5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Pulang Kampung ke Turki


__ADS_3

Bilah mengikuti Dina dari belakang. Dina masuk ke toilet khusus karyawan dan mengunci pintu, Bilah mendengar suara tangisan Dina.


Bilah mengetuk pintu toilet.


"Dina, ini gue. Ada apa? kenapa nangis? cerita sama gue," ucap Bilah


Dina tidak menjawab pertanyaan Bilah, dia terus saja menangis.


"Din, please buka pintunya. Gue 'kan sahabat loe tempat cerita senang ataupun sedih. Jangan mengurung diri seperti ini," ucap Bilah dengan suara lembut.


Dina membuka pintu toilet yang dia gunakan. Ia langsung memeluk Bilah. Bilah menenangkan Dina dengan cara menepuk-nepuk pundaknya.


"Ada apa? cerita ke gue," tanya Bilah.


"Billi has kissed me, that's my first kiss," ucap Dina.


"Kapan?" tanya Bilah.


"Sebelum loe datang. Gue seperti perempuan yang gak benar mau aja di cium sama dia," ucap Dina.


"Gak boleh bilang seperti itu, gue tahu banget seperti apa loe ngejaga diri loe sendiri," ucap Bilah.


"Sekarang ikut gue, menyelesaikan masalah sama Billi. Dia juga harus tahu loe," sambung Bilah.


Bilah menggandeng tangan Dina, tapi gandengan tangan Bilah dilepaskan.


"Din..." panggil Bilah sambil menggandeng tangan Dina kembali.


Dina dan Bilah kini berjalan menuju kamar rawat Billi, mereka masuk ke dalam. Terlihat Bagas sedang berbincang dengan Billi. Ketika pintu terbuka, pandangan mata Billi dan Bagas tertuju di mulut pintu. Bagas langsung berdiri dan mempersilahkan Dina untuk duduk di bangku yang Bagas duduki sebelumnya.


"Duduk Din," ucap Bagas.


Dina duduk di bangku tapi dia menggeser posisi bangku agar tidak dekat dengan Billi.


"Billi, kenapa loe memperlakukan Dina seperti itu? dia bukan perempuan sembarangan, loe hina dia artinya loe hina gue juga. Dina memang cinta sama loe, bukan berarti loe bisa kiss dia sembarangan," ucap Bilah sangat marah.


Bagas yang mendengar Bilah marah karena membela sahabatnya hanya diam saja, dia tidak enak mendengar percakapan antara ketiga persahabatan, ketika Bagas hendak keluar, Bilah mencegahnya.


"Gus, aku mohon tetap di sini. Ada yang mau aku sampaikan," pinta Bilah.


Bilah kembali menatap Billi.


"Aku minta maaf Dina, karena suasana aku mencium kamu," ucap Billi.


Dina hanya diam dan menundukkan kepala.


"Apa loe bilang Billi, karena suasana? kalau Dina ikut nafsu, loe bebas gitu pegang-pegang Dina sebelum nikah? otak ngeres loe ketularan dari mana?" Bilah emosi.


Billi terdiam, dia memang merasa bersalah karena mencium Dina.


"Aku mau nikahi Dina, besok juga aku siap. Nanti aku minta bantuan Papah. Agar aku besok bisa nikahi Dina," ucap Billi.


"Otak loe koslet Billi? memang Dina itu gak punya orang tua? memang mereka rela melepaskan anak perempuannya yang menikah di rumah sakit? mereka rela anak perempuannya merawat loe sehabis nikah bukannya adain resepsi pernikahan. Loe hanya pikir ego loe doang. Din, gak usah sama Billi cari aja laki-laki yang lain. Sama dokter Zidan aja, waktu loe putusin dokter Zidan buat Billi 'kan, dia berkata kalau loe di sakitin, dia terima loe dan langsung mau nikahin loe," ucap Bilah.


Mata Dina membulat mendengar ucapan Bilah.


"Bilah..." panggil Dina.


"Kenapa Din? Mau cegah gue mengatakan ini," ucap Bilah.


"Asal loe tahu yah Billi, bukan hanya loe yang suka sama Dina. Tapi masih banyak cowo-cowo yang antri mau sama Dina. Sahabat gue ini, cerdas, cantik, mandiri dan seorang dokter," sambung Bilah.

__ADS_1


"Dina, aku benar-benar minta maaf, maafkan aku. Aku sangat menyesal. Kamu pernah ada hubungan dengan dokter Zidan? tampan yah dia, gak seperti aku banci dan buat kamu nangis," ucap Billi lirih.


"Dih, loe ngaku banci Billi? ngomong gitu sama Dina. Minta maaf tapi jatuhkan diri sendiri," ucap Bilah.


"Terus aku harus bagaimana minta maaf ke Dina? dari tadi kamu mojokin aku terus. Memang aku gak cemburu apa, Dina pernah ada hubungan dengan dokter Zidan," ucap Billi kesal.


"Yah yang tulus minta maafnya, pikirin sendiri. Loe yang cari masalah bikin sahabat gue nangis," ucap Bilah.


Billi terdiam, dan melirik Dina yang masih menundukkan wajahnya dan terlihat ada raut kekecewaan.


"Gus, maaf kamu dengar aku ngomel-ngomel. Cerewet yah aku? aku mau mengatakan sesuatu sama kamu. Minggu depan aku akan ke turki. Aku akan kembali ketika masa iddahku selesai," ucap Bilah.


"Haruskah kamu pergi ke Turki? tidak menunggu di Indonesia saja?" tanya Bagas.


"Kalau aku di Indonesia, kebanyakan mudaratnya. Karena 2 bulan itu waktu yang lama jika seseorang sudah di khitbah. Rasanya ingin bertemu terus. Itu 'kan yang kamu rasakan terhadapku Gus? mau selalu melihat aku terus? mau dekat aku terus?" tanya Bilah penuh percaya diri.


"Dih, percaya diri banget loe Bil," celetuk Dina.


Bagas terdiam, apa yang Bilah ucapkan memang benar. Dia selalu ingin melihat Bilah, mendengar suara Bilah. Walaupun dia menahan rasa itu, tapi kadang dia berkunjung hanya untuk melihat Bilah langsung.


"Gus Bagas," panggil Bilah, sambil menatap Bagas.


Bagas menatap Bilah, ia menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Baiklah," jawab Bagas, dengan berat hati.


"Percayalah, aku akan kembali ke Indonesia dan langsung menikah denganmu. Ummi sudah menyematkan cincin ini di jari manisku. Kamu sudah ikat aku," ucap Bilah, untuk meyakinkan Bagas.


'Aku akan sangat merindukanmu Nabilah Syaqilah Aini,' batin Bagas.


"Din, mau ikut gue, ke Turki?" tanya Bilah.


"Ngapain gue di sana Bil?" tanya Dina.


"Kerjaan gue Bil? gue harus kerja," ucap Dina.


"Cuti say...jadi gak sampai 2 bulan juga ikut gue. Yah 1 minggu di Turki, gue akan ajak loe keliling," usul Bilah.


Dina berpikir-pikir, akhirnya dia mau ikut Bilah.


"Iya, gue mau ikut loe," ucap Dina.


Billi hanya terdiam, baru saja dia merasakan bahagia yang sangat luar biasa karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi 1 minggu lagi, Dina akan liburan bersama Bilah ke Turki.


"Kenapa loe Billi lihat gue kaya gitu, marah? gue ajak Dina ke Turki," ucap Bilah sinis.


"Gak Bil, kalau Dina senang buat liburan sama loe. Gue juga ikut senang," jawab Billi lesu.


"Berat tuh di tinggal Dina, baru jadian. Eh di tinggal Dina hehe," ledek Bilah.


"Bilah..." Dina mencubit pinggang Bilah.


"Au... loe gak berubah, tangan loe kaya Mr Creab, capit-capit pinggang gue," ucap Bilah.


"Loe, gak malu sama Gus Bagas," tanya Dina.


"Gue gak mau jaim-jaim, biar Gus tahu gue apa adanya," ucap Bilah, sambil melirik ke Gus lalu memberikan senyuman.


'Ah kamu Bilah, senyum terus ke aku. Senyum kamu ini yang bikin aku gak konsen,' batin Bagas.


"Dina, kamu mau memaafkan aku?" tanya Billi.

__ADS_1


"Iya," jawab singkat Dina.


"Ya ampun, irit banget jawaban kamu Din," ucap Billi.


"Din, gue mau ke hotel. Loe mau ikut gak?" tanya Bilah.


"Gak Bil, ada yang gue mau omongin sama Billi," ucap Dina.


"Yah udah nanti langsung ke hotel, jangan tidur di rumah sakit. Jaga kesehatan loe," nasehat Bilah.


Dina menganggukan kepalanya. Setelah itu Bilah dan Bagas pamit untuk pergi. Kini hanya mereka berdua di ruang rawat inap.


"Dina, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kamu masih marah," ucap Bilah.


"Billi, jujur aku kecewa dengan diriku juga. Kenapa aku tidak menolakmu, aku baru merasakan sentuhan antar bibir," ucap Dina.


"Aku benar-benar minta maaf," ucap Billi.


"Lupakanlah, akupun salah. Jika kita sudah menikah, kamu boleh menyentuhku dimanapun kamu mau, tapi untuk sekarang belum saatnya," ucap Dina.


"Dina, aku baru merasakan kebahagian. Bisakah kamu tidak ikut Bilah ke Turki?" tanya Billi.


"Aku butuh liburan," ucap Dina.


"Kita akan berlibur bersama," ucap Billi.


"Engga, bahaya kalau liburan sama kamu," sanggah Dina.


"Aku gak kuat kalau kangen kamu," ucap Billi.


"Kalau kangen artinya kamu benar-benar cinta aku. Aku ke hotel dulu yah, Papahmu sudah datang sepertinya," ucap Dina.


"Dina...sayang," ucap rayu Billi.


Dina memberhentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya.


"Tadi kamu manggil aku apa?" tanya Dina.


"Dina...sayang," ucap Billi kembali.


Dina tersenyum kepada Billi, "Terima kasih memanggilku sayang, aku sangat suka itu. Tapi aku akan tetap liburan bersama Bilah," ucap Dina, lalu ia melangkahkan kakinya untuk keluar.


"Haha Dina butuh liburan Billi sama Bilah, mereka lelah dengan urusan laki-laki. Biarkan mereka liburan di kampungnya Bilah. Kalau jodoh gak bakalan Hilang," pesan Author.



Pasangan baru jadian nih.


Billi keturunan Jepang. Mamahnya yang bernama Yura asli dari Jepang, Papahnya dari Indonesia.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga. Ingat sabtu ada GA, stay tune selalu yah.


Mampir juga di novelku yang lain


Salah Lamar

__ADS_1


Love you semua


__ADS_2