
Waktu terasa cepat, hukumanku sudah genap 4 tahun. Hari ini aku bebas, aku akan bertemu dengan Gendis anakku yang sudah berumur 3,5 tahun. Aku akan memulai kehidupan baru dengan putriku itu.
Ketika aku keluar dari rutan, kepala lapas memberi pesan kepadaku. Bahwa aku harus mengembangkan usaha rajutanku karena katanya aku mempunyai potensi dan kepala lapas menawarkan aku untuk bekerja sama. Aku sangat senang sekali, aku juga akan merekrut teman-temanku yang sudah keluar dari penjara terlebih dahulu untuk membantu aku. Aku punya 3 teman di dalam balik jeruji, mereka sudah bebas terlebih dahulu. Aku akan menghubungi mereka untuk membantuku membuat produk rajut.
Aku menghirup udara bebas, baru aku melangkahkan kakiku di pintu keluar. Gendis putriku berlari menghampiriku, ia langsung memeluk aku dengan erat. Sungguh Bilah mendidik anakku ini sangat bagus, karena semenjak kecil, Bilah memberitahu anakku agar tidak membenci aku dan anakku diajarkan memakai jilbab, ia sangat cantik sekali. Bilah membiasakan itu untuk pakaian Gendis sehari-hari. Aku hanya melihat babysitter yang membantu Bilah untuk merawat Gendis ternyata Bilah tidak datang. Mungkin dia berpikir aku belum tahu tentang dirinya.
"Bu Nida majikan saya menyuruh Ibu naik mobil lalu tadi majikan saya memberikan kunci ini. Ini kunci rumah, majikan saya meminta Ibu untuk menempati rumah dari kunci ini. Ayo Bu silakan masuk, nanti pak sopir akan mengantarkan Ibu ke rumah tersebut," ucap Ima.
Masya Allah aku tidak menyangka bahwa Bilah sudah menyiapkan aku sebuah rumah untuk berteduh dengan Gendis. Terbuat dari apa hatinya? dia sangat dermawan sekali, apakah dia benar-benar tidak membenci aku atas semua yang aku perbuat olehnya?
"Mbak boleh aku bertemu dengan majikan Mbak terlebih dahulu? aku ingin mengucapkan terima kasih kepada dia," tanyaku.
"Mohon maaf Bu Nida, majikan aku sedang tidak ada di rumah. Dia sedang ke luar negeri dengan keluarganya," jawab Ima.
Aku pun hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil sesuai yang Bilah perintah, aku memeluk erat anakku Gendis. Aku sangat senang sekali sekarang aku sudah bebas dan bisa pesawat anakku sendiri.
Aku berhenti di sebuah rumah, rumahnya dari luar tampak kecil tapi ketika aku masuk betapa terkejutnya aku. Rumah ini sangat luas di belakang, ada taman dan rumahnya sudah terisi dengan semua perabotan bahkan di dalam kulkas juga sudah lengkap dengan makanan. Bilah sudah menyiapkan ini semua bahkan ada seorang pengacara yang sudah menunggu aku di rumah tersebut, dia ingin meminta tanda tangan aku karena rumah ini akan berpindah tangan atas namaku. Aku sangat terkejut dengan semua ini Bilah memberi aku sebuah rumah secara cuma-cuma. Aku membubuhi tanda tanganku dan pengacara itu memberikan sertifikat tanah kepadaku untuk aku simpan.
Setelah selesai semua mereka pun pulang. Di rumah ini juga ada sebuah sepeda motor, kata mbak Ima untuk aku bepergian jika ingin pergi ke mana-mana. Aku sangat terharu, aku menangis dengan fasilitas yang diberikan Bilah kepadaku.
"Sayang kamu sudah makan belum?" tanyaku kepada Gendis.
"Belum Mah, aku belum makan," jawab Gendis.
"Kamu mau makan apa? Mamah masakan ya," tanyaku kembali.
"Aku mau makan ayam goreng Mah," jawab Gendis.
Aku melihat kulkas, memang ada ayam yang sudah diungkep. Bilah tahu kesukaan anakku, aku tinggal menggoreng ayam tersebut. Aku mendudukkan Gendis di meja makan, ketika menggoreng aku bertanya dengan Gendis.
"Sayang yang merawat kamu namanya tante siapa sayang?" tanyaku.
Gendis terdiam dia tidak mau menjawab.
"Kok Mamah tanya nggak dijawab sayang?" tanyaku kembali.
"Aku sudah janji Mah, nggak boleh menyebutkan nama tante dan om sama Mamah," jawab jujur Gendis.
"Rahasia kita bagaimana?" Aku mengulurkan kelingking ku sebagai janji kepada Gendis.
__ADS_1
"Tapi Mamah jangan bilang-bilang jika aku yang bilang ya Mah," pinta Gendis.
"Iya sayang, Mamah janji kok. Siapa namanya om dan tantenya?" tanyaku.
"Tante Bilah dan Om Bagas, anak mereka namanya dek Heelwa," jawab Gendis.
"Tante Bilah baik banget ya," ucapku.
"Iya Mah aku dibeliin apa aja sama tante dan om. Kalau Heelwa dibeliin baju, aku juga dibeliin baju. Kalau Heelwa dibeliin mainan aku juga dibeliin mainan Mah," ucap Gendis.
"Mulai hari ini kamu tinggal sama Mamah nggak apa-apa? pasti kan rumahnya lain seperti punya tante Bilah," tanyaku.
"Kata tante Bilah, aku harus betah tinggal sama Mamah karena Mamah sangat sayang aku, Mamah selalu mendoakan aku walaupun aku jauh dari Mamah dan selalu sayang sama aku kata tante Bilah seperti itu Mah. Jadi aku mau tinggal sama Mamah " jawab Gendis membuatku terharu.
Betapa mulia hati Bilah ini, mendidik anakku seperti ini. Ia tidak membenci aku, malah dia mendorong anakku agar mencintai aku. Mas Ranu jika kamu masih ada, aku pasti akan lebih bahagia lagi. Maafkan aku belum bisa menjadi istrimu yang sempurna untukmu, tapi cintaku kepadamu tak akan berubah sampai aku tua nanti.
Malam ini aku tidur bersama putriku, aku memeluk dia. Ya Allah ini yang aku impikan selama aku di dalam penjara bisa membelai rambutnya, memeluk tubuhnya, mencium putriku secara dekat seperti ini. Aku sudah mendapatkan ganjaran penjara 4 tahun, alhamdulillah aku dapat remisi 4 kali sehingga yang tadinya hukumanku 5 tahun berkurang menjadi 4 tahun.
Ternyata Gendis pukul 05.00 pagi dia sudah bangun, lalu dia membangunkan aku.
"Mamah salat Mah sudah subuh." Gendis menggoyangkan tubuhku.
"Ah iya sayang kita salat berjamaah yuk, Mamah yang jadi imamnya, kamu mau?" tanyaku.
"Iya Mah Gendis mau," jawabku.
Kami pun salat subuh berjamaah untuk yang pertama kali. Gendis memakai mukenanya. Dia sangat cantik sekali ketika memakai mukenah, aku akan belajar juga memakai jilbab, anakku sudah memakai jilbab masa mamahnya masih membuka auratnya. Aku nanti malu sama anakku, aku putuskan mulai hari ini aku memakai jilbab. Anakku sangat senang ketika aku menggunakan jilbab karena katanya aku dan Gendis sama.
"Sayang kita ke tempat papah yuk," ajakku.
"Ke tempat papa Mah?" tanya Gendis.
"Iya ke papah, kamu mau?" tanyaku.
"Mau dong Mah, aku malah belum pernah melihat papah," ucapnya polos.
"Maafkan Mamah kita tidak bisa melihatnya lagi tapi kita bisa mendoakannya." Aku memeluk Gendis sangat erat dan menangis.
Ketika aku rujuk dengan Ranu, 2 bulan setelah pertemuan itu. Aku mendapat kabar yang sangat mendadak yang membuat dadaku sangat sesak, yang membuat impianku terhapus dengan cepat. Ranu laki-lakiku yang aku sangat cintai telah meninggal, yang aku dengar dia tertembak tepat di dadanya. Tapi yang aku sangat banggakan darinya, dia sudah penandatangani perjanjian bahwa seluruh organ tubuhnya akan ia sumbangkan. Ia benar-benar bertobat dengan caranya sendiri, dia memberikan ginjalnya pada orang yang membutuhkannya, pendonor selalu mencuci darah tiap bulan. Ia memberikan hatinya. Ia juga mendonorkan jantungnya dan yang terakhir yang membuat aku bangga ia mendonorkan kornea matanya untuk Bilah orang yang kami sakiti yang membuat ia menderita. Ranu menembus kesalahannya dengan mendonor kornea matanya. Aku tidak tahu kenapa Ranu bisa tertembak, aku tidak tahu ceritanya. Aku hanya mendengar dari cerita polisi yang mengantarkan jasad Ranu bahwa Ranu mendonorkan semua organ dalamnya untuk orang-orang yang membutuhkan.
__ADS_1
Aku mengajak Gendis ke makam Ranu, aku pun baru pertama kali menginjak kakiku ke makam dia. Setelah 2 tahun dia meninggalkan aku.
"Sayang papah sudah dipanggil sama Allah, papah laki-laki yang baik, dia juga tampan. Kita doakan papah ya sekarang," ucapku.
"Iya Mah," ucap Gendis.
Aku berdoa di pusaran makam Ranu bersama putri kami. Aku tak kuat untuk tak menangis di pasarannya. Sungguh hatiku sangat sesak, mengingat waktu manis yang singkat di dalam penjara selama 2 bulan. Dalam 2 bulan itu Ranu intens menemuiku, membelaiku mencium keningku. Aku tidak akan melupakan momen ketika itu, bagiku momen 2 bulan itu sangat berharga kami. Berubah dari manusia yang keji menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku berjanji akan menjadi manusia lebih bermanfaat untuk manusia yang lainnya, kami belajar dari Bilah. Bilah mengajarkan kami dengan sikapnya yang tidak pernah memendam dendam kepada kami yang telah menyakitinya.
Mas anak kita sudah besar, Bilah membesarkan anak kita dengan baik. Aku berjanji akan membesarkan dia juga dengan baik Mas, dengan rizki yang halal agar darahnya mengalir bersih bukan dari uang haram. Aku kangen kamu Mas, aku akan selalu berdoa untukmu. Tunggu aku ya, Insha Allah kita akan bertemu kembali di sana. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita yang terdahulu.
Bersambung
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞