
Tiga hari sebelum Bilah berangkat ke Turki, ia akan ke pesantren Kiai Irfan untuk berpamitan.
Bilah menelepon Bagas.
Assalamu'alaikum Gus.
Wa'alaikumsalam, Bilah.
Besok aku akan sampai di Semarang yah, sebelum aku berangkat ke Turki. Aku hanya memberi kabar itu aja.
Hmm iya.
Kok, balasnya hanya hmm iya aja sih. Irit banget ngomongnya
Kamu mau aku ngomong apa Bilah?
Bicaralah yang bisa membuat hatiku bahagia.
Sayang... calon istriku. Aku mencintaimu. Sebelum bertemu denganmu, aku tidak tahu apa itu cinta, bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana rasanya rindu, bagaimana rasanya ingin sekali bertemu. Tapi ketika kamu menerima lamaranku, aku bisa merasakan itu semua. Ada getaran rasa yang sebelumnya aku tidak pernah rasakan, dada ini sangatlah berat jika mala rindu melanda aku. Nabilah Syaqilah Aini, kamu tahu? hanya kamu yang membuat hati ini luluh karena cinta, aku berjanji setelah kita menikah. Akan aku siram cinta ini dengan zikir dan doa agar namamu dan namaku, Allah ikat dengan janji akad kita yang tidak akan terpisahkan, sampai maut menjemput. Tapi kenapa pernikahan lama sekali, harus menunggu kamu pulang dari Turki. Dua bulan lagi.
Bilah yang mendengar perkataan Bagas dalam telepon, tidak bisa mengatakan apa-apa. Air matanya keluar tanpa dia sadari.
Hallo, kamu masih bersama aku?
I...iya Gus, sabar yah... aku harus mengurus sesuatu di Turki juga dan yang paling terpenting, aku sudah menerima lamaranmu.
Iya aku harus sabar. aku boleh minta sesuatu gak?
Apa?
Jangan panggil aku Gus, panggil aku Mas, mulai sekarang.
Bilah tersenyum mendengar permintaan Bagas.
Iya Mas, aku tutup yah teleponnya. Insha Allah besok kita akan bertemu.
Insha Allah, Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Setelah mematikan telepon. Bilah dan Dina akan langsung berangkat ke semarang. Mereka memasukan barang-barang yang akan dibawa. Bilah tersenyum kepada Dina, karena akhirnya dia dapat berlibur bersama sahabatnya itu. Hanya berdua, tanpa memikirkan masalah yang ada di Indonesia, tanpa memikirkan laki-laki yang membuat hati tidak tenang selama ini.
"Din, HP loe berisik banget. Pasti Billi tuh yang telepon loe. Billi sekarang bucin sama loe Din," ucap Bilah.
"Dia dari kemarin rayu gue agar gak ikut loe ke Turki," ucap Dina.
"Matiin dulu HP loe, gue juga akan non aktifin HP gue. Kalau kita sudah sampai Semarang baru aktifkan lagi, bagaimana?" tawaran Bilah.
"Oke, Deal." Mereka bersalaman bertanda kedua belah pihak setuju.
Perjalanan liburan kedua sahabat yang sebentar lagi melepas status single untuk Dina, dan melepas status janda untuk Bilah. Di dalam mobil mereka bercerita, tertawa lepas, terasa tidak ada beban, tidak ada masalah.
Bilah dan Dina menempuh perjalanan 7 jam ke Semarang, karena mereka selalu beristirahat dan mengganti posisi driver. Jika Dina lelah maka Bilah yang menggantikan sebagai driver.
Karena mereka berangkat dari Bandung pukul 8 malam, sampai Semarang pukul 3 pagi. Mereka check in di hotel terlebih dahulu. Pukul 8 pagi mereka baru sampai di pesantren Kiai Irfan.
Memasuki gerbang pesantren suasana berubah menjadi sangat agamis. Di dalam pesantren Dina memakai hijab, karena tidak mungkin dia tidak menggunakan hijab dalam lingkungan pesantren. Bilah memarkirkan mobilnya lalu berjalan kaki ke kediaman Kiai Irfan. Di dalam perjalanan Bilah dan Dina bertemu dengan Ning Haya. Tatapan sinis Ning Haya berikan kepada Bilah.
__ADS_1
"Hai janda, kamu tuh tidak pantas bersanding dengan Gus Bagas," ucap Haya.
Dina yang mendengar itu tersulut emosi tapi Bilah memegang tangan Dina dan memberi kode agar dia diam.
"Kenapa diam aja janda genit," ucap Haya sinis.
"Maaf Ning, kamu keturunan Kiai 'kan. Apakah Ning tidak belajar akan sejarah islam? Istri pertama Rasulullah tahu kan siapa namanya. Khadijah RA itu statusnya ketika menikah oleh Rasulullah perawan atau janda. Janda bukan? bahkan hanya dari rahim Khadijah RA terlahir keturunan Rasulullah. Istri yang paling dicintai Rasulullah. Bahkan Aisyah RA saja merasa cemburu kepada Khadijah RA, siapa istri Rasulullah yang satu-satunya tidak di poligami? hanya khadijah RA, jika Ning Haya merasa benci dengan aku yang berstatus janda yang akan menikahi Gus Bagas yang masih perjaka, itu tidak beralasan Ning. Jika Ning menentang itu artinya Ning tidak mengikuti suri tauladan Rasulullah," ucap Bilah, kepada Haya yang membuat Haya tidak bisa membalas perkataan Bilah.
Bilah berjalan melewati Haya. Diikuti Dina di belakangnya.
"Bil, dia siapa? kok dia gak suka loe nikah sama Gus?" tanya Dina.
"Dia Ning Haya, anak Kiai yang pernah melamar Gus Bagas tapi ditolak karena Gus Bagas pilih gue," jawab Bilah.
"Dia ngajar di pesantren ini? sering bertemu sama Gus dong. Loe juga dua bulan ke Turki, bahaya juga dia," ucap Dina.
Bilah memberhentikan langkahnya, dia mengepal tangannya dengan kuat. Ada rasa panas yang ia rasakan di dadanya. Dina melihat perubahan Bilah.
"Bilah, maaf gue bikin panas hati loe yah," ucap Dina.
"Enggak," ucap Bilah dengan nada tinggi.
Bilah berjalan kembali untuk menuju ke kediam Kiai Irfan. Kebetulan yang sangat pas, Bagas keluar dari kediaman Kiai Irfan, seperti Bagas yang langsung menyambut sang calon istri.
"Assalamu'alaikum Mas Bagas," teriak Bilah, sambil melambaikan tangannya ke arah Bagas.
"Sejak kapan loe, memanggilnya menjadi Mas Bil?" tanya Dina.
"Semalam," jawab Bilah singkat.
"Yah Bil, jangan marah dong," ucap Dina memelas.
Bagaspun menghampiri Bilah dan mengajak menemui Ummi Zainab dan Abi Irfan. Bilah berpamitan kepada mereka, keputusan Bilah di dukung oleh Ummi dan Abi. Karena memang lebih baik seperti itu.
Setelah berpamitan, karena hari masih pagi Bagas mengajak Dina dan Bilah untuk keliling kota semarang.
"Sudah sarapan belum?" tanya Bagas.
"Kita berdua, belum sempat sarapan Mas," ucap Bilah.
"Hmm 'kan sudah aku bilang sama kamu, jangan lupa makan. Nanti kamu sakit," ucap Bagas.
"Bil, anterin gue ke hotel aja deh. Biar loe berduaan sama Gus aja," bisik Dina.
"Jangan, belum mahrom gue sama dia," jawab Bilah berbisik.
"Makan lumpia, Mau?" tanya Bagas.
"Boleh Mas," jawab Bilah.
Mereka berhenti di restoran lumpia, selama pesanan belum datang Dina beralasan untuk pergi ke mini market. Agar mereka berdua bisa berbicara sebelum Bilah berangkat ke Turki selama dua bulan.
Kini mereka berdua di meja yang sama, sangat canggung sikap mereka. Bilah mencuri pandang untuk menatap wajah Bagas.
Dia tampan juga, kok aku baru sadar yah, batin Bilah.
Bagas tersenyum ketika ditatap oleh Bilah, mengakibatkan Bilah malu karena terpergok sedang menatap Bagas.
__ADS_1
"Mas... aku 'kan akan pergi ke Turki selama dua bulan. Hmm mau simpan foto aku gak?" tanya Bilah.
"Ah nanti aku lihat foto kamu, lalu rasa rindu," ucap Bagas.
"Hmm jadi kamu tidak mau rindu aku," ucap Bilah dengan wajah sedikit kecewa.
"Bu... bukan maksud aku seperti itu, aku mau foto kamu. Tapi..." ucap Bagas terpotong.
"Dosa karena kita belum halal, ah malas deh aku jadinya kalau kamu seperti ini. Di pesantren ada Ning Haya. Kamu bertemu dia lebih sering daripada aku, memang gak dosa? Aku mau susul Dina aja ke mini market. Kalau pesanannya sudah ready, telepon aku," ucap Bilah, lalu dia berdiri. Tapi tangannya di tahan oleh Bagas.
"Jangan pergi, duduklah," ucap Bagas.
"Itu Mas pegang tanganku," ucap Bilah.
"Agar kamu gak pergi, duduklah Bilah. Aku takut kamu ngambek, bisa apa aku merayu kamu agar gak ngambek, dua bulan loh kamu ke Turki, waktu kita gak banyak. Lusa kamu sudah terbang ke Turki," ucap Bagas.
Bilah duduk kembali.
"Kamu mau atau gak foto aku?" tanya Bilah kembali.
"Aku mau." jawab Bagas.
"Aku kirim ke WA kamu yah, di simpan. Jangan lihat wajah Ning Haya terus," pinta Bilah, dengan wajah cemberut.
"Kamu cemburu?" tanya Bagas.
"Ti... tidak, aku tidak cemburu," pipi Bilah memerah karena rasa malu.
"Kalau kamu cemburu, bilang aja. Aku senang kok jika kamu cemburu, itu artinya kamu sudah mulai ada rasa sama aku," ucap Bagas sambil tersenyum.
"Dah ah Mas, jangan dibahas. Periksa Mas WA-nya," pinta Bilah.
"Sudah aku kirim yah," ucap Bilah.
Bagas memeriksa Whatsapp nya.
"Subhanallah, calon bidadari syurgaku, calon ibu dari anak-anakku. Cantik banget," ucap Bagas.
"Ih Mas mah ngeledek, itu foto pas aku baru sampai di Bandung, waktu nemuin Dina. Sedang di hotel, belum mandi," ucap Bilah.
"Belum mandi aja cantiknya seperti ini, apalagi sudah mandi," ucap Bagas.
"Gombal," ucap Bilah, wajahnya memerah karena rasa malu.
Senyum-senyum gak bacanya?
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga. Ingat sabtu ada GA, stay tune selalu yah.
Mampir juga di novelku yang lain
__ADS_1
Salah Lamar
Love you semua