
Kini Dina berada di dalam ruang ICU. Dia berbicara dengan Billi walaupun Billi tidak bisa menjawabnya. Dina memperhatikan wajah Billi, wajah familier untuk Dina.
Jari-jari Billi terlihat ada pergerakan, Dina memperhatikan Billi dan memanggil namanya.
"Billi...Billi..." ucap Dina.
Perlahan mata Billi terbuka, terlihat buram tapi lama kelamaan pandangannya menjadi jelas. Dia melihat Dina yang sedang menatapnya. Billi hanya bisa tersenyum, tubuhnya masih terasa lemas dan masih belum mampu banyak berbicara.
Dina menangis, rasa syukur kepada Allah yang dia ucapkan. Dia langsung memeriksa keadaan Billi, kini Dina bisa bernafas lega.
"Dina..." ucap Billi dengan suara pelan seperti bisikan.
"Iya, aku di sini," jawab Dina.
Dina membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Billi.
"Aku sayang kamu Dina," ucap Billi dengan nafas yang masih belum stabil.
"Aku juga suka kamu Billi, udah nanti kita bahasanya. Jangan banyak bicara dulu nafas kamu masih belum stabil," ucap Dina.
"Aku panggil Dokter Jimmy dulu yah, tunggu aku." Dina ingin keluar dari ruang ICU, tapi tangan Dina ditahan oleh Billi.
"Jangan pergi, kemarilah. Aku ingin mengatakan sesuatu," pinta Billi.
Dina mendekatkan wajahnya, agar dia bisa mendengar suara Billi lebih jelas.
"Lebih dekat lagi Din, aku masih lemas," ucap Billi.
Dina menuruti keinginan Billi, dia lebih mendekatkan wajahnya kembali. Membuat jantung Dina semakin berdetak tak beraturan. Terasa hembusan nafas Billi yang hangat.
Cup
Tiba-tiba Billi mencium pipi Dina, mata Dina membulat, ada desiran di dadanya. Hatinya seperti ingin meloncat-loncat. Kulitnya yang putih kini tampak kemerahan setelah Billi mencium pipi Dina dengan cepat dalam sekejap.
"Maaf, entahlah aku ingin sekali mencium pipimu," ucap Billi pelan.
Dina masih belum percaya, terasa manis sikap Billi terhadapnya. Dina menunduk malu, dia tak sanggup menatap mata Billi.
"Aku belum ada tenaga yang cukup kuat, janganlah mematung seperti itu Din. Biasanya kamu banyak omong, kenapa sekarang sangat pendiam?" ucap Billi.
Dina mulai berani menatap Billi kembali.
"Bagaimana aku tidak mematung, tiba-tiba kamu mencium pipiku," ucap Dina.
"Aku sudah mengatakan maaf kepadamu," ucap Billi.
"Tidak apa-apa, aku suka kejutanmu itu, tadi aku terkejut saja," ucap Dina.
"Apakah kita sudah menjadi sepasang kekasih?" tanya Billi.
"Kamu hanya mau menjadi kekasihku saja?" tanya Dina.
__ADS_1
"Kamu mau lebih?" tanya Billi.
Dina hanya terdiam, tidak mungkin perempuan terlebih dahulu yang mengajak menikah, tensin. Lagi pula Billi baru sadar, dan baru mengungkapkan perasaannya.
"Kenapa diam?" tanya Billi.
Dina hanya memberikan senyuman kepada Billi.
"Kamu sebentar tunggu aku di sini, Papahmu pasti senang banget tahu kamu sudah sadar," ucap Dina.
Lagi-lagi Billi mengambil tangan Dina agar dia tidak pergi.
"Tunggu dulu, kamu belum jawab aku. Aku mencintai mu Din, sejak awal kamu membela aku ketika pembullian di SMA. Kita sudah cukup umur sekarang. Sudah sama-sama matang untuk menuju ke jenjang yang serius. Mungkin ini terlalu cepat aku ucapkan. Kamu mau menikah denganku Dina Syahnala?" tanya Billi yang masih terbaring lemah.
"Sudah kamu istirahat dulu, jangan banyak berbicara. Nafasmu juga belum normal, aku akan memasangkan oksigen," ucap Dina.
Tapi Billi tidak mau melepaskan tangan Dina.
"Aku tidak mau melepaskan tanganmu sebelum kamu jawab aku, jangan menghindar lagi dariku," ucap Billi dengan tatapan sayunya.
"Aku menunggumu sehat terlebih dahulu, setelah kamu sehat datanglah kepada kedua orang tuaku untuk meminangku, sekarang izinkan aku pergi. Agar dokter Jimmy memeriksa mu dan aku harus memberitahukan berita gembira kepada Papahmu dan juga Bilah," ucap Dina.
Billi mulai melepaskan tangan Dina. Dina melangkahkan kakinya untuk menuju keluar ruang ICU, kakinya terhenti dan membalikkan badannya lalu dia melangkahkan kakinya ke ranjang Billi.
"Aku mau menjadi istrimu, duhai sahabatku," ucap Dina, lalu ia mengecup dahi Billi. Setelah itu Dina baru keluar ruangan ICU Billi.
'Tidak ku sangka Dina mencintaiku, serasa mimpi aku memiliki dia. Sikapnya sangat menggemaskan, ah aku sudah kangen aja sama dia padahal baru aja dia keluar rasanya sangat lama sekali.' batin Billi.
"Bagaimana perasaan kamu Billi?" tanya Rizal.
"Papah menanyakan rasa perasaan hati, atau rasa sakit aku. Papah pertanyaanya ambigu," ucap Billi.
"Haha Papah tahu perasaan hati kamu sedang berbunga-bunga karena dokter cantik itu," ucap Rizal.
"Lamarin dia untuk aku Pah," pinta Billi.
"Kamu ini, baru sadar udah mau lamar anak gadis orang. sehat dulu," ucap Rizal.
"Takut diambil orang Pah, langka perempuan yang mau sama Billi," rayu Billi, kepada rizal.
"Ikat biar gak diambil orang," kata Rizal.
"Itu Papah pinter, ikat dia dengan lamaranku Pah," ucap Billi.
"Papah akan lamar dokter cantik itu setelah kamu keluar dari rumah sakit ini. Percaya dia sangat mencintaimu, Papah sudah berbicara dengannya," ucap Rizal.
"Benarkah Pah, Dina sangat mencintai Billi?" tanya Billi.
"Papah lihat perjuangan dia, ketika jantung kamu berhenti. Sudah jangan takut, hati dia hanya untuk kamu." Ucapan Rizal membuat hati Billi sangat senang, dia menjadi semangat agar bisa keluar dari rumah sakit ini.
Tidak lama Dina masuk ke ruang rawat Billi kembali.
__ADS_1
"Om belum makan, mau aku belikan?" tanya Dina.
"Om beli sendiri aja, tolong temenin Billi dulu yah," ucap Rizal.
Rizal meninggalkan Dina dan Billi berdua di ruang rawat.
"Luka tusukan kamu masih berasa sakit?" tanya Dina.
"Masih, ini badanku pegal karena tidur hanya bisa miring ke kanan," keluh Billi.
Dina duduk di kursi, dia menggeser kursi agar lebih dekat dengan Billi. Mereka malah canggung satu sama lain, tidak ada percakapan yang membahas apapun. Billi memegang rambut Dina dan menyelipkan di telinga. Membuat perasaan Dina tidak karuan sekarang, rasanya seperti ada desiran panas di dada yang menjalar ke seluruh tubuh. Tatapan mereka berdua bertemu, Billi memegang leher belakang Dina, dia arahkan tangannya untuk memajukan leher Dina sehingga wajah Dina mendekat ke wajahnya. Billi melihat bibir Dina yang merah merona, posisi wajah mereka perlahan mulai berdekatkan. tanpa sadar bibir mereka bertemu. Saling merasakan daging kenyal di bibir mereka, terasa basah, Billi sedikit bermain di bibir Dina sehingga mata Dina terpejam. Dina baru tersadar ketika Billi sedikit menggigit bibir bawahnya. Dia melepaskan bibirnya dari bibir Billi.
"Astagfirullah, apa yang kamu lakukan. Aku memang mencintaimu tapi seharusnya ciuman ini setelah kita menikah," ucap Dina, penuh penyesalan.
"Maafkan aku Din, aku terbawa suasana. Tolong maafkan aku," ucap Billi, sambil mengambil tangan Dina.
Dina langsung menjauhkan tangan Billi dan menggeser kursi yang ia duduki menjauh dari ranjang Billi.
"Dina, please jangan marah. Maafkan aku," ucap Billi lirih.
"Itu ciuman pertamaku, dengan mantan tunanganku saja aku tidak melakukan ciuman, kamu yang telah mengambilnya," ucap Dina yang masih memegang bibirnya.
Bilah gak pernah cerita, laki-laki yang hampir perkosa Dina, sempat menciumnya. Karena Bilah tahu, Dina akan sangat menyesal dan menangis berhari-hari kalau dia tahu.
Dina mulai mengeluarkan air mata, Billi dibuat bingung. Dia belum pernah sedekat ini dengan seorang perempuan, itupun ciuman pertama Billi. Dia mulai merasa bersalah, melihat perempuan yang ia cintai kini menangis akibat ulahnya.
Tok tok tok
suara pintu di ketuk, Bilah dan Gus Bagas baru sampai di rumah sakit. Sebelumnya Dina memberitahu lewat telepon bahwa Billi sudah sadar dan dia langsung ke rumah sakit diantar Bagas.
"Alhamdulilah, Billi loe dah sadar. Terima kasih yah sudah menyelamatkan Dina, gue gak tahu kalau gak ada loe. Loe juga sudah mati-matian fight sama penculik," ucap Bilah.
Billi hanya membalas Billah dengan senyuman, karena pikirannya sekarang masih terfokus dengan Dina.
"Din, loe nangis. Loh kenapa? Billi ' Kan sudah sadar," ucap Bilah.
"Sorry Bil, gue ke kamar mandi dulu." Dina langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar ruang rawat inap.
Bilah merasa aneh dengan sikap Dina yang tidak biasa.
"Gus maaf, kamu temenin Billi dulu yah. Aku mau nyusul Dina," pinta Bilah.
"Iya, aku akan tunggu di sini," jawab Bagas.
Bersambung
***
Hai para reader yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, komen,vote, follow aku juga.
Cek novelku yang berjudul Salah Lamar Yuk.
__ADS_1
Love You semua.