
Dina mendengarkan ijab qobul Billi yang sangat lancar. Air matanya menetes, Bilah memeluk Dina.
"Dina jangan nangis, make up nya nanti rusak. Selamat yah loe sudah menjadi seorang istri. Akhirnya sah jadi istri Billi," ucap Bilah.
"Gue deg-degan Bil," Dina menggenggam tangan Bilah.
"Jangan gugup Din, ayo temui Billi suami loe," ajak Bilah.
Bilah menjadi pengiring pengantin wanita, ia memegang tangan Dina untuk menemui Billi yang sudah menunggu.
Dina sangat cantik berbusana pengantin berwarna putih. Bilah pun tidak kalah cantik, mereka berjalan beriringan. Bagas yang melihat Bilah, ia sangat terpesona dengan kecantikan Bilah.
Bilah menyerahkan Dina ke tangan Billi, kini Billi menyematkan cincin pernikahan. Dina mencium punggung tangan Billi kemudian Billi mengecup kening Dina.
Setelah menikah, resepsi langsung di gelar. Para undangan sudah berdatangan. Bilah yang melihat kedua sahabatnya dalam pelaminan sangat terlihat bahagia.
"Nanti kamu mau resepsi pernikahan yang seperti apa?" bisik Bagas.
Bilah terkejut karena Bagas tiba-tiba ada di dekatnya dan langsung membisikkan gaya resepsi yang Bilah mau.
"Astagfirullah Mas, kamu kagetin aku aja," protes Bilah.
"Hehe maaf yah, buat kamu terkejut. Kamu cantik hari ini, ketika kamu mendampingi Dina. Aku langsung terpesona melihat kamu," ucap Bagas.
"Wah, Gus Bagas sudah berani gombal sama menatap aku yah. Belum halal loh Mas," ucap Bilah.
"Aku manusia biasa yang selalu membuat khilaf, jika Allah mengizinkan masa iddah di ringkas akan aku nikahi kamu hari ini, bareng sama Dina. Jadi aku tidak zina terus. Zina mata, zina hati, zina otak karena selalu terbayang wajahmu. Kamu sudah mencemari aku. Dari atas kepala sampai ujung kaki," ucap Bagas.
"Aku baru tahu loh, seorang Gus itu bisa lebai," ucap Bilah.
"hehehe sudah ah, mending Foto dengan Dina dan Billi yuk, mumpung sepi," ajak Bagas.
Bilah dan Bagas menghampiri sepasang pengantin.
"Hai sahabat gue yang udah jadi sepasang suami istri, selamat yah...buat anak yang banyak. Biar rumah kalian ramai," ucap Bilah.
"Emang gue kucing, suruh lahiran anak terus," ucap Dina.
"hehe, foto yuk. Gue sama Mas Bagas ke sini mau foto," pinta Bilah.
Mereka berempat berfoto bersama.
"Din, kado gue bukanya pas malam pertama yah. Spesial gue kasih buat loe, di pakai awas kalau gak. Gue jaman Billi pasti terima kasih sama kado gue," bisik Bilah.
"Isinya apa Bil?" tanya Dina.
"Kalau gue kasih tahu, gak jadi kejutan dong," ucap Bilah.
Tamu mulai banyak berdatangan, Ayah Billi mengundang rekan bisnisnya. Apalagi Billi merupakan CEO yang pengganti Ayahnya.
Billi melihat, Dina sudah lelah karena 3 jam berdiri dan tamu tidak berhenti-henti berdatangan.
__ADS_1
"Kamu pegal yah? sabar yah sebentar lagi selesai," bisik Billi di telinga Dina.
Dina hanya menganggukan kepalanya.
Setelah 4 jam berdiri akhirnya acara resepsi sudah selesai diselenggarakan.
"Billi, Dina, gue balik yah sama Mas Bagas. Selamat menempuh hidup baru," ucap Bilah.
"Semoga cepat dapat momongan yah," ucap Bagas.
Semua acara sudah selesai, kedua orang tua merekapun sudah pulang dengan mobil masing-masing. Kini Dina dan Billi memasuki mobil pengantin mereka, menyusuri kota Jakarta menuju hotel bintang 5.
Billi menggandeng tangan Dina, mereka memasuki kamar hotel yang sudah di booking.
Rasa gugup Dina ketika kini hanya berduaan dengan Billi.
"Aku duluan atau kamu duluan yang mau mandi?" tanya Billi.
"Aku duluan deh," jawab Dina.
Dina mandi membersihkan dirinya, tubuhnya terasa pegal. Berendam dengan air hangat tubuhnya terasa sangat releks. Memikirkan malam pertama dengan Billi sangatlah gugup. Sahabat berubah menjadi suaminya sekarang, tempat curhat berubah menjadi tempat sandaran.
Terasa sangat gugup memikirkan jika Billi menyentuhnya. Dina menggelengkan kepalanya agar tidak berpikir yang engak-enggak.
Tok tok tok
"Sayang, kamu tidak apa-apa di dalam? sudah 45 menit loh kamu di dalam," ucap Billi.
"Iya sebentar lagi," teriak Dina.
Dina langsung memakai kimono dan melangkah ke luar.
"Maaf, lama yah?" tanya Dina.
"Gak apa-apa, aku mandi dulu yah," Billi mengelus wajah Dina, membuat jantung Dina berdenyut sangat cepat.
'Yah Allah, jantungku terasa mau copot. Baru pipiku yang di elus,' batin Dina.
Ketika Billi sedang membersihkan tubuhnya, Dina membuka kado dari Bilah. Pas Dina buka, matanya membulat.
"Dasar sahabat gak ada adab, gue di suruh pakai saringan kopi. Baju tipis seperti ini di suruh pakai," gumam Dina.
Dina melihat ada secarik kertas yang berupa pesan dari Bilah.
...'Din, pakai yah. Puasin suami dapat pahala loh plus bakalan tambah sayang. Bikin Billi puas dengan memakai ini. Oke, sukses buat malam pertama loe. Gue doain langsung jadi adonannya....
"Astagfirullah, Bilah benar-benar. Adonan, emang gue bikin kue sama Billi. Sahabat gak ada Adab," gumam Dina.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Billi hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya. Dina melihat tubuh atletis Billi dengan perut kotak-kotak dan dada berotot. Rambutnya masih basah menetes ke pipinya. Dina menelan salivanya ketika menatap tubuh Billi dan langsung memalingkan pandangannya karena malu.
__ADS_1
Sebelum Billi keluar dari kamar mandi, Dina sudah memakai kado pemberian Bilah yaitu baju saringan kopi berwarna merah cabai.
Billi duduk di samping Dina, mereka duduk di pinggir ranjang. Mereka saling terasa gugup satu sama lain. Sangat kikuk karena masih terasa malu. Tak sengaja mereka melirik secara bersamaan membuat mata mereka saling bertemu. Tak ada kata-kata apapun, Billi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Dina. Billi melihat bibir Dina yang sangat menggoda, Dina paham apa yang Billi pikirkan. Ia langsung memejamkan mata, terasa bibir Billi mulai mencium kening Dina, kedua pipi Dina, hidung mancung Dina dan mendarat di bibir Dina.
Awal hanya kecupan lalu Billi mulai memainkan bibir Dina. Dina sudah pasrah, biarlah Billi yang menjadi nahkodanya di perahu yang mereka berdua tumpangi ini. Billi mulai mengesap bibir Dina, menjelajahi setiap inci rongga Dina. Ciuman itu menjadi semakin dalam membuat Dina mengalungkan tangannya ke leher Billi dan membalas permainan bibir Billi. Dina baru merasakan ciuman dengan hasrat halalnya, awalnya ada kecanggungan tapi kini kecanggungan sudah tidak ada. 10 menit berciuman membuat nafas mereka tersenggal-senggal. Billi melepas ciumannya untuk mengambil oksigen. Mereka menyatukan dahi mereka. Billi tersenyum menatap Dina.
"Kamu menikmatinya?" tanya Billi.
"Iya," jawab Dina dengan wajah yang sudah memerah.
"Kamu cantik sayang, beruntung aku memilikimu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak pernah mencintai perempuan lain selain dirimu. Kamulah wanita satu-satunya yang aku sangat cintai. Terima kasih sudah menjadi istriku," ucap Billi.
"Akupun sangat beruntung memilikimu, CEO tampanku." Dina membelai Dada Billi dengan jari-jari lentiknya,lalu ke perut kotak-kotak Billi. Membuat sang empunya berdesir seluruh tubuhnya.
"Ah kamu membangunkan gairahku, teruslah sayang. Elus yang kamu mau elus dengan jari-jarimu karena aku sangat menikmati sentuhanmu," ucap Billi sambil memandang wajah Dina.
Dina menggigit bibir bawahnya, membuat Billi yang melihatnya tidak kuat untuk menahan untuk tidak mencium bibir Dina. Ia langsung sesap dan melummat bibir Dina dengan hasrat yang menggebu-gebu di tambah Dina masih mengelus perut Billi membuat gairah Billi semakin meningkat.
Bagaimana??? lanjut???
Bersambung aja ah hihi
***
Promosi novel lainku.
Retak Akad Cinta
Hari ini, tanggal 25 oktober setelah suamiku pulang dari tugas keluar kota, di malam hari. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, suamiku sedang bercumbu dengan Bu Sukma di dalam mobilnya. Mereka tidak sadar ada sepasang mata sedang melihat kelakuan bejat mereka di dalam mobil. Bu Sukma seakan menikmati cumbuan dan belaian dari suamiku. Suamiku menciumi seluruh wajah Bu Sukma dengan nafsu, tangannya bermain-main di area tubuh Bu Sukma. Ciuman panas mereka mengakibatkan mobil bergoyang,jika aku tidak memergoki mereka mungkin mereka akan melakukan selayaknya sepasang suami istri.
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
fb @Farida (R)
ig @kak_farida
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua