
Kini Dina dan Bilah sudah berada di rumah sakit tempat Billi dirawat. Terlihat Rizal masih menjaga Billi di depan ruang ICU. Sebelum Dina masuk ke ruang ICU, Bilah menarik tangan Dina.
"Ada apa Bil?" tanya Dina.
"Makan dulu yuk, tadi 'kan hanya makan pagi. Ini dari Gus cukup untuk kita berdua," ucap Bilah.
"Ah, gue gak nafsu Bil. Loe aja yang makan," ucap Dina, menolak ajakan Bilah.
"Gue tahu, loe cinta sama Billi tapi tolong dong jangan sakitin diri loe. Loe harus makan," ucap Bilah, menarik tangan Dina untuk mengikutinya.
Bilah memperhatikan Dina, beberapa kali bibirnya mengukir senyuman.
"Kenapa Bil, loe lihat gue terus dari tadi," ucap Dina.
"Gue keingetan, lucu aja loe cemburu sama gue. Berpikir Billi suka sama gue, ternyata dia malah sukanya sama loe," ucap Bilah.
"Yah gue pikir dia suka sama loe, karena dia care banget sama loe Bil. Walaupun dia sibuk, dia akan datang hanya untuk loe," ucap Dina.
"Dina...loe gak sadar, dia lebih care sama loe dibandingkan gue? dari sorotan matanya aja, gue udah bisa tahu, Billi suka sama loe," ucap Bilah.
Dedd Dedd
Benda pipih Bilah bergetar, Bilah mengangkat dan menjawab telepon yang masuk. Mendadak dia diam dan mengeluarkan air mata, ditatap lekat mata Dina.
"Kenapa Bil, wajah loe berubah jadi pucat?" tanya Dina.
"Tadi Om Rizal telepon gue, Billi keritis. Serangan jantung," ucap Bilah gemetar.
Dina langsung lari menuju kamar ICU, air matanya terus mengalir, denyut jantungnya berdebar. Dia tidak sanggup akan kehilangan Billi.
"Dokter Jimmy, apa yang terjadi?" tanya Dina.
"Tiba-tema terkena serangan jantung," jawab Dokter Jimmy.
Dina langsung masuk ke dalam, dia langsung mengambil alih. Dia ambil alat pemacu jantung.
"Billi...Billi...kamu harus kuat, kembali Billi. Aku nunggu kamu," ucap Dina dengan air matanya.
Dina terus saja memakai alat pemacu jantung ke dada Billi, Dina terus melihat alat monitor detak jantung, Dia terus memacu jantung Billi dengan alat.
"Billi...Billi...aku mohon, kembalilah," ucap Dina lirih.
"Dokter Dina, sudah cukup! ikhlaskan dia," seru Dokter Jimmy.
"Gak akan Dok, dia laki-laki yang saya cintai, dia tidak boleh meninggalkan saya," teriak Dina.
Dina mencium pipi Billi, lalu berbisik, "Billi jika kamu sadar lamar aku, i love you. Ya Allah izinkan dia menjadi imamku."
Dengan mengucap bismillah, Dina memacu jantung Billi dengan alat pemacu jantung kembali, berkali-kali ia mencoba tanpa putus harapan.
__ADS_1
Monitor pendeteksi jantung terlihat naik turun lagi, tidak datar seperti sebelumnya.
"Alhamdulilah," ucap Dina, kakinya gemetar.
Dokter Jimmy langsung memeriksa Billi.
Dina mendekati tubuh Billi, dia membelai pipi Billi.
"Billi, aku menunggu kamu. Cepatlah sadar," ucap Dina lirih.
Dina keluar dari ruang ICU, tubuhnya lemas gemetar. Bilah langsung memeluk Dina.
"Bagaimana Billi?" tanya Bilah.
"Alhamdulilah, detak jantungnya balik lagi," jawab Dina.
"Alhamdulilah," ucap Bilah.
"Gue takut Bil, dia tinggalin gue, gue gak sanggup kalau dia pergi." Dina menangis dalam pelukan Bilah.
"Kita berdoa aja yah, agar Allah mengizinkan Billi sadar dan sehat kembali," ucap Bilah.
Bilah membawa tubuh Dina untuk duduk di kursi panjang depan ruang kamar ICU. Rizal melihat ketulusan hati Dina untuk mencintai Billi. Ada Rasa senang, Billi telah menemukan wanita yang tepat untuk mencintainya.
Rizal mendekati Dina, lalu dia duduk di samping Dina.
"Dina terima kasih, kamu membuat Billi kembali lagi. Om lihat bagaimana usaha kamu tadi, Om lega Billi telah menemukan kamu, wanita yang sangat mencintai Billi. Om tahu gaya Billi gemulai dan kamu menerima keadaan Billi tersebut," ucap Rizal.
Rizal tersenyum mendengar ucapan Dina. Jarang perempuan yang mencintai seseorang karena hatinya sudah di panggil. Mereka mendekati seseorang karena hartanya. Mereka bilang cinta di bibir, tapi hati dan pikirannya cinta karena hartanya.
Hari demi hari Dina menunggu Billi, sudah 5 hari Billi belum sadar. Dina tidak mau meninggalkan Billi, dia terus di rumah sakit untuk menjaga Billi.
***
Sudah 1 minggu kejadian penculikan Dina. Penculikan itu juga masuk ke berita hot, para penggemar Nida tidak mempercayai bahwa idolanya berbuat senekat itu. Hari ini Nida berada di meja hijau mendengarkan keputusan hakim atas dirinya.
Pasal-pasal yang dikenai Nida yaitu Pasal 45 ayat (3) UUITE 2016 terkait pencemaran nama baik, hukuman 4 tahun sampai 6 tahun penjara. Dan Pasal285 KUHP juncto Pasal 53 ayat (1) KUHP;Hal. 1 dari 9 hal. Putusan Nomor 94 K/Mil/20202 tentang percobaan pemerkosaan. Nida dijatuhkan hukuman penjara selama 5 tahun.
Mendengar hal itu membuat Bilah bernafas lega tapi tidak untuk Dina, hukuman 5 tahun penjara untuk Nida tidak seimbang yang membuat Billi masih dalam tak sadarkan diri.
Terlihat Ranu juga berada di persidangan tersebut, sebelum Nida dimasukkan ke dalam penjara. Ranu diperbolehkan untuk memeluk Nida.
"Maafkan aku, jaga kesehatan agar bayi kita sehat," ucap Ranu, sebelum Nida dibawa polisi.
Bilah dan Dina berpapasan dengan Ranu.
"Kurang ajar kalian membuat istriku masuk dalam penjara," ucap Ranu.
"Aku malah mau kamu juga masuk penjara Kak, tapi sayangnya Nida terlalu melindungi kamu," ucap Bilah.
__ADS_1
"Kamu masih milikku, selamanya jadi milikku. Kamu masih cantik seperti dulu, bahkan sekarang makin cantik dengan jilbabmu itu," ucap Ranu, dengan mencengkeram tangan Bilah.
"Lepaskan tangan aku ahhh ini sakit , aku tidak sudi di sentuh olehmu, " ucap Bilah, ia berontak karena tangannya terasa sakit akibat cengkraman Ranu.
"Lepasin tangan Bilah, kalau gak gue teriakin. Masih banyak polisi di sini," ucap Dina.
Ranu tak berani karena ancaman Dina, dia melepaskan cengkramannya. Dari kejauhan Bagas yang baru datang, dia melihat Bilah meringis kesakitan karena tangannya dicengkeram. Bagas berlari menghampiri Bilah.
"Ada apa? kenapa pergelangan tanganmu merah?" tanya Bagas.
"Tangan Bilah tadi dicengkeram sama Ranu, dia bilang Bilah masih miliknya," Dina menjawab pertanyaan Bagas.
Tatapan Bagas berubah menjadi sangat marah kepada Ranu.
"Jangan sentuh calon istri saya lagi, jika Anda menyentuh seujung kuku. Maka saya yang akan bertindak, saya jamin Anda akan masuk penjara seperti pasangan Anda yang sekarang sudah dalam penjara," ucap Bagas, kepada Ranu.
Ranu tampak syok mendengar bahwa pria yang dihadapannya merupakan calon dari suami Bilah.
"Dia calon suami kamu? gak salah? cepat sekali kamu menerima laki-laki lain. Setahu aku kamu sulit untuk jatuh cinta," ucap Ranu.
"Kenapa memangnya? kamu pun sudah menikah. Aku sudah resmi bercerai denganmu, dia jauh lebih baik darimu. Cinta kamu bahas? aku muak mendengar itu dari mulutmu, apa kamu menikah denganku karena kamu cinta dengan aku? apakah 5 tahun pernikahan ada cinta untukku? Jawabannya 'No'. Iya memang saat ini aku belum mencintainya, tapi setelah menikah aku akan belajar mencintainya. Dia mencintai ku dan sangat menjagaku. Aku butuh sandaran seorang pria yang benar-benar mencintaiku dengan tulus, bukan sebuah cinta penuh sandiwara," ucap Bilah penuh emosi.
Bagas yang mendengar ucapan Bilah, semakin kagum dengannya.
"Camkan ini, jangan pernah ganggu lagi calon istri saya," ucap Bagas dengan ketegasannya sambil menunjukkan jarinya di wajah Ranu.
Bilah meninggalkan Ranu, di susul Dina yang menggapai tangan Bilah untuk di gandeng. Bagas berjalan di belakang Bilah.
"Maaf, aku terlambat datang," ucap Bagas penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa Gus, jangan merasa bersalah seperti itu," ucap Bilah, sambil tersenyum kepada Bagas.
"Tanganmu pasti sakit, aku lihat merah seperti itu. Aku antar kamu ke dokter yah," ucap Bagas.
"Tidak usah Gus, tidak apa-apa. Dina 'kan dokter, nanti aku minta obat ke dia," ucap Bilah.
"Oh iya, Ummi dan Abi lagi dalam perjalanan ke Jakarta, kamu di suruh datang," ucap Bagas.
"Ada apa Gus, Kiai dan Nyai mau bertemu aku?" tanya Bilah.
Bagas menaikan pundaknya dan berkata, "Entahlah."
Kira-kira mau ngapain yah?
Bersambung
***
Hai para reader yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, komen,vote, follow aku juga.
__ADS_1
Cek novelku yang berjudul Salah Lamar Yuk.
Love You semua.