
"Ternyata kamu sama saja dengan pria yang lainnya," ucap Bilah.
"Sayang, jaga ucapanmu aku suamimu," ucap Bagas.
Bilah menatap Bagas dengan tatapan yang tajam.
"Apa katamu Mas? jaga ucapanku? kamu saja tidak menjaga kelakuanmu. Ning Haya itu bukan mahrammu, kenapa kamu tidak menjaga adabmu?" ucap Bilah.
"Ning Haya itu datang ke kelasku. Tapi tiba-tiba dia itu jatuh pingsan, aku refleks untuk membantu dia, itu aja sayang kenapa kamu harus salah paham. Aku tak berniat apa-apa. Aku hanya ingin membantu dia," ucap Bagas.
"Gus Bagas kamu itu terlalu pintar. Mana ada orang sehat datang tiba-tiba langsung pingsan, kamu itu telah dibodohi agar kamu menolong dia. Coba kamu pikirkan lagi," ucap Bilah.
Bagas mencerna apa yang Bilah katakan memang benar sepertinya ia telah dibodohi.
"Maaf... maafkan aku sayang, tolong maafkan atas kebodohanku. Aku sangat cinta kepadamu," ucap Bagas.
"Aku sedang mau sendiri Mas, tolong tinggalkan aku," pinta Bilah.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, sebelum kamu memberi maaf kepadaku," ucap Bagas.
"Jika kamu tidak mau meninggalkan aku, biar aku yang akan keluar," ucap Bilah.
Bilah melangkahkan kakinya menuju pintu, ia memegang handle pintu hendak ingin keluar tetapi tangannya dicekal oleh Bagas. Bagas langsung membalikan tubuh Bilah lalu memeluknya dengan erat.
"Aku lelah Mas... aku lelah...," ucap Bilah sangat lirih.
Bagas merasakan tubuh Bilah lemas, ia melepas pelukannya. Dan menatap wajah Bilah. Wajah Bilah tampak pucat.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Bagas.
"Aku lelah dibohongi, aku lelah di dikhianati, sungguh aku lelah," ucap Bilah dengan wajah yang pucat.
Setelah mengucapkan itu, Bilah jatuh pingsan.
"Sayang...ya Allah, kamu kenapa?" Bagas menepuk-nepuk pipi Bilah.
Bagas langsung menggendong Bilah dan ia berlari membuka pintu.
"Ya Allah...Bilah kenapa Bagas?" tanya Sarah.
"Gak tahu Mah, Bilah tiba-tiba jatuh pingsan, Bagas bawa Bilah ke rumah sakit dulu Mah," ucap Bagas.
"Mamah dan Ayah ikut," ucap kedua orang tua Bilah.
"Biar Ayah yang menyetir, kamu duduk di belakang jaga Bilah," ucap Afnan.
"Baik Ayah," ucap Bagas.
Kini Bilah ada di dalam mobil, Bagas menangis sepanjang jalan. Karena dirinya Bilah jatuh pingsan.
Banyak pikiran yang menjadi beban untuk Bilah. Dia baru iklas melepas kepergian anak pertamanya. Rasanya berat menunggu 5 tahun, pas dia hamil langsung keguguran. Ditambah lagi melihat Bagas menggendong wanita yang sangat Bilah cemburui, terasa sakit hatinya. Perasaannya seakan terombang ambing.
Bagas mengelus pipi Bilah penuh dengan kasih sayang.
'Tolong maafkan aku sayang, aku memang bodoh. Tolong jangan seperti ini, hukumlah aku, caci makilah aku, aku sangat mencintaimu,' ucap batin Bagas.
Bilah terlihat sangat lemas, wajah kulitnya tampak pucat, bibir yang biasanya merah merekah kini warnanya pun tampak pucat, Bagas memandangi wajah Bilah, sesekali dia memeluk dan mengecup kening Bilah.
Sesampainya Bilah di rumah sakit, ia langsung dimasukan ke UGD.
"Tolong tunggu di luar yah Pak, biar kami memeriksa terlebih dahulu," ucap Dokter.
Bagas dan kedua orang tua Bilah menunggu di luar dengan penuh kegelisahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? apa kalian bertengkar? tanya Sarah kepada Bagas.
__ADS_1
"Maafkan aku Mah, kemarin Bilah lihat aku gendong Ning Haya ketika dia pingsan. Bilah marah karena hal itu merasa bahwa aku telah menghianati pernikahan kita. Aku tak berniat seperti itu, aku hanya refleks untuk menggendong Ning Haya karena secara tiba-tiba ia pingsan dihadapanku," ucap Bagas dengan jujur.
"Astagfirullah, hati Bilah sudah trauma dengan penghianatan. Ketika menerima cinta kamu, dia merasa takut jika nanti kamu sama seperti Ranu, menghianati pernikahan kalian," ucap Sarah, yang tampak cepas di raut wajahnya.
Tidak lama dokter keluar, Bagas langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana istri saya Dok?" tanya Bagas.
"Tolong jaga istri Bapak, jangan membuat istri Bapak stress, karena akan membahayakan kandungannya. Selamat istri Bapak sedang hamil. Pasien sudah sadar, ia hanya ingin bertemu dengan Mamahnya," ucap Dokter.
Bagas langsung sujud syukur atas kehamilan Bilah.
Bagas ingin masuk tapi ditahan oleh Afnan.
"Jangan masuk dulu, biarkan Bilah tenangkan dulu pikirannya agar ia tidak stress," ucap Afnan.
"Biar Mamah saja yang melihat kondisi Bilah, kamu tenang lah," ujar Sarah.
Sarah masuk ke ruang UGD untuk melihat Bilah.
"Bilah..." Sarah memanggil.
Bilah menengok ke arah pintu dan ia tersenyum melihat Sarah.
"Mamah..." ucap Bilah.
Sarah langsung membelai kepala Bilah dan mengecup dahinya.
"Selamat sayang, apa yang kamu inginkan setelah keguguran 4 bulan yang lalu. Kini kamu hamil lagi, jaga kesehatan yah, jangan terlalu stress. Apa perusahaan biar ayah dulu yang urus?" saran Sarah.
"Jangan Mah, gak apa-apa. Aku akan berhati-hati untuk kehamilan aku kali ini. Bekerja malah buat aku gak stress Mah," ucap Bilah.
"Kamu inginkan sesuatu?" tanya Sarah.
"Aku lapar Mah dan ingin sekali minum jus alpukat," ucap Bilah.
"Mamah tadi di rumah sudah matang belum masakannya, aku ingin masakan Mamah," pinta Bilah.
"Sudah matang sayang, Mamah minta tolong suami kamu dulu untuk mengambil masakan Mamah di rumah yah," ucap Sarah.
"Bisakah suamiku tidak menemui aku terlebih dahulu Mah, aku ingin hatiku tenang dulu. Aku pusing melihat Gus Bagas," ucap Bilah.
"Benarkah kamu tidak mau melihat papah dari anakmu? kemarin kamu bilang gak kuat pisah lama-lama dengan suami kamu," ucap Sarah.
"Itu kemarin Mah, sekarang aku males," ucap Bilah.
"Yah sudah, Mamah akan sampaikan dulu yah," ucap Sarah.
Sarah keluar dari ruang UGD dan berbicara kepada Bagas.
"Mah bagaimana keadaan Bilah? aku boleh masuk?" tanya Bagas.
"Kamu mengalah dulu yah, Bilah tidak mau ketemu kamu," ucap Sarah.
Bagas mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Mamah bisa minta tolong bawakan masakan Mamah ke sini, ada wadah tempat makan di dapur coba kamu cari yah. Bilah sedang ngidam masakan Mamah dan tolong belikan jus alpukat. Anak kamu ingin makan dan minum itu," ucap Sarah.
Wajah Bagas merasa senang, pertama kali permintaan Bilah ketika hamil.
"Bagas ambil Mah sekarang," ucap Bagas.
"Hati-hati di jalan," ucap Sarah.
"Iya Mah," jawab Bagas.
__ADS_1
Bagas langsung bergegas pulang untuk membawa makanan masakan Sarah untuk Bilah. Setelah Bagas pergi, Bilah dipindahkan ke kamar ruang rawat VVIP.
"Sayang selamat yah atas kehamilan kamu," ucap Afnan untuk Bilah.
"Terima kasih Ayah," ucap Bilah.
"Jaga cucu Ayah, kamu jangan stress. Bila butuh bantuan Ayah mengenai kantor Bilang sama Ayah," ucap Afnan.
"Tenang Ayah, sekretarisku bisa diandalkan. Suamiku pulang ke rumah yah Ayah? tolong telepon dia ambil handphoneku juga," ucap Bilah.
Afnan langsung menelepon Bagas.
Bilah menunggu selama 1 jam untuk kedatangan Bagas. Bagas tidak berani masuk ke ruang rawat Bilah.
"Bilah, ini sudah datang makanan dan jus alpukatnya," ucap Sarah.
"Mah, bisa tolong Mas Bagas suruh masuk," pinta Bilah.
"Mamah, semua taro di meja yah. Mamah panggilkan Bagas dulu," ucap Sarah.
Tak lama Bagaspun masuk.
"Sayang..." ucap Bagas.
Bilah melihat Bagas menghampirinya.
"Tolong suapi aku, aku sangat lapar. Kepalaku masih pusing," pinta Bilah.
Bagas duduk di kursi sebelah ranjang, ia membuka tempat bekal dan mulai menyuapi Bilah makan.
"Makan yang banyak agar anak kita sehat," ucap Bagas.
"Hatiku yang gak sehat," ucap Bilah.
"Aku mohon maaf, maafkan atas kebodohanku," ucap Bagas.
"Sudahlah, aku jika ingat yang semalam kepalaku langsung pusing," ucap Bilah sambil mengurut keningnya.
"Biar aku yang pijat keningmu." Bagas ingin menyentuh kening Bilah tapi tangan Bagas langsung di tepis.
"Tidak usah, kamu suapi aku aja," ucap Bilah.
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤