
Bilah \= ["Assalamu'alaikum, iya apa Din?"]
Dina \=["Waalaikumsalam, Alhamdulilah...akhirnya loe mau angkat telepon dari gue, maafin gue Bil, gue masih sahabat loe 'kan,"]
Bilah \=["Bukannya loe yang anggap gue bukan sahabat loe lagi. Seorang sahabat gak ninggalin sahabatnya ketika kesakitan, seorang sahabat gak akan tinggalin sahabatnya ketika dalam keterpurukan. Gue tahu loe dapat sahabat baru di Jepang yang loe perhatiin, 1 profesi lagi sama loe. Gue mah memang selalu di nomor sekian buat loe sekarang."]
Bagas yang mendengar nada emosi Bilah langsung menggenggam tangannya.
"Sayang, ingat kata dokter. Kamu gak boleh stress," ucap Bagas, khawatir.
Bilah hanya mengulas senyum tipis kepada Bagas.
Dina \=[" Gue tahu kalau gue salah sama loe. Bukan maksud gue cuekin loe sebelumnya karena sebelumnya gue gak tahu kalau..."]
Omongan Dina disela oleh Bilah.
Bilah \=["Kalau gue pendarahan? karena janin gue hilang dari rahim gue? hah! loe tahu 'kan 5 tahun gue tunggu, 5 tahun Din. Itu bukan waktu yang gak sedikit. Ketika gue tahu awal kehamilan, sumpah gue sangat bersyukur."]
Bilah menangis, air matanya terus mengalir.
Bilah\= ["Sahabat gue yang dokter, yang lagi kuliah di Jepang, yang lagi mengambil S2 sebagai dokter ahli kandungan. Sahabat yang ketika gue mau berbagi tentang kebahagiaan ini gak bisa di hubungin, gue mau tanya supaya kandungan gue kuat tapi gue gak bisa bertanya karena sahabat gue sudah gak ada lagi buat gue. Sampai titiknya ketika gue sedang pendarahan dan hilang harapan gue karena gue keguguran. Di mana sahabat gue...di mana? loe gak bisa dihubungin."]
Bilah teriak histeris, Bagas langsung memeluk Bilah dengan erat. Ia mengambil handphone Bilah.
Bagas \=["Din, maaf. Sepertinya Bilah belum siap bicara dengan kamu. Aku tutup teleponnya. Istriku tertekan aku harus memenangkannya."]
Bagas menuntun tangan Bilah dan masuk ke dalam mobil mereka. Bagas memberikan air mineral.
"Sayang kamu belum iklas atas kepergian anak kita, aku tahu perasaanmu saat ini. Aku mohon tenangkan pikiran kamu," nasihat Bagas.
"Percuma punya teman berprofesi seorang dokter, minta dukungan moral lewat telepon aja gak bisa Mas," ucap Bilah penuh emosi.
Bagas memeluk Bilah sambil mengusap punggungnya.
"Sayang jangan emosi yah, aku gak mau kamu stress, anak kita akan menjadi tabungan kita di sana. Kamu iklasin yah," ucap Bagas.
Bilah hanya terdiam tidak berkata apapun.
Bagas menjalankan mobilnya, ia sangat khawatir akan Bilah. Seharusnya dia tidak mengatakan untuk mengangkat telepon dari Dina. Bagas pikir, Bilah sudah menerima kepergian janinnya. Tapi pas Dina telepon emosi Bilah malah meledak lagi.
Setibanya di rumah, Bilah langsung masuk ke dalam kamar, Bagas mengikuti Bilah dari belakang dan ikut masuk kamar. Bilah menangis di balik selimut, tubuhnya bergetar. Bagas menarik nafas dan mengeluarkannya secara kasar.
Bagas masuk ke dalam selimut dan memeluk Bilah dari belang, ia membelai kepala Bilah.
"Kamu mau teh manis hangat? aku buatkan," ucap Bagas.
Bilah hanya menggelengkan kepalanya. Bilah membalikkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya ke dada Bagas. Bagas memeluk Bilah dengan erat.
"Menangislah jika itu membuat kamu merasa lega, aku di sini. Jangan merasa kamu sendiri," ucap Bagas.
Bilah meluapkan emosinya dengan cara menangis dipelukan Bagas. Sampai ia tertidur karena merasa sangat lelah. Bagas melepaskan hijab Bilah agar ia lebih nyaman lagi ketika tidur.
Bagas membelai pipi Bilah yang sedang tertidur karena kelelahan menangis.
"Hatiku sakit melihat kesedihanmu, tolong iklas sayang. Insha Allah kita akan mempunyai anak, jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Aku tidak akan berpaling darimu. Aku cinta kamu," ucap Bagas sangat lirih.
__ADS_1
***
"Ya Allah, aku membuat kesalahan yang besar dengan sahabat yang sudah aku anggap saudaraku. Dia yang selalu terdepan membantu aku," gumam Dina.
Dina menangis karena kesalahannya terhadap Bilah. Billi melihat istrinya yang menangis.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Billi.
"Aku keterlaluan ai dengan Bilah, aku sahabat yang tak tahu diri," ucap Dina.
"Ini kesalahanku juga, karena aku menyuruhmu menonaktifkan nomor Indonesia, untuk program bulan madu kita, agar kita tidak terganggu dengan urusan yang ada di Indonesia, ucap Billi.
"Harusnya aku memberi nomor Jepang ku ke Bilah, aku memang keterlaluan. Sudah tidak menghadiri pernikahannya. Padahal waktu kita menikah, aku memaksa dia untuk pulang dari Turki dan dia menjadi pengiring pengantin, ketika dia terpuruk karena keguguran anak pertamanya, aku gak ada untuknya," ucap Dina penuh sesal.
"Sayang, jangan menangis. Ingat kamu sedang hamil muda. Trisemester pertama harus di jaga," ucap Billi.
"Bagaimana aku memberi tahu Bilah bahwa aku sedang hamil, sedangkan 2 bulan lalu dia kehilangan janinnya," ucap Dina.
"Bilah keguguran bukan salah kamu," ucap Billi.
"Itu salahku, ia terlalu stress. Aku gak bisa menenangi dia," ucap Dina.
"Sayang aku mohon, kamu juga jangan stress. Jaga anak kita," ucap Billi.
"Ai kamu gak paham, malas aku ngomong sama kamu," ucap Dina.
Dina meninggalkan Billi sendirian di ruang keluarga.
***
"Hubby temani aku, aku mohon hari ini jangan tinggalkan aku selalu di sampingku ya," pinta Bilah.
"Masya Allah, sejak kapan aku berjauhan darimu," ucap Bagas.
Bagas membukakan pintu mobil untuk Bilah. Di dalam mobil dia menggenggam tangan Bilah.
"Kita berangkat yah...bismilah," ucap Bagas.
Mobil Bagas membelah kota Jakarta, sesekali Bilah melihat ke luar jendela melihat suasana kota Jakarta.
"Hubby berhenti di depan deh," pinta Bilah.
Bagas menepikan mobilnya.
"Kamu tunggu di sini, aku turun sebentar," ucap Bilah.
Bagas melihat dari dalam mobil, Bilah menghampiri penjual siomai yang berjualan dengan sepeda. Siomai jualannya di letakkan dalam panci burik-burik. Penjualnya sudah sangat tua kira-kira umur 75 tahunan. Tidak lama Bilah masuk ke dalam mobil kembali bersama bungkusan siomai.
"Kamu mau makan siomai sebanyak itu?" tanya Bagas kebingungan.
"Yah kali aja hubby, perut aku kecil begini masa makan banyak banget. Kasian yang jualnya sudah kakek-kakek, aku borong aja. Nanti aku bagikan sama tim divisi pemasaran yang kemarin sudah lembur," ucap Bilah.
"Jangan dekat-dekat sama Ranu nanti di sana, berjalan harus pegang tangan aku," ucap Bagas.
"Malu lah hubby, masa di kantor memamerkan kemesrahan kita sih," protes Bilah.
__ADS_1
"Intinya jangan dekat-dekat sama Ranu," ucap Bagas.
"Suami aku itu kamu, yang paling dekat sama aku yah kamu sayang," ucap Bilah.
Bagas menjalankan mobilnya kembali. Sampai di kantor Bilah langsung mengalungkan tangannya ke lengan Bagas.
"Seperti ini aja yah hubby, gak gandeng tangan. Lebih elegan mengalungkan lengan seperti ini. sekarang kita ke divisi pemasaran," ucap Bilah.
Bilah menyuruh satpam untuk membawa siomainya. Sesampainya di ruang divisi pemasaran Bilah langsung membagikan siomai.
"Terima kasih kalian sudah lembur, saya bawakan sarapan buat kalian. Silahkan di makan," ucap Bilah.
"Terima kasih Bu Bilah," teriak karyawan.
"Ranu, di makan siomainya biar gak lemes kerjanya. Ingat saya tunggu 2 minggu lagi laporan dari kamu," ucap Bilah tegas.
Ranu menatap tajam Bilah.
"Gak usah ingatkan saya karena saya sudah ingat!" jawab ketus Ranu.
"Eh kamu Ranu, jaga sikap kamu. Aku ini bos mu," ucap Bilah.
Bilah langsung meningalkan ruang Divisi, dengan menunjukkan kemesraan di mata Ranu.
"Sial, awas kau Bilah," gumam Ranu.
"Tadi katanya gak mau tunjukan kemesrahan." Bilah menggenggam erat tangan Bagas.
Bilah tersenyum, dan langsung mengecup pipi Bagas.
"Aku tambahin, biar lebih mesrah, atau mau aku ciuman hubby?" tanya Bilah dengan manja.
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis, dan saya akan mendapat ide mendadak dari komentar kalian.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote juga jangan lupa ❤
Baca juga yuk cerita serunya
Salah Lamar
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet 😁