5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Pengikat Bilah


__ADS_3

Dina mengobati tangan Bilah yang memar akibat cengkraman yang dilakukan Ranu.


"Mantan loe Bil, sudah cerai perlakuannya masih kasar banget sama loe. Loe sudah tanya belum sama ayah loe? tentang kecelakaan yang menewaskan ibunya Ranu, apa benar ayah loe yang menabrak mobil orang tua Ranu ketika itu," ucap Dina.


"Gue mau selidiki dulu Din, gue gak yakin ayah gue yang lakukan itu," ucap Bilah.


"Lebih baik loe tanya langsung deh biar jelas," ucap Dina.


"Permasalahannya gue takut ayah gue syok jika gue ceritain ini semua, pasti ayah gue berpikir gara-gara perkara ini, gue yang jadi korban," ucap Bilah.


"Benar juga sih yang loe bilang," ucap Dina.


"Besok gue gak bisa temenin loe yah Din, Ummi dan Abinya Gus mau ketemu gue," ucap Bilah.


"Ehem, ketemu camer nih, Gus Bagas jagain loe banget Bil, bersyukur loe di lamar dia," ucap Dina.


"Hahaha pakai ehemin gue lagi, loe sendiri ketemuan sama pacamer, udah di kasih lampu hijau lagi cieee," ledek Bilah.


Dina mencubit pinggang Bilah, mereka tertawa bersama.


***


Bilah di jemput Bagas untuk ke Jakarta, berkunjung ke kediam Aisyah karena Kiai Irfan dan Nyai Zainab sudah menunggu Bilah di sana.


Bilah hanya terdiam di dalam mobil, dia duduk di jok bagian belakang. Tidak ada percakapan antara Gus dan Bilah. Sesekali Bagas melirik di kaca spion dalam, ia melihat wajah Bilah yang melamun seperti memikirkan sesuatu.


"Bilah..." Bagas memanggil Bilah.


"Iya Gus," jawab Bilah.


"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Bagas.


"Ah tidak memikirkan apa-apa Gus, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Bilah.


"Karena kamu sejak di dalam mobil, tidak berbicara apa-apa. Wajah kamu juga terlihat muram," ucap Bagas.


"Maaf yah Gus, aku gak mikirin apa-apa kok," ucap Bilah.


"Pergelang tangan kamu bagaimana? masih sakit?" tanya Bagas.


"Dina sudah kasih obat, gak seberapa kok ini Gus," ucap Bilah.


"Jangan disepelekan Bilah, aku takut pergelangan kamu terkilir. Yang mencengkram tangan kamu 'kan pria bukan wanita, jadi tenaganya pasti lebih besar daripada wanita," ucap Bagas.


"Aku boleh tanya gak Gus?" tanya Bilah, kepada Bagas.


"Kamu mau bertanya apa?" ucap Bagas.


"Jika kita sudah menikah dan berjalannya waktu yang kita lalui bersama, apakah perhatian kamu akan bertahan seperti saat ini yang kurasakan," ucap Bilah.


"Tidak Bilah, tidak akan sama yang kamu rasakan saat ini," jawab Bagas.

__ADS_1


"Artinya perhatian kamu akan berubah seiringnya waktu?" tanya Bilah.


"Belum halal dan sudah halal jelas akan berubah, contoh kejadian kemarin ketika mantan kamu mencengkram tangan kamu. Aku hanya bisa melihat pergelangan kamu memerah dan mengajak kamu ke dokter untuk mendapatkan obat untuk lukamu itu, tapi jika kamu sudah halal bagiku akan ku sentuh tanganmu yang lebam itu, ku usap dengan lembut dengan tanganku ini dan akan mengolesi obat dilenganmu. Sebelum halal aku belum bisa memperhatikan kamu sepenuhnya, masih ada hijab yang membentengi aku denganmu," ucap Bagas.


'Ah sweet banget sih perkataan Gus Bagas,' batin Bilah.


Mereka tidak ada percakapan lagi setelah itu sampai tiba di kediaman Aisyah. Bagas memarkirkan mobilnya di halaman rumah Aisyah. Dia membukakan pintu belakang dan Bilah keluar dari mobil Bagas.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk


"Assalamu'alaikum," ucap salam Bagas.


"Wa'alaikumsalam," jawab salam seseorang di balik pintu.


Pintu terbuka, Salma lah yang membukakan pintu.


"Kakak Bilah, aku kangen sama Kakak," ucap Salma.


Bilah membungkukkan tubuhnya sehingga posisinya sejajar dengan Salma.


"Kak Bilah juga kangen sama kamu, Kakak punya kado untuk kamu," Bilah memberikan paper bag kepada Salma.


"Alhamdulilah, dapat hadiah dari Kakak. Terima kasih Kak, ayo masuk. Eyang sudah menunggu Kakak," Salma menggandeng tangan Bilah untuk bertemu Kiai Irfan dan Nyai Zainab.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Bilah.


Bilah tersenyum dan meletakan kedua tangannya sejajar dadanya kepada Kiai Irfan, dan mencium punggung tangan Nyai Zainab dengan khidmat.


"Nak Bilah sini dekat Ummi," ucap Ummi Zainab, sambil menepuk tangannya di bangku kosong sebelah posisinya.


"Iya Nyai, terima kasih," ucap Bilah.


"Jangan panggil Nyai lagi, panggillah Ummi dan untuk Kiai panggillah Abi karena kamu segera akan menjadi istri dari Bagas," pinta Ummi Zainab.


Bilah tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Ummi sudah dengar dari Bagas, jika kamu menerima lamaran Bagas untuk itu Ummi ingin menemuimu. Tadinya minggu kemarin Ummi mau bertemu denganmu, tapi kamu punya masalah waktu itu dan masalah kamu kata Bagas sudah selesai," ucap Ummi Zainab.


"Maafkan Bilah, Ummi, Abi, karena membuat malu akan gosip itu," ucap Bilah.


"Kamu gak salah, malah kamu di dzolim oleh mereka. Ummi percaya kamu wanita yang baik," ucap Ummi, sambil memegang pipi Bilah dengan tangan kanannya.


"Ya Allah, terima kasih Ummi," ucap Bilah.


"Ummi ingin menemui kamu karena untuk memasangkan ini di jari manismu," ucap Ummi Zainab, yang menyodorkan sebuah cincin.


"Karena kamu menerima lamaran Bagas, maka cincin ini Ummi pakaikan kepadamu. Terima kasih Nak Bilah sudah menerima lamaran Bagas," sambung Ummi Zainab.


"Masya Allah Ummi terima kasih." Bilah memeluk Ummi Zainab dan ia pun menangis karena bahagia.

__ADS_1


Ummi menepuk-nepuk punggung Bilah.


"Hari ini nginap yah, karena gak mungkin langsung ke Bandung," pinta Ummi Zainab.


"Iya Ummi, aku nurut aja. Besok baru ke Bandung karena aku harus temani sahabat aku yang telah membela aku habis-habisan sampai dia di culik dan ingin diperkosa akibat membela aku," cerita Bilah.


"Astagfirullah, lalu sahabat kamu bagaimana keadaannya," tanya Ummi Zainab.


"Alhamdulilah selamat dari pemerkosaan, tapi sahabat aku yang satunya lagi kena luka tusuk dan belum sadar sampai sekarang," sambung cerita Bilah kembali.


"Ummi doakan semoga sahabatmu cepat sadar," ucap Ummi Zainab.


"Kamu pasti lelah, istirahat lah. Salma, temani Kak Bilah masuk kamar yang sudah disiapkan," titah Ummi Zainab.


Bilah mengucapkan terima kasih kepada Ummi dan meminta izin untuk pergi ke kamar. Ia menatap Bagas, lalu memberikan Bagas senyuman dan mengucapkan, "Terima kasih," dengan tanpa suara hanya gerakan bibir.


Bagas membalas senyuman Bilah dan hanya menganggukan kepalanya.


Kini Bilah berada di dalam kamar, merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Dia melihat jari manisnya yang sudah tersematkan cincin.


"Jari manis ini sudah 2 kali tersemat cincin dari 2 laki-laki, aku harap ini cincin terakhir dan tidak lepas dari jari manisku," ucap Bilah.


Bilah mengambil benda pipihnya, dia mau menelepon Dina.


Assalamu'alaikum, Din. Bagaimana keadaaan Billi?


Wa'alaikumsalam, masih belum ada perubahan Bil. Bagaimana pertemuan sama camer?


Lancar hehehe.


Dih senang banget yang ketemuan sama camer.


Jari manis gue sudah ada cincin baru.


Alhamdulilah, gue senang denger loe senang.


Din, sorry. Gue baru balik ke Bandung besok. Loe gak apa-apa 'kan sendirian.


Gak apa-apa Bil, rumah sakit itu merupakan rumah kedua gue.


Din udahan dulu yah, gue mau istirahat capek banget badan gue.


Oke Bil, sampai besok yah.


Bersambung


***


Hai para reader yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, komen,vote, follow aku juga.


Cek novelku yang berjudul Salah Lamar Yuk.

__ADS_1


Love You semua.


__ADS_2