5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Mas Sudah...


__ADS_3

Setelah pagi mulai menyongsong pengantin baru beranjak bangun. Dina terbangun terlebih dahulu, ketika dia mau beranjak jalan menuju kamar mandi terasa sakit di bagian intinya sehingga ia mengeluarkan suara ringisan sakit. Suara ringisan Dina membuat Billi terbangun.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Billi.


"Aku mau mandi, tapi ketika aku mau berjalan terasa sakit," ucap Dina.


"Apanya yang sakit?" tanya Billi.


"Yang itu..." ucap Dina.


"Itu yang mana sayang, biar aku check," ucap Billi.


"Sudah ah gak usah, aku mau jalan sendiri. Aku susah ngomong sama kamu, gak peka kamu," ucap Dina dengan nada kesal.


Ketika Dina berusaha untuk berjalan, Billi menggendong Dina.


"Pegangan nanti jatuh," ucap Billi.


Billi menggendong Dina sampai ke kamar mandi.


"Bisakah kamu ambilkan handukku?" tanya Dina.


"Kamu mau aku mandikan?" tanya Billi.


"Aku sendiri aja, tolong ambilkan handukku. Letakkan di depan pintu," pinta Dina.


"Baiklah," jawab Billi.


***


Bagas dan Bilah di dalam mobil yang sama.


"Mas, kita nikah bulan depan. Cepat yah rasanya. kenapa harus sekarang memilih gaun pengantin dan cincin di sini Mas, aku mau yang sederhana aja," pinta Bilah.


"Sayang, bagiku sebuah resepsi itu adalah sebuah momen yang nggak terulang. Aku ingin sempurna ketika kita melakukan akad ataupun resepsi. Mumpung kamu di Indonesia, kamu 'kan akan balik lagi ke Turki. Lusa bukan kamu ke Turki lagi. Jujur aku nggak sabar untuk kita menikah," ucap Bagas.


"Mas mau cepat nikah sama aku, karena takut dosa atau karena Mas mau sentuh aku? jawab jujur Mas," pinta Bilah.


"Keduanya, aku takut dosa karena otakku sudah candu semua tentangmu dan aku mau menyentuh kamu dengan status istriku," jawab Bagas.


"Tapi, aku mohon yang sederhana," mohon Bilah.


"Sudahlah ikut aja yah sayang," ucap Bagas.


Bilah tidak bisa menolak keinginan Bagas, ia mengikuti kemauan Bagas. Mereka sekarang berada di sebuah mall besar di Jakarta.


"Mas, kita masuk ke toko ini?" tanya Bilah.


"Iya, memang kenapa? Apakah kamu pikir aku tidak mampu membeli cincin nikah di toko ini?" tanya Bagas dengan nada tinggi dan emosi.


"Kok kamu sensi gitu sih jawabnya, aku hanya bertanya. Kamu mau bertengkar dengan aku? Aku balik aja jika sikap seperti itu. Malas aku menanggapi orang yang sedang emosi," ucap Bilah, sambil melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Bagas.


"Bilah... sayang... maafkan aku." Bagas menghalangi jalan Bilah.


"Kamu kenapa sih hari ini, biasanya jika bicara sama aku, kamu lembut kenapa hari ini kamu emosi sekali," protes Bilah.


"Entahlah, jika aku kepikiran kamu terbang ke Turki, aku menjadi emosi," ucap Bagas.

__ADS_1


"Ya Allah Mas, aku ke Turki buat ngurusin pekerjaan. Aku tinggal sama kakek juga di Turki. Aku ke Turki bukan untuk selingkuh. Gak kaya kamu yang masih bertemu dengan Ning Haya, kamu pikir hatiku baik-baik saja? Tapi aku diam aja Mas walaupun tersiksa dengan perasaanku. Dan aku berpikir, toh kamu cintanya dengan aku bukan Ning Haya, jadi aku tak takut kehilangan kamu. Tapi rasa cemburu itu ada Mas," ucap Bilah.


"Maafkan 'kan aku, aku akui salah. Mau 'kan kamu maafkan aku?" tanya Bagas.


Bilah menganggukan kepalanya.


"Ayo masuk, kamu pilih cincin yang kamu suka. Jika kamu tidak ada yang cocok kita ke toko lain," ucap Bagas dengan lembut.


Bilah melihat dan memilih yang ia suka.


"Mas, aku suka yang ini." Bilah tunjuk cincin yang dia suka. Cincin yang berbentuk simple tapi cantik pada jari manis Bilah.


"Mba saya ambil yang ini," ucap Bagas.


Setelah membeli cincin pernikahan, Bagas mengajak Bilah ke sebuah butik.


"Kamu nanti deskripsikan gaun yang kamu inginkan, mereka akan merancang gaun pengantin kita," ucap Bagas.


Bilah mendeskpsikan gaun pengantin yang ia inginkan, perancang mencatat apa yang Bilah mau.


Setelah selesai untuk gaun pengantin, Bagas mengajak Bilah untuk makan siang. Jika seseorang yang sudah dilamar berjalan berduaan dan bergandeng tangan tapi tidak untuk Bilah dan Bagas. Bilah berjalan di belakang Bagas. Mereka masuk ke restoran.


"Kamu pesanlah, aku mau kebelakang dulu yah," ucap Bagas.


"Kamu mau makan yang mana Mas, aku 'kan gak tahu apa yang kamu mau," ucap Bilah.


"Apapun yang kamu pesan aku suka," ucap Bagas.


Ketika Bilah sedang memilih menu, ada seseorang yang langsung duduk di meja Bilah.


"Mas kok cepat?" Bilah masih melihat buku menu, ia tidak melihat siapa yang datang.


Bilah menatap seseorang yang ada di depannya.


"Ngapain kamu Ranu duduk di mejaku?" tanya Bilah dengan emosi.


"Duh galak sekali kamu," ucap Ranu.


Ranu menarik tangan Bilah, dia mengelus-elus tangan Bilah. Bilah langsung menghentakkan tangan Ranu.


"Jangan kurang ajar yah." Bilah berdiri dan langsung mengusir Ranu. Tapi Ranu malah melangkag ke depan membuat kaki Bilah mundur ke belakang.


"Jangan lancang kamu Ranu, aku akan berteriak jika kamu macam-macam denganku," ucap Bilah mengancam.


Bagas baru kembali, ia melihat Ranu yang sedang mengganggu Bilah. Bagas langsung menyentuh pundak Ranu. Ranu melihat ke arah Bagas. Bagas langsung memukul wajah Ranu.


"Sudah saya peringatkan Anda, jangan ganggu calon istri saya." Bagas geram dengan tingkah laku Ranu yang masih mengganggu Bilah.


"Haha... masih calon istri 'kan, belum menjadi istri. Bisa aja dia rujus sama saya." Ranu tersenyum miring membuat Bagas tersulut emosi.


"Jangan harap kamu mendapatkan Bilah lagi." Bagas langsung menendang perut Ranu, ia juga memukul wajah Ranu berkali-kali. Wajah Ranu sudah terluka dengan darah yang mengalir di dahinya.


"Mas... sudah Mas." Bilah memegang lengan Bagas agar dia menghentikan pemukulan terhadap Ranu.


"Dia kurang ajar dengan kamu, aku tak rela." Bagas sangat emosi, karena sudah berkali-kali Ranu mengganggu Bilah, ia terus menendang Ranu.


"Mas... sudah... hentikan, tatap mata aku." Bilah memegang pipi Bagas dan mengarahkan mata Bagas ke arah matanya.

__ADS_1


"Istigfar Mas," pinta Bilah.


"Astagfirullah, maafkan aku yah," ucap Bagas.


"Kamu memukul aku, awas kamu. Kita akan bertemu lagi di kantor polisi," ancam Ranu.


Ranu langsung meninggalkan Bagas dan Bilah.


"Duduk dulu sini Mas, redam emosi kamu," pinta Bilah.


"Aku bikin kamu takut yah?" Tanya Bagas.


"Iya, kamu seram ketika emosi. Aku seperti tidak mengenal kamu. Ketika nanti aku sudah menikah denganmu dan sewaktu waktu aku membuat kesalahan. Apakah kamu akan memukulku Mas?" tanya Bilah.


"Maafkan aku Bilah, maaf. Aku berjanji tanganku ini tak akan pernah untuk memukulmu tapi untuk melindungi," ucap Bagas.


"Aku heran, kenapa Ranu tidak membalas pukulanmu Mas, artinya dia sengaja mau memenjarakanmu," ucap Bilah.


"Biarkan saja akan ku lawan dia. Siapapun yang mengganggu kamu akan berurusan denganku," ucap Bagas.


"Terima kasih Mas," ucap Bilah.


"Jangan berterima kasih itu sudah kewajiban aku untuk menjagamu," ucap Bagas.


Bersambung


***


Pertanyaan GA


Buat kalimat rayuan romantis untuk Bilah.


Silahkan tulis di kolam komentar.


Hadiah



***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga. Saya doakan kalian banyak Rezeki aamiin.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



Salah Lamar


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)


__ADS_1


Love you semua


__ADS_2