
Billi mendapat kabar dari bodyguard yang menjaga Dina, bahwa Dina di bawa oleh seorang laki-laki. Bodyguard sempat memfoto laki-laki tersebut.
"Sudah aku katakan, jaga calon istriku. Kenapa kalian tidak becus menjaganya. Jika sampai terjadi apa-apa dengan calon istriku, kalian akan saya pecat dan dijamin setelah pemecatan kalian tidak akan bisa bekerja dimanapun. Sekarang terus ikuti si berengsek yang telah menculik calon istriku, kalian paham?" ucap Billi.
"Paham Tuan, kami sedang mengejar mobilnya," jawab bodyguard.
Billi mengikuti GPS yang telah dikirimkan oleh bodyguard, ia sangat khawatir akan keselamatan Dina.
Sementara itu Dina di bawa sebuah rumah, ia di paksa masuk ke dalam rumah tersebut.
"Bajingan kamu Lukas, aku tidak sudi di sentuh olehmu," teriak Dina dengan lantang.
"Lihat aja nanti, kamu akan terbuai dengan sentuhanku. Obatnya sebentar lagi akan beraksi dan malah kamu yang akan meminta untuk menyentuhmu," ucap Lukas dengan senyum kemenangan.
"Jangan harap kamu, bajingan!" teriak Dina.
Obat itu sudah bereaksi, tubuh Dina sudah merasa panas, Dina terus berusaha untuk menahannya. Dia menggelengkan kepalanya agar kesadarannya tetap terjaga.
Brak
Suara pintu di dobrak.
Bodyguard Billi datang dan mereka langsung menghajar Lukas, tidak lama Billi datang dan langsung membawa Dina masuk ke dalam mobilnya.
"Bawa berengsek itu ke kantor polisi," titah Billi kepada Bodyguardnya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Billi, sambil menyentuh pipi Dina.
"Aku mohon jangan sentuh aku," Dina memohon.
"Kenapa kamu? Apa yang diberikan berengsek itu kepadamu? Dia sudah menyentuhmu?" tanya Billi.
Tubuh Dina sudah terasa panas, matanaya sudah terlihat tajam menatap Billi, keinginan biologisnya meningkat. Ia langsung mencium bibir Billi dengan menggebu-gebu. Mata Billi membulat, dan ia langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Dina. Billi tahu ada yang tidak beres dengan Dina.
Kesadaran Dina tidak hilang sepenuhnya.
"Maafkan aku, Lukas memberiku obat peranggsang. Maafkan aku jika aku tidak waras, tolong kunci aku di dalam kamar mandi selama 4 jam, bawakan aku air mineral yang banyak, belikan kelapa hijau dan juga obat pereda nyeri dan sakit kepala, rendam aku di air hangat. Tolong cepat bawa mobilmu, aku tidak bisa mengendalikan nafsuku lagi, tubuhku sudah terasa panas dan kepalaku seperti mau pecah," ucap Dina, dengan tidak mengendalikan tubuhnya.
Mendengar penuturan Dina, Billi langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Kesadaran Dina sudah tidak terkontrol. Dina merasakan tubuh sangat panas, dia mulai membuka jas putihnya setelah itu dia ingin membuka kancing kemejanya. Billi menghentikan tangan Dina.
"Dina sadar sayang," ucap Billi.
__ADS_1
Dina menatap Billi dengan hasrat
"Sayang... sentuh aku," tangan Dina mengelus-elus rambut Billi, dia mulai menggigit kuping Billi.
"Dina, hentikan. Aku mohon bertahanlah sebentar lagi kita sampai," ucap Billi lirih, karena sentuhan Dina membuat Billi menjadi tegang, dia harus menahannya karena ia tahu Dina ingin melakukan ini setelah menikah.
Billi menyuruh bodyguard untuk membelikan apa yang Dina butuhkan sebelum kesadarannya Dina hilang.
Mereka sudah berada di halaman rumah, Billi menggendong Dina masuk ke dalam rumah. Bodyguard sudah membelikan apa yang Billi butuhkan.
Saat di gendong Billi, Dina mengalungkan tangannya ke leher Billi, dia menciumi pipi Billi, menyentuhnya dengan lembut. Tangan Dina mulai masuk ke dada Billi, dia mengelus-elus dada Billi sambil menggigit telinga Billi.
"Ya Allah, ujian besar ini untukku. Bagaimanapun aku laki-laki normal," ucap Billi lirih.
Billi menurunkan Dina dari gendongannya, ia menyuruh Dina untuk minum air kelapa hijau, kemudian Billi membawa ke bathub yang sudah diisi air hangat, ia meletakkan air mineral, obat nyeri dan sakit kepala kemudian ia mengunci Dina di dalam kamar mandi. Billi menunggu Dina di luar kamar mandi.
Tubuh Dina terasa sangat panas di tambah rasa nyeri, kepalanya sangat sakit. Dia masuk ke dalam air karena suhu tubuh terasa semakin panas. Instingnya berjalan ketika melihat obat, Dina langsung meminum obat nyeri dan sakit kepala. Dia meminum banyak air mineral yang Billi sudah sediakan karena panasnya badan membuat ia sangat kehauasan.
Dina menahan hassrat, kebutuhan biologisnya yang sedang memuncak, Dina berteriak karena tubuhnya semakin lama semakin panas. Billi mendengar teriakan Dina, tangannya ingin membuka handle pintu. Tapi ia teringat pesan Dina, 'ketika aku berteriak jangan bukakan pintu.'
Billi menunggu Dina, ia bolak balik di depan pintu kamar mandi. Rasanya tak tega mendengar Dina kesakitan. Tapi jika ia bukakan pintu, Dina akan meminta dipuaskan kebutuhan biologisnya saat ini. Itu tidak benar karena perbuatan dosa sebelum menikah.
"Sudah 4 jam, Dina juga sudah tidak berteriak,"gumam Billi.
Billi membuka kunci kamar mandi, Dina sudah tergulai sangat lemas dengan nafas yang tersenggal-senggal. Billi menggendong Dina untuk keluar kamar mandi.
"Bajumu basah sayang, kamu harus ganti bajumu, mau aku bantu?" tanya Billi.
Dina menatap Billi dengan mata sayu, dia menggelengkan kepalanya.
"Aku masih bisa memakai bajuku sendiri, tolong kamu ambilkan bajuku di lemari," pinta Dina.
Billi mengambilkan baju ganti untuk Dina.
"Keluarlah, aku ingin mengganti bajuku," pinta Dina kembali.
Dina mengganti pakaiannya setelah Billi keluar dari kamarnya. Badannya terasa sakit, 4 jam dia berjuang untuk menghilangkan efek dari obat peranggsang tersebut. Setelah menganti pakaian, ia rebahkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya masih terasa pusing. Dina mengambil handphonenya dan menelpon Billi agar masuk ke kamar.
Billi masuk kamar, dia melihat Dina yang sangat kelelahan.
"Billi, maafkan aku jika tadi aku berbuat tidak senonoh. Sepertinya Lukas memberi obat itu kepadaku dengan dosis yang tinggi. Tubuhku sangat sakit semua. Tadi aku berbuat apa kepadamu?" tanya Dina.
__ADS_1
"Sudah sayang jagan ditanya dan dipikirkan lagi. Maaf 'kan aku telat menjemputku sehingga berengsek itu membawamu. Alhamdulilah teror itu sudah selesai. Berengsek itu sudah aku masukan ke dalam penjara," ucap Billi.
"Aku berbuat keterlaluan yah, apakah aku menyentuh-nyentuhmu? atau... men... menciumi?" tanya Dina.
Billi melirik Dina, dia tidak berani untuk berkata jujur. Karena takut dia kecewa dengan dirinya sendiri. Dina yang melihat sikap Billi, dia langsung mengerti.
"Ah memalukan sekali aku ini." Dina terlihat lesu dan menyalahkan dirinya sendiri. "Maafkan aku Billi."
"Sudah lupakan saja, bersyukur mantanmu tidak menyentuhmu. Kamu masih menjaga kesucianmu," ucap Billi.
"Aku lelah sekali, kalau lagi ada masalah seperti ini. Aku jadi keingetan Bilah," ucap Dina.
"Kamu lapar?" tanya Billi.
"Tidak, aku hanya butuh istirahat. Kepalaku sangat sakit sekali, terima kasih yah kamu tidak terpancing dengan keadaanku sebelumnya. Aku seperti wanita murahan saja. Ahhh aku malu, maaf...maaf..." ucap Dina, sambil memegang tangan Billi.
"Jangan bicara seperti itu, bagiku kamu wanita yang mulia, yang sangat menjaga kesucianmu. Yah sudah, istirahatlah. Aku di luar, jika kamu butuh apa-apa panggil aku," ucap Billi.
Dina memandang punggung Billi ketika keluar dari kamarnya.
'Ya Allah, Engkau menjodohkan aku dengan pria yang baik. Pria yang selama ini menjadi sahabatku,' batin Dina.
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
Love you semua
__ADS_1