
Masa hukumanku tinggal 2 tahun lagi, hari ini ada yang berkunjung untuk menemuiku. Aku pikir Gendis anakku yang menemuiku, tapi ketika aku mengetahui siapa yang ingin bertemu denganku, aku terkejut ternyata dia adalah Ranu. Bagiku Ranu bukanlah suamiku lagi karena sudah 2 tahun dia tidak menjengukku, jangankan menjengukku bertanya tentang anaknya pun dia tidak pernah bertanya.
Aku sampai bingung, apa penyebabnya dia mau datang ke penjara ini untuk menjengukku? padahal dua tahun ini dia tidak mau menjengukku. Aku telepon dia, ia selalu menolak. Ketika aku ingin melahirkan dan meneleponnya, dia langsung mematikan telepon dariku. Sejak itu aku sudah memutuskan bahwa dia bukanlah suamiku lagi, karena sudah jatuh talak juga. Istri tidak diberikan nafkah selama 6 bulan maka akan jatuh talak, itu yang aku pelajari di penjara ini dengan ustadz yang mengajarkan para napi.
"Assalamu'alaikum Nida." Aku terkejut, Ranu memberi salam kepadaku. Di dalam telepon boro-boro dia memberi salam kepadaku, dia malah langsung marah-marah dan langsung menutup telepon. Tapi sikapnya ini sangat berubah drastis bagiku.
"Waalaikumsalam, ada apa kamu datang ke sini? bukankah kamu tidak mau berbicara denganku lagi," ucapku sambil menyindirnya.
"Nida aku minta maaf, aku bersalah sama kamu. Maafkan aku." Ranu memegang tanganku tapi aku langsung melepas tanganku dari tangannya.
"Kamu sudah 2 tahun tidak memberi nafkah aku dan juga anak kita. Jadi secara tidak langsung kamu sudah mentalak aku dan aku bukanlah istrimu lagi," ucapku.
"Bisakah kita rujuk kembali? aku benar-benar menyesal, maafkan aku Nida," ucap Ranu dengan menundukkan kepalanya, menandakan penyesalan.
"Ranu waktu sudah berlalu, sudah 2 tahun. Kini aku bukan yang dahulu lagi yang bisa dirayu olehmu lalu kembali kepadamu," ucapku.
"Aku benar-benar insaf Nida, tolong beri aku kesempatan lagi untuk menebus dosa-dosaku aku mohon Nida." Ranu berlutut di kakiku, aku tak menyangka seorang Ranu mau berlutut.
Jujur dengan perasaanku, aku masih sangat mencintai Ranu, tapi ketika aku mengingat perjalanan 2 tahun ini. Aku sangat sesak mengingat itu semua, kulihat di matanya ada suatu ketulusan. Allah saja Maha Pengampun, aku hanya hamba-Nya yang berusaha untuk menebus dosa-dosaku,maka aku beri kesempatan kepada Ranu kembali. Aku mau rujuk dengan dia.
"Kamu janji tidak akan mengulangi perbuatan yang sebelumnya?" tanyaku.
"Iya aku janji," jawab Ranu.
"Bismillah aku akan terima kamu kembali," ucapku.
"Terima kasih Nida, kamu telah memberi kesempatan untukku lagi. Di mana anak kita?" Ranu menggenggam tanganku, terasa hangat yang aku rasakan. Aku rindu dengan sentuhannya.
"Anak kita dengan seseorang dermawan, ketika aku hamil dialah yang memberikan aku peralatan kehamilan, susu hamil, selimut, ketika anakku lahir sekitar 1 bulan. Aku menitipkan anak kita dengan dermawan itu. Tapi aku tidak tahu siapa dia karena dia tidak mau menyebutkan namanya," ceritaku kepada Ranu.
"Jadi selama ini kamu tidak bertemu dengan anak kita?" tanya Ranu.
"Setiap bulan aku dipertemukan dengan anak kita. Dermawan itu membawa anak kita untuk menjengukku di sini, nama anak kita Gendis," ucapku.
__ADS_1
"Dia pasti secantik seperti kamu Nida," ucap Ranu.
"Hidungnya seperti kamu Ranu dan bibirnya pun seperti kamu," ucapku.
Aku menunjukkan foto Gendis kepada Ranu, foto yang terakhir kali dikirimkan. Ranu terdiam ketika melihat foto yang kutunjukkan olehnya.
"Benarkah kamu tidak tahu sang dermawan itu?" tanya Ranu kembali.
"Iya aku tidak tahu siapa dia, dia tidak mau diketahui namanya," ucapku.
"Aku tahu dia, karena aku pernah melihat anak kita ini di rumahnya." Aku terkejut ketika Ranu bilang melihat Gendis.
"Siapa dia Ranu?" tanyaku sangat penasaran.
"Orang yang pernah kita sakiti sebelumnya, orang yang kita fitnah, orang yang salah akan dendamku, ternyata ayahnya bukan yang membunuh ibuku, tapi yang membunuh ibuku adalah ayahku sendiri," ucap Ranu.
"Maksud kamu Bilah? mantan istri kamu itu?" tanyaku.
"Iya Bilah, anak kita benar-benar dirawat olehnya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ia memberikan kasih sayang, ia merawat anak kita," ucap Ranu.
Aku pun terkejut dengan cerita Ranu, bahwa ternyata bukan ayah Bilah yang membunuh ibunya dari cerita Ranu itu bahwa ayah kandungnya yang telah membunuh ibu kandungnya. Aku mendengar dari cerita Ranu bahwa Bilah ada yang ingin membunuh, ia di tabrak dan mengalami kebutaan. Aku ingin membantu Bilah, sayangnya aku masih dalam penjara.
Bagaimana juga mendapatkan kornea mata? itu sangat susah jika aku banyak teman pasti aku akan membantuny, sedangkan ketika aku di penjara, semua teman-temanku tidak mau berdekatan denganku.
"Bilah wanita yang baik, Allah pasti akan membantuny. Allah tidak akan memberikan berlama-lama Bilah suatu cobaan untuk bisa melihat lagi," ucap Ranu
"Aku pun harap seperti itu karena aku ingin sekali bertemu dengan dia. Aku ingin berlutut dan mencium kaki dia. dialah ternyata yang menyelamatkan aku, yang merawat bayi kita Ranu," ucapku sambil menangis. Ranu menghapus air mataku.
Sejak saat itu Ranu hampir setiap minggu berkunjung ke penjara. Cintaku tumbuh kembali karena dia memang memperlihatkan dengan niatnya untuk memperbaiki rumah tangga kami.
Aku juga mendapatkan video-video tentang Gendis. Ranu diam-diam ke rumah Bilah dan mengambil video anak kamu. benar kata Ranu walaupun Bilah matanya tidak bisa melihat namun dia sangat sayang sekali dengan Gendis. Aku bersyukur Bilah sudah mempunyai anak, anaknya sangat cantik seperti dia. Dia terlihat tidak membedakan antara Gendis dengan anaknya, ya Allah betapa aku sangat menyesal untuk menyakiti dia.
Hatinya sangat mulia sekali, aku selalu berdoa di sepertiga malamku agar seseorang bisa mendonorkan kornea mata untuknya. Jadi dia bisa melihat dunia ini lagi. Banyak orang-orang yang dibantu oleh Bilah sehingga orang itu yang tadinya tidak mempunyai pekerjaan menjadi punya pekerjaan, yang tadinya tidak mempunyai modal diberikan modal dengan Bilah dan akhirnya orang itu bisa buka usaha sendiri, yang tadinya tidak bersekolah Bilah memberikan beasiswa.
__ADS_1
Sangat mulia sekali hatinya, aku malu untuk bertemu lagi dengan dia. Tapi aku berjanji ketika aku keluar nanti aku akan menciumi kaki dia dan juga mencuci kaki dia. Aku merasa sangat bersalah. Aku tahu mempumyai banyak dosa dengan dia.
Maafkan aku Bilah, hatimu sangat mulia. Aku berterima kasih kepadamu karena membuat aku masuk ke penjara ini. Karena aku bisa bertaubat, jika aku tidak di penjara ini mungkin dosaku akan semakin banyak lagi.
Bersambung
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞