5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Ajal Menjemput


__ADS_3

POV Ranu


Aku akan menembus segalanya dosa yang kuperbuat kepada Bilah, dengan cara apa? dengan cara melindunginya. Bukan aku lupa akan janjiku kepada Nida, tapi jika aku mati hari ini, maka aku berharap Bilah memaafkan aku dari hatinya yang paling dalam, akan tetapi aku tidak mau ia tahu bahwa aku yang akan mendonorkan kornea mata untuk dia.


Hari ini aku tidak sengaja mendengar ayahku yang sedang bertelepon kepada seseorang. Ia menyuruh untuk menghabisi Bilah. Aku ingin menghadang ayah tetapi jika aku menghadangnya sekarang, itu hanya memundurkan waktu untuk dia melakukan kejahatan. Akhirnya aku mendengarkan percakapan ayah dengan orang itu di balik pintu.


Ternyata ayah sudah menjadi buronan polisi, dia selalu berpindah-pindah tempat dan suatu ketika dia pulang ke rumah dan menelepon seseorang itu. Sepertinya ayah punya kelompokkan seorang mafia karena ini benar-benar sangat direncanakan. Ayah meminta untuk menghabisi Bilah dengan cara menembak tanpa ada suara. Aku merekam percakapan ayah ketika menelepon seseorang itu, lalu aku bekerja sama dengan polisi.


Ada dua tempat pengepungan, yang pertama itu adalah tempat di mana ayahku berada, yang kedua itu adalah di rumah Bilah Karena Bilah akan dieksekusi ketika berada di rumahnya, mereka menunggu ketika Bilah keluar dari pintu dan langsung dieksekusi oleh penembak jitu.


Aku mencari posisi penembak jitu itu berada. Aku meminjam teropong polisi, ku bersembunyi di sebuah rumah sebelah rumah Bilah. Ternyata penembak itu berada pas di depan rumah Bilah, sepertinya pemilik rumah sudah dibuat pingsan karena aku melihat di depan ada tiga pria berjaket hitam yang sedang berjaga dan di atas sudah siap penembak jitu berlaras panjang. Ini seperti komplotan ******* atau mafia, karena polisi sudah menyelidiki mereka. Aku tak menyangka ayahku bergabung dengan mereka, inilah sebabnya aku tidak bisa menyelidiki penyebab ibuku meninggal karena ternyata ayahku juga yang menghapus fakta bahwa ibuku meninggal itu ulah ayahku sendiri. Aku baru tahu kebenaran dari Bilah dan oleh sebab itu ayahku ingin menghabisi Bilah karena kecelakaan itupun berantai dengan kelompok ayah yang sebenarnya yang ingin membunuh ayah Afnan tapi malah salah sasaran.


Aku memperhatikan rumah Bilah dari samping, aku takut Bilah tiba-tiba keluar langsung dieksekusi dan aku telat mencegahnya. Sepertinya Bilah sudah dibaca gerak-geriknya oleh mereka, mereka tahu kapan Bilah akan keluar. Aku tahu Bilah akan menyiram tanaman hiasnya, memang kesukaannya sejak ia menjadi istriku seperti itu. Walaupun Bilah tidak bisa melihat, tetapi Bilah sudah belajar mengenai sudut-sudut rumahnya dan bisa menyiram tanaman yang ia rawat walaupun dalam keadaan buta.


Nida aku minta maaf jika hari ini nyawaku tidak bisa tertolong lagi, aku mohon jagalah anak kita. Aku menulis sepucuk surat untuk Nida dan sepucuk surat untuk anakku. Aku akan menitipkan surat ini kepada Dina sahabat Bilah dan meminta di berikan surat ini ketika umur Gendis 6 tahun untuk surat Gendis dan untuk surat Nida ketika dia bebas.


...Untuk istriku tercinta, maafkan aku jika kamu membaca surat ini aku tidak ada bersamamu lagi. Bukan karena aku tidak mencintaimu tapi surat ini perwakilanku bahwa aku sangat mencintaimu. Aku ingin menebus dosaku, dosaku sudah banyak. Aku menulis surat ini ketika aku yang akan menyelamatkan Bilah dari eksekusi mati yang direncanakan oleh ayahku sendiri. Ayahku pembunuh berdarah dingin, aku bekerja sama dengan polisi untuk menangkap dia dan komplotannya. Jagalah anak kita, didiklah dia dengan agama, jangan seperti aku yang jauh dari agama. Katakanlah bahwa aku sangat menyayangi Gendis. Terima kasih karena kamu telah mencintaiku selama ini dan menerimaku kembali. Aku sangat senang sekali ketika aku bisa rujuk kembali bersamamu dan aku bisa lihat di matamu ada sebuah ketulusan cinta darimu. Dan juga kamu sudah berubah menjadi manusia yang lebih baik, kamu sangat cantik sekali di mataku Nida. Peluk hangat dariku. Terima kasih sayang, tolong maafkan aku....


^^^I love you^^^


^^^Ranu^^^


Aku melihat ada pergerakan dari rumah tersebut, sepertinya mereka sedang bersiap-siap. Aku langsung keluar dari rumah itu, aku menghitung waktu pergerakan mereka karena aku tahu kebiasaan Bilah menyiram tanaman hiasnya pukul berapa dan benar saja perhitunganku. Polisi mencoba masuk ke rumah itu,mereka sangat lihai sekali seperti spider yang mengendap mengendap masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Aku memperhatikan bagian sang eksekutor, Bilah keluar dari pintu, sang eksekutor langsung membidikan senapannya, tepat di dada Bilah. Aku langsung berlari untuk menghadang peluru itu, aku meloncat pagar Bilah.


"Siapa itu?" Bilah bertanya, karena ada suara dari rumput yang kuinjak dan peluru itu mengenai dadaku, aku langsung jatuh tersungkur, aku tidak mau berteriak karena aku tidak mau Bilah mendengar teriakanku karena aku tertembak. Aku mencoba berdiri dan berjalan dengan memegang dadaku. Aku meloncat kembali dari pagar rumah Bilah. Mataku semakin lama semakin buram, aku hanya mendengar bahwa para eksekutor itu sudah dibekuk.


"Pak, jangan buat suara. Saya nggak mau wanita itu tahu saya ada di sini," pintaku kepada polisi.


Tubuhku langsung diangkat oleh polisi yang menghampiriku dengan kekuatan tenaga yang tersisa, aku meminta agar aku dilarikan ke rumah sakit tempat Dina bekerja, mereka langsung menuju rumah sakit itu, mataku makin lama makin buram, darahku mengalir sangat banyak. Aku mendengar suara kaki yang berlari sepertinya dokter telah datang untuk melihat keadaanku, tapi sepertinya waktuku sudah habis hari ini.


"Ranu... Ranu...ini gue Dina," ucap Dina, kudengar samar-samar.


"Tolong jika gue mati berikan kornea mata buat Bilah sesuai perjanjian yang gue udah tandatangani. Maafin gue Din untuk masa lalu terdahulu, gue udah jahat sama loe."


Dengan tenaga yang tersisa, aku berbicara kepada Dina walaupun terbata-bata, dadaku semakin sesak, kakiku sudah tidak bisa digerakkan, kaku rasanya, aku sudah keluar keringat dingin, nafasku seperti sudah berada di dada, aku melihat ada yang berbaju putih dan berbaju hitam.


Aku dipanggil oleh berbaju putih dan juga berbaju hitam, mereka terus mengajakku. Nafasku semakin lama semakin sangat sesak, aku sudah tidak bisa bernafas. Inilah hasil akhir hayatku tapi aku sangat bahagia semua organku akan aku sumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Aku mengikuti seseorang yang memakai baju putih, aku bisa menyebutkan lafaz Allah tiga kali dan aku keluar dari tubuhku. Aku melihat jasadku yang sudah tidak ada nyawanya. Dina kulihat hanya menangis.


***


"Ya Allah Ranu gue nggak menyangka akhir hayat loe mulia banget. Niat loe Ranu, walaupun loe jahat dahulunya dengan Bilah dan gue tapi akhir hayat loe, loe menyumbangkan semua organ yang loe punya. Bahkan loe menandatangani sumbangkan kornea mata untuk Bilah. Tidak semua orang menandatangani seperti loe sebelum dirinya meninggal untuk menyumbangkan semua anggota tubuhnya untuk orang lain. Semoga amal ibadah loe ini bisa menggiring loe ke surganya Allah," ucap Dina ketika melihat jasad Ranu yang sudah terbujur kaku.


Bersambung


✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞

__ADS_1


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2