
Bilah dan Bagas kini ada di dalam mobil mereka, melaju dengan kecepatan sedang.
"Mas, kita ke mall sebentar yah," pinta Bilah.
Bagas membelokan mobilnya ke arah mall yang Bilah pinta. Bilah masuk ke sebuah toko perlengkapan bayi.
"Kamu buat apa ke toko perlengkapan bayi?" tanya Bagas.
Bagas tahu bahwa Bilah belum hamil, merasa heran kenapa dia malah membeli perlengkapan ibu hamil dan bayi.
"Nanti Mas akan tahu untuk siapa ini. Jangan marah yah Mas aku melakukan ini dan jangan banyak tanya apa yang aku akan lakukan ini," pinta Bilah.
Bilah menggenggam tangan Bagas, seolah-olah tak mau lepas dari Bagas. Bilah kemudian masuk ke toko susu. Ia membeli 2 kotak susu hamil. Bagas tambah bingung lagi.
Setelah selesai membeli, Bilah meletakkan barang belanjaannya ke dalam mobil.
"Ayo Mas, sekarang antarkan aku ke pasar tradisional," pinta Bilah
Bilah membeli beberapa sayuran yang dibutuhkan dan juga daging. Setelah mendapatkan semua yang ia butuhkan, Bilah pulang. Sesampainya di rumah, Bilah langsung masuk ke dapur.
"Mas," panggil Bilah.
"Iya, kamu mau aku bantu?" tanya Bagas.
"Bukan Mas, kamu tunggu aja. Hmm boleh aku memanggil kamu dengan panggilan hubby mulai dari sekarang?" tanya Bilah.
"Hmm, it is not bad. I like it," ucap Bagas.
Bilah tersenyum senang, dia langsung mengecup pipi Bagas.
"Aku masak dulu yah, kamu istirahat aja hubby," ucap Bilah.
Bilah membuat keredok dan Rendang. Makanan nusantara yang satu super sehat, yang satu mengandung lemak. Tapi rasa jangan ditanya, masakan yang dibuat dari tangan Bilah itu rasanya tiada duanya.
"Hubby, bangun." Bilah membangunkan Bagas yang tertidur di sofa.
Mata Bagas perlahan terbuka, ia tersenyum melihat wajah Bilah.
"Sudah matang semua?" tanya Bagas.
"Wah Hubby maaf, aku buat 2 menu tapi salah satunya belum matang malah mentah. Tapi makan yah, aku buatnya dengan segenap cinta aku untuk suamiku," ucap gombalan Bilah.
"Katanya buatnya pakai cinta, gombal ah kamu. Tapi kasih aku yang masih mentah," protes Bagas.
"Hahaha, udah ayo ke meja makan." Bilah menggandeng tangan Bagas menuju meja makan.
"Ini hubby, menu yang mentah. Namanya keredok kalau matang namanya kado-kado tapi kalau gado-gado gak pakai kencur," ucap Bilah.
__ADS_1
"Ayah dan mamah mana? kok gak ikutan makan?" tanya Bagas.
"Mereka sudah makan hubby, kita 'kan makan siang telat," jawab Bilah.
Mereka makan tanpa berbicara, hanya sesekali Bagas tersenyum ketika melihat Bilah. Setiap hari Bagas dimanjakan oleh masakan Bilah yang lezat.
"Terima kasih sayang atas masakannya, yang mencuci piring aku aja yah," pinta Bagas.
"Jangan Hubby, nanti aku diomelin mamah jika kamu yang mencuci piring. Biar aku saja yah, kamu duduk aja," ucap Bilah.
Bilah membersihkan semua peralatan makan, Bagas tidak mau berdiam. Ia ingin membantu sang istri.
"Hubby, habis ini anter aku bisa?" tanya Bilah.
"Kemana kamu ingin pergi?" tanya Bagas.
"Ke penjara, lihat Nida. Barang-barang yang aku beli untuk dia," jawab Bilah.
"Beri aku 1 alasan kenapa kamu berbuat baik kepadanya? padahal dia itu sudah jahat terhadapmu, membuat rumah tanggamu hancur, Dina hampir diperkosa, dan Billi hampir tewas," ucap Bagas.
"Jaman Rasulullah ada seorang pengemis buta yang selalu mencaci maki Rasulullah, setiap orang yang ia temui, dia selalu mengajak untuk membenci Rasulullah, mencaci maki Rasulullah. Dia tidak tahu bahwa Rasulullahlah orang yang menyuapi ia makanan setiap hari. Penduduk Madina tidak ada yang memperdulikannya. Ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar As-Siddiq, yang kemudian menjadi khalifah, mendatangi si pengemis dan menyuapinya makanan. Tapi ketika suapan pertama pengemis itu marah karena yang memberi makan bukanlah orang yang biasa menyuapinya karena kebiasaan Rasulullah akan menghaluskan makanan tersebut kemudian menyuapinya. Abu Bakar As-siddiq mengatakan bahwa yang biasa menyuapinya telah wafat dia lah Muhammad, Rasulullah yang setiap hari dia caci maki. Pengemis itu langsung masuk islam ketika mengetahui kebaikan dari Rasulullah," ucap Bilah.
"Maka akupun mengikuti apa yang Rasulullah perbuatan. Jika seseorang jahat terhadap kita, aku berusaha berbuat baik agar orang itu mau merubah sikapnya dan hatinya tak membatu sangat keras," sambung Bilah.
"Hidayah 'kan Allah yang menentukan, jika hidayah itu Allah tidak memberikan kepada Nida bagaimana?" tanya Bagas.
"Jawaban kamu bagus sayang, aku paham kenapa Ranu tidak kamu pindahkan ke kantor cabang, kamu masih berharap agar dia bisa insaf," ucap Bagas kemudian ia mengecup pucuk kepala Bilah.
"Iya hubby, tapi bukan mengharapkan cintanya yah. Jangan salah sangka dan jangan cemburu," ucap Bilah.
Bagas dan Bilah menuju kantor polisi untuk menjenguk Nida di dalam penjara. Sesampainya di kantor polisi, Bilah memberitahu maksud tujuannya.
"Bu, tolong berikan ini semua kepada Nida," ucap Bilah.
"Bu Bilah tidak mau bertemu Nida secara langsung?" tanya petugas penjaga penjara.
"Tolong jangan bilang bahwa saya yang memberikan ini semua Bu. Jangan sampai dia tahu. Insha Allah setiap bulan saya akan memberikan keperluan ibu hamil," ucap Bilah.
"Nida memang gak pernah mendapat kunjungan dari awal dia masuk penjara. Usia kandungannya sudah 4 bulan," ucap Penjaga penjara.
"Iya Bu, ini saya juga bawakan susu ibu hamil dan makanan untuk dia makan di dalam sel, saya mohon jangan sebutkan nama saya bahwa saya yang membawa ini semua Bu," pinta Bilah.
"Baiklah Bu Bilah, saya akan sampaikan kepada Nida," ucap penjaga penjara.
"Terima kasih banyak Bu, saya permisi," ucap Bilah.
Bilah dan Bagas keluar dari kantor polisi, Bagas memegang erat tangan Bilah. Ia baru tahu sisi Bilah yang lainnya. Di kantor dia tegas dengan bawahan, di rumah ia menjadi istri yang manja, di luar kebaikannya tidak mau ia ungkapkan. Hati Bagas bersyukur telah menikahi Bilah.
__ADS_1
"Kamu tahu 'kan hubby, doa kita akan terkabul jika kita berbuat baik kepada orang lain. Jika kita mau mempunyai anak, maka doakanlah orang lain yang belum mempunyai anak, doa kita akan berbalik ke kita sesungguhnya malaikat mendoakan kita ketika kita mendoakan orang yang sedang kesusahan," ucap Bilah.
"Aku makin sayang sama kamu sayang," ucap Bagas.
"Jangan makin sayang sama aku hubby, nanti kamu takut kehilanganku yang menyebabkan kamu tidak iklas jika aku pergi. Tapi tambahkan cintamu kepadaku, walaupun aku tidak ada tapi aku masih tetap ada di hatimu selamanya," ucap Bilah.
Dedd Dedd
Benda pipih Bilah bergetar, ia melihat nama di layar persegi panjangnya. Ia terlihat malas untuk mengangkatnya.
"Siapa?" tanya Bagas.
"Dina telepon hubby, untuk apa dia meneleponku? setelah 3 bulan pernikahan kita," ucap Bilah.
"Angkatlah sayang, jangan emosimu merusak persahabatanmu. Ingat dia yang membela kamu mati-matian ketika kamu di fitnah," nasihat Bagas.
Akhirnya Bilah mengangkat telepon dari Dina.
Bilah \= ["Assalamu'alaikum, iya apa Din?"]
Dina \=["Waalaikumsalam, Alhamdulilah...akhirnya loe mau angkat telepon dari gue, maafin gue Bil, gue masih sahabat loe 'kan,"]
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis, dan saya akan mendapat ide mendadak dari komentar kalian.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote juga jangan lupa ❤
Baca juga yuk cerita serunya
Salah Lamar
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
Love dari author sekebon karet 😁
__ADS_1