di diri kita khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞