
POV Billi
Aku tidak menyangka bisa menyukai Dina, sahabatnya Bilah. Sejak dia membelaku, rasa itu muncul menghampiriku. Tidak dipungkiri ia terlihat cantik dimataku.
Aku sadar, dengan gayaku seperti ini mana mungkin dia suka sama aku. Teman-temanku saja mengejekku dengan sebutan banci atau bencong. Jauh dengan dia yang terlihat anggun dan pindar. Aku mendekati Bilah agar aku bisa selalu dekat dengannya. Ah dia hanya menganggap aku sahabat, tidak bisakah dia melihatku sebagai laki-laki?
Masa-masa SMA ini merupakan masa-masa indahku, ah Dina kamulah yang membuat semangat hidupku muncul lagi. Sejak kecil Mamahku menganggapku seperti anak perempuan. Aku benci gara-gara Mamahku, setiap hari aku selalu diolok-olok temanku sendiri. Ya Allah tolong rubah gayaku ini.
Masa SMA terasa cepat ku lalui, aku berpisah dengan Dina karena dia berhasil masuk kuliah di Universitas Indonesia fakultas kedokteran, sedangkan aku mengambil fakultas bisnis di Universitas Gajah Mada. Aku harapan satu-satunya Papah untuk meneruskan bisnisnya kelak, hanya Papahkulah yang sangat perduli denganku. Mamah tinggal di vila puncak karena Mamah mengalami halusinasi tentang kakak perempuanku yang sudah meninggal, aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang Mamah.
Walaupun aku berbeda tempat kuliah dan jarak yang sangat jauh, tapi aku selalu berusaha berkumpul bersama dengan Dina dan Bilah ketika Bilah menghubungiku untuk ketemuan. Rasa senang ketika aku bertemu dengannya. Rasanya ingin jujur saja dengan perasaanku ini, tapi aku takut ketika aku jujur dia malah menjauh dariku.
Diam-diam aku ikut club bela diri taekwondo, tujuanku agar aku bisa lebih maco seperti yang Bilah bilang. Katanya Dina suka cowo yang maco. Selama 4 tahun aku berlatih sampai aku mendapatkan sabuk hitam. Aku juga pergi ke gym agar otot-ototku terbentuk.
Dulu waktu SMA tubuhku kurus tapi kini tubuhku berotot.
Ilustrasi Billi dengan gaya coolnya
Ketika aku pergi ke mall dari jarak jauh, aku melihat Dina. Dia tidak sendirian tapi dengan seorang laki-laki, mereka bergandengan tangan. Sakit hatiku melihat Dina bergandengan tangan. Aku bercermin di cermin, memang aku tak pantas untuk Dina. Badanku berotot tapi gayaku masih gemulai.
Setelah aku selidiki ternyata cowo itu tunangan Dina, pupus sudah harapanku. Jika dia laki-laki yang baik, maka aku mundur. Ternyata tunangan Dina berengsek, dia mempunyai wanita lain bahkan sering melakukan hubungan badan. Aku tidak akan membiarkan Dina jatuh ke tangan laki-laki berengsek ini. Aku diam-diam mengikuti tunangan Dina, memfoto mereka ketika mereka sedang berhubungan intim dan ku kirim ke nomor Dina dengan menggunakan nomor perdana yang aku beli, aku kirim juga lokasi dimana tunangannya itu sedang melakukan adegan panasnya. Dina datang dan melihat itu semua, dia menangis tangannya gemetar ketika dia merekam tunangannya ketika berhubungan intim dengan wanitanya. Ingin ku peluk dia saat itu juga, tapi aku hanya diam dari kejauhan.
__ADS_1
Aku gembira, Dina memutuskan pertunangannya. Aku akan coba mendekatinya lagi. Papahku mengangkat aku sebagai CEO, waktuku tersita dengan kerjaanku. Kini kami sudah mempunyai profesi sendiri-sendiri, aku sebagai CEO, Dina sebagai dokter umum, dan Bilah sebagai seorang istri.
Ketika Bilah mempunyai masalah dengan rumah tangganya, akupun membantu Bilah. Karena secara tidak langsung Bilah lah yang sangat membantuku agar aku berubah, dan dialah yang membuat aku dekat dengan Dina. Bilah memang sahabat yang baik, dia suka menolong sahabatnya, aku tahu sifat Bilah seorang perempuan yang tulus ketika menjalin suatu hubungan, baik itu percintaan ataupun persahabatan. Kami bertiga sahabat yang tak akan terpisahkan, apalagi dengan Dina, rasanya aku tak mau jauh darinya.
Suatu ketika Bilah meminta bantuan kepadaku, menjadi tunangan palsu Dina, karena Dina diteror mantan tunangannya. Aku senang dan tersenyum penuh kegembiraan. Oh Allah aku tidak mau menjadi tunangan palsunya, aku mau dia menjadi tunangan asliku bahkan aku mau dia menjadi istriku.
Tapi Bilah mempunyai syarat jika aku mau menjadi tunangan palsu Dina, yaitu gayaku harus dirubah menjadi laki-laki seutuhnya.
Aku harus melawan diriku sendiri, 1 minggu aku berlatih. Ku buat 1 ruangan penuh dengan cermin, ruangan itu berbentuk seperti ruangan menari, yang akan memperlihatkan pergerakan sang penari. Aku atur gaya jalanku dengan posisi tegap, dada membusung ke depan , ku rubah gaya bicaraku agar seperti laki-laki normal pada umumnya. Selama 7 hari aku melakukan itu semua bahkan aku tidak bekerja demi perubahan gayaku. Semua itu aku lakukan demi Dina.
Ketika aku berpura-pura menjadi tunangannya, kugenggam tangannya, ku kecup kepalanya. Ya Allah ingin rasanya aku menghalalkannya. Entahlah apa yang dia rasakan ketika aku spontan melakukan hal itu di depan mantan tunangannya.
Suatu ketika sahabatku Bilah menghilang. Dina sangat panik, ia menangis karena menurutnya Bilah pergi karena dirinya. Dina sangat bersedih, selama ini mereka selalu bersama-sama. Ada Bilah, di situ ada Dina. Seperti kakak adik yang saling melengkapi. Dia sangat frustasi dan bilang kepadaku bahwa dia mau melanjutkan kuliahnya di Jogja Universitas Gajah Mada. Kampus dimana aku kuliah dulu. Perasaanku ketika dia bilang seperti itu, hatiku merasa tak sanggup untuk tidak melihat dia. Aku tidak bisa berkata apa-apa karena memang dia menganggap aku hanya seorang sahabat tidak lebih, itu pikiranku tapi keesokan harinya dia mengirimi aku pesan singkat bahwa dia sudah berangkat untuk melanjutkan pendidikannya.
Ah Dina, tahukah kamu betapa aku sangat mencintaimu. Aku berubah itu untukmu, aku ingin memantaskan diriku denganmu.
1 minggu tidak ada kabar apapun dari Dina ataupun Bilah tapi tiba-tiba teleponku berdering, Bilah menelepon aku dan ia meminta agar aku segera ke Bandung untuk menjaga Dina. Bilah menceritakan tentang gosip itu dan Dina kemarin membuat konferensi pers untuk membela Bilah. Aku memang jarang menonton tv ataupun youtube, 1 minggu ini pun aku sibuk untuk mencari Dina.
"Din, tunggu aku di Bandung. Aku akan menjagamu dan aku akan utarakan isi hatiku kepadamu, bahwa aku sangat mencintaimu," gumam Billi ketika menjalankan mobilnya menuju Bandung.
Aku tidak takut untuk mengutarakan cintaku, yang aku takutkan adalah penolakan cinta darimu.
Flash Back off
__ADS_1
***
Dina masih menunggu Billi sadar, ia selalu mengecek tekanan darah Billi, ia bisa bernafas lega bahwa tekanan darah Billi normal. Tinggal menunggu kesadaran Billi kembali. Dina menatap Billi dengan rasa sedih, Billi sampai mau mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya.
"Aku pikir kamu menyukai Bilah, ternyata perasaan aku tidak bertepuk sebelah tangan," gumam Dina dalam hati.
Dedd dedd
Ada pesan singkat yang masuk ke nomor Dina.
Bilah \= ["Din, makan yuk dari kemarin loe belum makan apa-apa. Jangan sampai Billi sadar loe nya yang malah sakit, gue tunggu didepan pintu ICU yah, calon mertua loe juga baru dateng nih. Nanti gue perkenalin loe, bahwa loe calon istri Billi."]
Dina \= ["Jangan gila loe Bil, gue masih belum komunikasi apa-apa dengan Billi. Dia bilang suka sama gue aja udah seneng. Jangan ngadi-ngadi kalau ngomong."]
Bilah \= ["Hahaha, sensi banget sih Loe. Udah cepat keluar, kita makan dulu."]
Dina \= ["Iya gue keluar."]
Bersambung
***
Berkunjung ke novel baru ku yuk kk berjudul Salah Lamar
__ADS_1