5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Masuk Ruang Persalinan


__ADS_3

Bilah sudah memasuki bulan HPL, ia tinggal menunggu rasa kontraksi. Setiap pagi dia berjalan pagi ditemani Bagas. Ketika di taman, banyak para gadis melihat Bagas yang terlihat tampan. Tapi Bagas tidak memperdulikan mereka, baginya Bilah yang tercantik di matanya. Bagas menggenggam tangan Bilah dengan erat sesekali ia mengusap perut Bilah menandakan Bilah adalah istrinya.


Ketika Bilah duduk, Bagas meletakkan kupingnya di perut Bilah dan Bilah mengelus rambut Bagas. Senyuman terukir di masing-masing bibir mereka. Ketika Bagas menuntun Bilah jalan pagi tak sengaja bertemu dengan Farah kembali. Bilah menatap mata Bagas, Bagas membisikkan di telinga Bilah.


"Sayang jangan cemburu, aku milikmu. Hanya kamu wanita tercantik yang menjadi istriku," bisik Bagas.


"Hai Bagas, Bilah, wah sudah bulannya yah," sapa Farah.


Bagas tak menjawab ia hanya menunjukkan senyumannya dan tangannya erat menggenggam tangan Bilah.


"Iya, sudah tanggal HPL tinggal menunggu kapan kontraksinya," ucap Bilah.


"Lagi jalan pagi yah? wah Bagas, kamu suami idaman sekali," ucap Farah.


Bagas hanya menjawab dengan senyuman, hanya Bilah yang menjawab.


"Iya Farah, aku semakin cinta dengan Mas Bagas. Soalnya dia benar-benar suami idaman sekali buatku," ucap Bilah.


"Semoga debay dan ibunya sehat-sehat yah, aku permisi dulu. Malu lanjut lari lagi," ucap Sarah.


"Iya, terima kasih Farah," ucap Bilah.


Bilah meminta pulang, karena dirinya sudah terasa lelah. Bilah menaiki mobil dengan hati-hati.


"Mas, Au...ssttt.. sakit Mas perutku," ringis Bilah.


"Kenapa sayang?" tanya Bagas dengan wajah panik.


"Sepertinya kontraksi Mas," ucap Bilah.


Bagas langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit, mereka memang sudah siap. Di dalam bagasi sudah ada tas yang berisi peralatan melahirkan dan perlengkapan bayi. Bilah mengelus-elus perutnya. Sesampainya di rumah sakit, Bilah langsung di masukan di ruang bersalin. Bilah langsung berbaring dan di periksa.


"Baru pembukaan ke dua Bu," ucap Bidan yang mengawasi Bilah.


Kontraksi yang Bilah rasakan memamg masih berjarak jauh sekitar 45 menit terasa kontraksi. Dalam ruang persalinan tersebut, juga ada wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan. Suara jeritan kesakitan dari ranjang sebelah karena memasuki pembukaan kedelapan. Tapi Bilah sudah 4 jam di ruang persalinan pembukaannya masih belum naik.


"Mas, sudah telepon mamah nggak? aku ingin ketemu mamah dan ayah," pinta Bilah.


"Astagfirullah, aku lupa saking paniknya. aku telepon dulu ya," ucap Bagas.


"Sekalian telepon ummi dan abi, minta doa Mas dengan mereka," pinta Bilah.


Bagas menelepon kedua orang tua Bilah dan ia meminta agar bergegas untuk ke rumah sakit karena Bilah ingin berbicara dengan mamahnya. Ia juga menelepon Ummi dan abinya.


Ummi \= ["Ummi dan Abi akan segera ke Jakarta, sekarang juga akan ke Bandara."]

__ADS_1


Bagas \=["Syukron Ummi."]


Tidak butuh lama, sekitar 30 menit kedua orang tua bila pun datang dan mereka langsung menghampiri Bilah.


"Sudah pembukaan ke berapa sayang?" tanya Sarah.


"Mah, sudah 4 jam aku masih pembukaan kedua Mah," jawab Bilah.


"Yah sudah sabar saja," ucapku.


"Mah, aku minta maaf. Aku banyak salah sama Mamah. Mohon doakan aku Mah, agar lancar persalinanku ini. Ini anak pertamaku jadi rasanya jantungku ini berdetak dengan kencang Mah, deg-degan. Pasien di sebelah sudah melahirkan Mah, begitu gampang sekali. Padahal aku duluan yang masuk tapi yang melahirkan duluan malah dia Mah," ucap Bilah.


Bilah masuk ruang persalinan pukul 07.00 pagi. Sekarang sudah pukul 11.00, tapi masih belum ada peningkatan pembukaan. Bilah menunggu dengan sabar dan ia merasakan kembali kontraksi pada pukul 12.00. Diperiksa oleh bidan Bilah sudah pembukaan keempat.


Pada pukul 14.00 Bilah merasakan kontraksi yang sangat sakit, setelah diperiksa sudah pembukaan kelima. Dokter masuk untuk memeriksa, ternyata dokter Sugi sedang pergi Umroh sehingga di datangkan dokter pengganti. Bilah terkejut karena dokter yang menangani dia adalah Dina.


Dina menatap lekat mata Bilah, ia langsung menghujam pertanyaan kepada Bilah.


"Kenapa loe nggak cerita sama gue? kalau loe mengalami kista 9,85 cm, itu besar loh. Kenapa loe nggak bilang sama gue? gue itu kan dokter kandungan. Apa loe nggak percaya sama gue untuk jadi dokter loe? gue sahabat loe Bil," ucap Dina.


"Maafin gue Din, bukan gue nggak percaya sama loe. Tapi ketika gue tahu ada kista, kehamilan loe sudah 8 bulan. Gue nggak tega kalau gue bilang, pasti loe kepikiran. Lalu loe kan melahirkan, terus sibuk mengurus bayi loe. Gue gak mau buat loe khawatir itu aja, bukan gue nggak percaya sama loe," ucap Bilah.


Dina menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Ia memeriksa Bilah masih pembukaan 5.


"Jangan mengejan dulu yah, tunggu aba-aba dari gue," ucap Dina.


"Bagaimana masih sakit sayang?" tanya Bagas.


"Lagi reda Mas," jawab Bilah.


Namun tak lama kemudian, Bilah pun kembali merasakan sakit di perutnya. Kontraksi itu datang kembali, membuat Bilah harus menahan kesakitan yang teramat sangat dari tubuhnya.


"Ya Allah aku harus bagaimana?" Ucap Bagas, Ia benar-benar mulai khawatir, ia semakin khawatir pada Bilah.


Dina memperhatikan Bagas yang sangat khawatir kepada sahabatnya itu.


"Gus, nggak apa-apa itu reaksi normal kok. Tenang aja ya, banyak doa aja untuk Bilah," ucap Dina.


"Enggghhh..." Bilah mengejan.


"Bilah jangan mengejan dulu," tegur Dina.


"Sungguh, gue bukan sengaja Din, Ngejan sendiri," ucap Bilah.


"Ya Allah," Bagas makin khawatir.

__ADS_1


"Ah sakit," ucap Bilah.


"Istighfar sayang, istighfar jangan mengucapkan kata sakit sayang, banyak-banyak istighfar," ujar Bagas ia menggenggam tangan Bilah, lalu mengusap kepala Bilah dan mengecup kening Bilah.


"Sabarlah sayang, aku juga ikut merasakan sakit," ucap Bagas dengan suaranya sedikit gemetar.


"Aku di sini," ucap Bagas, ia itu tidak bisa menahan air matanya.


"Enggghhh..." lagi-lagi Bilah Kembali mengejan.


"Bilah tahan jangan dulu mengejan sebisa mungkin ditahan," ucap Dina.


Bagas mengecup kening Bilah cukup lama, dalam hati ia tengah meminta agar dia saja merasakan rasa sakit itu.


Bagas mengingat perkataan ummi ketika umminya menceritakan ketika melahirkan dirinya, katanya melahirkan itu rasa sakitnya seperti seluruh tulang dipatahkan sekaligus. Padahal dia ingat saat dia keseleo saja sakitnya bukan main, temannya pernah ada yang patah tulang kaki atau tangan saja. Rasanya sangat sakit, itu satu tulang. Bagaimana rasanya jika semua tulang dipatahkan sekaligus? Bagas memikirkan itu. Apalagi Bilah ini wanita yang begitu lemah lembut dan juga tidak pendendam. Bagaimana bisa istrinya itu menahan rasa sakit. Cemburu saja dia menangis apalagi melahirkan.


'Ya Allah berat sekali istriku berjuang demi kelahiran anak kami, kenapa sesakit ini Ya Allah? kenapa tidak seperti yang lain?" batin Bagas.


Bersambung


✍✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet β€πŸ’ž


__ADS_2