
Setelah makan malam selesai Bilah membersihkan peralatan makan, ia tidak tahu bahwa Bagas mengikuti dia dari belakang. Ketika Bilah ingin mencuci piring yang kotor, Bagas mengambil alih.
"Aku saja yang mencuci ini semua," ucap Bagas.
"Gak usah Mas, biar aku saja," ucap Bilah.
"Gak apa-apa, aku gak mau istriku kelelahan." Bagas memaksa agar ia yang membersihkan peralatan makan mereka.
Bilah tersenyum Bagas membantu dirinya, perhatian kecil Bagas mampu membuat hati Bilah meleleh.
"Terima kasih Mas," ucap Bilah.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Bagas.
"Untuk membantuku," jawab Bilah.
Tidak terlalu lama Bagas membersihkan perlengkapan makan. Kini semuanya sudah bersih. Bilah mendekati Bagas dan mencium pipi Bagas secara mendadak.
"Itu hadiah dari aku, karena sudah membantu aku." Bilah tersenyum terhadap Bagas lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar.
Bagas yang mendapatkan ciuman manis dari Bilah, ia tersenyum sambil memegang pipinya. dan mengikuti Bilah dari belakang.
Azan berkumandang, Bagas dan Bilah memutuskan untuk salat berjamaah di dalam kamar mereka. Bagas menjadi imam Bilah untuk yang pertama kali. Perasaan Bilah sangat bersyukur, setelah melewati semua kini ia mempunyai pasangan yang taat agama. Ia tidak pernah merasakan ini dengan Ranu. Ranu tidak pernah menjadi imam salatnya.
Setelah selesai salat dan berdoa, Bilah meraih tangan Bagas untuk mencium punggung tangan Bagas dan Bilah meletakkan kepalanya di paha Bagas, mereka masih di atas sejarah. Bilah mengeratkan jari-jari ia dan Bagas. Rasa kehangatan cinta mereka terasa. Tanpa kata-kata mereka menikmati kebersamaan mereka saat ini di atas sajadah panjang.
"Mas..." ucap Bilah.
"Iya, ada apa?" tanya Bagas.
"Mas, mau haknya sekarang?" tanya Bilah.
Bagas menelan salivanya dengan susah, detak jantungnya mulai berdebar-debar. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaan saat ini. Dengan posisi Bilah saat ini saja Bagas sangat senang, karena Bilah terlihat sangat manja kepada Bagas.
"Kamu tidak lelah? hari ini 'kan kita langsung resepsi," tanya Bagas.
"Untuk melayani suamiku, aku siap Mas. Jika kamu memintanya, aku akan melaksanakan kewajiban aku sebagai istri." Ucap Bilah, sambil menatap mata Bagas dari Bawah. Bagas menatap wajah Bilah yang masih menyandarkan kepalanya di paha Bagas.
__ADS_1
Bagas menurunkan kepalanya, lalu mencium bibir Bilah dengan singkat, Bagas tersenyum. Bilah bangun dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Aku cinta kamu Mas," ucap Bilah lirih.
Bagas membuka mukena Bilah dan melipat perlengkapan salat mereka.
"Biar aku yang memimpin kamu, walaupun kamu lebih berpengalaman daripadaku," ucap Bagas.
"Mas gak menyesalkan nikah dengan seorang janda, tidak akan ada darah di seperai kita nanti," ucap Bilah.
"Aku sudah menerimamu secara utuh, jangan anggap kamu janda lagi, karena kamu sudah menjadi ratu di hatiku." Bagas menggenggam tangan Bilah, ia mencium tangan Bilah.
Sesuai titah Bagas, malam ini Bagaslah yang akan memimpin.
Bagas merebahkan tubuh Bilah di atas ranjang. Ia mengelus puncak kepala Bilah dengan lembut. Bagas berbisik di telinga Bilah.
“Bismillahil'aliyyil ‘azhim. Allahummaj’allahu dzurriyyatan thayyibah in qaddrta an takhruja min shulbi. Allahumma jannaibnis syaithana wa janniblis syaithana ma razaqtani.”
(Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kau anugrahkan kepadaku.)
Bilah perlahan memejamkan mata, dan mulai mengikuti apa yang Bagas ucapkan. Perlahan, tangan Bagas merambat ke penjuru, Bilah merasakan setiap sentuhan lembut tangan Bagas yang begitu halus. Bilah merasa terlena atas sentuhan-sentuhan yang diciptakan Bagas.
"Boleh aku membuka pakaianmu?" tanya Bagas hati-hati.
Dijawab oleh sebuah anggukan oleh Bilah. Bilah sangat malu, wajahnya sudah sangat memerah. Bagas membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Bilah, kemudian Bagas mulai melucuti pakaiannya sendiri.
Bagas tak henti-hentinya mengucapkan puji-pujian kepada Allah, ketika melihat aset Bilah yang sangat terawat. Dadanya terasa panas, jantungnya berpacu sangat cepat.
Bismillah...
Pada malam yang istimewa itu, bulan menerangi langit dengan lembut, seolah memberikan berkah untuk pernikahan yang sudah berlangsung. Di sebuah kamar yang dihias dengan bunga-bunga segar dan lilin-lilin harum, Bagas dan Billa duduk berhadapan di atas ranjang yang empuk. Wajah mereka memancarkan campuran antara haru, gugup, dan kebahagiaan.
Bagas, dengan raut wajah penuh kerendahan hati, memulai percakapan mereka, "Sayang, malam ini adalah awal dari babak baru dalam hidup kita. Aku tahu bahwa perjalananmu tidak selalu mudah, namun engkau tetap berdiri dengan keindahan yang memukau. Aku merasa terhormat bisa menjadi pilihanmu, dan aku berjanji akan selalu berusaha menjadi pendamping yang setia dan penyemangat dalam setiap langkahmu."
Bilah tersenyum dengan lembut, matanya memancarkan cahaya penuh penghargaan. "Mas, dalam hidupku yang penuh liku, aku menemukan kekuatan dari kebaikanmu dan tekadmu yang tak tergoyahkan. Kau adalah sinar harapan yang datang saat aku hampir kehilangan cahaya. Aku berjanji akan berjalan di sampingmu dengan penuh kasih dan rasa syukur, menghadapi masa depan dengan keyakinan dan harapan."
Suasana di antara mereka penuh dengan getaran emosi yang tulus. Mereka merasakan kedekatan yang lebih dari sekedar fisik; mereka merasakan kedekatan jiwa yang mengikat mereka sebagai pasangan yang baru saja bersatu. Di balik cahaya lampu remang yang lembut dan keheningan malam, mereka saling berbagi impian, harapan, dan pikiran.
__ADS_1
Bagas meraih tangan Bilah dengan lembut, seolah ingin merasakan getaran hatinya. "Bilah, apakah kamu merasa takut dengan langkah ini? Aku ingin engkau tahu bahwa perasaan gugup itu wajar, tapi kita akan menghadapinya bersama. Malam ini, kita memulai perjalanan yang penuh dengan keajaiban."
Bilah menatap mata Bagas dengan penuh keyakinan. "Tentu saja, ada gugup dalam hatiku. Tapi, lebih dari itu, aku merasa beruntung. Kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kisah baru, mengisi halaman kosong dengan cerita cinta dan pengertian. Biarkan malam ini menjadi permulaan yang indah, di mana kita tumbuh bersama dan membangun keluarga dengan nilai-nilai yang kita cintai."
Malam berlanjut dengan lembut, seperti aliran sungai yang tenang. Paragraf demi paragraf dalam kisah mereka diisi dengan dialog-dialog penuh makna, sentuhan-sentuhan lembut, dan pandangan mata yang penuh dengan keintiman. Di malam yang magis itu, mereka menyadari bahwa cinta sejati bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang kedalaman jiwa dan hubungan yang tulus.
Ketika bulan mencapai puncak langitnya, Bagas dan Bilah merangkul dengan hangat. Di antara bisikan angin malam, mereka berdua bersumpah untuk menjadi pendamping sejati satu sama lain, menjalani kehidupan yang penuh dengan cinta, pengertian, dan kerja sama. Dan di balik jendela kamar kecil itu, bintang-bintang bersinar lebih terang, seolah memberikan restu bagi kisah indah malam pertama sang gus dengan janda cantik yang telah mereka mulai.
"Terima kasih sayang, punyamu masih sempit." Bagas berkali-kali mengecup kening Bilah.
Bilah hanya tersenyum dan tersipu malu ketika Bagas berkata seperti itu.
Bagas sudah bukan perjaka polos lagi 😁
Oh iya jangan menyangka Bilah berumur tua yah.., Bilah dengan Ranu nikah muda. Ketika itu umur Bilah 19 tahun, sekarang umur Bilah 24 tahun dan Bagas 25 tahun.
Bagaimana malam pertama Bilah dan Bagas yang kalian tunggu loh ini. Ramaikan dengan komentar yah...
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, tidak sombong yang super cakep sumbangan jempolnya yah, love, vote, dan follow aku.
Follow aku juga. Saya doakan kalian banyak Rezeki aamiin.
fb @Farida (R)
ig @kak_farida
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you sekebon