5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Kemarahan terbesar


__ADS_3

Bilah menangis di sepanjang jalan. Ia tak tahu kemana dia akan pergi. Rasa kecewa yang dirasakan Bilah. Sebelum menikah dengan Bilah, Bagas tidak berani untuk menyentuh Bilah. Bilah dipeluk itupun ketika dia di culik bersama Dina.


Melihat Bagas menggendong Ning Haya bagi Bilah itu sangat keterlaluan, apapun alasannya tetap Ning Haya bukanlah mahramnya.


"Bu, kita mau kemana?" tanya supir taxi online.


"Ke bandara Pak," jawab Bilah.


Bilah memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia pikir lebih baik gila kerja daripada dia sakit hati. Gila kerja bisa membantu orang banyak. Perusahaan belum berkembang karena ulah Ranu yang bermain-main. Kini Bilah harus mengembalikan kepercayaan publik untuk semua produk-produk yang akan ia keluarkan.


Bilah mematikan nomornya dia, dan menghidupkan nomor lamanya yaitu nomor yang tadinya ingin dia buang tapi ia memilih untuk tetap menyimpannya. Nomor yang diberikan oleh Bagas di non aktifkan. Bilah mengabarkan kepada Melati sekretarisnya.


Bilah \=["Assalamu'alaikum Mel, maaf menganggu kamu malam-malam. Besok adakan rapat mendadak khusus untuk designer baru kita dan divisi perencanaan."]


Melati \=["Waalaikumsalam, Baik Bu Bilah. Besok Bu Bilah memimpin rapat? bukan kah Ibu berada di Semarang?"]


Bilah \=["Malam ini saya pulang Mel, besok rapatnya siang bisa? satu lagi, kamu bisa bantu saya untuk membelikan baju dan kirim ke hotel A?"]


Melati \=["Baik Bu bisa untuk rapat dan saya akan mengirim pakaian untuk Ibu Bilah."]


Bilah \=["Terima kasih Mel, kamu memang sekertaris saya yang bisa saya handalkan."]


Melati \=["Tidak perlu berterima kasih Bu, Ibu sudah banyak membantu keluarga saya."]


Bilah \=["Yah Sudah Mel, saya tutup teleponnya. Oh iya jika Pak Bagas menanyai saya, bilang saya masih di Semarang. Saya sedang ada masalah dengan suami saya, saya mau sendiri dulu."]


Melati \=["Baik Bu."]


Bilah \=["Assalamu'alaikum."]


Melati \=["Wa'alaikumsalam."]


Bilah sudah sampai di Bandara, ia ingin membeli tiket untuk malam ini tapi tidak ada penerbangan malam. Dia harus menunggu esok pagi, Bilah mengambil penerbangan pukul 5 pagi. Kemudian ia mencari hotel di sekitar bandara.


Bilah merebahkan tubuhnya di ranjang hotel, dia melihat handphonenya. Ingin menelepon Dina tapi ia urungkan karena dia pikir ini masalah antara dia dan suaminya, Bilah tidak mau melibatkan sahabatnya. Tubuh terasa lelah, pikiran dan juga ikut lelah dia akhirnya tertidur tanpa makan malam.


Pukul sudah menunjukkan pukul 3. 30 pagi, Bilah terbangun. Dia bergegas membersihkan diri lalu langsung check out dan pergi ke bandar, ia salat subuh dan setelah itu menunggu penerbangannya.


Kini Bilah sudah di dalam pesawat untuk pulang ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta dia check in di hotel A, Bilah mengirim pesan kepada Melati, memberi tahu bahwa dia sudah di Jakarta dan memberi tahu nomor kamar hotelnya.


Bilah bukan wanita yang seperti dulu, cengeng karena cinta kemudian lari, bagi dia berbuat seperti itu menyiksa hati. Bilah tidak mau memikirkan hatinya, yang jelas rasa kecewa sudah menyelimuti hatinya.


Bilah memilih untuk memesan sarapan dan dia meminta untuk dibawakan ke kamar hotelnya.


***


Bagas mencari Bilah di setiap hotel di Semarang tapi ia tidak menemukan Bilah. Ia menelepon Dina karena hanya Dina teman dekat Bilah.


Bagas \=["Assalamu'alaikum Din, Bilah hubungi kamu tidak?"]


Dina \=["Wa'alaikumsalam Gus, Bilah tidak menelepon aku. Memang kenapa? kalian bertengkar?"]


Bagas \=["Ah tidak Din."]


Dina \=["Bilah untuk soal cinta jika menghilang tiba-tiba, masalahnya pasti sangat cemburu karena ada wanita lain. Apakah Gus menyakiti hati Bilah karena perempuan lain."]


Bagas \=["Tidak Din, hanya kesalah pahaman aja. Terima kasih yah, assalamual'aikum."]

__ADS_1


Dina \=["Wa'alaikumsalam."]


"Kemana kamu sayang Ya Allah, bodohnya aku kenapa aku tidak memanggil santri untuk menggendong Ning Haya. Ah...." Bagas memukul setir mobil.


Bagas mencoba untuk menghubungi Bilah kembali tapi handphonenya masih tak aktif. Ia sudah berkeliling dan menelepon Melati dan juga orang tua Bilah tapi mereka mengatakan bahwa Bilah pergi ke Semarang untuk menemuinya.


Bagas kembali ke pesantren, dan masuk ke dalam rumahnya.


"Dimana istrimu, kata para santriwati Ning Bilah datang?" tanya Ummi.


"Dia pergi dari aku Ummi, karena melihat aku menggendong Ning Haya ketika pingsan," ucap Bagas.


"Astagfirullah Bagas...kenapa kamu menggendong Ning Haya? walaupun dia pingsan kamu yang salah. Dia bukan mahrammu. Bilah itu cerai dengan suami lamanya karena penghianatan dan ia akan berpikir kamu menghianatinya ketika melihat kamu menggendong Ning Haya,"ucap Ummi, marah kepada Bagas.


"Iya Ummi, aku mengaku salah. Aku sudah mencari di setiap hotel di Semarang, tapi tidak ada," ucap Bagas.


"Ummi tidak mau mendengar ada perceraian, Bilah wanita yang sangat baik. Ia sangat dermawan, kamu tahu Bagas? diam-diam Bilah membantu 1 santriwati di sini yang ibunya sakit ketika itu, Bilah yang membiayai rumah sakit ibu dari santriwati itu sampai sembuh. Santriwati itu orang tak punya, masuk di pesantren ini saja gratis. Ummi tidak mau tahu pertahankan Bilah, pria bodoh yang mau melepaskan Bilah. Pulang kamu ke Jakarta, mungkin Bilah sudah pulang ke Jakarta," ucap Ummi.


Keesokan harinya Bagas pulang ke Jakarta dan memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Bilah.


***


Bilah sudah selesai dengan rapatnya. Rapat yang sangat melelahkan, dia mengeluarkan ide-idenya dengan sangat detail dan bagus untuk ditunjukkan di fashion show. Pekerjaan sudah selesai dan Bilah pulang ke rumah orang tuanya. Wajahnya tampak tak ada masalah tapi hatinya merasa ada yang mengganjal.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum," ucap Bilah.


"Wa'alaikumsalam," ucap Sarah sambil membukakan pintu.


Bilah mencium punggung tangan Sarah dan mencium pipi mamahnya kanan dan kiri.


"Kamu bukannya ke Semarang sayang?" tanya Sarah.


"Hehehe gak jadi Mah, aku lembur semalam. Ngurusin urusan kantor," ucap Bilah.


"Yah sudah, Mamah hangatkan dulu makanannya. Kamu bersih-bersih dulu sana. Bau ih..." ucap Sarah.


"Ih Mamah, anaknya wangi seperti ini masa di bilang bau. Aku sudah mandi pagi Mah, baju juga diganti," protes Bilah.


"Sudah sana bersih-bersih dulu," ucap Sarah.


Bilah masuk ke kamar, dia terkejut karena di dalam kamarnya sudah ada Bagas.


"Sayang..." Bagas mendekati Bilah.


"Jangan dekati aku," ucap Bilah.


"Kamu salah paham, apa yang kamu lihat semalam hanya kesalah pahaman," ucap Bagas.


"Mas, Ning Haya itu bukan mahram kamu. Apapun alasan kamu, ingat sebelum kita menikah apakah kamu berani menyentuhku? tapi setelah kamu sudah menikah malah berani menyentuh perempuan yang bukan mahramnya hah! kenapa? kamu sudah merasakan nikmat ketika kulit bertemu kulit?" ucap ketus Bilah.


"Aku salah, aku mengakui kesalahanku. Ning Haya tiba-tiba pingsan di dekatku dan aku langsung refleks menggendongnya," ucap Bagas.


"Perempuan itu licik jika sudah jatuh cinta, apa logikamu tidak berjalan ke sana, aku wajar marah sama kamu Mas. Kamu menghianati aku!" ucap Bilah.


Setelah menikah Bilah memasang kedap suara di kamarnya, walaupun Bilah berteriak kedua orang tuanya tidak akan mendengar Bilah.

__ADS_1


Bagas mendekati Bilah, tapi Bilah memundurkan kakinya. Bagas langsung memeluk tubuh Bilah dengan erat.


"Lepaskan aku Mas, aku tidak sudi di sentuh oleh..." perkataan Bilah terputus karena Bagas menyentuh bibir Bilah dengan bibirnya, Bilah mendorong dada Bagas tapi Bagas malah memperdalam ciumannya, ia pegang tengkuk leher Bilah sehingga Bilah tidak bisa berkutit. Ciuman Bagas menuntut tapi ia masih melakukan dengan lembut. Bilah tak membalas ciuman dari Bagas. Malah Bilah menangis. Bagas melepaskan ciumannya.


"Sayang maafkan aku, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku karena hal ini. Kamu bisa menghukum aku, apapun itu," ucap Bagas lirih.


Bilah menangis, tubuhnya luruh ke bawah menutup wajahnya yang sedang menangis.


"Maafkan aku, aku minta maaf. Hatiku sakit melihat kamu menangis seperti ini," ucap Bagas dengan memeluk tubuh Bilah.


"Tolong katakan sesuatu, kamu boleh memaki aku, memukul aku asal kamu mau memaafkanku," ucap Bagas.


Bilah mendorong tubuh Bagas. Bilah mengusap air matanya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tapi Bagas menarik tangan Bilah.


"Sayang, aku mohon jangan bersikap seperti ini kepadaku," ucap Bagas.


Bilah menghempaskan tangan Bagas.


"Sayang tolong maaf, jangan diamkan aku," ucap Bagas.


"Kamu mau aku tidak diam, kamu mau bersenggama dengan aku hah!" ucap marah Bilah.


"Tidak sayang aku hanya menginginkan maaf darimu," ucap Bagas.


"Apa? kamu tidak mau tubuhku? kenapa? menginginkan tubuh Ning Haya wahai Gus Bagas?" ucap Bilah.


"Astagfirullah, aku tidak pernah berpikir seperti itu." ucap Bagas.


"Ternyata kamu sama saja dengan pria yang lainnya," ucap Bilah.


"Sayang, jaga ucapanmu aku suamimu," ucap Bagas.


Bilah menatap Bagas dengan tatapan yang tajam.


Bersambung.


✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis, dan saya akan mendapat ide mendadak dari komentar kalian.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote juga jangan lupa ❤


Baca juga yuk cerita serunya




Salah Lamar




Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet 😁


__ADS_2