5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Teror


__ADS_3

Di pagi hari Dina terbangun, dan langsung membersihkan dirinya, tubuhnya masih terasa lelah akan tetapi cuti yang dia ambil sudah habis dan harus segera masuk kerja. Sebagai seorang dokter, Dina merasa mempunyai tanggung jawab. Karena ada beberapa pasien yang sudah dijadwalkan untuk check up kesehatan mereka.


Pada siang hari Dina berangkat ke Bandung, dia sudah memberitahukan Billi tapi Dina berangkat ke Bandung sendirian karena Billi ada meeting di siang hari dengan klien pentingnya. Dina menggunakan travel karena mobilnya berada di Bandung.


Bilah membeli sebuah rumah ketika dia berada di Bandung. Ia tahu uang Dina habis untuk menyewa gedung dan mengundang para wartawan ketika konferensi pers untuk membela Bilah, dan dengan terpaksa Dina menempati fasiltas rumah sakit yang sangat minim. Untuk itulah Bilah membelikan sebuah rumah sederhana tapi sangat layak untuk Dina.


Ketika Dina hendak pulang ke Indonesia, Bilah memberikan kunci rumah beserta alamat rumah yang akan di huni Dina.


Flash Back On


"Dina, ini kunci rumah. Gue beli rumah di Bandung. Yah...gak besar sih tapi cukuplah buat loe. Loe tempatin aja yah, gue takut kalau loe masih tinggal di fasilitas rumah sakit peneror itu bisa melakukan apapun sama loe, karena kita belum tahu peneror loe itu siapa," ucap Bilah.


Bilah hanya beralasan dirinya khawatir karena peneror, padahal dirinya tidak mau sahabatnya itu tinggal di tempat yang tidak layak.


"Ya Allah Bil, loe udah berpikiran sejauh itu? terima kasih banyak banget Bil. Loe selalu bantu gue sejak gue masih kecil," ucap Dina dengan meneteskan air mata.


"Kok loe nangis sih, loe juga dah banyak bantu gue Din. Kita sebagai seorang sahabat saling bantu. Gue yakin loe akan menjadi dokter yang hebat, selamatkan para ibu yang melahirkan. Usahakan jangan selalu menggunakan metode cecar," pesan Bilah.


"Iya Bil Insha Allah, gue berangkat dulu yah, semoga urusan loe di Turki cepat selesai, gue sayang loe Bil," Dina memeluk Bilah.


"Gue juga sayang sama loe, take care yeah," ucap Bilah.


Flash back off


Dina membuka kunci rumah, dia terkejut. Setelah membuka rumah tersebut. Semua perlengkapan rumah sudah lengkap di dalamnya.


"Bilah, ini mah bukan rumah sederhana. Tapi ini rumah mewah banget," ucap monolog Dina.


***


Keesokan harinya Dina mulai praktik lagi, belum dia masuk ke dalam rumah sakit. Satpam rumah sakit menghampiri dirinya.


"Maaf, Dokter Dina?" tanya Satpam.


"Iya Pak, benar. Ada apa yah Pak?" tanya Dina.


"Ini Dok, ada kiriman bunga buat Dokter," ucap Satpam.


"Dari siapa Pak?" tanya Satpam.


"Saya gak tahu Dok, tadi ada kurir yang datang lalu dia bilang untuk Dokter Dina," jawab Satpam.


"Terima kasih Pak," ucap Dina.


Dina membawa paket bunga ke dalam ruang praktiknya, dia membaca kartu ucapan di dalam paket bunga tersebut.


'Hai cantik, selamat bekerja kembali. Aku kangen sama kamu.'


"Siapa ini? bukan Billi yang mengirim bunga ini," gumam Dina.


Ia memfoto paket bunga beserta kartu ucapannya. Dan mengirimkan ke WA Billi. Lalu ia membuang paket bunga tersebut ke dalam tempat sampah.

__ADS_1


Dina \= ["Aku dapat paket bunga dan kartu ucapan pagi ini, tapi aku tidak tahu siapa yang mengirim ini, aku takut."]


Dina menunggu balasan WA dari Billi tapi tak kunjung di balas oleh Billi, jangankan di balas, dibacapun belum. Sejak aksi penculikan Dina agak parno, hatinya selalu gelisah ketika ada suatu hal yang mencurigakan.


Dedd dedd


Handphone Dina bergetar, dia buru-buru melihat siapa yang mengirim pesan singkat kepadanya, dia sangka itu adalah pesan balasan dari Billi, tapi ternyata bukan.


Peneror \= ["Cantik, kenapa bunganya di buang?"]


"Siapa dia? Kak Zidan? ah gak mungkin, dia bukan karakter seperti ini. Apakah Lukas yang diam-diam mengikuti aku?" tanya Dina monolog.


Dina mempunyai jam praktik dari pukul 8 pagi sampai pukul 12. Para pasien yang sudah ada janji untuk check up kepada Dina sudah mengantri. Satu persatu para pasien masuk ke dalam ruang praktik Dina.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dina melihat handphonenya tapi belum ada pesan balasan dari Billi.


"Sesibuk apa sih dia, sampai gak sempat balas WA aku," gumam Dina.


Dina berjalan ke tempat parkir, sebelum masuk ke dalam mobilnya. Satpam menghampiri Dina kembali.


"Dokter Dina, ada paket makanan untuk Dokter. Tadi kurirnya ojek online yang kirim," ucap Satpam.


"Pak, buat Bapak aja makanannya. Lain kali jangan terima Pak, saya tidak kenal dengan pengirim ini," pesan Dina.


"Jadi makanan ini buat saya Dok?" tanya Satpam.


"Iya Pak, makasih Pak. Saya permisi dulu," ucap Dina.


Dedd dedd


Peneror \= ["Kok, kamu gak makan itu cantik? malah di kasih satpam. Makanan itu gak beracun kok."]


Dina melihat sekeliling, peneror ini tahu gerak gerik Dina. Pasti peneror ini masih dekat berada sekitar parkiran rumah sakit. Terlihat tidak ada yang mencurigakan, siapa peneror ini. Dia sangat kesal dengan Billi, hatinya sangat takut tapi Billi tidak membalas pesan darinya.


'Jika ada Bilah di sini, dia pasti tenangin gue,' batin Dina.


Dina menghidupkan mesin mobilnya, dan berjalan meninggalkan rumah sakit. Ia ingin order burger yang pemesanannya melalui drive thru, tinggal pesan dari dalam mobil, bayar, orderan datang dan Dina langsung menjalankan mobilnya kembali.


Dina merasa ada mobil yang mengikuti mobilnya, dia sangat panik. Jantungnya berdetak kencang, dia berpikir di Bandung ini tidak ada seseorang yang dia kenal. Gak mungkin minta pertolongan Zidan karena hubungan dia sebelumnya membuat Zidan sakit hati pastinya. Bilah masih di Turki, Billi di Jakarta. Dina menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, rasa takutnya menyebar keseluruh tubuh sampai ke otaknya. Takut penculikan seperti sebelumnya akan terjadi lagi, lalu siapa yang akan menolongnya kali ini. Mobil itu terus saja mengikuti mobil Dina.


Dina memasuki gerbang rumah, dia langsung mengunci gerbang. Masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, jendela ditutup semua dengan gorden. Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Tubuhnya sudah bergetar, rasa takut sudah menjalar. Penculikan yang dialami Dina sangatlah membuat ia trauma.


Dina berada di dalam kamar dia tidak mau bergerak, sudah 3 jam dia berdiam di dalam kamar. Dengan keadaan rumah semua tertutup. Terdengar ada suara ketukan pintu, ia semakin panik, pipinya sudah basah dengan air mata. Ketukan pintu itu semakin keras.


"Ya Allah, orang itu memanjat pagar," gumam Dina.


"Dina...Dina...Kamu di dalam?" tanya suara di balik pintu.


Dina mengenali suara tersebut, dia memberanikan diri untuk mengintip dari celah jendela. Setelah dia yakin barulah Dina membukakan pintunya.


"Billi...kamu jahat, kenapa tidak membalas pesan WA ku," Dina langsung menangis di pelukan Billi.

__ADS_1


"Maafkan aku, ketika kamu WA aku. Saat itu aku sedang rapat jadi aku tidak memegang handphone. Aku membaca pesanmu ketika selesai rapat dan aku langsung ke Bandung untuk melihat keadaanmu," ucap Billi.


"Aku sangat takut," Dina nangis terisak.


Billi menyentuh pipi Dina dengan kedua tangannya.


"Jangan takut, sekarang ada aku. Kita masuk dulu yah," ajak Billi.


Dina dan Billi masuk kedalam rumah.


"Aku sangat takut, peneror itu sampai mengikutiku sampai aku ke sini," tutur Dina.


"Tenangkan dirimu, ini tubuhmu masih gemetar," ucap Billi mencoba menenangkan Dina.


"Aku gak bisa tenang, sebelum aku tahu peneror itu siapa," ucap Dina.


"Peneror itu selalu menganti-ganti nomor. Aku tidak bisa melacaknya," ucap Billi.


"Jika kamu tidak ada bagaimana? kamu gak mungkin bersamaku terus, karena kamu harus bekerja," ucap Dina.


"Nanti orang-orangku akan mengikuti kamu kemanapun kamu pergi," ucap Billi.


Billi memeluk Dina sambil menepuk-nepuk punggung Dina agar dia tenang.


Dedd Dedd


handphone Dina bergetar, dia mendapatkan pesan WA misterius kembali.


'Hai cantik, jangan kira aku akan takut karena kekasihmu sudah ada di sisimu sekarang. Kamu hanya milikku!'


Dina memberikan Handphonenya kepada Billi.


"Bagaimana aku bisa tenang?" tanya Dina.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga.


Mampir juga di novelku yang lain



Salah Lamar


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)


__ADS_1


Love you semua


__ADS_2