
Kulihat kegelapan ketika aku terbangun, cahaya yang biasa aku lihat kini hanya gelap. Aku bertanya di dalam hatiku, kenapa seluruhnya gelap? bukankah seharusnya ada sebuah cahaya? tapi ini terasa sangat gelap. Gelap dan pekat, aku menggerakkan jemariku, terasa ada tangan seseorang yang menggenggam tanganku.
Tangan yang menggenggam tanganku bergerak, mengelus-elus tanganku. Ah aku tahu ini tangan suamiku, Gus Bagas.
Aku memanggil suamiku, tenggorokanku terasa kering. Aku ingin menanyakan sesuatu tapi suaraku tak keluar. Mas Bagas paham aku membutuhkan air, dia memberiku air di sebuah botol, air mineral dengan sedotan. Ia mendekati sedotan ke mulutku, lalu aku minum air mineral tersebut terasa segar aliran tenggorokanku.
"Alhamdulillah sayang, kamu sudah sadar," ucap mas Bagas.
"Mas, tolong nyalakan lampunya kok gelap?" tanyaku.
Mas Bagas tidak membalas ucapanku, dia malah terdiam. Padahal suaraku jelas menyuruh dia untuk menghidupkan lampu.
"Sayang dua hari yang lalu kamu dioperasi, ada pendarahan di otakmu. Alhamdulillah operasinya sukses," ucap Mas Bagas
"Iya Mas operasinya di kepala, dan mataku tidak apa-apa 'kan?" Aku meraba di bagian mataku, aku bingung kedua mataku diperban. Apa maksudnya ini? apakah aku tidak bisa melihat lagi? apakah aku buta? aku cacat?
"Bilah sayang, kamu akan bisa melihat lagi. Kamu harus sabar, kamu harus ikhlas dengan apa yang Allah kasih kepadamu. Aku sangat bersyukur kamu tidak meninggalkanku. Jika kamu meninggalkanku, aku akan memangku kepala siapa lagi? biasanya kan kamu suka kepalamu diletakkan di pahaku, pahaku hanya untuk memanggku kepalamu," ucap mas Bagas.
Aku meremas sprei rumah sakit, aku paham maksud dari Mas Bagas. Aku buta, aku tidak bisa melihat cahaya dunia, lalu bagaimana aku bisa bermain dengan putri kecilku? sedangkan aku saja buta.
Hari ini aku merasakan menjadi manusia yang tak berguna. Bagaimana aku bisa menjalani hidup ini dengan kegelapan? biasanya aku dapat melihat cahaya, ya Allah... apakah aku harus menerima takdirku ini? tapi aku tidak bisa melihat, betapa berat untuk menerima ini. Enggan aku berbicara lagi, aku hanya terdiam tidak mau berbicara satu kata pun.
"Sayang apa yang kamu rasakan? kamu mau makan sesuatu?? tanya mas Bagas. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
Mas Bagas tampak cemas, dia langsung memanggil dokter dan juga menghubungi kedua orang tuaku. Ternyata mertuaku juga datang. Aku hanya bisa mengenali mereka dari suaranya. Mereka peduli denganku, menjengukku, apa salahku sampai aku tak bisa melihat seperti ini?
__ADS_1
"Bilah loe bisa dengar suara gue kan? kasih tau gue apa yang sakit? masih pusing nggak kepalanya?" tanya Dina.
"Kepala gue masih pusing Din, jadi biarkan gue sendirian. Tolong gue Din agar yang ada di dalam ruangan ini, bisa keluar. Banyak orang juga percuma kok, gue nggak bisa lihat Din. Bisa bilang sama mereka? dan tolong bilang permintaan minta maaf kepada orang tua gue dan mertua gue," ucapku.
Aku mendengar Dina menghala nafasnya l, aku tahu dia sangat khawatir kepadaku, tapi bagiku ini sangat berat sekali.
"Oke gue keluar, tapi Gus tetap di sini," ucap Dina.
"Nggak Din, suruh mas Bagas dibawa keluar juga," pintaku.
"Nggak bisa begitu Bilah, suami loe harus ada di samping loe untuk jaga loe," ucap Dina.
"Gue sudah buta Din, gua udah nggak sempurna. Gue nggak pantas mendampingi Mas Bagas lagi. Jelasin kornea mata gue separah apa? tolong jujur!" ucap Dina.
"Siapa yang mau donor? orang yang sudah meninggal? atau orang yang masih hidup? nggak mungkin orang yang masih hidup Din, mau mendonorkan kornea mata. Memang dia mau buta? susah juga mencari donor kornea mata, gue akan seumur hidup Din, melihat dalam Kegelapan seperti ini," ucapku.
Aku menjadi histeris, aku berteriak agar semuanya keluar dari ruangan. Sungguh hatiku merasa kacau dengan kebutaan ku ini. Aku sudah tidak bisa melihat lagi, duniaku sekarang sudah merasa gelap. Mas Bagas terus membujukku agar menerima kenyataan ini. Ia terus menggenggam tanganku, ia berjanji akan menemukan donor kornea mata untukku, tapi aku berpikir realistis. Mana ada seseorang yang mau mendonorkan kornea mata untukku? jika pun ada aku harus menunggu dan aku tidak tahu kapan untuk mendapatkan kornea mata tersebut.
Aku tahu kenyataannya, karena aku pernah baca. Jumlah penderita kebutaan kornea di Indonesia tidak sebanding dengan jaringan kornea yang tersedia Indonesia. Indonesia itu masih bergantung kepada negara lain untuk menyediakan kornea mata yang dibutuhkan untuk cangkok, dan donor kornea hanya bisa didapat dari calon pendonor yang sudah meninggal dunia.
"Pergi...dari ruangan ini." Aku berteriak histeris, dengan memegang kepalaku yang terasa sangat sakit.
"Bilah...loe Kenapa?" tanya Dina.
"Kepala gue sakit Din, sakit banget," rintihku.
__ADS_1
Dina menyuruh semua orang di ruangan itu keluar, sahabatku ingin memeriksaku. Kepala ini seperti ingin pecah. Aku tahu mamahku menangis melihat keadaanku ini, karena aku mendengar suara tangisannya.
" Bilah...tarik nafas....keluarkan perlahan. Loe jangan banyak berpikir terlebih dahulu. Bukankah loe sering nasehatin gue agar menerima takdir. Ini takdir loe Bil, loe mau di angkat derajatnya sama Allah...Insha Allah. Loe harus kuat, loe harus iklas. Percaya sama gue, gue akan mencari donor kornea buat loe. Gue bertanya di rumah sakit Jepang juga karena gue punya koneksi di sana." Dina berusaha untuk menenangkanku. Sepertinya Dina memberikan suntikan di selang infusanku.
Terngiang di telingaku suara tangisan Heewa, putri kecilku. Aku sangat beruntung mempunyai Heelwa, aku rindu untuk menciumnya, rindu untuk memeluknya karena aku mendapatkan putri kecilku itu setelah 8 tahun aku menikah, aku sangat rindu dia.
'Heelwa sayang, maafkan Mamah. Mama tidak bisa bermain denganmu lagi, Mamah sudah buta sayang, dunia Mamah sekarang sudah gelap. Mamah tidak bisa melihat wajahmu lagi, sungguh Mamah minta maaf,' ucap batinku.
Mas Bagas menuntun langkahku, jalan pun jika Mas Bagas tidak menuntunku...aku tak bisa kemana-mana. Jika aku ingin ke toilet. Aku harus mencari suamiku aku sungguh tak berguna.
"Mas, jika Mas ingin menikah lagi. Silahkan, aku izinkan kamu," ucapku penuh putus asa.
"Apa yang kamu ucapkan? aku tidak akan menikah lagi dengan perempuan manapun. Istriku hanya kamu, Nabilah Syaqilah Aini," ucap mas Bagas.
"Aku tak berguna Mas, aku tidak bisa melayanimu lagi. Tidak bisa memasak makanan untukmu lagi," ucapku.
"Siapa bilang kamu tidak berguna. Kamu sangat berguna karena kamu membantu hatiku yang kosong. Kamu berguna bagiku, karena kamu istriku yang selalu bergantung pada suamimu ini. Jika kamu tidak bergantung padaku maka akulah yang tidak berguna," ucap mas Bagas.
Mas Bagas memelukku dengan sangat erat. Aku merasakan kehangatan cintanya, ya... Allah aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti dia, walaupun mataku sekarang buta tapi dia tidak meninggalkanku.
Hai reader semoga hari kalian tambah sukses dan bersemangat. Maaf aku ingin cerita sedikit. Rating novel ini turun dari 5 menjadi 4,8 itu karena ada 2 orang yang sengaja menilai novel ini dengan bintang 2 dan bintang 3, itu sangat berpengaruh bagiku bagi semangatku. Karena jujur aku membuat novel sampai jam tidurku berkurang. Setiap hari aku hanya tidur 3 jam demi kalian para penggemar membaca di noveltoon. Baca di NT gratis, aku juga dapatnya uangnya sedikit. Ini hanya hobiku saja untuk menulis sebuah novel dan berbagi informasi atau tentang agama yang aku tahu dari ketiga novelku yang masih on going di noveltoon. Alangkah bijaknya jika tidak suka dengan novelku, jangan tinggalkan jejak bintang cukup jangan baca saja, aku minta maaf jika ada salah-salah kata di dalam tulisanku.
Salam sayang dariku.
Bersambung
__ADS_1