
Bagas yang melihat Bilah ditampar semakin marah dengan Haya, dia tak habis pikir. Anak seorang Kiai tapi sikapnya tidak ada mencerminkan agama. Ilmu banyak lebih rendah jika tidak mempunyai adab. Karena adab merupakan ilmu tertinggi. Percuma mempunyai ilmu banyak dari anak seorang Kiai tapi tidak mempunyai adab.
"Ning Haya, kamu menampar calon istriku. Itu sama saja menampar diriku. Calon istriku ini lebih baik dari dirimu," ucap Bagas.
"Tapi janda ini juga menamparku, kenapa Gus Bagas hanya melihat satu sisi?" ucap Haya.
"Calon istriku menampar atas kesombonganmu yang menginjak-injak harga dirinya. Aku bangga dengan dia yang memberikan sebuah pelajaran untukmu, yaitu adab," ucap Bagas.
"Mas, sudahlah. Aku gak mau ladenin dia. Aku pulang dulu yah," ucap Bilah.
"Tunggu, aku obatkan dulu yah. Itu bibirmu berdarah," ucap Bagas.
"Gak usah Mas, nanti di hotel aja dengan Dina," ucap Bilah.
"Aku mohon, biar aku bilang dengan Ummi. Biar Ummi yang mengobatimu sekalian aku ingin melaporkan Ning Haya oleh Abi," ucap Bagas, dengan mata tajam menatap Haya.
"Jika aku dikeluarkan dari pesantren ini, aku akan menjamin hidupmu dan janda ini tidak akan pernah bahagia," ucap Haya.
"Bukan kamu yang menjamin hidupku dan Mas Bagas. Tapi Allah yang menjamin hidup kami. Sekuat apapun kamu mau berbuat jahat kepada kami, maka Allah lah yang langsung melindungi kami dari kejahatanmu," ucap Bilah.
"Ingat Ning Haya, Allah tidak pernah tidur. Jika kamu menyakiti Bilah lagi. Jangan salahkan aku jika aku mengambil jalur hukum," ucap Bagas dengan tegas.
Bagas langsung mengajak Bilah untuk menemui Ummi Zainab dan Abi Irfan, dan juga mengobati bibirnya yang berdarah karena tamparan Haya. Bagas tidak perduli dengan Haya yang menatapnya penuh kebencian.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Bagas.
"Wa'alaikumsalam," Ummi Zainab, membalas salam Bagas.
"Ummi, tolong obati Bilah," pinta Bagas.
"Ya Allah, pipi kamu merah seperti itu dan bibirmu berdarah. Kenapa Nak?" tanya Ummi Zainab.
Bilah hanya tersenyum, tidak menjawab apa-apa dan Bagas lah yang menjawab pertanyaan Ummi.
"Ning Haya menampar Bilah Ummi, menampar tanpa alasan. Menghina Bilah karena statusnya yang janda dan ia bilang tidak pantas bersanding dengan aku," ucap Bagas.
"Ya Allah, sini duduk Nak, Ummi ambil obat dulu yah," ucap Ummi Zainab.
Tak lama Abi Irfan pun keluar, Bagas menceritakan semuanya kepada Abi Irfan.
"Abi, bisakah Ning Haya tidak mengajar di pesantren ini. Ini tidak baik kedepannya setelah aku menikah dengan Bilah jika Ning Haya masih mengajar di pesantren ini," pinta Bagas.
"Abi akan bicarakan ini kepada Kiai Harun," ucap Abi Irfan.
Ummi Zainab membawa kotak P3K, ia mengobati bibir Bilah.
"Tahan yah, mungkin agak perih," ucap Ummi Zainab.
Bilah meringis kecil ketika Ummi mengolesi obat dibagian bibirnya.
"Ummi, terima kasih banyak. Aku merasakan kasih sayang seperti mamah kandungku," ucap Bilah.
"Anggaplah Ummi sebagai mamah kandungmu, Ummi bahagia akan mempunyai mantu seperti dirimu," ucap Ummi Zainab.
"Syukron Ummi," jawab Bilah
"Afwan, kamu bisa bahasa Arab?" tanya Ummi.
__ADS_1
"Aku masih ada keturunan Arab Ummi dari mamahku," jawab Bilah.
"Oh pantas, wajahmu kearab-araban," ucap Ummi.
Bilah hanya tersenyum, setelah Bilah mendapat pengobatan dia pamit kepada Ummi dan Abi. Bagas mengantar Bilah sampai halaman pesantren tempat Bilah memarkir mobilnya.
"Mas, jaga kesehatan kamu yah. Sampai ketemu 2 bulan lagi," ucap Bilah.
"Kamu juga jaga kesehatan yah, aku akan merindukanmu," ucap Bagas.
"Pas aku sampai di Turki, aku akan kabari kamu. Tapi setelah itu aku tidak akan mengirimi kamu pesan ataupun menelepon kamu," ucap Bilah.
"Lah kok seperti itu, gak bisa dong," protes Bagas.
"Harus bisa Mas, hanya 2 bulan aja kok kita gak berkomunikasi. Bantulah aku, untuk mencari kebenaran untuk ayahku. Ketika aku pulang nanti, aku sudah dapat informasi darimu," ucap Bilah
"Aku akan membantu kamu. Tapi tidak ada komunikasi selama 2 bulan, aku tidak mau," ucap Bagas.
"Mas, percayalah denganku. Aku akan balik. Hanya 2 bulan kok, habis itu kita langsung menikah. Kamu akan lebih rindu denganku tanpa ada komunikasi selama 2 bulan, sudah yah aku pergi. Assalamu'alaikum Mas," ucap Bilah.
Bilah langsung pergi, menancap gas mobilnya. Dia tidak ingin mendengar sanggahan dari Gus Bagas kembali. Di lihat Gus Bagas dari kaca spion mobil yang masih berdiri melihat kepergian Bilah.
"Maafkan aku Mas, ada suatu hal yang harus aku lakukan di Turki," ucap Bilah lirih.
Setibanya Bilah di hotel, ia melihat Dina yang sedang video call dengan Billi. Bilah tersenyum melihat sahabatnya tampak bahagia. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang hotel ukuran big size. Dina melihat kedatangan Bilah yang kini ada di sampingnya. Ia melihat wajah Bilah.
Dina \= ["Sayang udahan dulu yah, Bilah baru tiba di hotel. Sepertinya ada kejadian di luar, bibirnya ada bekas luka aku lihat."]
Billi \= ["Oke sayang, kabarin aku apa yang terjadi dengan Bilah."]
"Hai, Billi jangan kepo," teriak Bilah.
Billi \= ["Wa'alaikumsalam, I love you."]
Dina \=["I love you too."]
Setelah Dina menutup video callnya dengan Billi, ia bertanya kepada Bilah apa yang terjadi. Bilah menceritakan kejadian di pesantren.
"Astagfirullah, kalau ada gue. Gue jambak-jambak tuh perempuan. Penampilan aja alim, kelakuannya kaya orang kesurupan," ucap Dina kesal.
"Hahaha...kenapa kaya bukan orang waras yah dia, merasa tersaingin sama janda kaya gue," ucap Bilah sambil bercanda.
"Loe masih bercanda aja, orang kaya gitu bahaya loh. Isi hatinya biasanya penuh amarah dan dendam," ucap Dina.
"Sotoi loe Din, Dina tolong pesanin makanan dong. Gue laper nih," ucap Bilah.
"Itu bibir loe sepertinya sudah dioleskan obat, sama Gus Bagas kah?" tanya Dina.
"Impossible lah, dia belum nikah sama gue. Yang kasih obat di bibir gue bucamer," jawab Bilah.
"Subhanallah, camer loe kayanya sayang banget sama loe," ucap Dina.
"Yah iyalah, gue janda, tapi janda yang berkwalitas hahaha," ucap Bilah, tertawa terbahak.
"Jangan ngangap terlalu gede kalau ketawa, tulang rahang loe nanti copot loh," ucap Dina.
"Nyumpahin gue loe...dasar." Bilah melempar bantal ke arah Dina.
__ADS_1
Bilah dan Dina beristirahat di hotel malam ini, esok malam mereka akan langsung berangkat dari bandara Ahmad Yani international airport.
***
Di pagi hari Bilah mulai memasukan perlengkapannya ke dalam koper. Malam ini dirinya dan Dina akan berangkat ke Turki.
"Din, sudah dimasukkan semua?" tanya Bilah.
"Gue udah masukkan ke dalam koper semalam Bil, jadi tinggal berangkat aja," ucap Dina.
Dedd dedd
suara benda pipih Bilah bergetar, ia melihat layar dari benda pipihnya tertera nama di layar 'Cinta masa depan'
Bilah \= ["Assalamu'alaikum, Mas."]
Bagas \= [Wa'alaikumsalam, kamu berangkat pukul berapa?"]
Bilah \= ["Insha Allah, habis magrib Mas."]
Bagas \= ["Aku antar sampai ke bandara, mobil kamu nanti Dina yang bawa ke Bandara."]
Bilah \= ["Gak Mas, aku tetap 1 mobil dengan Dina. Kamu ikutin aja dari belakang atau kamu tunggu di bandara."]
Bagas \= ["Baiklah, aku ikutin kamu dari belakang."]
Waktu semakin cepat berjalan. Sorepun menyapa bumi yang artinya Bilah bersiap untuk berangkat ke bandara. Selesai salat magrib, Bilah dan Dina sudah check out dari hotel tempat mereka menginap. Visa dan pasport mereka cek terlebih dahulu karena itu merupakan dokumen yang penting. Bilah dan Dina keluar dari hotel menuju mobil Bilah ternyata Bagas sudah berada di sana. Bagas berlari kecil menghampiri Bilah dan Dina.
Bilah tersenyum melihat Bagas sedang berlari ke arahnya.
"Mas, dari tadi nunggu di sini?" tanya Bilah.
"Enggak, baru kok. Tadi aku salat magrib terlebih dahulu. Sini aku bantu bawakan koper-koper kalian." Bagas membantu Bilah dan Dina memasukan koper mereka ke bagasi mobil.
Setelah itu Bilah masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya diikuti mobil Bagas di belakangnya. Sampai di Bandara Ahmad Yani international airport, sebelum mereka masuk pemeriksaan visa, Bilah menatap Bagas. Ada raut kesedihan di wajah Bagas.
"Mas, kenapa wajahmu bersedih? Tersenyumlah. Dengan bismillah akan ku bawa cintamu ke Turki dan ketika aku kembali ke Indonesia, akan aku tagih ucapan cintamu di atas janji suci. Percayalah aku akan kembali menagih janji akad cintamu di Indonesia. Cincin yang melingkar dijemariku ini adalah pengikat diriku untuk mu. Aku dan Dina berangkat Mas, tolong rindukan aku di dalam doa-doamu, Assalamu'alaikum calon imamku,"
"Wa'alaikumsalam, bawalah ini bersamamu." Bagas tidak bisa berkata-kata lagi, ia memberikan tasbih kepada Bilah. Seuntas senyuman Bagas yang mengantarkan Bilah pergi ke Turki.
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua