
Bilah sudah membalikkan nama di perusahaan yang di rampas oleh Ranu. Akan ada kejutan untuk Ranu, pasalnya ia tidak tahu, siapa yang membeli saham sebanyak 55%. Kehidupan Ranu semakin sulit karena tidak ada investor yang mau bekerja sama dengan dia, akhirnya dia menjual 20% sahamnya, kejadian itu ketika Bilah berada di Turki. Bilah membeli saham Ranu. Kini Bilah mempunyai saham 75% dan Ranu tidak akan bisa berkutit. Ranu akan bekerja di bawah perintah Bilah.
Masa Iddah Bilah sudah selesai, Bagas dan Bilah akan melangsungkan ijab kabul di pasantren. Pernikahan kedua Bilah ini sangat berbeda karena bernuansa sangat islami, maklumlah Bilah menikah dengan seorang Gus.
Esok hari adalah hari yang di nanti-nanti oleh Bilah dan Bagas. Kini Bilah dan kedua orang tuanya sudah tinggal di dalam pesantren, rumah yang memang kepunyaan Bagas, ketika sudah menikah Bagas akan menempati rumah tersebut.
Perasaan Bagas jangan ditanya, karena hari ijab kabul ini adalah hari yang di tunggu-tunggu sejak 3 bulan yang lalu. Jantungnya berdetak kencang, tangannya sudah dingin berkeringat.
Pagi ini, Bilah di make up. Kecantikannya bertambah ketika Bilah memakai make up. Para perias yang merias Bilah sampai terkagum-kagum akan kecantikan Bilah. Campuran darah Indonesia, Turki, Arab membuat wajah Bilah terpahat sempurna. Maha indah karya Allah.
Bilah \= ["Din, tega loe gak datang ke nikahan gue. Pulang dulu seharusnya dari Jepang, sudah 1 bulan juga loe honey moon di sana."]
Dina \=["Aduh Bil, gue benar-benar minta maaf. Ini bukan masalah bulan madu, gue ke sini karena dapat kuliah singkat kedokteran. Kalau gue pulang ke Indonesia dan gue bolos kuliah, gue gak dapat ijasahnya. Gue benar-benar minta maaf. Billi akan mewakili gue untuk datang ke akad loe."]
Bilah \=["Oke Din, gue ngerti loe. Belajar yang benar di sana, Assalamu'alaikum,"]
Bilah langsung memutuskan sambungan telepon Dina, ia sangat kesal karena sahabat satu-satunya tak bisa menghadiri saat hari yang sangat penting untuk Bilah.
"Dina memang gak bisa sayang, itu 'kan salah satu impian dia menjadi dokter hebat, kamu selalu mendukung dia, calon pengantin jangan sedih. Kasian periasnya jika kamu menangis nanti make up luntur harus di rias lagi, sebentar lagi Gus Bagas akan mengucapkan ijab kabul. Ayah sudah ke dalam masjid, jangan sedih sayang," Sarah membuat Bilah tenang.
Ijab kabul di mulai, perasaan Bilah sangat gugup walaupun ini bukan ijab kabul yang pertama. Tapi rasanya sangatlah berbeda lebih tegang dengan Bagas, karena yang menjadi saksi pernikahan ini para Kiai besar.
"Saya terima nikahnya Nabilah Syaqilah Aini binti Afnan Mirza Enver dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Sah...?
Sah...sah...
Suara menggema di dalam masjid dengan kata 'sah', kini resmi sudah Bilah menjadi istri Bagas. Istri dari seorang Gus. Bilah ditemani mamahnya beranjak ke dalam masjid untuk dipertemukan dengan suaminya yaitu Bagas. Senyum Bagas mengembang ketika sang istri berjalan mendekati arahnya, "Cantik." Kata itu yang lolos dari bibir Bagas.
Bilah tersenyum menatap Bagas, ia meraih tangan Bagas dan mencium punggung tangan Bagas dengan Khidmat. Bagas menyentuh kepala Bilah, mengusap penuh kasih sayang dan berdoa.
"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.”
__ADS_1
(“Ya Allah, aku memohon darimu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepadamu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya.”)
Bagas mengecup dahi Bilah. Rasanya hari ini seperti mimpi setelah masalah yang mereka hadapi kini Bagas dan Bilah sudah resmi menjadi sepasang pengantin.
Penjagaan pesantren sangat ketat, karena 1 hari sebelum akad berlangsung ada ancaman dari Ning Haya, ia akan menggagalkan hari akad. Keluarga Kiai Irfan tidak mengundang keluarga Kiai Harun agar tidak ada kejadian yang membuat acara akad ini berantakan.
Resepsi pernikahan berada di halaman pesantren. Para undangan mulai berdatangan, semakin lama semakin penuh membuat Bilah lelah karena dia sudah 5 jam berdiri menyalami para tamu yang datang, belum lagi tamu kolega pengusaha teman dari ayah Bilah. Bagas melihat Bilah yang kelelahan.
"Kamu lelah yah?" Bagas membisikkan di telinga Bilah.
Bilah hanya tersenyum tidak mengatakan apapun, mengisyaratkan memang dia sudah lelah.
Bagas meraih tangan Bilah dan mengelusnya, " Sabar yah sayang, sebentar lagi selesai," ucap Bagas.
Ketika tangannya dielus oleh Bagas ada perasaan aneh di hati Bilah. Laki-laki yang tidak berani menyentuh dia kini tidak canggung lagi untuk mengambil tangan Bilah. Bilah merasakan aliran darahnya naik hanya dengan sentuhan Bagas.
Proses resepsi akhirnya selesai, lega sudah karena acara berjalan lancar.
"Sekarang kamu sudah menjadi adik Mba," ucap Aisyah, dengan memeluk Bilah.
"Jika tidak ada kejadian itu mungkin kamu tidak menikah dengan Bagas. Itulah jalan yang Allah buka untukmu," ucap Aisyah.
Bilah tersenyum, kepada Aisyah.
Setelah resepsi selesai, Bilah dan Bagas menuju rumah yang akan mereka tempati, rumah yang sebelumnya Bilah sudah tempati oleh kedua orang tuanya. ketika Bagas mengikutinya dari belakang, Bilah merasa aneh karena sudah 3 bulan ia tidur sendiri dan mulai terbiasa, tapi kini dia bersama Bagas di kamar yang sama.
"Aku boleh bersih-bersih," izin Bilah.
Bagas tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia duduk di atas ranjang.
"Maaf, kamu bisa bantu aku?" tanya Bilah.
"Tolong lepaskan hiasan bunga melati ini dari kepalaku," sambungnya.
__ADS_1
Bagas membantu Bilah untuk melepaskan asesoris hiasan kepalanya. Bagas duduk kembali di pinggir ranjang. Bilah membuka hijabnya di depan Bagas. Terurai rambut Bilah yang panjang, mengkilat, hitam dan sangat terawat. Bagas menatap Bilah di tepi ranjang, ia tidak bisa berkedip. Bilah yang sadar sedang di tatap oleh Bagas, mulai mempunyai ide untuk mengetahui Bagas. Ia mendekati Bagas untuk menggoda suaminya itu.
Perawan sama janda beda yah, janda lebih berani buat menggoda eh tapi Bilah hanya menggoda kekasih halalnya yang perjaka ting ting ini, yang tidak pernah menyentuh perempuan lain selain ibunya.
Bilah mendekati Bagas, lalu ia menggoda dengan duduk di atas paha Bagas. Saliva Bagas naik turun melihat wajah Bilah yang sangat cantik dengan rambut yang terurai. Bilah membelai-belai rambut Bagas, dia menatap wajah Bagas dengan sangat intens. Bagas mematung bahkan wajahnya tidak berani menatap mata Bilah, pandangannya hanya lurus ke depan. Aksi Bilah membuat Bagas panas dingin dengan jantung yang sangat berdebar.
"Mas..." Bilah memanggil Bagas, sehingga berhasil membuat Bagas menoleh dan mata mereka bertemu saling menatap, Bilah menyentuh pipi Bagas dengan kedua tangannya. Kulit putih Bagas mulai memerah. Bilah mendekatkan wajahnya ke wajah Bagas, ia memiringkan kepalanya, hembusan nafas Bilah sangat lembut dan hangat. Bilah melihat bibir Bagas yang merah tipis, Bagas menutup matanya. Bilah sudah berhasil mengerjai Bagas, ia tersenyum puas.
"Mas, aku mandi dulu,"
Lalu Bilah berdiri, bergegas berlari kecil memasuki kamar mandi. Bagas mematung dan saat ia sadar Bilah sudah beranjak dari pangkuannya ia sedikit kesal, ia pikir Bilah akan menciumnya tapi ternyata dia hanya mengerjai Bagas yang membuat kulit wajah Bagas memerah seperti kepiting rebus menahan malu kepada Bilah.
Baru digoda Bilah, apalagi malam pertama. Masa Bilah sih yang memimpin. 😁
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, tidak sombong yang super cakep sumbangan jempolnya yah, komen banyakin, love dan follow aku.
Follow aku juga. Saya doakan kalian banyak Rezeki aamiin.
fb @Farida (R)
ig @kak_farida
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you sekebon