
Dina keluar dari ruang ICU, Rizal sudah berada di pintu depan ruang tersebut.
"Om ini yang tadi aku ceritain ke Om, perempuan yang disukai Billi," ucap Bilah mendadak.
Dina langsung menatap Bilah, dengan mata mereka menggunakan kode yang biasa mereka lakukan.
"Assalamu'alaikum Om, namaku Dina," Dina mencium punggung tangan Rizal.
"Bilah, Billi milihnya pintar yah. Cantik, dokter lagi," ucap Rizal, kepada Bilah.
Dina tersipu malu ketika Rizal mengatakan bahwa dirinya cantik.
"Iya lah Om, sahabatku ini cantik dan pintar sejak SD Om. Om silahkan bisa lihat kondisi Billi di dalam. Aku mau makan dulu sama Dina. Dina dari semalam jagain Billi gak keluar. Belum makan dia Om dari kemarin," ucap Bilah.
"Yah sudah kalian makan saja, Dina jangan sampai sakit, jaga kesehatanmu," ucap Rizal sambil tersenyum menatap Dina.
Rizal masuk ruang ICU untuk melihat putranya yang masih belum sadarkan diri.
"Calon suami loe mana Bil?" tanya Dina.
"Dia ke rumah Mbanya, gue suruh istirahat. Tadi gue lihat wajahnya memar, kena pukul penculik. Gue kan gak bisa kasih obat ke wajahnya secara belum halal," ucap Bilah.
"Loe kenapa terima Gus Bagas Bil? memang loe ada perasaan sama dia?" tanya Dina.
"Gue terima Gus itu jawaban dari doa gue Din, jujur gue belum ada rasa sama dia. Tapi gue percaya seiringnya waktu setelah menikah gue akan jatuh cinta sama dia," ucap Bilah.
"Seyakin itukah loe terhadap Gus Bagas?" tanya Dina kembali.
"Keyakinan itu di hati Din, gue lihat ketulusannya dan ketidak ada keraguan ketika melamar gue, belum kenal gue secara mendalam tapi dia sudah berani melamar gue seletah 2 hari gue resmi bercerai, dan status gue janda bukan gadis. sedangkan dia masih perjaka, kemarin dia pas datang selamatkan kita dari penculikan, gue lihat dari raut wajahnya penuh dengan kecemasan, itu artinya dia benar-benar cinta gue," ucap Bilah.
"Tapi 'kan, gue tahu loe Bil, loe susah untuk jatuh cinta. Terlebih lagi luka hati loe masih basah," ucap Dina.
"Yah jalanin aja deh nanti bagaimananya. Ayo ah makan. Gue dah lapar nih," ajak Bilah.
Mereka pergi ke kantin untuk makan. Di kantin Dina bertemu dengan Zidan. Zidan hanya tersenyum melihat Dina, mereka makan di satu kantin tapi beda meja. Terlihat Zidan yang makan sendirian.
Flash Back
2 hari lalu Dina makan siang bersama Zidan. Zidan begitu perhatian dengan Dina, ketika makan pun Zidan yang menyuapi Dina. Walaupun Dina telah menolak tapi dengan kata-kata Zidan yang begitu lembut di telinga Dina, akhirnya Dina mau disuapi Zidan.
"Kak, aku bisa makan sendiri. Malu dilihat oleh orang-orang," ucap Dina.
__ADS_1
"Gak apa-apa, biarlah aku yang suapi kamu. Moment seperti ini, aku telah menunggu sejak lama. Kamu wanita yang selalu ada dipikiranku sejak 5 tahun yang lalu. Bukalah mulutmu, biar aku suapi kamu," ucap Zidan.
Dengan malu-malu, Dina membuka mulutnya dan Zidan menyuapi Dina penuh dengan senyuman merekah di bibirnya.
Flash Back off
"Din...Dina..." panggil Bilah, sambil menggoyangkan lengan Dina.
"I...iya Bil," jawab Dina.
"Loe lihat senior loe? udah yah jangan merasa bersalah. Baru 2 hari 'kan, soal perasaan itu susah untuk dibohongi," ucap Bilah.
Dina menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Semua kejadian ada hikmahnya yah, jika gue gak mengadakan konferensi pers, Kak Zidan akan memendam perasaannya tanpa gue tahu dan akan membuat dia penasaran walaupun gue menikah sama seseorang, lalu gue bisa tahu perasaan Billi ternyata yang dia ucapkan ada wanita yang dia cintai sejak lama, tapi gak bisa ia utarakan karena takut wanita tersebut akan menjauh setelah mengutarakan cintanya, ternyata wanita itu adalah gue," ucap Dina.
Mereka makan dengan kesunyian tanpa ada percakapan lagi. Setelah selesai makan, mereka kembali lagi ke ruang ICU. Rizal keluar dari ruang ICU, ia terlihat sedih.
"Kalian sudah kembali?" tanya Rizal.
Bilah menganggukan kepalanya.
"Om tidak nafsu makan, memikirkan Billi," ucap Rizal lalu dia duduk di bangku depan ruang ICU.
"Dina..." panggil Rizal, sambil menepuk kursi sebelahnya yang dia duduki, agar Dina duduk di sebelahnya.
"Iya Om," ucap Dina yang sudah duduk di samping Rizal.
"Kamu mencintai Billi?" tanya Rizal.
Dina menatap mata Rizal, lalu berkata, "Iya Om."
"Billi sejak kecil kurang rasa cinta dan kasih sayang. Mamahnya mengalami penyakit skizofrenia, yaitu gangguan mental yang dapat mempengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi. Penderita Skizofrenia dapat mengalami halusinasi, delusi, kekacauan pikiran, dan perbuatan prilaku. Sejak Billi berumur 9 tahun, mamah Billi berada di vila puncak milik saya karena saya tak sanggup melihat Billi tersiksa akan perlakuan mamahnya yang menganggap Billi adalah kakak perempuan yang telah meninggal. Jadi Mamah Billi tinggal di sana. Mamah Billi selalu memakaikan pakaian perempuan sejak Billi dilahirkan. Jika kamu benar-benar mencintai Billi tolong cintai dia dengan tulus, tapi jika kamu hanya sekedar main-main maka tinggalkan lah Billi," ucap Rizal.
Dina terdiam sesaat, lalu dia berkata.
"Om, mungkin ini terdengar konyol. Aku tidak tahu tepatnya kapan aku mulai jatuh cinta dengan Billi, kami bersahabat sejak SMA, akupun merasa nyaman ketika berdekatan dengan Billi. Awalnya aku menapik perasaanku ini, karena terasa lucu jatuh cinta dengan sahabat. Tapi ketika aku melihat dia bersama dengan wanita lain, ada rasa sakit dihatiku, rasa cemburu, rasa tak mau kehilangan karena dekat dengan wanita lain. Akupun tak paham Om dengan ini, tapi aku baru menyadari ketika dia menyelamatkan ku. Aku sangat mencintainya, aku tak sanggup jika kehilangan dirinya," ucap Dina.
"Alhamdulilah, jika kamu sangat mencintainya, Om harap kamu bisa membuat hidup Billi lebih bahagia dengan kehadiranmu," ucap Rizal.
"Om Rizal, Dina, aku baru dapat kabar dari Gus. Orang yang menculik loe Din, dalangnya sudah tertangkap, loe dapat surat panggilan sebagai korban dimintai keterangan tentang kejadian itu, hari ini loe harus ke kantor polisi," ucap Dina.
__ADS_1
"Tapi Billi gak ada yang jagain," ucap Dina.
"Om di sini aja dulu, kamu pergilah," ucap Rizal.
Bilah dan Dina bergegas pergi ke kantor polisi, Dina sangat marah karena orang ini yang menyebabkan Billi masih di ruang ICU.
"Bil, naik mobil gue aja, tapi loe yang nyetir yah," ucap Dina.
Mereka kini berada di dalam mobil.
"Din, gue boleh tanya gak?" tanya Bilah.
"Mau tanya apa?" ucap Dina.
"Sejak kapan sih loe suka sama Billi? apakah pas dia terlihat maco?" tanya Bilah.
"Gue gak tahu pasti rasa itu datangnya kapan Bil, setelah lulus SMA kita 'kan kuliah kita, kampusnya berbeda-beda tapi kita tetap berusaha untuk kumpul setiap 1 bulan sekali iya 'kan. Kalau kita janjian buat ketemuan loe datang belakangan paling lelet, gue sama Billi terus yang datang duluan. Dia selalu kasih gue hadiah, dan perhatiannya itu membuat gue nyaman. Ada rasa nyaman aja ketika gue berdua sama dia walaupun gayanya gemulai, entahlah gue gak bisa deskripsikan. Yang pasti gue kesel pas badannya berubah menjadi berotot, banyak cewe yang menghampiri Billi, pegang-pegang lengan Billi. Perasaan gue jadi panas lihat itu Bil, gue cemburu, kalau lagi kuliah gue sering buka profil Fb dan Ig Billi. Mau tahu aja kegiatan apa yang dia lakukan di Jogja," ucap Dina.
Tak terasa mereka sudah di depan kantor polisi, Dina sangat penasaran siapa dalang dari penculikan ini yang menyebabkan Billi ada di ruang ICU sekarang.
Siapa yah kira-kira dalangnya?
Bersambung
***
Hai teman-teman minta sumbangan jempolnya, komen, love dan jgn lupa follow aku. Mampir juga yuk di novel ke 2 aku berjudul Salah Lamar.
GA sabtu 19 nov 2022
Komentar yang positif yah, akan saya ambil 1 orang yang komentarnya terbaik tentang novel ini.
Hadiah
gantungan kunci ikan boneka rajut
Pengiriman tidak dipungut biaya. Asal bukan Batam dan papua yah.
Love you semua
__ADS_1