5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Hasil Check up


__ADS_3

Kehamilan Bilah sudah memasuki 8 bulan, artinya 1 bulan lagi ia akan melahirkan anaknya. Hari ini ia check up kehamilan dengan dokter Sugi, hari pertama dia check up dengan dokter Sugi karena Bilah mengganti dokternya kembali. Bagas menemani Bilah masuk ke ruang pemeriksaan.


Dokter sugi memberikan gel ke perut Bilah, kemudian ia melakukan USG.


"Lihat ke monitor Bu, Pak. Kita dengar suara jantungnya," ucap dokter Sugi.


Deg...deg... suara denyut jantung anak Bilah dan Bagas yang masih bersemayam di perut Bilah.


"Alhamdulilah, sehat Bu, Pak, yang bulat ini adalah kepalanya. Posisinya sudah di bawah, ari-ari dan air ketubanya bagus, perkembangannya sudah lengkap," ucap dokter Sugi.


"Dokter kista saya bagaimana?" tanya Bilah.


"Alhamdulilah 4cm mengecil." Sebelumnya dokter Sugi melihat rekaman medis Bilah, jadi dia tahu kondisi Bilah.


Bilah merasa ada perasaan lega. Setelah dokter Sugi selesai USG, bagian perut Bilah dibersihkan dari gel yang menempel oleh bidan, asisten dokter Sugi.


"Dokter, saya bisa lahir normal?" tanya Bilah.


"Memang Ibu mau cecar?" tanya dokter Sugi.


"Saya maunya normal Dok," ucap Bilah.


"Jadi jangan ngomong cecar yah, optimis Ibu bisa normal," ucap dokter Sugi.


Bilah dan Bagas saling berpandangan. Senyuman di raut wajah mereka yang menandakan betapa senangnya hati mereka mengetahui Bilah bisa lahir normal.


"Usia kandungan 39 minggu rajin berhubungan yah, bikin jalan untuk dede bayi, untuk merangsang kontraksi," ucap dokter Sugi.


"Boleh Dok?" tanya Bagas.


"Yah boleh banget Pak, malah dianjurkan untuk proses lahir normal," jawab dokter Sugi.


Ucapan dokter Sugi, membuat wajah Bagas sangat berbahagia. Sudah menunggu dengan sabar akhirnya bisa berbuka puasa juga. Bagas menggandeng tangan Bilah dengan mesrah. Bilah melirik kepada Bagas, ia sadar betapa senangnya suaminya itu.


"Rasanya wajah suamiku ini senang sekali," ucap Bilah.


"Tentu dong, kan sebentar lagi anak kita lahir di dunia ini. Kamu bisa lahir normal sayang. Kita harus rajin buat jalan dede bayi," ucap Bagas.

__ADS_1


"Wahai suamiku, selama ini aku berusaha memuaskanmu dengan cara lain. Untuk buat jalan apa yang dokter Sugi ucapkan tunggu usia kandungan 39 minggu yah. Jangan 2 minggu ini, bisa-bisa aku mengalami kontraksi. Bisa lahir prematur nanti jika lahir sebelum minggunya lengkap," ucap Bilah.


"Iya sayangku," Bagas mengecup tangan Bilah.


"Dari 3 dokter yang aku datangi, 2 dokter mengatakan cecar hanya dokter Sugi yang mengatakan normal. Artinya keputusan dokter lain-lain, dokter di Indonesia kenapa pilih pintas dengan cecar. Alasan ini lah, itu lah. Artinya jika hamil harus mencari dokter yang pas, jangan sampai bisa lahiran normal, eh dokter malah cecar," ucap Bilah.


"Iya benar, sampai aku puasa. Gara-gara dokter yang kedua itu. Alhamdulilah kamu minta ganti dokter sayang," ucap Bagas.


Bilah mencubit pinggang Bagas.


"Au sakit sayang," teriak Bagas.


"Kamu ini Mas, aku lagi ngomongin apa jawabnya apa," protes Bilah.


Bagas dan Bilah masuk ke dalam mobil mereka, Bilah meminta Bagas untuk ke kantor hanya untuk mengecek sebentar. Sesampainya di kantor, tangan Bilah mengalungi tangan Bagas. Bagas menjaga Bilah dengan sangat perhatian. Bilah berjalan pelan menuju ruang Melati sekretarisnya. Perutnya sudah besar sehingga tangan kiri memegang pinggangnya dan kanan memegang tangan Bagas.


Para karyawan menyambut Bilah, di ruang CEO ada ayah Bilah yang memang memegang sementara posisi Bilah. Pertama dia akan menanyakan Melati terlebih dahulu setelah itu dia akan menemui ayahnya.


"Siang Mel," sapa Bilah.


"Siang Bu Bilah, masya Allah Bu Bilah kenapa ke sini. Jika ada perlu biar saya saja yang ke rumah Ibu. Perut Ibu sudah besar, sebentar lagi mau lahir. Saya gak mau Bos saya yang baik hati dan cantik drob lagi," ucap Melati.


"Gak ada yang mau sama saya Bu, wajah saya standar. Tidak seperti Ibu cantik banget," ucap Melati.


"Mau saya cariin, santri mau?" tanya Bilah.


"Haha Ibu bisa aja, saya kaya gini. Mana ada santri mau sama saya. Udah Bu ah, Ibu perlu apa?" tanya Melati.


"Nanti saya cariin, siapa tahu ada santri yang sudah siap ta'aruf. Pemasaran bagaiman Mel? ada peningkatan?" tanya Bilah.


"Peningkatannya pesat Bu, 100%. Sejak Bapak yang pegang. Bagian Divisi pemasaran gak bisa berkutit, divisi keuangan apa lagi, Bapak detail banget ngechecknya. Ibu Gak usah khawatir, Bapak hebat kok," ucap Melati.


"Jadi menurutmu lebih bagus ayah saya yang pegang daripada saya. Ih kamu Mel, gak berpihak dengan saya," ucap Bilah.


"Eh...bukan seperti itu Bu, maksud saya agar Ibu gak khawatir akan kantor, jangan marah Bu," ucap Melati.


"Saya gak marah Mel, saya akui memang belum seperti ayah saya. Beliau sangat kharismatik, dan juga pintar dalam melihat celah bisnis," ucap Bilah.

__ADS_1


Setelah Bilah berbincang dengan Melati, ia bertemu dengan ayahnya. Hanya menyapa ayahnya saja, Bilah juga membawakan makan siang untuk ayahnya. Sedikit berbincang dengan ayahnya tentang Ranu, bahwa sekarang Ranu tak semena-mena lagi. Walaupun ia manager pemasaran tapi karyawan yang lainnya memandang Ranu sekarang hanya bawahan Bilah. Para karyawan sudah tahu bahwa saham 100% milik Bilah. Tidak ada yang mencari muka lagi dengan Ranu, tak ada yang menjilati Ranu, karena Ranu hanya sebagai karyawan biasa, bukan sebagai pemegang saham.


Bilah pun bernafas lega, masalahnya sudah selesai untuk dirinya di pernikahan terdahulu. Haknya sudah ia ambil untuk terdahulu. Rencananya rumah itu akan diberikan kepada Nida dan Gendis anaknya untuk merawat rumah tersebut. Karena Bilah tinggal di rumah barunya. Ia tak mau menempati rumah tersebut, baginya banyak kenangan yang sangat menyakitkan. Bilah hanya membawa mobil kesayangannya. mobil sport berwarna merah.


Setelah percakapan dengan ayahnya selesai, Bilah dan Bagas pulang. Dalam perjalanan ke luar dari kantor Bilah dan Bagas berpapasan dengan Ranu. Bilah tidak berkata apa-apa, Ranu melihat Bilah dengan tatapan mata yang tajam. Dari sorotan mata Ranu, ada emosi yang terpendam dan juga dendam kepada Bilah. Bagi Bilah itu urusan Ranu, ia hanya berdoa agar Allah memberikan hidayah untuk Ranu.


Bilah sudah sangat baik, Ranu masih bisa bekerja diperusahaannya. Dia bisa saja memberhentikan dan juga melaporkan atas penipuan untuk tanda tangannya. Bilah masih berharap suatu saat Ranu akan berubah, bisa mengakui Gendis sebagai anaknya.


Baby sitter Gendis pernah berbicara kepada Nida dan melaporkan kepada Bilah. Gendis bernasab Nida, bukan bernasab Ranu, karena Gendis ada sebelum mereka menikah. Dan Nida ingin bercerai kepada Ranu, hal ini Bilah membantu Nida. Bilah menyewa pengacara untuk mengurus perceraian Nida dengan Ranu. Karena rencana Nida setelah keluar dari penjara, dia ingin hidup hanya dengan Gendis dan membuka usaha untuk hidupnya, ia benar-benar sudah bertaubat.


Bersambung


✍✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet β€πŸ’ž


__ADS_2