
Bagas sudah memikirkan masak-masak. Dia akan kembali ke Jakarta. Karena dia berpikir Bilah adalah seorang CEO yang sangat bijaksana dan karyawannya bergantung dengan kepemimpinan Bilah. Jika Bilah mengundurkan diri sebagai CEO, Bagas takut akan nasib dari para karyawannya.
Kini perusahaan yang dipimpin oleh Bilah sedang berkembang dengan pesat, karena di bawah kepemimpinan Bilah keseluruhan tanpa campur tangan dari Ranu. 100% saham atas nama Bilah.
"Kamu yakin Mas dengan keputusan kamu itu?" tanya Bilah.
"Insya Allah, aku yakin. Aku memikirkan para karyawan, jika kamu mengundurkan diri, aku takut perusahaan akan goyang kembali. Dan juga untuk sekolah aku akan terus menjadi kepala yayasan, karena di sana juga banyak anak yatim dan anak-anak yang mempunyai kemampuan, kecerdasan tapi mereka tidak mampu. Mereka terbantu dengan beasiswa dari ide kamu sayang." Bagas memegang pipi Bilah dengan kedua tangannya, dan menatap Bilah dengan senyuman.
"Syukron Habibi." Bilah memeluk Bagas dengan erat.
Hari ini mereka berkemas-kemas, karena esok hari mereka akan balik ke Jakarta. Di malam terakhir Bilah ingin mengajak ummi dan abi makan malam di luar. Entah kapan mereka akan bertemu lagi. Bagi Bilah kedua mertuanya ini merupakan mertua yang terbaik di dalam hidupnya.
Malam pun tiba, Bilah sudah booking meja di sebuah restoran bintang lima untuk makan malam dengan kedua mertuanya. Tanpa kecuali baby sitter Gendis, Bilah mengajaknya tanpa memandang Ima sebagai baby sitter. Bilah mengajak kedua mertuanya ke restoran steak, di sana Bilah yang melayani ummi untuk memotong daging steak.
"Ummi coba deh, ini restoran steak yang terkenal, di Jakarta juga restorannya rame Ummi." Bilah menyuapi ummi daging steak yang sudah ia potong.
Ummi makan daging steak yang Bilah suapkan dengan tersenyum, ummi membelai pipi Bilah dengan sangat lembut.
"Terima kasih Nak, kamu memang menantu idaman. Tidak salah Bagas memilih kamu," ucap ummi.
"Ummi juga Mamah mertua yang sangat Bilah idam-idamkan. Karena Ummi menganggap Bilah seperti anak Ummi sendiri," ucap Bilah.
Kehangatan malam itu sangat terasa kental. Bilah sangat menyayangi keluarga Bagas yang sudah menjadi mertuanya. Dia juga meminta maaf bahwa Bagas dan dirinya tidak bisa tinggal di pesantren karena ada tanggung jawab yang ia pegang. Ada ribuan pegawai yang hidup dari perusahaan yang dia pegang. Bilah sangat meminta maaf kepada ummi dan abi. Ummi dan abi memahami kondisi Bilah, karena memang banyak karyawan yang hidupnya tergantung dari gaji perusahaan yang Bilah pimpin.
***
Bilah pulang ke Jakarta dengan pesawat. Mobilnya akan dibawa oleh Bodyguard, ada dua Bodyguard yang satu akan ikut penerbangandan yang satu membawa mobil Bilah untuk dibawa ke Jakarta.
"Ummi l,Abi kita pulang ke Jakarta dulu ya." Bilah mencium punggung tangan ummi dan abi.
"Iya, nanti jika sudah sampai jangan lupa telepon Ummi. Ummi akan kangen banget sama si Heelwa." Ummi mencium pipi Heelwa.
"Insya Allah Ummi, Bilah akan Video Call Ummi jika sudah sampai di Jakarta. Doakan kami Ummi, untuk keluarga Bilah agar sehat-sehat di Jakarta." Bilah memeluk ummi. Ummi membalas pelukan Bilah.
"Iya, itu pasti sayang. Ummi akan mendoakan keluarga kalian. Yang rukun ya dalam berumah tangga, jika ada masalah dibicarakan secara baik," nasihat ummi.
__ADS_1
"Iya Ummi, terima kasih atas nasehatnya," ucap Bilah.
"Assalamualaikum," ucap Bagas.
"Waalaikumsalam," ucap ummi dan abi.
Bilah memasuki pemeriksaan tiket karena penerbangannya 10 menit lagi akan berangkat. Ummi memandang kepergian Bagas dan Bilah dengan kesedihan. Karena ia merasa senang mempunyai Bilah sebagai menantunya dan cucu mereka itu sangat cantik sehingga ummi akan merasakan kerinduan kepada Bilah dan Heelwa.
***
Hanya butuh 2 jam Bilah sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Bilah langsung pulang ke rumahnya. Dia berencana keesokannya akan berkunjung ke rumah ayahnya untuk menanyakan tentang perihal kecelakaan yang menewaskan ibunya Ranu.
Bilah ingin langsung beristirahat, karena tubuhnya terasa lelah. Tapi Heelwa menangis, ia kehausan akhirnya Bilah memberikan ASI terlebih dahulu kepada Heelwa. Karena Bilah terlalu lelah sampai ketiduran ketika dirinya memberikan ASI untuk Heelwa. Bagas yang melihat itu, ia tidak mau mengganggu mereka dan memilih tidur di sofa yang masih di dalam kamar.
Bilah terbangun menjelang sore, ia melihat sekeliling mencari Bagas yang tidak ada di kamar. Heelwa masih tertidur pulas, ia mencari keberadaan Bagas yang ternyata ada di taman belakang yang sedang menyendiri. Bilah menghampiri Bagas dan langsung mengecup pipi Bagas.
"Kenapa sayang? kamu masih memikirkan pesantren." Bilah mengambil tangan Bagas dan ia menggenggam dengan erat.
"Nggak sayang, aku hanya mencari udara segar aja. Taman ini bagus, enak di pandang," ucap Bagas.
"Mas, kamu itu untukku seperti angin yang selalu menyejukan hatiku jika berdekatan denganmu." Bilah mencoba untuk menghibur Bagas dengan kata-kata manis.
"Aku jadi ingin minum kopi pahit deh," ucap Bagas.
"Tumben Mas, mau minum kopi pahit biasanya maunya yang manis," ucap Bilah.
"Karena manisnya sudah aku dapatkan dari kata-katamu," ucap Bagas.
"Hahaha aku mau gombalin kamu. Malah kamu yang gombalin aku balik." Bilah semakin erat menggenggam tangan Bagas. Bagas mengecup pucuk kepala Bilah dengan kasih sayang.
"Jika aku di suruh memilih 1.000 bidadari yang cantik, aku tak akan mau. Karena aku sudah mempunyai wanita yang melebihi dari bidadari, yaitu istriku Nabilah Syaqilah Aini." Bagas merangkul pundak Bilah.
Rasa cinta antara Bilah dan Bagas semakin lama semakin kuat. Terlebih lagi mereka sudah memiliki seorang putri yang cantik, lebih mempererat cinta mereka. Kadang kalimat manis dibutuhkan untuk hubungan suami istri, kalimat yang manis-manis itu perlu agar rumah tangga menjadi lebih manis.
"Terima kasih Mas, sudah merubah status jandaku menjadi istrimu. Aku sangat beruntung mempunyai suami kamu," ucap Bilah.
__ADS_1
"Akupun beruntun mendapatkan istri sepertimu, melengkapi segala kekuranganku," ucap Bagas.
Hari ini Bagas dan Bilah hanya bercengkrama berdua, ketika anak-anak sedang tidur mereka bisa bermasrahan tanpa ada gangguan dari Heelwa ataupun Gendis. Waktu-waktu seperti ini sangat jarang dinikmati oleh mereka. Wajar Heelwa masih kecil dan masih membutuhkan ASI dari Bilah. Sedangkan Gendis, masa pertumbuhan. Ia sedang belajar setiap perkataan dari orang yang ia dengar. Gendis bukan hanya diambil oleh Bilah dan dilepas begitu saja, tapi Gendis juga diajarkan nilai-nilai agama dan akhlak-akhlak dalam islam. Bilah dan Bagas mengajarkan Gendis dengan nilai agama agar nanti dia menerima keadaan orang tuanya. Karena itu merupakan takdir dari Sang Pencipta yang harus Gendis terima. Ia juga hanya mempunyai nasab dari ibu dan keluarga ibunya karena Nida hamil Gendis di luar pernikahan.
Jika kalian suka novel ini, like nya jangan lupa reader.
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€π