5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Bilah Junior


__ADS_3

Ummi dan abi, kedua orang tua dari Bagas sudah tiba. Mereka dari bandara bergegas langsung ke rumah sakit bersalin. Kedua orang tua Bilah menghampiri mereka.


"Bagaimana Bilah Bu Sarah?" tanya ummi.


"Gus Bagas sedang di dalam, dokter yang menangani Bilah. Alhamdulilah sahabatnya sendiri dokter Dina," ucap Sarah.


"Alhamdulilah, semoga Bilah dan cucu kita sehat-sehat aja yah Bu Sarah," ucap ummi.


"Amin, tadi sih baru pembukaan kelima 2 jam yang lalu. Doakan Bilah Ummi," pinta sarah.


Sedangkan di dalam ruang persalinan Bilah sedang berjuang keras. Antara hidup dan mati.


"Ngghhh...." Bilah kembali mengejan tanpa arahan Dina.


"Ya Allah sayang," Bagas sangat khawatir Bilah semakin sering mengejan.


Tadi bahkan Bilah sampai mengeluarkan kotorannya dan Bagaslah yang membersihkannya dan sekarang Bilah juga mengalami pendarahan Bagas benar-benar semakin panik


"Mas...Astagfirullah... Allahu Akbar, Ya Allah... Mas Bagas... sakit Mas," ucap Bilah sambil menahan rasa sakit.


"Mas... pinggangku panas," ucap Bilah.


Bagus tak tahan melihat Bilah merasakan kesakitan yang sangat amat teramat sakit. Karena itu Bagas berjanji dia tidak akan menyakiti hati Bilah kembali, tak akan membuat Bilah cemburu. Mulai detik ini dia akan memuliakan Bilah seperti ia memuliakan ummi.


"Mmmnggghhh..."


"Sayang, jangan mengejan," pinta Bagas.


"Nggak bisa Mas, rasanya aku ingin buang air besar nggak tahan, engghh..." ucap Bilah dengan rasa sakit yang ia rasakan.


Mendengar itu Bagas semakin yakin bahwa Bilah sudah siap melahirkan. Bagas pun memanggil Dina untuk segera mengecek Bilah.


"Dina... Dina... sepertinya Bilah sudah mau siap melahirkan," teriak Bagas.


Dina menghampiri Bilah, ia mengecek dan ternyata air ketuban sudah pecah dan sudah pembukaan kesepuluh.


"Alhamdulillah Bil, loe sudah siap lahiran," ucap Dina.


Mendengar itu Bagas pun sedikit merasa lega, namun ia semakin gugup saat ini.


"Siapkan semuanya," titah Dina pada tiga bidan yang sedang membantu dia.


"Baik Dok," jawab bidan serempak.


Kemudian Dina pun menyiapkan dirinya sendiri.


"Enggghhh..." Bilah kembali mengejan.


"Sabar Bil tunggu arahan gue," ucap Dina.


"Sabar sayang," ucap Bagas.


"Siap Bilah?" tanya Dina.


"Insya Allah siap Din, rasanya sudah sakit banget," ucap Bilah.


"Gus baca doa ya semoga proses persalinan dimudahkan," ucap Dina


Bagas menganggukkan kepalanya.


"Bil, rambut bayi loe sudah kelihatan, ikuti instruksi gue ya," ucap Dina.

__ADS_1


"Bismillahirohmanirohim," ucap Dina.


Begitupun Bagas mengucap Basmalah lalu mengecup pucuk kepala Bilah, "kamu pasti bisa sayang," ucap Bagas memberi semangat kepada Bilah.


"Gus sedikit dipangku kepala Bilah, naik aja duduk atas ranjang, tidak apa-apa," ucap Dina.


"Oh, oke Din," ucap Bagas.


Kemudian Bagas pun naik keranjang dan sedikit memangku kepala Bilah.


"Tarik nafas Bil, keluarkan perlahan," ujar Dina.


Bilah pun segera menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan seperti yang diarahkan oleh Dina.


"Sudah ingin mengejan lagi Bil?" tanya Dina.


"Iya Din," jawab Bilah.


"Oke tarik nafas, sekarang boleh mengejan tapi jangan putus-putus


"Nggghhh...." Bilah pun mulai mengejan seperti yang diarahkan oleh Dina. Tangannya menggenggam erat tangan Bagas ia sedikit mengangkat kepalanya juga tubuhnya seiring dia mengejan.


"Bil jika ada kontraksi seperti itu, loe boleh mengejan," ucap Dina.


Bilah pun menggangguk, ia kembali merasakan kontraksi. Ia menarik nafasnya panjang lalu mengejan kembali.


"Nggghhhh...." bila mengejan kembali


Bagas benar-benar merasa gemetar menahan bagaimana kuatnya Bilah menggenggam erat tangannya.


"Bagus Bil. sudah semakin kelihatan kepalanya," semangat Bilah.


"Bilah pun menghela nafasnya rasanya ia hampir kehabisan nafas, "Mas..." ucap Bilah ia mulai merasa lemas.


Bilah pun mengangguk lalu rasa ingin mengejan itu kembali datang. Bagas khawatir Bilah terlihat begitu lemas matanya seperti hampir terpejam.


"Tolong ambilkan oksigen," titah Dina.


Bilah dipakaikan oksigen di hidungnya, agar dia tidak kehabisan oksigen karena Bilah terlihat lemas.


"Ayo sayang kamu pasti bisa," ucap Bagas.


Bilah kemudian menghelas nafas sesaat, sebelum dia kembali berusaha mengejan, nafasnya panjang, lalu ia pun mulai mengejan kembali.


"Tarik nafas Bil, ayo loe pasti kuat, loe pasti bisa," ucap Dina menyemangati Bilah.


"Ngggghhhhhhhhh..."


Bilah terlihat susah dan bayi Bilah ternyata terlilit ari-ari menyelempang tubuhnya, maka Dina pun mengoperasi kecil yaitu menyobek bagian sensitif Bilah. Dina memerintahkan kepada dua bidan untuk menekan perut Bilah dari atas dorongan ke bawah. Dina mengambil alat vakum karena dia harus menyedot kepala bayi Bilah agar dia bisa menarik keluar untuk bisa membantu untuk mengeluarkan kepala bayi Bilah.


Dina memasukkan alat vakum ke bagian inti sensitif Bilah. Bilah menjerit kesakitan, tubuhnya menegang ketika alat vakum mulai dimasukkan ke inti kepemilikan Bilah.


Bagas mengeluarkan air mata melihat betapa sakitnya Bilah untuk melahirkan anak mereka. Ia mengecup kepala Bilah dan menggenggam erat tangannya. Butir keringat membasahi dahi Bilah karena menahan rasa sakit alat vakum masuk dengan sempurna.


"Bil, jangan tegang, sekarang tarik nafas keluarin ketika loe sudah ada kontraksi, mengejan panjang tanpa terputus," ujar Dina.


Bilah menganggukkan kepalanya, dia kembali merasakan kontraksi dan bersamaan itu pula perut Bilah didorong dari atas ke bawah oleh Bidan dan Dina menarik kepala bayi menggunakan vakum, sudah mulai keluar kepala bayi maka alat vakum dicabut dan Dina menginstruksikan Bilah terus mengejan sampai anaknya keluar dengan sempurna.


"Oeee...ooeee..."


Bagas langsung merasa lemas, ia menatap haru pada bayi di tangan Dina yang telah merentangkan kedua tangannya, mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara yang terdengar begitu merdu di telinga Bagas.

__ADS_1


"Ooee....oooee..."


"Mas..." ucap Bilah.


"Iya sayang, anak kita sudah lahir," ucap Bagas.


Dina membuka dada Bilah dan diletakkan bayinya di atas dada Bilah, bayinya mencari sumber makanan pada Bilah, menganggap mencari-cari. Bilah menangis menatap bayi perempuan mungilnya.


Dina menjahit bagian inti kepemilikan Bilah sebanyak dua jahitan, kemudian dia berkata, "selamat ya Bil, Gus di azankan dulu."


Bagas mengazankan bayi mungilnya itu secara sangat lirih di telinga bayinya. Ia tak kuasa menahan air mata. Bagas menangis ketika mengazani bayinya.


Setelah itu, Bagas langsung mengecup dahi Bilah.


"Sayang terima kasih, kamu sudah mau berjuang. Perjuanganmu itu sangat berat sekali untuk melahirkan anak pertama kita. Aku cinta kamu, terima kasih bidadariku," ucap Bagas.


"Iya Mas sama-sama, aku juga berterima kasih karena kamu sudah menemaniku sampai titik ini dan juga menyemangatiku ketika aku melahirkan anak kita," ucap Bilah.


"Itu sudah kewajibanku sayang sebagai suamimu. Aku akan terus disisimu sampai akhir hayat nanti, Insya Allah," ucap Bagas.


Dina yang menjadi pendengar dan penonton kemesraan sahabatnya itu tersenyum, karena mengingat perjuangan Bilah yang disakiti oleh suami pertamanya, kini Bilah sudah bahagia dengan hidup dengan Bagas.


"Bil, anak loe cewek, jodohin ya sama Kenzo, anak gue," ucap Bilah.


"Ya Allah Din, udah berpikir ke sana aja. Gue aja masih berasa ini sakitnya, kayanya gue cari calon mantu yang gus juga deh," ucap Bilah tertawa, yang membuat wajah Dina cemberut.


"Keturunan dokter sama CEO aja, terjamin nanti hidup anak loe," ucap Dina.


"Bu Dokter, jodoh ada di tangan Allah. Sesukanya anak gue aja nanti. Dah ah ngelantur loe mah. Sumpah Din, masih terasa sakit," ucap Bilah.


Bilah pun beristirahat sejenak. Bidan membantu Bilah untuk menggantikan pakaian Bilah dan menggunakan gurita di perutnya. Setelah istirahat 30 menit Bilah du pindahkan ke ruang rawat inap.


Itulah perjuangan saya melahirkan anak pertama. Dari di vonis kista 98,5 cm. Mengganti dokter 3 kali, pas hari melahirkan dengan dokter pengganti dan proses melahirkan menggunakan vakum, sakitnya ya Allah masih terbayang saya sampai detik ini. Kata dokter cecar dan harus menggugurkan janin oleh dokter yang pertama, tapi saya kekeh ada Allah yang membantu. Saya lahiran tidak cecar tapi normal walaupun menggunakan vakum. Jadi kalau lahir pertama cari dokter yang mau menangani kita lahir normal dan anak berikutnya Insha Allah normal dan catatan saya membayar pakai uang kes bukan dari asuransi atau BPJS. Karena saya perhatikan lahiran di rumah sakit di tempat saya lahir dulu seperti itu. Jika pakai asuransi atau BPJS rata-rata di cecar. Ini pengalaman saya, yang bermanfaat bisa di ambil, kalau tidak bermanfaat jangan di cela.


Bersambung


✍✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet β€πŸ’ž


__ADS_2