
Kini Ranu, hanya menjadi manager pemasaran. Dia yang harus memikirkan cara pemasaran agar perusahaan bisa berkembang. Jika ia tidak bisa menjalankan maka Bilah akan kirim ke kantor cabang. Saham Ranu hanya 25% dia tidak akan berani untuk bermain-main dalam bekerja karena keuntungan perusahaan tergantung dari pemasaran. Tidak ada keuntungan maka Ranu tidak akan mendapatkan apa-apa dari perusahaan.
Bilah dan Bagas masih di dalam ruang CEO. Posisi mereka masih berdiri, ketika Bilah mau duduk di kursinya Bagas memeluk tubuh Bilah dari belakang.
"Yang tadi itu kamu lakukan karena emosi atau benar-benar cinta sama aku?" tanya Bagas.
"Menurut Mas?" tanya Bilah balik.
"Hmm aku gak bisa menjawab, bagaimana jika reka ulang?" pinta Bagas.
"Gus Bagas, gak ada reka ulang yah...kalau reka ulang yang ada kamu nantinya kebablasan. Ini kantor Gus sayang...aku tahu jalan pikiran kamu," ucap Bilah.
"Memang apa jalan pikiran aku?" tanya Bagas.
"Sudah ah Mas lepasin aku, pegel kaki aku ini berdiri dari tadi," protes Bilah.
Bagas melepas pelukannya. Bilah menarik tangan Bagas agar ia juga duduk di sofa. Seperti biasa Bilah selalu meletakkan kepalanya di paha Bagas.
"Mas, kita program anak yuk," ucap Bilah.
"Kita 'kan sehat. Kalau bayi tabung nanti dulu yah jika pernikahan kita menginjak usia 1 tahun," ucap Bagas.
"Kita ke dokter lagi Mas, tanya tentang program kehamilan. Jadi kita bisa tahu makanan yang sehat untuk sel telur agar subur," ucap Bilah.
"Sahabatmu 'kan, Si Dina dokter. Coba tanya sama dia," ucap Bagas.
"Jangan sebut-sebut nama dia. Sahabat apa, ketika kita nikah gak datang keduanya dan selama 3 bulan gak ada komunikasi. Minta maaf kek atau kirim kado. Males aku sama mereka," ucap Bilah.
"Siapa tahu aja mereka memang ada urusan penting," ucap Bagas.
"Gak tahu Mas, moodku jadi down ngomongin Dina," ucap Bilah.
Bagas membelai kepala Bilah yang tertutup hijab. Bilah menatap ke atas, kepala Bagas tertunduk membuat mata mereka saling bertemu.
"Kenapa Mas, lihat-lihat aku? mau kiss aku yah?" ucap Bilah.
"Ih kamu geer, siapa yang mau kiss kamu?" ucap Bagas.
"Kamu mau temanin aku di kantor sampai pulang?" tanya Bilah.
"Aku mau kemana lagi kalau bukan di sini menemaniku. Masa aku harus pulang ke Semarang," ucap Bagas.
"Kalau pulang ke Semarang harus denganku, nanti kamu main mata dengan Ning Haya," ucap Bilah.
"Masih cemburu aja kamu, kamu 'kan sudah menjadi istri aku," ucap Bagas.
"Justru yang sudah menikah itu, peluangnya banyak buat selingkuh," ucap Bilah.
Bagas menurunkan kepalanya, lalu ia mencium bibir Bilah.
"Jangan bilang aku akan selingkuh, gak akan aku selingkuhin kamu," ucap Bagas.
Bilah menatap mata Bagas dari bawah, dan membelai pipi Bagas.
__ADS_1
"Terima kasih Mas," ucap Bilah.
Bilah merapihkan penampilannya, ia akan keliling perusahaan. Mengumumkan bahwa dirinya yang menjadi CEO sekarang.
"Melati tolong masuk," Bilah memanggil melati melalu telepon.
Melati masuk ke ruang Bilah
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Melati.
"Kode pintu tolong ganti yah, agar Ranu tidak tahu lagi kode ruangan ini. Tolong pesan untuk papan nama saya. Saya akan keliling perusahaan sekalian mengecheck masing-masing divisi," ucap Bilah.
"Baik Bu," jawab Melati dengan tegas.
Bilah berkeliling perusahaan, mengumumkan bahwa dirinya menjadi CEO kembali. Bilah di kenal sebagai pemimpin yang sangat jeli, dia akan tahu kecurangan-kecurangan kecil yang jika dilakukan oleh bawahannya.
Ujung tombak dari perusahaan ini adalah pemasaran, karena perusahaan Bilah merupakan perusahaan fashion yang akan di export ke Amerika. Bilah juga sedang membangun cabang di Turki.
Bilah melihat ada yang tidak beres di divisi pemasaran.
"Panggil manager dan beserta ketua dan anggota divisi dari pemasaran, saya tunggu di ruang rapat," titah Bilah.
"Baik Bu," jawab Melati.
Bilah masuk di ruang rapat.
"Aku di luar aja yah," ucap Bagas.
Tidak lama ruang rapatpun penuh.
"Saya minta cari designer yang baru, saya gak mau gaya-gaya pakaian yang monoton. Saya juga mau merambah ke Indonesia, buat baju muslim. Nanti kita bisa pasarkan ke negara malaysia dan brunei, kalian ada ide?" tanya Bilah.
Semua terdiam, rapat mendadak ini membuat mereka ketar ketir.
"Siapa kepala divisi pemasaran?" tanya Bilah.
"Saya Bu," jawab Riza.
"Kamu hari ini keluar, dan cari tahu fashion apa yang masyarakat Indonesia sukai. Jangan remehkan pasar Indonesia, sekali booming aja maka penghasilan perusahan kita akan meningkat, tekan produksi rendah tapi tetap jaga kwalitas," titah Bilah.
"Baik Bu," Jawab Riza.
"Pak Ranu, kamu bekerja jadi CEO selama ini kemana aja? pemasaran hancur seperti ini. Saya gak mau tahu 2 minggu pendapatan perusahaan harus meningkat," ucap Bilah dengan nada tinggi.
"Apa 2 minggu? mana mungkin bisa meningkat dalam waktu singkat?" jawab Ranu.
"Bisa, bekerja lembur. Kamu suka kan bekerja lembur sampai gak pulang-pulang. Demi kemajuan perusahaan. Saya akan kasih bonus jika kalian berhasil, tapi jika gagal kalian akan saya pindahkan ke cabang. Oke saya tunggu kabar gembira 2 minggu lagi, saya rasa cukup untuk rapat hari ini. Terima kasih," ucap Bilah.
Satu persatu karyawan Bilah keluar dari ruang dapat. Terakhir Ranu masih duduk, tangannya mengepal.
"Kenapa kamu terlihat kesal? Bukankah kamu masuk di perusahaan ini sebagai pegawai rendah awalnya? masih untung aku jadikan manager," ucap Bilah.
Ranu menggebrak meja lalu ia keluar dengan menutup pintu sangat kasar.
__ADS_1
Bilah menarik nafas dan mengeluarkan secara kasar. Bagas memperhatikan wajah Bilah.
"Kenapa Mas? menatap aku seperti itu?" tanya Bilah.
"Aura kamu berbeda ketika rapat tadi," ucap Bagas.
"Kenapa? kamu ikutan tegang memangnya?" tanya Bilah.
"Aku akan menghilangkan ketegangan kamu," sambungnya.
Bilah duduk di atas paha Bagas, ia mengalungkan tangannya ke leher Bagas. Bilah memiringkan kepalanya, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Bagas.
"Aku masakin buat makan siang mau, ayo Mas pulang," ucap Bilah yang langsung berdiri dan melangkah meninggalkan Bagas.
"Aku pikir dia mau cium aku, ini mah tegangnya gak hilang. Adik kecil jadinya yang menegang. Istri nakal," gumam Bagas lirih.
"Mas, ayo. Kok malah bengong gitu," ajak Bilah.
Bagas langsung berdiri dan mengejar Bilah. Mereka pun keluar dari ruangan Rapat.
"Mel, saya pulang yah. Jika ada apa-apa tolong hubungi saya. Ini ada bonus dikit untuk kamu, ibumu sedang sakitkan. Bawa ibumu ke dokter," ucap Bilah, sambil memberikan amplop kepada sekretarisnya.
Melati menangis, "Dari mana Ibu tahu jika ibu saya sedang sakit?"
"Saya kenal kamu Mel, udah yah saya mau masak di rumah untuk suami saya. Assalamu'alaikum," ucap Bilah.
Bilah pemimpin yang suka kasih bonus kepada karyawannya. Ketika tahu Bilah menjadi CEO lagi, karyawan Bilah yang setia sangat senang bos dermawannya telah kembali.
Bersambung
✍ Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis, dan saya akan mendapat ide mendadak dari komentar kalian.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote juga jangan lupa ❤
Baca juga yuk cerita serunya
Salah Lamar
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
Love dari author sekebon karet 😁
__ADS_1