
Dina terus saja menghubungi Bilah, tapi Bilah tak mau mengangkat telepon dari Dina. Sudah 2 bulan Bilah tidak mau berkomunikasi dengan Dina sejak Dina pulang dari Jepang. Dina akhirnya datang ke kantor Bilah ketika jam pulang kerja.
"Bilah," teriak Dina.
Bilah menoleh kepada sumber suara. Bilah menatap Dina yang perutnya sudah membuncit. Bilah mengepalkan tangannya, ia tidak mau memperdulikan Dina. Ia terus saja berjalan menuju mobil. Dina mengejar Bilah dan mengenggam lengan Bilah.
"Bilah, tolong maafin gue," ucap Dina lirih.
"Lepasin lengan gue," ucap Bilah.
"Gue masih anggap loe sebagai saudari gue Bil," ucap Dina.
Bilah tersenyum getir kepada Dina, "Dah basi Din, selamat buat loe. Sebentar lagi loe jadi seorang Ibu."
"Tolong jangan gini Bil," ucap Dina.
"Loe gak rugi kok kehilangan gue, loe udah punya segalanya. Suami yang loe cintai CEO lagi, loe seorang dokter yang sukses, dan sekarang loe akan menjadi seorang ibu. Sudahlah urus dengan urusan kita masing-masing, loe gak butuh gue," ucap Bilah.
"Gue kurang saudari gue yang selalu ada di sisi gue, please maafin gue," ucap Dina dengan menangkup kedua tangannya di dada.
"Loe mau gue ada di sisi loe selalu? seperti dulu? hahaha lucu loe. Kemana loe ketika gue butuh loe, ngabarin kalau gue hamil aja gue gak bisa hubungin loe sampai gue keguguran aja loe gak bisa di hubungin," ucap Bilah.
Bilah menelepon Billi.
Bilah \= ["Billi, jemput istri loe di kantor gue sekarang."]
Bilah langsung menutup teleponnya.
"Loe tunggu di sini, suami loe lagi OTW ke sini," ujar Bilah.
Bagas datang menghampiri Bilah, wajah Bilah sudah menegang karena terlihat lagi bersitegang dengan Dina.
"Kamu tidak apa-apa?" Bagas membelai kepala Bilah.
"Assalamu'alaikum Gus, lama kita gak ketemu," ucap Dina.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bagas.
"Yah jelaslah lama gak ketemu, nikahan gak datang, pas gue keguguran juga gak ada kabar hilang seperti di telan bumi. Hubby pulang yuk aku sudah lelah," pinta Bilah.
Dina memeluk Bilah, "Bil, maafin gue. Gue sayang loe, gue tahu telah berbuat kesalahan yang besar. Gue gak mau kehilangan loe Bil."
Bilah melepaskan pelukan Dina, dan ia langsung masuk ke dalam mobil.
"Hubby, tolong jalan," pinta Bilah.
Bagas mulai menjalankan mobilnya. Ketika mobil berjalan perlahan, Dina mengejar mobil Bilah dan mengetuk jendela mobilnya. Dina terjatuh ketika mengejar mobil Bilah.
"Hubby, berhenti." Bilah langsung keluar dari mobil dan berlari menghampiri Dina.
"Din, kenapa sih loe ngejar mobil gue. Bahaya tahu gak sih loe. Loe lagi hamil jaga anak loe, jangan sampai kaya gue kehilangan anak pertama gue. Rasanya dalam hati gue ini sakit Din. Tolong jaga kandungan loe," ucap Bilah sambil mengusap tangan Dina yang terluka.
Dina langsung memeluk Bilah dengan erat, " Gue tahu loe masih perduli sama gue. Maafin gue Bil, gue memang bodoh membuat kesalahan yang besar, padahal loe selalu bantu gue sejak kecil. Gue sahabat yang gak tahu diri."
"Loe periksa kandungan loe yah, tadi loe jatuh. Gue anterin ke dokter kandungan," ucap Bilah penuh dengan khawatir.
"Nanti gue periksa diri gue sendiri, gue 'kan dokter," ucap Dina.
"Jangan ngaco loe, mana ada dokter periksa dirinya sendiri, tetap aja butuh dokter lain buat periksa," ucap Bilah.
"Bil, loe maafin gue 'kan," ucap Dina.
Tak lama Billi datang, ia berlari ketika melihat Dina.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang, terluka seperti ini?" tanya Billi.
"Tadi aku jatuh, Bilah yang menolong aku," ucap Dina.
"Ke dokter yah, aku takut anak kita kenapa-kenapa," ucap Billi.
Bilah langsung berdiri dan berjalan menuju mobilnya kembali.
"Bilah..." teriak Dina, ia mencoba untuk berdiri dan mencegah Bilah pergi.
"Sudah ada suami loe, gue pergi sekarang," ucap Bilah.
"Ai lepaskan aku, aku mau Bilah aja yang antarkan aku ke dokter kandungan," pinta Dina.
"Bilah, maafkan kami. Sebenarnya Dina gak bersalah. Aku yang bersalah karena meminta Dina untuk mematikan nomor Indonesia, karena kita sedang program hamil. Jadi aku gak mau diganggu oleh urusan pekerjaan dari Indonesia. Aku gak tahu akhirnya membuat permasalah yang fatal untuk persahabatan kalian," ucap Billi.
Bagas keluar dari mobilnya.
"Kamu baik-baik saya? aku mohon iklaskan anak kita. Insha Allah kita akan mendapatkan penggantinya." ucap Bagas sambil memeluk Bilah agar emosinya tidak meluap.
"Iya hubby, aku akan belajar iklas, kita antar Dina dulu yah," pinta Bilah.
"Iya sayang," ucap Bagas.
Bilah mendekat ke arah Dina, "Din, gue antar loe. Mau naik mobil siapa?" tanya Bilah.
"Mobil loe Bilah," jawab Dina.
"Ai aku ke mobil Bilah, kamu ikutin dari belakang," ucap Dina.
"Iya aku ikutin mobil Bilah dari belakang," ucap Billi.
Dina dan Bilah 1 mobil, mereka duduk di bangku bagian belakang. Bilah terlihat sangat berubah. Ia tidak seperti dahulu yang suka ceplas ceplos ketika bersama Dina.
"Masa-masa itu sudah berubah Din, kita sudah dewasa. Pasti akan berubah dengan sikap kita masing-masing," ucap Bilah.
"Bagi gue Bilah yang dulu sama dengan Bilah yang sekarang, yang selalu baik hati kepada manusia lain sampai gue merasa bersyukur punya sahabat seperti loe Bil," ucap Dina.
"Hah, gue gak sebaik itu Din. Kadang gue juga jahat sama orang lain. jangan memuji gue seperti itu," pinta Bilah.
Mobil Bagas sudah sampai di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Dina. Dina keluar dari mobil, Bilah membantu Dina berjalan. Ia menggandeng tangan Dina.
"Terima kasih, sudah maafin gue," ucap Dina.
Bilah hanya membalas dengan senyuman.
"Sudah berapa bulan Din?" tanya Bilah.
"20 minggu Bilah," jawab Dina.
"Sudah masuk trisemester 2 yah, semoga loe sama bayi loe baik-baik. Di jaga Din," ujar Bilah.
"Hati gue sekarang tenang Bil, karena loe sudah maafin gue," ucap Dina.
"Jangan lebai loe ah, masa gara-gara gue, loe jadi gak tenang," ucap Bilah.
"Karena gue takut kalau loe gak mau maafin gue dan gue akan kehilangan saudari gue satu-satunya," ucap Dina.
"Sekarang loe jangan banyak pikiran, jaga aja kandungan loe yah," ujar Bilah.
Dari hasil pemeriksaan, kandungan Dina tidak ada yang di khawatirkan, kandungannya sehat. Setelah selesai merekapun berpisah.
"Gue pulang yah Din," ucap Bilah sambil memeluk Dina.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Bilah untuk hari ini," ucap Dina.
Bilah masuk ke dalam mobil dan Bagas mulai menjalankan mobilnya.
"Mau jalan-jalan?" tanya Bagas.
"Jalan-jalan kemana Hubby?" tanya Bilah.
"Ke hotel mau?" tanya Bagas.
"Hahaha Gus Bagas mesum," ucap Bilah.
"Nah, seperti itu dong tertawa, kan aku lihat nya tambah gemas jadi mau kiss kamu," ucap Bagas.
"Idih Gus Bagas, apa hubungannya, aku ketawa lalu kamu mau kiss aku," ucap Bilah.
"Ada hubungannya sayang, karena besok aku mau ke semarang dulu," ucap Bagas.
"Apa! kok kamu mendadak seperti itu sih? besok aku ada rapat penting jadi gak bisa ikut kamu, ah kamu jahat Mas," ucap Bilah.
"Kok manggilnya Mas lagi gak hubby?" protes Bagas.
"Terserah aku mau panggil kamu apa," ucap Bilah dengan nada kesal.
Bagas menepikan mobilnya.
"Kalau marah seperti ini aku gak tenang tinggalin kamu sayang," ucap Bagas.
"Kamu nya nyebelin pulang ke Semarang mendadak seperti itu," ucap Bilah.
"Sebentar aja kok sayang, aku di suruh sama abi untuk pulang sebentar," ucap Bagas.
"Yah udah ayo kita ke hotel," ajak Bilah.
"Aku bercanda loh ajakin ke sana," ucap Bagas.
"Ihhhhh Mas hari ini benar-benar nyebelin, udah jalan ngapain berhenti di pinggir jalan." Wajah Bilah cemberut seketika.
Bersambung
✍Rajinkan komentar di hari jumat mulai tanggal 23 desember, sabtu dan minggu ini untuk ketiga dari novel saya. ada GA dari saya. Harus komentar yang positif hadiah GA pulsa/boneka rajut (amigurumi)
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
Salah lamar
Retak Akad Cinta (kisah nyata bab 1 s.d bab 18 dan dari bab 19 adalah fiksi)
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1