
Pengacara Bilah sudah memasukan surat perceraian di pengadilan agama. Bilah tidak menghadiri persidangan itu, semua di urus oleh pengacara. Semua harta atas nama Bilah, perusahaan dan rumah yang di tinggali Ranu pun atas nama Bilah. Karena Bilah anak tunggal dalam keluarganya.
Hari ini ia mengunjungi kedua orang tuanya, ia akan memberi tahu tentang perceraiannya dengan Ranu. Biasanya setiap bulan Bilah selalu mengunjungi mereka dengan Ranu, tapi kali ini ia pergi sendiri tanpa Ranu.
"Assalamu'alaikum, Mamah, Ayah ini aku."
"Wa'alaikumsalam, iya sebentar Bilah," ucap Sarah, mamah Bilah.
Sejak perusahaan diserahkan kepada Ranu, orang tua Bilah memilih hidup sederhana. Jauh dari hiruk pikuk bisnis di kota Jakarta. Mereka tinggal di sebuah perumahan daerah sukabumi untuk menikmati masa tua. Setiap bulan Bilah mengirimkan uang kepada kedua orang tuanya dari perusahaan yang Ranu jalankan.
"Kamu sendirian? Ranu mana?" tanya Sarah.
Bilah hanya tersenyum dan mencium punggung tangan Sarah.
"Aku masuk dulu yah Mah, aku ingin bicara sesuatu dengan Mamah dan ayah. Ayah mana Mah?"
"Ayah sedang di belakang, Mamah panggilkan ayah dulu yah sayang."
Bilah menganggukan kepalanya dan berjalan menuju kulkas untuk mencari air mineral dingin. Bilah duduk di dapur, tempat penuh kenangan dengan Ranu ketika ia masak, Ranu sering memeluk ia dari belakang ketika sedang masak. Kini semuanya tinggal kenangan.
"Bilah..." Afnan ayah Bilah memanggil.
Bilah langsung menghampiri sang ayah lalu mencium punggung tangan ayahnya.
"Ayah sehat?"
"Alhamdulilah sehat, kamu kenapa sendirian? di mana Ranu?" tanya Afnan.
Bilah menatap kedua orang tua dengan penuh penyesalan.
"Mamah, Ayah, maafkan Bilah," Bilah bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.
"Ya Allah Bil, ada apa? berdiri," Sarah membelai rambut Bilah dan merangkul menyuruhnya untuk berdiri.
"Ada apa Bilah? kenapa kamu tampak bersedih?" tanya Afnan.
"Bilah bercerai dengan Ranu."
"Apa? bulan kemarin kalian masih sangat harmonis. Kenapa tiba-tiba kalian bercerai?" tanya Afnan.
"Ranu berselingkuh Ayah, hatiku sakit." Bilah tidak menceritakan akan dendam yang Ranu katakan kepadanya, ia tidak mau hal ini menambah beban pikiran untuk kedua orang tuanya.
"Astagfirullah..." Sarah langsung memeluk Bilah, "kamu pasti sangat menderita sayang, sudah berapa lama dia berselingkuh di belakangmu?"
"Aku tak tahu pasti Mah, yang aku tahu wanita selingkuhan Ranu hamil."
"Ya Allah Bilah..." Sarah menangis dan memeluk Bilah dengan erat.
"Aku sudah pisah ranjang sejak aku tahu kak Ranu selingkuh, aku tinggal di apartement Dina."
"Kenapa kamu tidak tinggal di sini Bilah."
"Maaf Mah, bukannya aku tidak mau. Aku harus mengurus masalahku dengan kak Ranu. Mamah, Ayah doakan selalu aku."
__ADS_1
"Ayah dan Mamah selalu doakan kamu Bil, ingat jangan pernah tinggalkan salatmu, Ayah sayang kamu " ucap Afnan sambil memeluk Bilah.
Setelah Bilah puas berkeluh kesah dengan mamahnya, ia meminta izin untuk pergi kembali ke Jakarta, karena harus mengurusi sidang perceraiannya sampai selesai.
"Sayang, kalau ada apa-apa telepon Mamah yah," Sarah memeluk Bilah.
Bilah mencium punggung tangan ayah dan mamahnya lalu dia masuk ke dalam mobil merahnya. Ada raut kesedihan di wajah kedua orang tua Bilah.
Ilustrasi foto Bilah sewaktu bayi dengan kedua orang tuanya. Ayah keturunan Turki, Mamah Bilah keturunan Arab Indonesia.
Tepat pukul 5 sore, Bilah sudah sampai di apartement Dina, hari ini Dina praktek sampai pukul 7 malam. Sebelumnya Bilah belanja di supermarket membeli bahan-bahan masakan untuk makan malam. Ia tidak suka membeli makanan jadi, lebih enak rasanya jika dia memasak sendiri.
Kring...kring...bunyi benda pipih Bilah berdering. Bilah menerima telepon dari Dina.
Dina \= ["Assalamu'alaikum, Bilah loe udah sampai apartement belum?"]
Bilah \= ["Wa'alaikumsalam, kenapa sih loe kedengarannya panik banget. Gue udah di apartement loe, baru mau masak terus ada telepon dari loe."]
Dina \= ["Lukas, mantan tunangan gue. Sayat tangannya agar gue bisa rawat dia. Dia sengaja lukain diri, biar bisa ketemu dan bisa beesentuh sama gue."]
Bilah \= ["Memang gak ada dokter lain?"]
Dina \= ["Dokter umum, hanya gue hari ini. Gue takut Bilah."]
Bilah \= ["Loe tenang Dina, gue telepon Billi."]
Bilah \= ["Din, gue juga takut hadapin manusia senekat itu. Lukas tahunya Billi itu tunangan loe."]
Dina \= ["Ah, gue gak enak sama Billi."]
Bilah \= ["Udah gak usah mikirin gak enak sama Billi, gue telepon Billi sekarang."]
Bilah langsung memutuskan sambungan telepon Dina, lalu ia menghubungi Billi bahwa Dina lagi ketakutan setengah mati di rumah sakit tempat dia bekerja. Kebetulan memang jam pulang, Billi langsung melajukan mobil silvernya ke rumah sakit tempat Dina bekerja.
Gaya berpakaian Billi sangat formal. Memakai jas dan celana hitam, sepatu kulit pantofel, Kemeja putih dan berdasi merah. Tampang maskulin, rambut menggunakan gel sehingga sangat sempurna, karena Billi langsung berangkat dari kantor, dan ia merupakan CEO yang harus berpenampilan sempurna dimata karyawannya.
Billi sudah sampai di rumah sakit tempat Dina bekerja. Dia berusaha berjalan tegap, orang-orang menatap Billi dengan segala pujian bahwa Billi sangat tampan.
"Suster dokter Dina di dalam?"tanya Billi kepada suster.
"Iya, lagi menangani pasien yang terluka Pak," jawab suster.
"Boleh tahu nama pasiennya siapa?"
"Untuk apa Bapak bertanya?"
"Saya mau ke dalam menemui dokter Dina."
Billi dicegat oleh suster, "Pak jangan sembarangan masuk."
"Saya tunangan dokter Dina, tadi dia menelepon saya. Maaf saya mau masuk." Billi tidak perduli dengan suster itu, dia langsung terobos masuk ke ruang praktik Dina.
__ADS_1
Mendengar ada keributan, Dina melihat ke arah pintu, dia memang sedang ketakutan karena Lukas sedang ada dihadapannya. Dina tersenyum ketika Billi datang, ditambah lagi penampilan Billi yang sangat tampan.
"Honey, aku sudah sampai. Dia pasien terakhirmu?" Tanya Billi.
Dina tersenyum menatap Billi, ia menganggukan kepalanya.
"Maaf Dokter, dia memaksa masuk."
"Tidak apa-apa Sus, dia tunangan saya."
"Aku tunggu di sini, kamu jahit aja tangannya," Billi menghampiri Dina dan Lukas, "jangan macam-macam dengan tunangan saya, saya tidak akan segan menghajar kamu," Billi berbisik di telinga Lukas.
Lukas tertawa, "Saya tidak akan takut dengan ancaman Anda. Kalian belum menikah maka Dina bisa saja menjadi milikku."
Dina menyelesaikan jahitan luka robek di tangan Lukas, ia juga memberi resep untuk obat Lukas. Setelah Dina selesai, Billi langsung menggandeng tangan Dina.
"Kamu sudah selesai jadwalnya 'kan, dia pasien terakhirmu?" tanya Billi.
"Iya dia pasien terakhirku."
Billi sengaja membelai pipi Dina di depan Lukas, agar ia panas melihat kemesraan Dina dan Billi.
"Ah Billi, gue merasa bersalah persahabatan berubah jadi cinta. Gue gak bisa terus berbohong seperti ini. Gue gak kuat sama perasaan ini," gumam Dina sambil menatap mata Billi.
Mereka meninggalkan rumah sakit dengan bergandeng tangan. Para suster dan dokter rumah sakit melihat mereka berdua, terlihat pasangan yang cocok. Dina dokter cantik dan Billi CEO tampan.
"Dokter Dina, siapa tuh?" ledek dokter Ilham teman kerja Dina.
"Saya tunangan Dokter Dina." ucap Billi membuat mata Dina membulat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bukankah hanya sandiwara agar Lukas menjauh dari gue? kenapa Billi malah bilang ke dokter Ilham?" gumam hati Dina.
Setelah mereka keluar dari rumah sakit, Dina melepaskan tangannya dari Billi.
"Billi, gue pulang pakai mobil gue aja."
"Pakai mobil aku aja."
"Gak enak deh dengarnya pakai bahasa aku, kamu. Kalau kita lagi berdua seperti ini pakai bahasa yang biasa aja Billi."
Billi menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Dina.
"Aku sudah susah payah belajar agar tidak melambai lagi, karena merubah dengan seketika itu sangat susah."
Billi menarik tangan Dina agar mau pulang dengan mobilnya. Akhirnya Dina pulang bersama Billi.
"Besok aku jemput dan aku antar kamu ke sini. Biar mobilmu di sini aja."
"Billi... gue udah putuskan untuk melanjutkan pendidikan program dokter spesialis di Jogja. Gue juga mau menghindar dari lukas. Gak mungkin kita bersandiwara terus seperti ini, apalagi Lukas berkali-kali berkata, jika dia belum melihat gue nikah maka dia akan gangguin gue terus."
Bersambung
__ADS_1