
Dina menentukan tempat dan waktu untuk konferensi pers, dia mengundang hanya beberapa wartawan . Akan tetapi karena Nida merupakan model dan sekaligus bintang film yang sedang naik daun, maka wartawan yang tidak di undang Dina ikut beramai- ramai datang ke tempat yang sudah Dina tentukan.
Wartawan sudah siap dengan mikropon dan kameranya, bahkan wartawan dari tv swasta menyiarkan konferensi pers Dina secara live. Dina melihat kursi-kursi yang dia sediakan sudah penuh, bahkan di luar pintu masih banyak wartawan yang ingin masuk tapi satpam tidak mengizinkan masuk karena ruangan sudah full.
Dina tidak tanggung-tanggungan mengelar konferensi pers ini, ia menyewa sebuah gedung pertemuan, ia rela mengeluarkan uang hasil sewa apartemennya di Jakarta untuk membayar sewa gedung yang akan di pakainya.
Karena Dina merupakan dokter baru di Bandung, rumah sakit menyediakan tempat berteduh yang hanya muat 1 ranjang. Dia akan tinggal di fasilitas rumah sakit. Bagi Dina pengorbanan ini tak sebanding dengan apa yang Bilah lakukan kepadanya.
Dina mengintip dibalik pintu masuk, ternyata tidak seperti dugaannya. Dia berpikir hanya wartawan cetak saja yang akan datang , akan tetapi wartawan dari tv swasta berdatangan. Rasa nervous kini melanda Dina, salivanya naik turun.
"Astagfirullah, ini lebih menakutkan daripada membantu dokter spesial untuk mengoperasi pasien," ucap Dina, dengan keringat yang menetes di dahinya.
Zidan yang datang bersama Dina, melihat di dalam gedung sudah berdatangan banyaknya wartawan membuat diapun gugup.
"Dina, Kakak pulang aja yah," ucap Zidan.
Zidan mencoba melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Dina, tapi lengannya ditarik oleh Dina.
"Ets Kak, kamu harus temenin aku. Masa tega banget tinggalin aku sendiri. Kakak duduk di samping aku yah, buka maskernya."
"Ih...gak sesuai perjanjian nih, tadikan perjanjiannya pakai masker dan duduknya dekat wartawan," ucap Zidan.
"Kakak lihat 'kan, diluar sana? memang masih ada bangku yang kosong? bangku kosong hanya di depan aja Kak," ucap Dina, sambil menarik lengan Zidan.
Dina terus merengek dan merayu Zidan agar dia bersedia menemaninya untuk konferensi pers.
"Yah Kak, Please. Aku akan lakukan apa aja deh sebagai penggantinya jika Kakak bersedia mendampingi aku," ucap Dina.
"Bener nih, mau melakukan apa aja?" tanya Zidan.
"Iya Kak apa aja asal bukan yang melanggar aturan agama," ucap Dina.
"Oke, deal." Zidan mengulurkan tangannya dan Dina menyambut tangan Zidan kemudian mereka bersalaman.
Mereka masuk ke dalam ruang konferensi pers dengan setelan jas putih dokter mereka, karena Dina membawa bukti tentang visum Bilah. Dina berpikir akan menambah keyakinan para wartawan ketika dia menggunakan baju dokter.
Dina dan Zidan kini sudah duduk di depan para wartawan.
"Kak, senyum! setelah konferensi pers ini, kita akan menjadi artis, di kenal di mana-mana," bisik Dina.
"Oke juga nih Dina, dikenal sepasang dokter cantik dan tampan hehe," bisik Zidan, dengan tertawa kecil.
Dina menarik nafas lalu mengeluarkan perlahan. Ia mulai berbicara di depan para awak media.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, siang teman-teman wartawan," ucap Dina, memberikan salam kepada wartawan.
"Wa'alaikumsalam, siang," ucap para wartawan serentak.
"Nama saya Dokter Dina dan di samping saya ini Dokter Zidan, terima kasih kepada teman-teman wartawan yang sudah menghadiri undangan saya. Saya tidak menyangka ternyata di luar dugaan saya, banyak para wartawan yang saya tidak undang berdatangan," Dina tersenyum.
"Dokter Dina, saya dari RRCCTI mau bertanya. Apa hubungan Dokter Dina dengan Nabilah mantan istri Ranu?" tanya wartawan RRCCTI.
"Saya sahabat dan juga saudara dari Nabilah," jawab Dina.
"Dokter Dina, saya dari SCTB. Kenapa Anda yakin bahwa Nabilah tidak selingkuh dengan sahabatnya?" tanya wartawan SCTB.
"Sahabatnya 'kan saya, masa Nabilah selingkuh dengan saya haha, kami masih suka lawan jenis bukan lesbong. Saya punya bukti bahwa Ranu lah yang selingkuh bukan Nabilah," ucap Dina.
"Bukti apa yang Dokter Dina punya?" tanya wartawan komkompa.
"Teman-teman wartawan lihat layar di depan, silahkan jika kalian mau ambil gambar dan rekam apa yang saya akan tampilkan," ucap Dina.
Dina menampilkam foto-foto di layar yang dia ambil ketika mengikuti Ranu dan Nida, dalam foto tersebut ada tanggal pengambilan. Dina menjelaskan satu-persatu foto-foto tersebut. Ia juga menampilkan rekaman Ranu ketika check in dengan Nida di hotel. Pintarnya Dina, ternyata Dina pernah screen shot hasil percakapan Ranu dan Nida ketika hpnya dikloning.
"Dan bukti terakhir yang saya sampaikan adalah hasil visum Nabilah. Ketika Ranu tertangkap basah telah selingkuh, Nabilah tidak tinggal 1 rumah lagi dengan Ranu. Dia tinggal dengan saya selama 3 minggu, dalam 3 minggu itu beberapa kali Ranu memaksa Nabilah untuk melayaninya akan tetapi Nabilah menolak karena ia sudah menggugat cerai Ranu. Nabilah pernah diculik, dibawa kelorong rumah sakit karena ketika itu saya dan Nabilah sedang berada di rumah sakit. Ranu telah melecehkan dan memukul Nabilah sampai wajahnya memar, saya akan tampilkan foto ketika wajah Nabilah memar dan surat hasil visum dari penganiayaan tersebut," ucap Dina.
"Tidak hanya itu, Ranu juga membodohi Nabilah, dengan berdalih sumbangan ke panti asuhan meminta tanda tangannya akan tetapi tanda tangan itu ternyata untuk membalikkan harta Nabilah yaitu berupa perusahaan yang diwarisi oleh ayahnya, rumah, bahkan mobil. Apakah sahabat saya itu pernah melaporkan itu? tidak, saking baiknya sahabat saya, dia tidak melaporkan laki-laki yang sudah menghianatinya," sambung Dina.
Mendadak Dokter Dina dan dokter Zidan menjadi perbincangan hak layak ramai. Dokter Dina yang cantik dan Dokter Zidan yang cool.
"Akibat ulah Ranu, kini saya tidak tahu kemana sahabat saya itu sekarang. Ada trauma yang dia alami. Bayangkan 5 tahun menikah tapi tanpa cinta, suaminya menikahi Nabilah karena suatu dendam bukan karena cinta," sambung Dina kembali.
"Dendam apa Dokter Dina?" tanya wartawan cetak rebus.
"Maaf, untuk masalah itu saya tidak bisa mengatakan. Baik saya rasa cukup untuk konferensi pers ini, terima kasih teman-teman wartawan yang sudah datang. Saya sudah menyampaikan semuanya kepada kalian. Assalamu'alaikum, selamat siang," ucap Dina, sambil meninggalkan tempat konferensi pers tersebut.
Banyak wartawan yang masih ingin bertanya dan mengejar-ngejar Dina. Tapi dihalangi oleh Zidan, sehingga para wartawan hanya mendapatkan berita pada saat konferensi pers saja. Wartawan memfoto mereka berdua.
Dina dan Zidan berhasil menghindari para wartawan, kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tunggu para wartawan pergi dulu, setelah itu baru kita pergi dari sini," ucap Zidan.
Dina menyetujui usul Zidan, mereka menunggu wartawan pergi terlebih dahulu. Setelah wartawan pergi barulah mereka menjalankan mobilnya. Dina sekarang bisa bernafas lega.
"Alhamdulilah..." Ucap Dina sambil mengusap-usap dadanya.
Zidan menoleh ke arah Dina, dan menatap Dina. "Cantik kamu Dina," guman hati Zidan.
__ADS_1
"Lega yah?" tanya Zidan.
"Banget, jantungku berpacu sangat cepat tadi. Penampilan aku bagaimana di depan para wartawan Kak? oke gak?" tanya Dina.
"Keren banget," jawab Zidan.
Dina tersenyum mendengar jawaban dari Zidan.
"Kak, ke rumah sakit yah." pinta Dina.
"Loh, katanya mau cari sewa apartement. Biar aku antar," ucap Zidan.
Dina menggelengkan kepalanya, "Gak jadi Ka. Untuk sebulan ini, aku menempati fasilitas rumah sakit aja."
"Kenapa? kecil banget itu loh. Gak nyaman tinggal di sana, hanya untuk tidur doang bisanya, meletakkan barang-barang aja susah. Kalau cowo gak masalah, kamu 'kan cewe," ucap Zidan.
"Uangku habis kak, untuk sewa gedung," ucap Dina.
"Segitu pentingnya kah sahabatmu itu? sampai pengorbanan kamu seperti ini?" tanya Zidan.
"Sangat penting, bahkan pengorbanan aku ini gak seberapa, tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dia perbuat kepadaku, aku kangen dia," ucap Dina lirih.
Selesai konferensi pers, mereka menjadi terkenal. Berita tersebar ke seluruh Indonesia. Bahkan rumah sakit tempat mereka bekerja tak luput menjadi sorotan. Rekan kerja merekapun tidak kalah hebohnya, 2 dokter muda itu digosipkan ada hubungan khusus karena di dalam berita gosip terlihat Zidan sangat menjaga Dina ketika awak media mengejarnya. Mereka berkata, "Pasangan dokter yang serasi." Aksi Dina ini mengakibatkan posisi yang merugikan untuk Nida dan Ranu, tapi menguntungkan untuk Bilah.
Bersambung
***
GA untuk sabtu 12 November 2022
Pertanyaan :
Dina cocoknya dengan siapa?
Dokter Zidan atau Billi, tuliskan alasan dengan kalimat yang puitis yah.
Jawaban harus di kolam komentar
hadiah GA untuk 2 orang pemenang, boneka rajut larva.
larva kuning dan merah (Tolong kasih bintang 5 yah teman-teman untuk novel ini).
Terima kasih
__ADS_1