5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Bagas di Tangkap Polisi


__ADS_3

Keluar dari mall Bilah terlihat lebih pendiam, ia tidak bicara satu katapun dengan Gus Bagas. Ia hanya menatap jalanan dari jendela mobil.


"Bilah...kamu kenapa? kok gak bicara? kamu marah sama aku?" tanya Bagas.


"Enggak Mas," jawaban singkat Bilah.


"Lalu kenapa kamu diam?" tanya Bagas kembali.


"Aku hanya lelah Mas," jawab Bilah.


Mobil Bagas akhirnya sampai di kediaman rumah orang tua Bilah.


"Masuk dulu Mas," ucap Bilah.


"Iya," jawab Bagas.


Bagas berkunjung sebentar, untuk menyapa kedua orang tua Bilah. Setelah itu dia pamit untuk pulang.


"Aku pulang dulu yah, ke rumah Mba Aisyah," ucap Bagas.


"Iya Mas," ucap Bilah.


"Tunggu, aku mau bicara sesuatu, bisa masuk ke mobilku dulu sebentar," ajak Bagas.


Bilah menyetujui ajakan Bagas lalu dia masuk ke dalam mobil Bagas.


"Mau bicara apa Mas?" tanya Bilah.


"Aku tahu kamu marah sama aku karena aku memukul Ranu, mantan kamu itu. Kamu masih mencintainya 'kan, sehingga gak rela aku pukul sampai babak belur," ucap Bagas.


Bilah menatap mata Bagas, hatinya sangat kesal Bagas berkata seperti itu.


"Apa kamu sadar berbicara seperti itu? Kamu mau bukti sekarang jika aku mencintai kamu?" tanya Bilah.


"Iya apa buktinya kamu mencintaiku?" tanya Bagas.


Bilah merubah posisi duduknya, ia memiringkan tubuhnya ke arah Bagas.


"Mas tatap aku," pinta Bilah.


Bagas menatap Bilah. Bilah mendekatkan wajahnya ke wajah Bagas, ia memiringkan kepalanya, di tatap bibir Bagas yang tipis.


"Ka... kamu mau apa?" Bagas gugup.


"Aku mau mencium bibirmu Mas, ini sebagai tanda cintaku padamu. Agar kamu bisa merasakan lewat bibirku menempel ke bibirmu seberapa besar cintaku ini," jawab Bilah.


Bagas sudah berkeringat, dia panas dingin, karena wajah Bilah yang cantik sangat dekat dengan wajahnya, terasa hembusan nafas bilah yang hangat. Mana pernah Bagas berdekatan dengan seorang perempuan yang seberani Bilah. Sentuh kulit lawan jenis aja gak pernah.


"Jangan, kalau kamu mau mencium aku, nanti aja setelah kita menikah," ucap Bagas.


Bilah langsung menjauhkan wajahnya.


"Artinya kamu menolak pembuktian cintaku Mas, tadi kamu bilang mau tahu bukti cintaku padamu tapi kamu menolak. Barusan aku hanya mengetes kamu aja. Aku marah sekarang denganmu, tanpa kamu sadari kamu menghina aku. Kalimat kamu bahwa aku masih mencintai mantan suamiku. Itu artinya selama ini berpikir bahwa aku tidak mencintai kamu, aku tidak menyimpan nama Ranu di hatiku Mas, tidak seujung kuku aku. Karena sekarang di hatiku hanya penuh namamu. Kamu mau tahu kenapa aku diam? Itu aku memikirkanmu Mas, Ranu itu licik, dia mau kamu masuk penjara. Ingat, 1 bulan lagi kita mau menikah, jika kamu di penjara kita batal nikah Mas, kamu sadar gak sih hah?" Bilah terlihat emosi, dia menangis dengan menatap mata Bagas.


"Maaf, Assalamu'alaikum." Bilah ke luar dari mobil, ia berlari dan masuk ke dalam rumah.


Bagas baru sadar ketika Bilah berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Bodohnya aku, terlalu tersulut emosi, hah..." Bagas memukul setir mobil, dia meratapi kebodohan yang telah ia perbuat.


"Bilah, maafkan aku. Kamu memikirkan aku tapi aku malah menuduh kamu," Bagas menangis.


Bilah memasuki kamar dengan berlari. Sarah melihat Bilah, ia hendak mau membuka pintu tapi dikunci dari dalam oleh Bilah.


tok tok tok


Suara pintu di ketuk


"Bilah, boleh Mamah masuk?" tanya Sarah.


"Maaf Mah, aku mau sendiri dulu," teriak Bilah dari dalam kamar.


Di dalam kamar Bilah sedang menangis.


"Kenapa kamu bodoh Mas, Ranu itu licik. Dan kenapa kamu berbicara seperti itu? Sakit hatiku," gumam Bilah.


Dedd dedd


Suara benda pipih Bilah berbunyi, ia melihat layar tertera nama Mba Aisyah. Hatinya sudah tak enak. Dia menerima telepon dari Aisyah.


Assalamu'alaikum Mba.


Wa'alaikum salam, Bilah...Ba...Bagas di tangkap polisi.


Tubuh Bilah lemas mendengar suara Aisyah di balik telepon.


Mba, bagaimana ini. Kami tidak jadi nikah kah?


Kamu jangan pikir sampai kesana, biar Mas Adnan yang urus, tapi Mas Adnan minta keterangan dari kamu.


Bilah membuka pintu, dan berjalan tergesa-gesa.


"Kamu kenapa Bilah, kok panik seperti itu wajahnya?" tanya Sarah.


"Mas Bagas di tangkap polisi Mah, tadi ia memukul Ranu karena tadi pas kita makan Ranu menyentuh aku," ucap Bilah.


"Ya Allah..." Sarah terkejut.


"Aku berangkat Mah, ke rumah Mba Aisyah. Doakan agar Mas Bagas gak di penjara. Aku gak mau gagal nikah gara-gara ini," ucap Bilah.


Bilah menjalankan mobilnya dengan cepat, pikirannya tertuju kepada Bagas. Ia takut jika Bagas di penjara.


"Ranu... ah... kamu bajingan..." teriak Bilah di dalam mobil.


Sesampainya Bilah di rumah Aisyah, ia menceritakan semua kepada Adnan.


"Kamu tenang yah, Mas Adnan akan bantu untuk mengeluarkan Bagas. Kamu bantu doa yah Bilah," ucap Adnan.


"Mas, aku mohon bebaskan Mas Bagas," ucap Bilah memohon.


"Iya aku usahakan, kamu tenanglah jangan panik," ucap Adnan.


Adnan langsung bertindak untuk membebaskan adik iparnya, karena pangkat Adnan jendral muda dalam kepolisian membuat mudah untuk membantu mengeluarkan Bagas, ia juga mengambil CCTV dari tempat makan yang Bagas dan Bilah kunjungi sebagai bukti bahwa Ranu yang sengaja menjebak untuk menyulutkan emosi Bagas. Tak butuh waktu lama, Adnan bisa membebaskan Bagas dari tuntutan Ranu.


Bilah menunggu di rumah Aisyah, ia tak henti-hentinya menangis. Aisyah menenangkan Bilah dengan memeluknya.

__ADS_1


Ceklek


Suara pintu terbuka.


Adnan kembali dari kantor polisi, di belakang Adnan berjalan Bagas. Bilah langsung berdiri dan menatap Bagas.


"Bilah..." ucap Bagas terkejut ada kedatangan Bilah.


"Kamu gak apa-apa 'kan Mas?" tanya Bilah.


"Kamu menangis karena aku di tangkap polisi?" tanya Bagas.


"Kenapa? Masih belum percaya aku cinta kamu?" tanya Bilah.


Bagas meraih pergelangan tangan Bilah untuk membawanya ke luar untuk berbicara.


"Mba, aku antar Bilah pulang," ucap Bagas.


Aisyah menganggukan kepalanya.


"Mas Adnan, terima kasih, Mba Aisyah, aku pamit Assalamu'alaikum." Bilah tangannya di tarik oleh Bagas.


Ketika mereka sudah di luar rumah, Bilah menghentangan tangannya sehingga terlepas dari genggaman Bagas.


"Mas, cukup! kenapa kamu bersikap seperti ini. Kamu seperti bukan Mas Bagas yang aku kenal, bertutur halus dan bersikap lembut," ucap Bilah.


"Maafkan aku Bilah, ini semua karena rasaku. Aku takut kehilanganmu," ucap Bagas.


"Takut kehilanganku? sampai kamu ragu akan cintaku? Kenapa kamu tidak percaya aku? Kenapa Mas? aku lelah bertengkar denganmu hari ini. Jantungku pun lelah ketika aku tahu kamu di tangkap polisi, tubuhku lemas hari ini karena kamu Mas, aku takut kamu masuk penjara dan kita gagal nikah bulan depan," teriak Bilah.


Bagas menangis, "Maaf...maaf...aku tak tahu kenapa aku bersikap seperti ini, astagfirullah..."


Billah mendekati Bagas, ia menghapus air mata Bagas dengan jari-jari lentiknya.


"Jika dekat denganku jadi seperti ini Mas, aku menyentuhmu. Menghapus air matamu dengan jariku, gak baik Mas, belum menikah tapi sudah bersentuhan. Percayalah di hatiku sudah ada kamu. Jika Allah mentakdirkan, aku akan jadi istrimu. Kenapa aku berkata jika Allah menghadirkan karena aku tidak akan menjadi istrimu jika hanya Allah memangambil nyawaku. Aku ke Turki untuk kerjaan dan aku pasti akan kembali. Uhibbuka Mas," ucap Bilah lembut.


"Ana aidon uhibbuki Bilah," ucap Bagas.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga. Saya doakan kalian banyak Rezeki aamiin.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



Salah Lamar


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)

__ADS_1



Love you semua


__ADS_2